
Seperti disambar petir. Itu yang Rena rasakan. Ia berjalan pelan dengan dipapah oleh Raka yang juga ikut limbung, tapi tetap berusaha kuat.
Berita dari dokter rasanya seperti mimpi disiang bolong. Rena menggalami hamil anggur, usia kandungannya 12 minggu dan Rena sering mengalami mual yang berlebihan.
Awalnya ia menyangka hanya morning sick biasa. Tapi ini berlebihan. Rena harus bedrest. Belum lagi bercak darah yang selalu ia dapatkan terlihat dari ****** ********.
Raka akhirnya membawa Rena kedokter. Kabar dokter mengatakan bahwa Rena, hamil anggur, dimana sel telurnya yang seharusnya dibuahi tidak berkembang sempurna.
Sel-sel telurnya memang berkembang menjadi gelembung putih berisi cairan yang menyerupai anggur. Penjelasan dokter tak begitu ia mengerti. Tapi intinya kendungannya bermasalah dan harus segera diangkat. kabar yang menyayat hatinya.
Sesampai dirumah. Doroty memeluk Rena. Rena yang sedari tadi diam, menangis kejer di pelukan Doroty.
Begitu pun dengan Raka. Bagaimana hatinya tidak patah, anak yang ia tunggu dan ia jaga. Malah berkembang tidak sempurna, apa ini karma kelakuannya yang jahat.
Rena harus melakukan kuret, karena kantung sel besar pada kandungannya. Setelah selesai oprasi pengangkatan bayinya, Rena menjadi pendiam, Raka dengan sabar membujuk Rena, agar istrinya itu mau makan. Setelah menjalani kuretnya.
"Ibok" Kenan mendatanginya dalam gendongan Raka. Melihat Raka, senyumnya pada Kenan memudar. Entah ia tidak mau melihat suaminya itu.
Rena memang tidak mengatakan. Tapi sikap Rena padanya, Raka bisa merasakan jika Rena menghindari dan menjauhinya. Suasana rumah Doroty suram. Tidak ada lagi canda dan tawa. Hanya awan mendung.
"Rena bisa kita berbicara?" Raka menatap Rena yang memalingkan wajahnya. Ia tidak mau menatap wajah suaminya. Sudah 3 bulan sejak mereka kehilangan sang jabang bayi.
"Kamu tidak bisa terus menghindari aku! Kamu istri aku, aku tahu kamu sedih tapi jangan abaikan Kenan dan aku, aku perlu kamu, aku juga merasakan sakit hati yang sama kehilangan dia!"
Raka tidak tahan lagi. Tidak ingin istrinya terus bersedih. Ia kangen kebersamaan mereka bertiga.
"Terus mau kamu apa? Aku melupakan dia? Aku nggak bisa! Kamu jahat dia anak kita! Dan kamu mau melupakan dia?" Pekik Rena dengan air mata membasahi pipinya semakin lama semakin keras dan tergugu.
"Bu-bukan gitu—"
"Rak, kamu bisa menikah lagi, kayaknya aku nggak bisa memberimu anak lagi" ucap Rena lelah. Ia berbaring dan menutup tubuhnya dengan selimut tebal.
"Rena! Apa maksudmu! Kita belum selesai! Jangan menghindari! Apa maksud perkataanmu, Hah?!"
Emosi naik ke kepala Raka. Nada suaranya meninggi, Ia menarik kasar selimut Rena. Apa istrinya sudah gila!
"Ceraikan aku!" Teriak Rena. Matanya nyalang menatap Raka. Raka tidak percaya Rena mengatakan hal terkutuk itu.
"Kamu bisa menceraikan aku!" kembali, Rena menyugar rambutnya. Ia sangat lelah, dengan wajah sengit pada Raka. Mata Raka membulat, amarah menguasainya.
"TIDAK AKAN! AKU TIDAK AKAN MENCERAIKANMU SAMPAI AKU MATI! TIDAK AKAN ADA PERCERAIAN!! DENGAR ITU RENA!"
Raka membentak. Amukannya keluar. Ia tidak terima jika Rena ingin berpisah dengannya.
