Dendam Sang CEO Tampan

Dendam Sang CEO Tampan
Bab 22. Hamil


__ADS_3

Sepagi ini, kepalanya seakan meledak, bagitu juga perutnya yang mual. Dari tadi Rena sudah berulang kali keluar masuk kamar mandi.


Ia baru beberapa hari masuk ke perusahaan Isak. Lewi Crop menjadi sekretaris Isak. Namun sepertinya ia kan absen hari ini.


Terdengar ketukan dari pintu kamarnya. Membukanya. Sosok Isak ada dibalik pintu.


"Kamu belum siap-siap? Ini sudah siang, kamu kenapa? Wajahmu pucat" Rena masuk kedalam kamar mandi memuntahkan apapun itu.


Isak melihat itu ikut cemas mendengar suara muntahan yang sepertinya menyakitkan. "Kita kerumah sakit" ucap Isak.


"Aku hanya masuk angin mungkin, tak perlu ke rumah sakit." ucap Rena yang keluar dari kamar mandi dengan berjalan terhuyung.


"Nggak ayo kita ke rumah sakit. Aku takutnya kamu keracunan makanan, kamu baru disini,"


Rena memutar bola matanya. Bagaimana dia keracunan makanan, dulu ia pernah tinggal di Indonesia. Dan bagaimana bisa keracunan jika Isak yang selalu memasak untuknya.


Ya hanya pasta, tapi lumayan lelaki itu bisa membuka restoran pasta jika ingin, masakannya juga lumayan walau bumbu instan yang membuatnya menjadi enak.


"Sudah ayo" Isak memapah Rena yang pasrah. Ia ikut saja, lagipula ia hanya menumpang dan beban Isak. Ia tidak bisa sakit terlalu lama. Jadwal Isak ternyata sangat padat. Maklum perusahaan startup jadi mobilitasnya berputar sangat cepat.


"Ini, nanti ibu ke bagian Obgyn" ucapan dokter yang merujuk Rena. Membuat perempuan itu terpaku di tempatnya. Ia mengeratkan tangannya yang bertaut. Dingin. Tubuhnya rasanya disiram dengan air es.


Wajah pucat nya semakin pias. Ia keluar ruangan dokter dengan tangan gemetar agak terhuyung dengan kertas rujukan.


"Tidak mungkin" gumamnya dengan suara bergetar.


"Tidak, tidak mungkin" Rena menggeleng kepala perlahan.


Mengapa harus begini. Ini tidak ada dalam rencananya. Ia mengkonsumsi obat Raka terus menerus dan saat ia mencari cara kerja di pencarian online. Jika terus dikonsumsi secara teratur efeknya akan lebih bagus. 


Ia mendekati Isak yang menunggunya di kursi tunggu. Rena meluruh disamping Isak. Ia menunduk lalu menangis. Ia tidak siap dengan prasangka dan kebenaran yang akan ia hadapi nanti.

__ADS_1


"Kenapa?" Isak ikut cemas.


"Ada apa? Sakit apa?" Tanyanya. Ia memegang bahu Rena yang masih sesenggukan kencang. Isak tidak tahu bagaimana menenangkan Rena. Lelaki itu memeluk Rena.


Rena membutuhkannya. Ia merengkuh erat Isak mencari kekuatan untuk kedepannya. Isak menepuk punggung wanita yang sudah ia anggap adik itu. Rena menangis.


Tak lama Rena menghapus air matanya. Lalu bangkit ia harus memeriksakan keadaan janin dalam kandungannya.


Rena menemukan ruangan Obgyn dan duduk di deretan kursi tunggu. Isak yang mengikuti melebarkan matanya. Menatap satu dinding dengan tulisan obgyn dengan huruf kapital besar.


Isak bertatapan dengan mata Rena yang nanar dan kosong. Isak merengkuh susah udara sekitar yang hilang.


Bodohnya ia tidak ada pikiran kemungkinan itu akan terjadi pada wanita menikah. Bodoh dan dungu. Ia terlalu gagabah. Jika begini lalu ia harus bagaimana?


Rena bisa melihat kegundahan Isak. "Jangan kasih tahu siapapun Bang" ucapnya dengan cengkraman yang perlahan menguat.


"Jangan Bang, siapa pun" Netra coklat terang itu kembali berkaca.


"Ayo bang, ikut nggak mau ketemu keponakan?" Ucap Rena. Isak mau tak mua ikut kedalam dan menguatkan wanita itu.


"Masuk trimester pertamanya. Usia kandungannya 9 minggu" ucap Dokter wanita paruh baya yang bersahaja. Terlihat sangat keibuan dan membantu Rena menjadi tenang. Dokter Nila.


***


Rena memandangi foto usg yang ia dapat, ia meminta dua. Dan satu ia berikan pada Isak. Katanya biar dompet Isak tidak kosong-kosong banget.


Ada rasa membuncang saat Nila memperdengarkan detak jantung bayinya. Rasa hangat menjalari dirinya. Ada takjub disana. Awalnya ia tidak terima, ia belum siap. Namun tidak sedikitpun terlintas akan menyingkirkan jabang bayinya.


Ia hanya bingung dengan masalah dan keadaan. Tetapi entah kekuatan dari mana dengan yakin, Rena akan berjuang. Semangatnya berkobar. Walaupun keesokan harinya Rena tetap saja tepar dan perlu absen sehari lagi.


Lain dengan Rena yang sibuk dengan kehamilannya yang membuatnya semangat. Raka kebalikannya, lelaki itu begitu kuyuh. Saat ia meninggalkan Rena begitu saja, misalnya seminggu ia tidak mengirimi istrinya kabar, dirinya tidak akan terganggu. Karena ia tahu Rena selalu menunggunya.

__ADS_1


Namun saat melihat amplop coklat dan ketidakhadiran sang istri di sisinya mengapa rasanya menyesakkan.


Mengetahui istrinya kabur. Bahkan dengan persiapan matang. Membuat Raka meradang. Ia tak mengira Rena akan bertindak sejauh itu. Raka mendatangi kantor Ibrahim Crop.


Dan tahu jika Rena telah mengundurkan diri, menghubungi Ibrahim namun lelaki paruh baya itu tidak menanggapi dirinya. Bahkan saat bertemu Raka di pesta salah satu klien, pasangan itu enggan menyapa, ia dekatipun, Raka tidak mendapat informasi apapun terkait Rena.


Mereka bahkan marah pada Raka membuat Rena kabur. Belum lagi sindirannya pada Padma yang selalu ada disampingnya bukannya istrinya.


Padma yang mendapat cercaan itu hanya bisa tersenyum tipis. "Kamu perempuan, apa kamu nggak punya malu menggelendoti suami orang?" Ucapan pedas Nami padanya.


"Kamu juga Raka, kemana kamu buat anak saya pergi! Tahu seperti ini saya tidak akan mau menikahkannya dengan lelaki sepertimu" Nami sudah di butakan amarahnya.


"Kamu tahu saya menyesal, jika saya menemukan Rena saya akan menyuruhnya menceraikanmu!"


"Anda tidak bisa memisahkan saya dan istri saya" ucap Raka mantap.


"Dasar anak ba jingan kamu!" Nami meradang. Ia akan menyerang Raka. Namun Ibrahim melingkarkan tangannya pada pinggang istrinya.


"Lebih baik kalian masuk, Raka, kami kecewa denganmu, Nak" kata Ibrahim serasa menonjok ulu hati Raka. Lelaki paruh baya yang sudah ia anggap ayahnya sendiri. Mengatakan hal itu. Sorot matanya telah menjelaskan bahwa mereka kecewa besar.


"Yah lepaskan aku ingin memberinya pelajaran. Lepas Yah!"


"Bun, jangan disini ya,"


"Harus disini, biar sekalian semua tahu, kelakuannya itu, apalagi asisten pelakor itu." Teriak kencang Nami sambil menunjuk ke tempat Raka menghilang.


Banyak yang tidak menyangka ternyata Raka telah menikah dan lebih memilih membawa asistennya di pesta. Gosip menyebar dengan cepat. Padma menjadi bulan-bulanan bukan hanya di perusahaan Raka, namun di perusahaan lain.


Raka pun semakin acuh padanya. Raka sibuk bergumul dengan perasaannya sendiri. Sedangkan Padma menghubungi siapa lagi jika bukan Davis.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2