
"Aaaaaargh" