Dendam Sang CEO Tampan

Dendam Sang CEO Tampan
Bab 54. Ular Betina


__ADS_3

Raka memandangi sosok yang bergelung disampingnya. Ada rasa sakit yang sama. Wanita ini akan melepasnya, tapi jangan harap mudah lepas darinya.


Raka beranjak dari tempatnya. Ia membuka balkon dan menatap kegelapan di hadapannya. Ia berharap kepulan asap yang ia hembuskan ikut membawa segala bebannya saat ini.


Apa yang akan ia lakukan sekarang. Tentu saja ia tidak akan melepaskan Rena. Tapi untuk mengikat wanita itu. Hanya dengan menghamilinya lagi.


Ia bisa merasakan istrinya terisak menyakitkan. Apa sentuhannya begitu menyakitkan. Tubuh Rena pun bergetar. Wajahnya tampak tersiksa.


***


Rena terbangun tanpa ada Raka disampingnya. Ia meraba kasur di sampingnya terasa dingin. Apa Raka meninggalkannya.


Rena bergegas bangun, menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, Rena membuka kamar ia mencari Raka di ruang luar.


Rena menemukan sosok sang suami yang telah rapi. Menikmati sarapannya. Sedangkan dia baru bangun dan sangat berantakan.


"Bersihkan dirimu! Saat ini kau adalah asistenku, Kita akan ada rapat, Bersiaplah" Raka bersuara dingin.


"Kenan? Kamu bilang aku bisa menemui Kenan?" Rena memastikan janji Raka. 


"Anakku ada dirumah, cepat bersiap, aku tidak ingin terlambat, atau aku akan menghukummu" ucap Raka.


Rena meraih selimut yang menjuntai ke lantai, Rena melangkah lebar ke kamar mandi. Bekas operasinya masih sedikit nyeri. 


Ia menyalakan shower, membasahi seluruh tubuhnya dengan air. Ia mengingat kegiatannya dengan Raka yang memperlakukannya dengan kasar. Saat ini ia telah menjadi budak Raka.


Rena tidak peduli jika Raka tidak lagi menganggapnya istri. Yang penting ia bisa bertemu Kenan.


***


Raka sudah memiliki asisten. Mike namanya. Lelaki agak melambai yang memandang Rena sinis.


"Siapa kamu? Kok bisa jadi asisten bos?" Mike dan kelompoknya mendesak Rena di kamar mandi.


"Penghangat ranjang mungkin" salah satu wanita dengan rambut gelombang. 


"Ada apa ini!" Ucap Seorang wanita, Citra menghampiri gerombolan yang mengeroyok Rena.


"Mike apa-apaan ini kamu masuk ke kamar mandi perempuan."


"Bu Citra!" Sapa pelan Mike dan 3 wanita yang mengelilinginya. Mereka melipir agak menjauh. Mereka melihat Citra takut-takut, menunduk. Mereka tahu seberapa dekat  Citra dengan Raka. Juga selentingan hubungan keduannya yang lebih dari teman itu.


"Dan bawa gerombolanmu ini menjauh atau saya adukan kelakuan kalian telah mengganggu istri pak Raka!" Ucap tegas Citra.


"Apa?!" Wajah mereka berempat mendadak pucat pasi. "Cit udah" ucap Rena setidaknya Citra sudah menyelamatkan dirinya.


"Yaudah sana kalian, tapi kalau saya lihat kalian membully lagi, siapapun itu, jangan salahkan saya akan tegas, menindak kelakuan kalian! Perusahaan ini gidak butuh karyawan pembully!"


"Maaf Bu Rena! Kami tidak bermaksud, Kami minta maaf, Bu" keempatnya tanpa diperintah. Lalu mereka berjalan cepat meninggalkan Citra dan Rena.


"Kenapa kamu nggak langsung ngomong kalau kamu Nyonya Raka Delino! Gemes sama kelakuan begitu! Berasa superior mereka itu! Masih kacung mereka belagu!"


"Makasih ya Cit,"


"Kamu nggak apa kan? Ada yang sakit? Suamimu kenapa tega menyuruh istrinya bekerja? Heran aku!" Sungut Citra.


Citra menatap wajah sendu Rena. Tidak perlu jadi pintar untuk menebak jika hubungan pasangan itu baik-baik saja.


"Aku nggak apa, mungkin terkejut karena dikeroyok tadi."


Senyumnya tercetak setelah susah payah Rena tarik itu sudut bibirnya.


"Kami bisa cerita sama aku, aku tahu ada yang kalian sembunyikan, Kenan demam saat ia dititipkan padaku, belum lagi pipinya penuh bekas air mata."


Wajah Rena penuh kecemasaan. "Anakku baik-baik saja kan?" Rena menangkup tangan Citra. Matanya sudah berkaca.


"Sudah baikkan, makannya juga lahap, dan Kenan kembali ceria. Elzar seneng punya temen dirumah." Citra menepuk punggung tangan Rena.


