
"Iboook, abang kangen" ucapan Kenan saat melihat Rena anaknya itu menggapai dirinya. Dengan wajah haru Rena meraih anaknya dan mendekapnya erat.
"Sayang ibook, sayangnya ibuk, sayangnya ibuk" Rena menciumi wajah Kenan. Dan berkali mencium pipi gembilnya.
"Ini kok tambah tebel gini? Anak ibuk suka ya di tempat onty Citra?"
"Hmn" Kenan memngangguk.
"Padahal Ibuk kesepian, Kenan nggak kangen ibuk dong kalo gitu?"
"Kangen, ibuk bang Elzar te cana, gunung," Celoteh Kenan bersemangat.
"Gunung?"
"Hmn besyaarr, diniiiing, Jim kasih Jaket" ia bergelung dalam pangkuan Rena.
"Gunungnya dingin, abang pake jaket kan?" Rena menepuk-nepuk bagian belakang Kenan, mendekap seerat mungkin.
"Hmn, Mau sana Ibuk Ayah, poto, besar" ucap Kenan yang mulai mengantuk.
"Ibook pelyuk" Kenan menyusupkan kepalanya pada dada Rena.
"Besok pagi aku jemput Kenan" Suara dingin Raka setelah mengamati lama interaksi Kenan dan Rena. Hingga anaknya itu tertidur cepat dipangkuan sang ibunya.
Raka merasa bersalah. Memisahkan anak dengan ibunya. Dan sering Citra memakinya. Yang egois, dan mengabaikan kebahagian anaknya.
Berkali Raka meminta maaf pada sang anak. Namun hanya cara ini yang ada dipikirannya untuk menahan Rena tetap disisinya. Sebelum ia bisa menghamili istrinya itu.
"Raka besok weekend, bisa aku seharian dengan Kenan?"
"Tidak, aku akan menjemputnya pagi-pagi, tidak ada tawar menawar." Ucap Raka dengan nada meninggi.
"Tolong lah Raka jangan keterlaluan, aku sudah melakukan semua yang kau mau, tapi kenapa kamu menyiksaku begini, jangan ambil Kenan dariku!" Rena juga berkata dengan nada tinggi. Kenan sedikit terusik dengan perdebatan sang orang tua.
"Hmmn … buuk" rengek bocah yang baru berumur 3 tahun itu.
"Iya sayang ibuk disini, ibuk disini" Rena menepuk punggung Kenan. Mengelus kepala dan mengecupinya.
"Kau tega melakukan ini untuk dirimu sendiri, kau egois!" Lanjut Rena tak tahan.
"Tak apa jika kamu ngelakuin itu padaku tapi jangan mengorbankan anakku juga." Bisik Rena, ia melirik nyalang.
"Dan pulanglah sekarang, oke kau bisa jemput lagi besok, pagi" cepat Rena memotong Raka yang terlihat tidak terima dengan perkataannya.
Rena menutup kedua telinga Kenan. Mereka walau dengan suara pelan tetap saja sedang perang argumen.
__ADS_1
"Kau tahu dimana pintu berada kan, Bapak Raka?" Rena meninggalkan Raka, ia membawa Kenan ke kamarnya. Rasa menyakitkan itu terus menghantam jantungnya. Sesak.
Rena menangis dengan tertahan. Air matanya tak lagi bisa dikendalikan. "Ya Tuhan ini menyakitkan" bisiknya. Tangannya mengelus sayang kepala sang putra.
Raka melangkah ia membuka dan menutup pintu kamar Rena dibuat frustasi dibalik pintu itu.
Tidak ia harus melakukannya, keegoisan apa? Itu bukan egois, ia mempertahankan sang istri untuk sang anak juga.
Raka melarikan mobilnya ke rumah Citra, disana ia setidaknya bisa waras. Ia tahu bagaimana dirinya jika mabuk dan tidak ingin mengambil resiko apapun itu.
Namun tetap ia membeli sekerat bir. "Aku pulang." Ucap Raka didepan pintu Citra dengan mengangkat sekerat bir itu. Si pemilik rumah menatap tak suka pada keratan bir ditangan Raka.
"Terakhir kali kau keracunan alkohol bukan? Dan sekarang kau membawa sekerat bir? Kalau mau bunuh diri jangan dirumahku!"
"Raka? Masuklah" Siwa memegang pundak istrinya yang marah.
"Sudahlah sayang, kau tidak melihat seberapa berantakan dirinya"
"Ya itu kesalahannya sendiri, gila aja ia melakukan metode balikan yang gila!" Suara Citra meninggi, untuk saja Elzar ada di rumah Doroty.
"Sayang, tenang, kamu tadi bukannya mau membuat kue, Hmn? Aku yang bakal tangani suami galau ini" Siwa mengecup kepala Citra yang masih menatap Raka nyalang.
"Oke inget kamu nggak usah pake minum!"