Dan menjauh sebagai pilihan Raka. Tidak mau bertindakan kebablasan karena amarah yang menguasainya saat ini. Mengepalkan tangannya. Ia meneguhkan diri. Mereka perlu jarak.
"Aku menginap kerumah Bunda Nami,"
Setelah mengatakan itu Raka keluar kamar. Ia mengambil kunci mobil dan setidaknya Raka memberitahu keberadaannya.
Rena hanya menangis tersedu. Melihat punggung Raka yang menjauh. Ia mendengar deruan mobil yang dipacu cepat meninggalkan rumah Doroty.
Tangisan Rena semakin menjadi. Rena memukul dadanya yang sesak. Tangisannya menyakitkan. Ia tak lagi rasakan bekas operasinya yang masih baru mengering.
__ADS_1
Tangis yang tak bersuara. Menyayat hati yang mendengar. Jum sedang ada di rumah Nami bersama Kenan.
Rena merasakan frustasi. Ia merasa trauma. Ia tidak tahu reaksi tubuhnya jika Raka menyentuhnya. Ia takut sangat takut.
Rena selalu bermimpi dia hamil besar dan darah mengalir deras keluar dari bawahnya. Rena berteriak memanggil suaminya namun Raka tidak datang.
Rena selalu terbangun di malam hari ia menangis tergugu. Seminggu Raka tidak kembali. Hanya ada Jum yang kembali dan merawatnya. Kenan masih diungsikan pada Nami.
Ia tidak bisa. Kenan harus bersamanya. Jika berpisah, setidaknya Raka bisa menikah lagi dan memiliki anak lagi tapi Rena tidak.
Ia harus sehat dan membujuk Raka memberikan hak asuh Kenan padanya. Raka pasti mengerti.
Wajah Rena masih pucat tapi ia bersikeras untuk menjemput Kenan di rumah Nami. Nami menyambut suka cita. Tapi tak lama. Rena membicarakan rencananya bercerai pada wanita yang dianggap ibu sendiri itu.
Raka mendengar. Ia kembali emosi, merebut Kenan dari pelukan Rena. Ia membawa pergi Kenan bersamanya. Raka yang gusar dengan cepat memasukan anaknya dalam mobil. Kenan menangis kencang, Rena mengejarnya dengan terhuyun dan menangis.
Ia kerumah Citra dan menitipkan Kenan pada wanita itu. Citra tidak curiga. Wanita itu tahu Rena masih berduka. Dan pengasuh Kenan kembali ke indonesia, tentu ini bohong.
Jum ada bersama Rena, membantu dirinya memantau sang istri. Jadi hanya Citra yang bisa Raka mintai tolong saat ini. Ini sebuah gertakan Raka untuk Rena. Kenan dekat dengan anak Citra, Elzar jadi pasti tenang. Pikir Raka.
Raka perlu pelampiasan. Ia membeli sekerat bir. Melajukan menuju pantai. Ponselnya terus berdering dengan nama Wife disana. Ia hanya melihat dan terus menenggak bir dinginnya.
Meremas kaleng kosong dan melempar kuat kedepannya. Sudah lebih dari 6 kaleng ia habiskan.
Ponsel Raka kembali berdering. Ia mengangkatnya. "Raka! Raka dimana Kenan? Raka jangan pisahkan aku dengan anakku!" Terdengar suara tangisan dari seberang.
Raka menjawab dengan tawa terbahak. Miris.
Rena di seberang teguguh dengan tangis menyayat. "Mana Kenan Raka, aku mohon, izinkan aku bertemu anakku!" Kembali Raka tertawa. Kali ini terdengar menyakitkan. Ternyata Rena tidak mengerti ucapannya. Raka akan mengikuti alur yang Rena buat.
"Aku akan mengizinkan kamu bertemu dengan anakku, tapi ada syaratnya!"
"Sya-syarat? Apa itu" ucapnya lirih.
"Jadi budakku hingga aku puas!"
Hati Rena mencelus. Rasanya menyakitkan saat Raka menyebut Kenan bukan lagi anak kita melainkan anakku.
"Baik! Aku akan melakukan apapun untuk anakku!" Ucap Rena ragu. Tapi ia tidak memiliki pilihan.
