
Rena menunggu, Denting suara pesan masuk, Raka mengabarkan jika ia tidak bisa datang. Rena sudah menduganya. Tanpa kabar juga susah dihubungi pasti suaminya itu sibuk bekerja. Helaan kasar teedengar dari bibir Rena.
Ia hanya menjadi pendengar di antara Troy dan Davis. Mereka membicarakan bisnis. Rena tidak tahu banyak tentang perusahaan Joel. Sengaja. Ia tidak ingin terlibat dalam perusahaan keluarga.
"Rena dari pada kamu kerja di orang kenapa tidak membantu abang?" Davis terdengar manja.
"Bang kamu tahu alasanku bukan?"
"Tahu tapi setidaknya bantuanmu sangat meringankan abang" Davis tahu adiknya itu tidak mau dilibatkan dalam perusahaan keluarga. Bukan hanya itu tapi semua yang menyangkut keluarga Rena menjadi antipati.
"Sudahlah jangan memaksa jika dia tak mau, cukup kamu saja, jika kamu kesusahan kamu tinggal bilang ke Papa" ucap Troy ia kembali menyendokkan makanan ke mulutnya.
Rena tidak mengindahkan ucapan Troy yang memang tidak pernah memikirkannya.
"Kemana Raka?" Tanya Davis. Ia melirik Rena yang menghembuskan nafas kasar.
"Ia tidak bisa meninggalkan pekerjaannya, perusahaannya sedang bermasalah." Rena memberikan alasan Raka tidak hadir.
"Aku selesai, Pa, Bang aku pulang dulu ya" katakan jika Rena tidak sopan. Memang dia seperti ini.
"Kok pulang Ren? Abang masih kangen lho" Rena telah beranjak, ia sudah mencangklongkan tasnya di pundak menatap datar sang abang.
"Buat apa disini lama-lama, Mama yang aku buat janji makan bersama hari ini, lebih memilih arisan, Raka yang tidak datang ya buat apa Rena disini."
"Bener juga kata Papa bang, nggak usah memaksa jika tak mau biarkan saja" ucap Rwna meniru Troy.
"Rena! Dasar anak kurang ajar!" Bentak Troy.
"Ada apa ini ribut-ribut!"
"Lho Rena tumben pulang?" ucap Wila mendekat menenteng banyak tas belanjaan. Rena menatap sekilas tanpa menjawab sang ibu.
"Bang, Pa, Ma aku balik" Rena mengecup tangan Troy, Abangnya lalu berjalan mengambil tangan Wila.
"Rena kamu pulang naik apa?" Davis bergegas mengikuti Rena.
"Davis kembali ke tempatmu!" Ucap Troy meninggi. Davis seperti Rena. Ia tidak mengindagkan ucapan Troy. Rena adalah adiknya. Dan sebagai kakak ia menyanyangi. Sangat.
"Ada apa dengan anak-anakmu itu?" Wila tidak peduli wanita itu menaiki lantai atas. Sementara tatapan tajam Troy nyalang. Davis tidak mendengarkannya.
Davis tahu seberapa pilih kasih itu terlihat. Sering kali Troy dan Wila mengabaikan Rena dan Davis sering menegur. Hingga kakak Rena capek.
Kalau saja ia anak yang tidak tahu diri, sudah lama ia pergi dari rumah ini. Davis lebih memilih hidup dengan Rena tapi ia masih memiliki hati. Troy dan Wila menyayanginya dengan cara yang berlebihan. Dan ia tidak bisa mengabaikan ucapan orang tuannya kecuali ada sangkut pautnya dengan Rena.
"Ayo abang anter"
Davis menarik Rena ke mobil Rubicon miliknya.
"Papa pasti ngamuk!" Ucap Rena mengenakan sabuk pengaman. "Biarkan saja, nanti juga reda sendiri, seperti biasa"
"Abang pasti kena omel" tanggap Rena.
"Pasti dan akan berujung pada masalah yang sama. Perjodohan bisnis"
__ADS_1
Rena terkikik dengan keluh kesah sang abang. Ya semua hidup sang abang sudah di template oleh orang tuannya. Kadang Rena merasa beruntung bisa melakukan yang ia suka.
Tapi ya ia sama sekali tidak mendapatkan kasih sayang. Wajah Rena lelah.
"Thanks Bang! Mau mampir?"
Rena minta diantar ke apartemennya. Banyak pertanyaan yang ingin Davis keluarkan namun, Rena lebih dulu menjelaskan.
Memang Ia dan Raka seperti ini sering tinggal bergantian. Kadang di apartnya, kadang di apart Raka. Kedua apartemen mereka masih satu kawasan. Luasnya juga tidak terlalu kecil.
Dan hari ini mereka memang akan menginap lagi diapartemen Rena. Dan masalah Amerika juga obat pencegah kehamilan Rena akan simpan sendiri.
Ia tidak ingin abangnya membuat keributan. Pernikahan mereka masih seumur jagung.
"Nggak usah, udah sana kamu istirahat." Davis mengelus rambut Rena sebelum wanita itu turun mobil. Ia masuk ke apartemennya.
***
Rena memakan roti lapis untuk makan siang di sebuah kafe, menunggu sang Bos yang sedang berbelanja bersama istrinya dan memilih makan siang yang terlambat di tempat ini.
Hari ini jadwal bosnya padat, namun bosnya masih menyiapkan waktu berduaan dengan istrinya. Pasangan yang membuat kaum muda mengiri.
