Dendam Sang CEO Tampan

Dendam Sang CEO Tampan
Bab 9. Kekesalan Nami


__ADS_3

"Bun udahan dong ngambeknya"


Nami melirik suaminya itu bukannya menyesal tapi terlihat senang. Membuat jengkel yang wanita paruh baya itu semakin besar.


Mereka berada di dalam mobil menuju pesta rekanan perusahaan Ibrahim Crop.


"Kenapa kamu nggak mengajak si pemberi dasimu aja sana!" Nami melengos menatap jendela. Terdengar kekehan tawa dari Ibrahim.


"Seneng ya, gembira gitu, pake dasi dari penggemar fanatik seharian!" Nami mendengus keras. Kelakuan suaminya membuat kesal. Ia kesal dan suaminya semakin menertawai kekesalannya.


"Ayah cuma cinta Bunda kok, tapi Ayah seneng banget ngeliat Bunda cemburu gini" Ibrahim menoel dagu sang istri. Menatap wajah Ibrahim ingin sekali Nami menjitak kepala suaminya itu.


"Siapa yang cemburu? Nggak ada ya!" Nami mempertahankan gengsinya.


"Iya nggak cemburu, nggak cemburu, Ayo" Ibrahim keluar dari mobilnya. Ia menggandeng tangan sang istri lalu berjalan masuk.


Suasana ramai. Ballroom luas di kelilingi ornamen kain vinil tipis berwarna emas dan mahogani, terlihat elegan dan mewah. Para undangan berseliweran dengan gaun juga jas yang berharga mahal milik mereka.


Bisa dibilang inilah ajang pamer bagi sebagian orang yang serakah. Namun sekelas Ibrahim, orang agak segan untuk mendekat. Mereka memiliki wibawa yang tak bisa ditembus mudah untuk hanya sekedar obrolan ringan dari sepasang suami istri ini.


"Bukan kah itu Raka sayang? Kita kesana aku kangen sama Rena" Nami menarik tangan sang suami. Ia melihat wanita yang ada di sebelah Raka. Mereka membelakangi Nami dan Ibrahim.


"Raka?"


Raka berbalik, ia merasa terkejut Nami menyapanya. Nami akan menyapa perempuan yang Raka bawa. Tapi itu bukan Rena. Mata Nami seketika menajam.


"Tante, Om, apa kabar?"


"Oh kita baik, Siapa dia?" Nami melihat wanita dalam gandengan Raka itu dari atas hingga bawah juga tangannya yang mengalung di lengan Raka.


"Ini Padma, sekretaris Raka, tante" Raka terlihat terkejut, namun hanya sekilas ia mampu menutupi rasa kagetnya lalu melepaskan gandengannya pada Padma.

__ADS_1


"Saya Padma Bu, Sekretaris Pak Raka" tangannya mengulur. Nami menatap lama. Nami maju. Ibrahim tahu jika Nami akan melakukan sesuatu.


"Bun" peringatan Ibrahim.


"Sebentar ya Yah, aku cuma mau ngingetin aja sama Raka. Jangan sampai aku nyesel jadi walinya saat nikah. Aku juga sudah menganggap dia anakku" ucapnya tajam dengan memandang Padma yang menunduk.


"Jangan berprasangka, Bun" Ibrahim membuat istrinya tenang. Nami menghembuskan nafas kasar.


"Padma ya?" Nami tersenyum lebar. Padma mengangguk. Wanita itu merasa ada yang tersembunyi dari senyuman lebar Nami.


"Rena ada janji Bun, makanya Raka bawa sekertarisnya sama kayak Ayah tadi ditolak, juga kalau Bunda nggak bisa ikut, Ayah pasti minta Rena untuk ikut, Ya kan Nak Raka, nggak mungkin kamu nyeleweng"


Ibrahim dan sindirannya halus tapi menusuk tajam. Senyum ramah berbanding terbalik dengan apa yang keluar dari mulutnya.


"Jangan terlalu jauh. Atau semua akan hilang dan susah untuk kembali." Nami menatap tajam Raka. Tatapan dingin seorang ibu memperingatkan anaknya yang salah.