"Jemput aku! Jika kau sungguh-sungguh"
Raka mengirim lokasinya pada ponsel Rena. Rena mengusap air matanya, ia mencuci wajahnya, mengambil jaket dan memesan takol. Waktu menunjukan pukul 11 malam.
Hanya perlu satu jam, Rena tiba saat ia melihat mobil Raka. Ia turun dari Takol. Berjalan cepat. Menghampiri mobil Raka.
Rena mengintip ke dalam mobil mencari Kenan dan Raka. Tapi ia tidak menemukannya. Ia melihat Raka duduk diatas kap mobil. Kebiasaan mereka dulu.
Ia berjalan cepat dan hanya menemukan Raka yang mabuk. "Oh istriku kamu datang?" Raka turun dari kap mobil dan mendekati Rena dan memeluk istrinya yang kaku. Ia masih belum terbiasa bersentuhan lagi dengan Raka. Raka Mabuk.
"Mana Kenan?"
Raka berdecih,
__ADS_1
"Bawa mobil, aku lelah,"
"Raka, mana Kenan? Kau bawa kemana dia?" Tanya Rena melihat Raka yang sudah membuka pintu penumpang.
"Masuk! kalau kau ingin bertemu anakku" ucap Raka masuk kedalam mobil. Rena mengikuti Raka. Ia masuk duduk dikursi kemudi, dan Raka telah men-setting gps.
"Kau bisa ikuti gps itu" ucap Raka. Raka menyadarkan kepalanya yang mulai berat. Pening.
Ia terpejam.
Rena diam ia menjalankan mobilnya hingga sampai di sebuah hotel berbintang. Raka keluar. "Beri pada valet" menurut, Rena keluar dari kursinya, sudah ada valet yang berdiri menunggunya turun.
Rena mengikuti Raka yang terhuyun dengan tergopoh. Di Lobby hotel para resepsionis menganggukkan kepala dengan senyum menggoda pada Raka.
Raka hanya melewati mereka sedangkan Rena menatap mereka tak suka. Mengapa ia tak suka. Setelah ini mereka bercerai. Ternyata Rena masih ingin bercerai.
Raka dan Rena masuk ke lift. Tak lama mereka mencapai lantai 77. Pintu lift terbuka hanya ada satu pintu besar dan kokoh berwarna coklat kehitaman disana.
"Mana Kenan?" Tak mungkin Raka meninggalkan Kenan sendirian di dalam kamar kan? Wajah Rena mengeras apa Raka membohonginya.
Raka membuka pintu lebar. "Kau ingin bertemu dengan anakku? Jadi tepati dulu janjimu, Menjadi budakku!"
Raka menunggu, ia melihat keraguan pada mata sang istri. Ia mundur tubuhnya dannakan menutup pintunya. "Kesempatanmu hanya saat ini saja, setelahnya jangan harap kau—"
Rena mendorong diri Raka masuk dengan mencengkram keras kerah leher lelaki itu. Ia menyatukan bibirnya. Raka bisa merasakan getaran halus pada tangan istrinya itu.
Raka menarik Rena dalam rengkuhannya. Bersamaan dengan menutupnya pintu kamar suit presidensial milik Raka. Yang akan menjadi saksi bisu kejadian selanjutnya.
Bersambung ...
🌻🌻🌻
Promosi ya cerita baru otooorrr ...
Cuplikan,
"Heh! Kau kira aku takut! Nggak ada wujud aja berani! Kamu Setah! Tuyul! Si wowo apa si wewe? Ak-aku nggak takut!" Lanjutnya resah, mata Yana berlarian tak tentu arah. Agak mengkerut, tangannya mulai memeluk dirinya sendiri.
"Dasar rakyat jelatah! Tidak sopan! Aku calon raja kerajaan ini!! Putra Mahkota Lesmana Dalu!"
WOOOSSSHHH …
Angin kencang menerpa wajah Yana. Dan sosok asap hitam besar berjalan mendekat dari kegelapan di sudut ruangan.
"Aaaaaa … "
jangan lupa mampir ya, di Pecut Sakti Sang Putra Mahkota,
Terima kasih, Lazy❤
__ADS_1