Pagi tadi ia tidak mendapati Raka di apartemennya. Menghubungi Raka setelah pernikahan lebih susah, dari sebelum pernikahan. Dering kedua lelaki itu pasti langsung mengangkat panggilannya.
Kembali ia larikan pandangannya pada pintu masuk kafe. Kunyahannya menjadi lambat.
Ia melihat sosok suami, masuk ke dalam kafe bersama seorang wanita dan mereka tertawa bahagia.
Rena meletakkan roti lapisnya. Dan mendekati meja Raka.
"Hmm … "
Obrolan yang Rena dengar setelah sang wanita pergi memesan, Rena melangkah menuju Raka.
"Raka? Kamu kemana aja? Aku nggak bisa menghubungimu" ucap Rena.
Ia melihat Raka yang terpaku memandanginya. "Rena? Kamu disini sayang?" Kaku.
"Iya makan siang, kamu juga baru makan siang?"
"Bentar aku ambil makananku dulu" Rena kembali ke mejanya, tak lama Rena mengambil tempat di sebelah Raka.
"Bagaimana keadaan perusahaanmu? Apa masalahnya bertambah rumit?"
Rena melihat guratan kelelahan diwajah sang suami. Ia menangkup dan memperhatikan lebih dalam wajah sang suami. "Kamu pucat"
Elusan yang menarik sudut bibir Raka. "Aku nggak apa, tadi cuma sarapan kopi"
"Iish, kamu harus makan berat sekarang."
"Ehem"
Deheman terdengar. Seorang wanita datang dengan nampan. Keduannya menengok ke arah deheman tersebut.
__ADS_1
"Rak ini pesananmu" satu kopi hitam tersaji di depan meja Raka.
"Ini siapa?" Tanya Rena.
"Sayang kenalkan ini Padma dia sekertarisku, Padma ini istriku, Rena" ucap Raka menatap lurus pada Padma.
Padma mengulurkan tangannya pada Rena. "Aku Padma, sekretaris Raka, salam kenal Rena" Rena tertegun. Sekertaris yang memanggil nama bosnya tanpa embel-embel.
"Salam kenal Padma, hanya ini saja pesanan Pak Raka" Angguk Padma.
Rena menekankan kata 'Pak' ia pun seorang sekretaris. Seberapa dekat Padma-Padma ini dengan suaminya? Hingga tidak ada embel-embel di depan nama sang suami saat ia menyebutnya.
"Sayang dia juga teman masa kecilku" Raka yang peka dengan ucapan Rena menjelaskan lebih.
Rena mengulir matanya pada Padma. Ini pertama kalinya Rena melihat sekertaris Raka. Senyumnya manis, anggun, dan tutur katanya lembut. Dan melihatnya raut wajahnya yang kecil bulat, kulit putih, bibir mungil kemerahan, Kesukaan para pejantan.
"Oh, waktu pernikahan kita kok dia nggak datang?"
"Saat itu Padma ke luar negeri, menggantikan aku"
Kembali mulut Rena membentuk huruf o, "Padma aku pinjam Pak Bosmu ya" Rena menarik lengan Raka. Dan mengangguk.
"Sebentar sayang, kasihan Padma kembali kekantor naik apa?"
"Padma ada aplikasi Ojol kan di ponselmu? Nggak apa kan naik Ojol?" Tanya Rena. Kembali Padma mengangguk dengan sedikit senyuman.
Raka hanya diam mengikuti istrinya. Matanya tak lepas dari Padma. Walau Padma menyungging senyuman manisnya, Rena merasa ada yang wanita itu tutupi. Terkesan misterius yang Rena tidak suka.
"Mau narik aku kemana sih sayang?" Ucap Raka yang berjalan kesusahan dibelakang Rena.
"Ssstt jangan banyak tanya, ikut aku!" Raka menyetir dengan panduan Rena sebagai google mapnya.
"Taraaaa … Ayo masuk," sebuah restoran kecil di pinggir kota. Lumayan jauh dari kantor Raka.
"Sayang restoran apa ini?"
"Restoran indonesia, ayo udaaaahhh masuk" Rena membawa Raka masuk kedalam. Wangi semerbak wangi masakan tercium oleh keduannya. Restoran kecil namun penuh pengunjung.
"Itu kosong, sinii, keburu diambil orang." Ucapnya. Raka masih menjelajah pandangannya. Menikmati ornamen juga musik yang tidak familiar di kupingnya.
"Mau pesan apa?"
"Soto ayam, satu porsi dengan telur muda, sati lagi setengah porsi saja, minumnya es limun madu dua" pelayan itu mencatat pesanan Rena, mengangguk dan masuk ke dapur.
"Restoran indonesia?"
"Iya, kamu tahu kan mamaku itu orang indonesia, waktu kecil kami pernah tinggal disana hingga usiaku 12 tahun, aku sangat suka makanan ini, dan kamu harus coba."
Mungkin bagi Rena begini caranya untuk mendekat pada Raka. Belakangan ia merasa Raka tidak sehangat dulu. Mungkin jika ia bukan sepasang suami istri Rena tidak akan peduli dengan perubahan sikap Raka ini.
Tapi mereka sudah terikat, Rena juga menantikan janji-janji manis Raka yang akan membantu dirinya untuk percaya pada pernikahan juga harapan Rena membuat keluarga yang hangat.
ngomong-ngomong soal Padma apa Rena harus waspada?
__ADS_1
Tbc.