
Rena makan dengan lahap, ini pertama kalinya Doroty melihatnya. Tidak ada drama Rena yang keras kepala. Menolak makanannya.
"Selamat pagi" Raka menghampiri meja Rena. Sejenak ia lama berdiri jauh dari Rena. Ia melihat Doroty. Sejak kapan?
Raka sudah membuang rasa malunya. Yang terpenting saat ini Rena dan anaknya. Ia membuang segala egois dalam dirinya.
"Pagi, duduklah sarapan dengan kami, kapan kamu tiba?" Tanya Doroty.
"Kemarin yang, Eyang sejak kapan disini?" Raka menelisik apa Doroty tahu, mereka, dirinya dan Rena sedang bermasalah.
"Sudah lama" tanpa menanggapi lebih lanjut, menggantung rasa penasaran Raka.
"Aku sudah meminta Mbok Jum untuk mengundang Udin sekalian disini" ucap Doroty.
"Rena setuju, sekalian, lagipula, Rena diberi cuti oleh Bang Isak tiga hari kedepan." Rena memakan bubur ayam karinya dengan lahap.
"Kamu nggak sarapan Raka? Wajahmu pucat sekali" Doroty mengulurkan tangan menyentuh dahi Raka yang panas.
"Astaga, anak ini eee … " logat sulawasinya keluar. Ya Doroty, memiliki darah campuran, Sulawesi.
"Ko orang mau mati ko, masih bisa cengar cengir macam orang benar saja, kembali ke kamar, Siwa, bawa Raka kembali ke kamarnya"
"Nggak Yang, Raka mau disini, mau makan sama istri anak" ucapnya lemah.
"Nggak ada! Ko sakit! Seret dia Siwa!" Siwa mengangguk, ia menyeret Raka yang memang tidak bisa melawan. Mengikuti Siwa dengan pasrah ke lantai kamarnya. Walau hatinya tidak rela. Baru saja dia akan pendekatan dengan Rena.
"Kenapa dia?" Tanya Isak yang berpapasan dengan Raka dan Siwa. Ia menghampiri meja Rena.
"Sakit dan keras kepala!" Doroty kesal.
"Mas, mau pesan bubur ayam, teh manis hangat, diantar ke kamar 5545" Rena memesankan untuk Raka.
"Kemarin, saat baru tiba di sini, dia pingsan di bandara, keracunan alkohol. Perut nggak diisi makanan, hanya alkohol." Isak duduk ditempat Raka duduk tadi.
Rena benar terkejut, Raka peminum dan tahu batas dirinya, lelaki itu selalu rapi dan hidup sehat, Rena selalu menjadi pengingat juga pengaturnya, saat mereka bersama, jadi seimbang hidupnya.
Tapi setelah Rena pergi Raka los. Rena semakin dibuat bingung saat mereka belum bersama, Raka bisa mengatur dengan baik gaya hidupnya itu.
Lalu kemarin, ia menemukan Raka yang kurus dan sekitar dagu penuh rambut membuat hati Rena teriris. Pedih.
Rena tidak lagi bernafsu untuk melanjutkan sarapannya. Ia ingin segera melihat keadaan Raka.
__ADS_1
"Kamu disini aja, nunggu Udin, Jangan dekat Raka, ia demam nanti tertular kamu" pesan Doroty yang telah meninggalkannya ke kamar Raka. Wanita tua itu yang akan merawat Raka.
Orang tua Isak semalam sudah kembali ke Doha. Ibrahim memiliki pertemuan penting besok hari. Dan tidak bisa ditinggal.
"Kenapa tampangmu itu? Khawatir? Sudah baikkan?"
Isak melihat raut cemas Rena. Membuang nafas kasar. Rena tidak menanggapi ucapan Isak, Ia mendapat notifikasi dari ponselnya. Udin telah sampai. Rena membalas akan menemuinya di lobby.
Rena ingin sekali berjalan-jalan mencari udara segar. Berjemur sebentar untuk ibu hamil tak masalah bukan?
"Pak saya ada keperluan, mohon izin" ucap Rena formal. Isak membalas dengan gumaman.
Rena beranjak, melangkah lebar agar cepat sampai ke lobby. Celingukan Rena mencari Udin. Rena berjalan mendekat, mendapati lelaki dengan rambut rapi, mengkilat licin, dengan kemeja putih juga celana bahan hitam tak lupa sepatu pantofel yang juga mengkilat.
