
Bau alkohol menyeruak saat keduanya masuk ke dalam ruangan gelap itu. Sosok itu terlihat di atas ranjang, tertidur.
"Cepat periksa dia Isak!" Rena dan Isak bergerak cepat ke atas ranjang. Isak memeriksa hidungnya, masih bernafas. "Bantu aku angkut dia Siwa" Isak mengatakan pada Rena untuk membawa satu bala bantuan.
Yang saat ini selalu menjaganya adalah Siwa. Tanpa pikir panjang ia menghubungi Siwa saat tengah malam. Minta diantar ke rumah sang abang.
Mereka mengangkut Davis ke kamar tamu di sebelah kamarnya. Rena menatap kamar Davis.
Ia masuk ke kamar mandi disana ada beberapa pakaian wanita. Jangan bilang Davis tinggal bersama wanita?
Ia keluar dengan tergopoh. Kandungannya sudah sangat besar berjalan biasa saja membuat dirinya kelelahan.
Nafasnya memburu. Ia tidak kuat bau sekali ruangan abangnya itu.
"Bibi-bibi!"
"Ya Non?"
"Bi selama ini abang tinggal disini dengan siapa?"
"Em … itu … anu … "
"Jawab bi!"
"Non Padma"
"Ceritakan semuanya, nggak usah takut, aku yang menjamin kalian aman"
Mengalirlah semua cerita kekejaman Davis. Mengurung Padma, dan membuatnya terasing.
"Jadi malam itu suami Pak Raka datang, ia mendobrak kamar Non Padma, disana Non Padma langsung memeluk Pak Raka. Dan membawa Non Padma pergi."
"Setelah itu Tuan mulai marah-marah dan mengurung diri di kamar, meminta Pak Arga datang hanya untuk membelikannya bir atau minuman lain."
"Kapan Padma dijemput oleh Pak Raka?"
"Sekitar 2 mingguan yang lalu" Jantung Rena kembali diremas kuat. Apa ini maksudnya Raka melarikan Padma ke Amerika? Kenapa Raka tidak memberitahunya? Apa mereka kembali bersama?
Rena butuh duduk, kakinya merasa lemas tak bisa lagi menahan berat tubuhnya. Pikirannya didominasi pada hal negatif dan berfokus ke sang suami.
Apa kelakuan Raka kembali ke semula? "Bi bikinkan teh hangat"
"Baik Non" Romlah menjadi tak enak, apa ia salah berbicara? Wajah Rena pias dan pucat. Romlah bergerak gesit. Segelas teh manis hangat berada didepan Rena.
Wanita itu menyesap wangi teh juga meneguknya. Rasa dingin pada dirinya berganti dengan rasa hangat.
"Bi buka semua jendela kamar Bang Davis, hati-hati pakai sandal atau sepatu di dalam sana banyak pecahan botol. Ganti semua sarung bantal dan sprei. Sapu dan pel, hilangkan semua bau busuk didalam sana. Kerjakan dengan para pekerja" Perintah yang diangguki Romlah.
"Kau tak apa?" Isak mendekat ia melihat Rena duduk di sofa dengan kepala menengadah ke atas. Pucat.
"Hmn … Padma tinggal disini, lebih tepatnya disekap disini, dan sekarang kabur bareng suami ku, Raka membawa kabur Padma" ujarnya pelan. Rena memijat pelipisnya.
"Kamu mau balik, nanti kamu diantar Siwa tapi nanti aku pinjam Siwa." Rena hanya mengangguk.
Ia lelah. Hati dan mentalnya sedang di gojlok. Rena langsung kembali ke kamarnya. Ia merebahkan diri setelah mengganti bajunya yang bau alkohol. Rena tertidur lelap. Dan Siwa kembali ke rumah Davis.
__ADS_1
Keesokan harinya,
"Bu bos, ada yang mencari Bu Bos" Rena yang sudah segar dan turun ke meja makan.
"Eyang mana?"
"Bu bos lupa Eyang Doroty dan pak Herman napak tilas, pulang besok," Rena mengangguk, ia sudah mengambil cuti hamil saat kandungannya berusia 7 bulan. Raka terlalu ribut hingga mau tidak mau Isak memberinya izin.
"Siapkan minum ya"
"Baik Bu bos" Jum memanggil Rena dengan sebutan Bu bos, sama seperti Udin selalu memanggilnya begitu.
Rena pernah protes, tapi Jum hanya mengatakan sudah kebiasaan ketularan Udin kalau ngomongin Rena dengan memanggil Bi bos.
Rena terima saja, lagi pula capek, ia akhir-akhir ini sering merasa cepat lelah. "Rena ke ruang tamu dulu"
"Maaf siap—" ucapannya terpotong.
"Halo kakak sepupu ipar" Kila.
"Ngapain kamu disini?"
"Ngapain kamu disini? Memang cucu nggak boleh datang ke rumah eyang sendiri?"
"Apa yang kamu mau?"
"Tidak ada," Rena terdiam. Mengamati Kila, menunggu bom apa yang gadis di depannya ini.
"Eyangku kemana?" Jum datang. Ia meletakkan minumannya dan melirik sekilas pada Kila yang terlihat aneh.
"Aku mau menginap disini" Rena menaikkan alisnya. "Terserah. Ini rumah eyangmu, tapi aku tidak bisa mengizinkannya. Karena Eyang Doroty tidak mengatakan apapun tentang kedatanganmu, jadi tunggu kepulangan Eyang Doroty, silahkan keluar dari sini, kalau tidak ada yang mau kau bicarakan" ucap Rena ia siap beranjak.