Citra mengecup bibir suaminya sekilas. Dan memberi kode jika ia mengawasi keduannya. Jarinya yang berbentuk v ia arahkan sari matanya ke arah suami dan sahabatnya itu. Berkali sebelum menghilang menuju dapur.
"Ayo kita ka taman samping, aku akan menemanimu" Raka merangkul bahu Siwa.
"Kau ter D'best, Ayo kiya habiskan malam dengan amunisi ini"
"BEEB, JANGAN MABUK OKEY!" Peringatan Citra.
"Nggak Honey" Siwa mengatakan lewat senyuman, ia tidak bisa mabuk. Raka mengerti, mengangkat tangan dengan mengangguk.
"That Mine" ia menunjuk kerat bir.
Cteksss …
Kaleng pertama, Raka menegguknya hingga tandas. Meremas kalengnya hingga remuk dan melempar pada tempat sampah di seberangnya.
Citra tak lagi tinggal di rumah sederhana miliknya itu. Ia tinggal dirumah yang Siwa persiapkan untuk mereka. Rumah luas dengan pekarangan buah dan sayur yang mengelilinginya.
Ada kolam renang bergaya tropis di samping rumah. Tempat Eaka dan Siwa sekarang duduk menemani kegalauan Raka.
"Aku tidak ingin berpisah. Tapi aku memisahkan dirinya dengan anak kami" ucapan pembuka Raka.
__ADS_1
Siwa diam, ia hanya ingin menjadi pendengar saja.
"Kalian semua bilang aku egois, Nah! Kalian salah, aku melakukan itu untuk mempertahankan dia, dan ini untuk kebaikan anakku, agar tidak ditinggalkan oleh ibunya"
"Kalian bilang aku egois, jika aku egois aku akan melupakannya dan tidak akan peduli padanya juga anakku lagi!"
"Hahahhaha itu bukan egois tapi Bren gsek! Aku tahu aku ba jikngan sialaan! Tapi aku tidak memilih itu! Kau tahu karena apa?" Raka sudah mabuk! Ditangannya kaleng ke delapan. Siwa sudah menyembunyikan sisa kaleng birnya.
"Hei Dude! Karena kau telah jatuh cinta pada istrimu"
"Nah! Aku tidak jatuh cinta tapi aku peduli! Yah hanya peduli!" Raka melengos.
Setidaknya Siwa tahu bagaimana Rena. Mereka pernah seatap selama hampir dua tahun, jadi ia tahu bagaimana Rena.
Wanita itu minder, melihat kondisi dimana Rena yang pernah kehilangan anak apa wanita itu memiliki trauma?
"Mengapa kau memilih jalan memaksa agar bisa mengikat Rena? Pasti ia merasa pilihan tepat jika meninggalkanmu"
"Dia tidak akan meninggalkanku! Aku tidka bisa dengan cara halus untuk terus mengikatnya. Setiap kata yang keluar dari bibirnya hanya pisah, pisah dan pisah."
"Aku takut kemarahan dan berakibat fatal, jika aku selalu menanggapi dengan lembut"
"Bukannya yang kau lakukan inj juga fatal? Memaksanya?"
"Setidaknya ia tidka akan mengatakan kata pisah dan ia akan menurutiku" ada tawa sumir disana. Miris sekali ia mempertahankan istrinya dengan cara menekan mental sang istri melalui anaknya.
"Sampai kapan? Sampai Rena mengandung anakmu lagi tapi dalam tekanan mental?"
Raka menatap dengan mulut cemberut, dan garis dahi dalam, ia tidak setuju perkataan Siwa dan meneguk birnya. Namun kalengnya kosong.
"Lho mana? Apa sudah habis? Habis, ayo kita beli lagi!"
Raka mencari bir di sekelilingnya, hanya ada kaleng kosong. Ia menumpahkan pada mulutnya kaleng-kaleng kosong itu, lalu membuangnya.
"Aku harap kau menghentikan semua kegilaanmu ini, Raka" ia melihat Raka yang sudah tidak sadarkan diri alias tidur. Siwa beranjak dari kursinya. Ia ingin melihat istrinya sebentar, dan akan memapah Raka setelanya.
"Sayang wangi sekali, cake apa yang kau buat?" Siwa mendekap Citra dari belakang, wanita itu baru saja mengangkat cetakan kue, lalu membaliknya. Banana bread.
"Butter cake dalam panggangan, dan Banana cake kesukaan Elzar dan kamu" ucap Citra, Siwa menyurukkan kepalanya di leher sang istri.
"Apa kalian sudah selesai?" Tanya Citra, Siwa tahu maksud pertanyaan Citra. Siwa bercerita.
"Begitu, sudah, aku akan membawanya masuk!"
"Tidak perlu, biarkan si pengecut itu disana! Biarkan kepalanya dingin" ucap Citra berang, Siwa menceritakan semua pembicaraannya dengan Raka.
__ADS_1
"Oke kalau begitu aku ambilkan selimut untuknya." Citra mengangguk. Siwa mengecup pelipis Citra dan beranjak menuju lantai dua rumahnya.
Bersambung ...