"Udin Saripudin?" Rena melihat lelaki itu mendongak, tatapan mereka bertemu. Rena menilik apa benar dia Udin yang dia cari. Rena mencari kemiripan Udin kecil dengan Udin di depannya ini. Walau ingatannya samar.
"Ibu Doroty?"
Udin bingung, wanita di depannya masih muda. Tidak seperti yang Mbok Jum deskripsikan. Sudah sepuh, nenek-nenek, rambutnya putih yang di gelung dan selalu pakai bando.
"Ah bukan, saya asistennya, silahkan duduk," Rena duduk didepan Udin mengamati lelaki itu. Diamati Rena sedemikian intens membuat Udin lebih gugup.
Rena memesan ice mocca, sedangkan kopi dingin untuk Udin. "Mungkin lebih enak kita ngobrolnya di taman, anginnya enak" Rena beranjak.
***
"Bisa ceritakan tentang keluargamu?"
Udin tampak was-was. Namun jika ini demi pekerjaan yang ia butuhkan sekarang Udin akan ceritakan.
"Keluarga saya, Saya memiliki Abah, dan adik perempuan, kami tinggal bertiga. Abah saya seorang, peternak bebek dan adik saya pengacara, eh, maksudnya pengangguran banyak acara." Udin terkekeh sendiri.
"Kamu tidak memiliki nenek, atau bibi yang tinggal di luar negeri, orang tuamu tinggal satu orang saja?" Udin menggangguk, menggeleng dan mengangguk lagi.
"Boleh tahu nama Abahmu?" Kembali Udin menatap menelisik.
"Maaf boleh bertanya?" Udin mengangkat tangannya. Rena sangat bersemangat untuk mengetahui keluarga Udin. Mengerem pertanyaan yang sudah ada diujung bibir, ingin ia tanyakan pada Udin.
"Ya" jawab Rena.
"Apa perlu, nama orang tua di wawancara pekerjaan?" Hening. Apa dirinya terlalu terlihat penasaran. Apa dia jujur saja. Langsung tak perlu lagi basa-basi.
__ADS_1
"Oke jadi begini Udin, saya tidak akan basa-basi. sebenarnya saya kesini ingin mencari saudara ibu saya."
"Jadi tidak ada wawancara pekerjaan?" Wajah Udin menunduk kecewa. Rena dengan cepat memberi Udin penawaran.
"Ya, tapi saya bisa bantu carikan, namun sebelumnya, saya boleh bertanya mengenai keluargamu"
"Anda bisa menjamin saya mendapat kerja jika saya membantu anda? Tapi misal, saya bukan saudara anda apa anda masih menjamin pekerjaan pada saya?" Tanya Udin. Ia sangat butuh uang.
"Saya jamin."
"Jadi anda mau membantu saya?" Tangan Rena terulur.
"Baik"
Udin menyambutnya. Dan setelah itu Udin meminta maaf pada Rena jika keluarga yang ia sebut sebelumnya adalah keluarga angkatnya disini.
Setelah itu mengalirlah cerita Udin, Rena mendengarkan dengan seksama. Memperhatikan dengan fokus. Ia tidak bisa percaya. Dan Rena harus mempelajari lagi, omongan Udin ini jujur atau bohong.
Namun ia tidak bisa mencari tahu sendiri. Ia butuh bantuan Siwa. Lelaki itu yang paling tepat. Rena akan meminta izin Doroty untuk meminjam jasa Siwa.
Rena tidak sabar, perasaannya dibuat senang. Sebentar lagi. Jika semua benar, ia akan bertemu keluarga dari Ibunya. Mata Rena menggulir ke gedung hotel, ia menatapi salah satu jendela.
Ia ingin melihat keadaan orang itu. Tapi Doroty pasti akan marah padanya. Ia juga tidak ingin sakit. Jabang bayinya harus sehat. Hingga bisa menghirup udara. Rena mengelus perutnya dengan sayang.
"Ayah sakit, Bang, kita tidak bisa dekat dulu, nanti ya, bersabar," ucapnya. Rena masih ditaman. Udin telah pergi 10 menit yang lalu.
"Rena ayo masuk, Udaranya dingin"
seseorang menghampiri dan menyelimuti dirinya dengan jaket tebal.
***
Klink!
Klink!
Klink!
Sebuah gambar-gambar masuk ke ponsel seseorang.
"Dasar penjahat, tetap saja tidak pantas masuk keluargaku! Dengan ini aku akan memberi tahu Daddy, ja lang ini tidak pantas untuk Bang Raka!" Ia mencengkram erat ponselnya. Pandangannya sengit.
__ADS_1
Bersambung ...