"Ini rumah Eyangku! Dan aku sebagai cucu berhak tinggal!"
"Tidak bisa sebelum kau meminta izin pada Eyang Doroty." Rena berdiri dengan susah payah. Kila menatapnya dnegan kemarahan besar.
"Jangan kira Eyang berpihak padamu maka kau jadi di atas angin! Kau tahu sepupuku itu ia berada di Amerika dengan kekasihnya? Kau pikir bisa memisahkan mereka berdua? Mereka kekasih sedari lama. Mungkin dari kecil."
"Makanya sejauh apapun itu mereka akan kembali bersama," Rena bangkit. Ia akan masuk kedalam.
"Aku tahukan dimana pintu keluar!"
Kila mengepalkan tangannya. Rena sungguh merendahkannya saat ini, membuatnya malu pada pekerja neneknya. Ini rumah eyangnya berhak apa Rena?
"Penjahat! Keluarga penjahat tidak tahu malu!" Langkah Rena terhenti.
"Ah kau belum tahu, apa yang keluargamu lakukan pada sepupuku yang malang itu?"
Alis Rena bertemu, apa hubungannya keluarganya dengan keluarga Raka? Jika keluarganya penjahat, Rena tentu tidak terkejut, mereka saja bisa dengan mudah menjual anaknya.
Ah bukan, Rena bukan anak kandung mereka pantas saja, selama ini berjuang seberapa kerasnya Rena untuk menjadi lebih baik, Tuan dan Nyonya Joel tidak akan pernah memandangnya. Miris.
"Suamimu itu bahkan tidak pernah jujur, dan kau masih percaya dengan ucapan manisnya padamu, dasar bodoh!"
"Jangan bertele-tele gadis muda. Aku tidak sebodoh itu! Atau kau yang membual, mengulur waktu, itu akan sia-sia dan tak berguna"
__ADS_1
Umpatan keras terdengar dari gadis di depannya itu. "Sialaan kau pembunuh! Bagaimana selama ini kau makan dari uang hasil membunuh!"
"Imajinasiku sungguh luar biasa Kila, mungkin dari pada kau disini, terapi diluar sana banyak yang nganggur. Tinggal kau pilih salah satu untuk mendengar ucapan halumu itu"
"Pergilah! Jangan lagi mempermalukan dirimu sendiri!"
Rena merasa terlibat dengan gadis gila ini membuang banyak tenaga dan waktunya.
"Ja lang sialaan! Kau yang tidak tahu apapun disini! Merasa paling tinggi karena sepupuku itu mengejarmu?"
"Kau salah, kau adalah incaran lamanya, untuk menuntut balas atas nama ornag tuanya yang keluargamu bunuh!"
"Selama ini kau hanyalah pion untuk menuju sesuatu yang besar" ucapnya lagi.
"Kau tahu mendekati Davis yang gila itu adalah pengorbanan besar yang Padma lakukan untuk Raka. Aku kasihan anakmu akan dicap sebagai anak pembunuh"
"Sebenarnya apa yang kau katakan? Aku sedari tadi tidak mengerti siapa pembunuh?"
"Tanya pada orang tuamu apa yang dilakukannya pada karyawan mereka pasangan Alzer Imam dan Rachel Imam."
"Semoga saja mereka mengaku! Sudahlah aku akan pergi dari sini" ucap Kila melenggang pergi.
Rena merasa tulangnya dilolosi, apalagi ini? Orang tua Raka? Bekerja di perusahaan Joel?
"Saya kembali Nyonya muda"
"Heleh nyonya muda, Siwa bagaimana keadaan abangku?"
"Sudah siuman, dan dibawa kerumah Tuan Isak." Rena hanya mengangguk.
"Anda tak apa Nyonya muda?" Terlihat wajah kusut, Rena. Pucat.
"Bisa kau cari tahu informasi pasangan suami istri Alzer Imam dan Rachel Imam?"
"Baik Nyonya Muda"
"Untuk hari ini kau istirahat saja dulu, urgh … " Rena akan ke kamar, sebaiknya ia menunggu abangnya lebih baik, Juga tentang Raka yang tidak bisa dihubungi.
"Nyonya anda mengompol!" Ucap Siwa.
Rena menatap kebawa. Air mengenang di bawah kakinya. Ia harus tenang.
"Siwa panggil mbok Jum dan suruh dia mengambil tas hitam besar yang aku siapkan di kamar. Lalu setelah itu kamu siapkan mobil, kita akan kerumah sakit malam ini, sepertinya anakku mau keluar lebih cepat"
Rena terlihat tenang. "Bu bos" Jum mendatanginya dengan tergopoh, menenteng sebuah tas besar. Rena mengangguk. Ia melihat Siwa datang dengan berjalan cepat.
"Sudah siap semua?" Siwa dan Jum mengangguk. "Ayo kita kerumah sakit, keluarga baru kita ternyata sudah tak sabaran ingin bertemu" ucapnya berkelakar, namun tidak ada yang bisa tertawa. Hanya dirinya yang terbahak. Membuat ngeri Jum.
"Bawa mobilnya santai saja Siwa" lanjut Rena. Tapi kenyataan dan perkataan sangat berbeda. Rintihan Rena membuat Siwa tanpa sadar menginjak gas lebih dalam.
"Jum nanti telepon Eyang Doroty. Siwa, kau telepon Isak dan ba jingan Raka!" Mereka dalam perjalanan ke rumah sakit. Mobil meliuk, memotong kemacetan.
Tak lama Rena dipapah untuk menuju UGD.
Bersambung ...
__ADS_1