"Kamu tak perlu bercerita jika tidak ingin bercerita. Kenan sudah sehat, kamu tenang saja"

__ADS_1


Kembali Citra menepuk bahu Rena. Rena mengangguk. Citra berpikir apalagi yang Raka lakukan, ini sepertinya masalah besar.


Ia akan menunggu Raka. Dan akan memantau mereka, ia tidak ingin Raka bertindak bodoh dan kehilangan Rena akhirnya.


"Ya siap-siap mereka akan membicarakanmu, tapi tenang tidak akan berani menyakitimu"


"Terima kasih Citra, mungkin beberapa waktu kedepan aku akan menitipkan Kenan padamu"


"Iya tak masalah, kamu selesaikan apapun masalah kalian berdua, tapi ingat jangan berkelahi didepan Kenan, itu saja" Mereka keluar kamar mandi.


"Kamu sudah makan siang?" Rena menggeleng. Tadi ia merasa sedikit tak enak badan.


"Ayo kita cari makan siang" Rena melangkah mengikuti Citra. Dalam perjalanan ke kantin, banyak karyawan menyapa Citra.


Saat kaki mereka sampai di kantin yang mirip food court mall, banyak mata menatap keduannya.


"Sepertinya berita kamu istri Raka telah menyebar" bisik Citra dengan terkekeh renyah. Dengan begini mereka akan berpikir ratusan kali jika ingin berbuat masalah pada Rena.


"Kamu mau pesan apa? Disini waffle potato cheese burger rekomen sih, atau pasta juga enak, atau kau mau panda express??"


Citra menyodorkan apa yang ingin ia makan. Ia ingin ke Panda Express, Honey Walnut Shrimp kesukaannya.


"Panda Express aku ingin orange chicken, loe mien" ucap Rena dengan menelan salivanya. Ia lapar.


"Yuuuk … aku lapar" Citra menggandeng tangan Rena.


"Lho itu Raka kan? Kenapa dia sama Laura? Memangnya kita punya projek dengan Mild Doom?" Rena mengingat jadwal Raka yang ia baca di list yang dibuat Mike pagi tadi.


Ia ingat ada meeting dengan Mild Doom untuk menawarkan produk terbarunya pada perusahaan Raka.


"Iya ada"


"Raka bodoh! Ini tak bisa! Ayo kita kesana!" 


Citra melangkah panjang. Rena ingin menghentikan Citra karena Raka sepertinya tidak bisa diganggu juga. Wanita yang Citra panggil Laura itu sangat menempel pada suaminya.


"Raka?" Citra memanggil Eaka dengan suara tinggi. Membuat mata karyawan lain memandang mereka.


Citra juga penanam modal terbesar kedua di perusahaan Raka ini. Apalagi jika digabung dengan milik suaminya, ia bisa menempati pemegang modal nomor satu.


Dua tahun tiga tahun lalu, Raka selain pemulihan ia juga sibuk dengan perusahaan barunya. Dan dua tahun yang lalu suami Citra berinvestasi. Semakin lama perusahaan yang Raka dirikan ini semakin maju dan berkembang pesat.


Karena Raka merintis perusahaannya sebelum ia kecelakaan. Perusahaan yang juga tempat pelariannya untuk sekedar melupakan Rena.


"Halo Citra lama tidak bertemu, aku dengar kau kembali menikah dengan mantan suami tidak tahu dirimu itu!" ucap Laura.


Wanita itu melipat tangannya pada dadanya yang membusung dengan belahan d@da yang ia umbar. Cara berpakaiannya lebih seroNok di bandingkan terakhir mereka bertemu.


"Sebelum kau membuka mulut busukmu, harusnya kau cari sumber lebih terpercaya, sumber abal kau percaya! Mungkin jika kau dengar siapa yang aku nikahi kau akan gila!"


"Sayang?" Suara terdengar dari belakang tubuh Citra.


"Siwa" Nada genit Laura terdengar. Ia menyambut Siwa dan ingin merangkul lelaki itu. Namun dengan gesit Siwa menghindar.


Laura merasa dipermalukan, Namun ia bisa menahan amarahnya. Ia tidak pernah dipermalukan seperti ini. Lihat saja nanti jika … tunggu, Sayang? Siwa memanggil siapa dengan sebutan lembut itu?


Siwa merangkul pinggang Citra. "Tidak mungkin" pekik Laura tak percaya.


"Kau wanita menjijikan! Tak mendapat kakak tirinya kau beralih pada si adik tiri! Benar-benar benalu!" Maki Laura pada Citra.


Siwa akan maju. Tapi Citra menahan suaminya itu. 


"Kau memang sedari dulu hanya mengandalkan tubuhmu, kau memang cantik tapi otakmu kosong!"


"Kamu!" Wajah Laura memerah karena amarah. Ia tidak terima dengan ejekan Citra.


"Kau tahu, Laura, satu fakta tentang pelakor, Wanita yang dianggap lebih tolol dari si istri sah oleh suaminya! Karena gampang dibodohi, dan tinggal bayar, kau levelnya lebih rendah dari istri sah." Lanjutnya.