"Yah ayo masuk" Nami menggandeng tangan suaminya masuk ke ballroom. Meninggalkan  keduanya terdiam ditempatnya.


Dikursinya Raka lebih sering menatap ponselnya yang terus bergetar, namun tidak ia indahkan. Ratusan pesan masuk yang hanya ia lihat sekilas tanpa mau membalas.


Rahang Nami mengerat saat ia melintas di meja Raka dan Padma. Tangan Raka menaut jemari Padma di bawah meja dan pandangannya beralih ke cahaya dari ponsel Raka.


Nama Rena tertera disana. Berkedip dan kemudian layar ponsel.lelaki itu menggelap. Rena, sekertaris sang suami yang sudah ia anggap anak sendiri, di abaikan dan di perlakukan seperti itu. Nami tak terima.


Nami yang murka ingin menghampiri Raka tapi dari belakang sang Suami menghentikannnya.


"Bun, jangan dulu ikut campur sebelum anak-anak yang minta dibantu" Ibrahim menatap sang istri yang mengepalkan tangannya. Ia tahu istrinya sedang menahan diri.


Belum lagi, ia juga melihat keluarga Rena yang cuek melihat Raka yang menggandeng Padma. Keluarga macam apa itu. Tidak mungkin mereka tidak saling melihat. Dan kedua orang tua Rena itu hanya diam dan tidak menegur menantunya yang malah menggandengan perempuan lain, dan bukan anak mereka.


"Yah! Mereka tidak punya hati!" Geram Nami.

__ADS_1


"Ayo kita pulang aku malas disini!" Ucapnya. Mereka telah memberitahu sang pemilik acara jika tidak bisa lama. Dan kembali ke tempat sang pemilik acara. Kedua pasang paruh baya itu pamit, pulang.


***


"Kak apa kau nggak terlalu lembut memperlakukannya?" Suara terdengar dari alat persegi besar yang menampakkan wanita cantik dengan rambut pirang di tab.


Seorang lelaki berdiri membereskan buku bisnis yang baru saja ia selesaikan. Mendengar pertanyaan wanita itu membuat jemarinya yang akan memilih  buku lainnya terhenti. Ia melarikan bola matanya melirik sekejap pada tab.


"Kau tahu dari mana perlakuanmu padanya lembut sedangkan kau tidak disini,?" Ucapnya dengan membawa salah satu buku baru yang ingin ia baca.


Ia melangkah mendekati tab juga kursinya. Setiap akhir pekan lelaki itu menghabiskan waktunya di dalam ruangan kerjanya yang berada dirumah.


"Yaaahh … tahu saja, jangan terlalu lembut kak, apa kau jatuh cinta padanya?" Tanya wanita itu dengan suara mencicit saat mata sang lelaki menjadi tajam.


"Tidak! Dan tidak akan!" Ucapnya dingin ada ketegasan yang tidak terbantah disana.


Tangannya membuka laci ia meraih satu amplop coklat sebuah berkas. Jempolnya mengeluskan perlahan permukaan kertas coklat itu.


Mengeluarkannya dan meletakkan diatas meja. Jemarinya mengetuk di atas permukaaan amplop coklat itu.


Ketukan terdengar. Mata lelaki itu menuju pintu. "Kalau begitu aku matikan ya, bye kak miss you, jangan kelamaan disana" ucap wanita pirang dan layar kembali gelap. Melarikan diri. Si pirang merasakan aura yang berbahaya keluar dari lelaki didalam tabnya.


Ketikan kembali terdengar. Wajah dingin itu menatap tajam pintu. Ia mulai berdiri menghampiri si pengetuk. Meninggalkan amplop coklat itu begitu saja.


Setelah pintu dibuka raut wajahnya pun berubah. Cengiran lebar juga mata yang berseri dan jenaka. Lelaki itu perlihatkan.


"Makanan siang siap"


"Terima kasih, sayang" ia meraih pinggang si pengetuk, mengecup kepalanya sang pengetuk lamat. Pintu tertutup.


Kembali menyorot pada amplop coklat yang bertulisan Divorce Decree diatas meja.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2