Siwa mengangkat sudut bibirnya. Ia menarik kepala sang istri dan mengecupnya gemas. Laura dibuat bertambah marah.

__ADS_1


"Raka alu tidak setuju jika harus bekerja sama dengannya." Kembali Citra menjatuhkan bomnya. Laura kembali ke samping Raka.


"Raka kau tidak bisa melakukan itu padaku! Kau berjanji menyetujui kerjasama kita, saat pertemuan kita malam itu"


Mendengar pengakuan itu, seakan Rana dibawa saat Raka mengkhianatinya dengan Padma. Rana merasa hatinya di palu godam. Hancur. Apa saat Raka pergi, ia mencari kehangatan lain? Ia tidak kerumah Nami seperti ucapannya.


Pikiran buruk mendominasi otak Rena. 


Raka yang tadi tidak merespon, terlihat membenarkan ucapan wanita itu. Rena salah paham.


Nafas Rena tercekat, sesak, ia ingin segera pergi dari tempat ini, tidak ingin mendengar lebih jauh pengkhianat Raka. Tapi sepertinya tubuhnya tidak berpihak padanya. Kakinya seakan dipaku di tempat tidak boleh pergi dari sana.


Raka perlahan menengok pada Laura. Ular betina ini ingin menjebaknya.


"Kau berjanji padaku, aku tahu kau masih mencintaiku Raka, karena aku juga mencintaimu,"


Laura mengeluarkan tangisan palsu yang dicibir oleh Citra. Laura menarik lengan Raka. Menunjukan wajah bersalahnya. Rena hanya bisa terdiam ditempatnya. Melihat drama di depannya.


"Maafkan aku, aku dulu tidak bisa menolak tawaran Akmal, aku bersalah, namun aku sadar disini dan disini. Hanya ada namamu yang tersimpan disini. Maafkan aku, aku ingin kembali dan mengulang dari awal"


Dengusan terdengar dari Raka. "Kenapa baru sekarang!"


"Maaf ak-aku hanya ingin kamu bahagia, saat itu aku melihat kamu menggandeng Padma juga ada Kila disana, aku kira kamu sudah berbahagia. Dan aku memutuskan mundur saat itu." Penjelasan yang mendapatkan dengusan Citra.


"Aku tidak tahu Padma hanya pelarianmu untuk melupakan aku"


Laura percaya diri dengan asumsinya. Ia yakin Raka masih mencintainya.


"Mundur?" Desis Raka. Menatap ke arah Rena Nanar. Tak menyadari yang ia tatap adalah sang istri.


"Mengapa kalian begitu mudah membuangku! Mengapa?" Bisiknya lirih dengan kekehan sumir.


Tatapan Raka lurus, ia menemukan mata bening Rena yang berkaca. Mata Raka melebar. Ia baru sadar jika Rena ada disana. Semakin melebar saat ia menemukan adanya kekecewaan di mata istrinya itu.


Rena menunduk, ia menggerakkan kakinya perlahan. Dan saat ia bisa kembali mengendalikan dirinya. Rena pergi dari sana dengan air mata membasahi pipinya.


Mereka berlima menjadi santapan mata-mata dikantin. Gosip datang bertubi pada grup kantor dan mengagetkan seluruh karyawan Raka.


Tentang kehidupan pribadi CEO mereka, adalah berita yang mereka tunggu. Raka sangat tertutup dengan masalah pribadinya. Dan sekalinya terkuak adalh berita dirinya telah menikah dengan asistennya. Tapi tidak bisa move on dari sang mantan.


Mereka juga mengaitkan dengan Padma. Mengasihani Padma yang menjadi pelarian sang CEO. Raka mendapatkan banyak cacian tapi tidak sedikit pula yang masih mengidolakan dan membelanya. Perusahaan Raka menjadi seheboh itu.


*****


Bersambung ...


🌻🌻🌻


Hai hai otor punya cerita baru nih,



Cuplikan,


"Putra Mahkota?"


"Putra Mahkota? Anda dimana?"


Dalu mendekat ia ingin menepuk bahu Tirkam bahwa dirinya ada di kamar itu. 


"Dasar menyusahkan, dia terbantu karena dia Putra Mahkota, lebih baik aku yang menggantikannya. Tidak berguna" tangan Dalu melayang. Ia membatu. Tak menyangka orang kepercayaannya membicarakan dirinya.


Tunggu, Dalu mulai mencerna situasinya. sedari tadi ia ada disekitar dua orang ini, tubuhnya besar, tapi mengapa tidak ada yang melihatnya? 


Dalu berjalan ke baskom air, ia melongok ke air tersebut. Namun ia tidak melihat bayangan dirinya disana.


Kembali ia mencoba melongok ke dalam baskom air. Dan ia tidak mendapati bayangan dirinya disana. Apa dia sudah mati? Ia menjadi arwah? Tidak mungkin!


Selanjutnya ....

__ADS_1


ada di lapak Pecut Sang Putra Mahkota, ditunggu disana ya guys,


Terima kasih, Lazy❤


__ADS_2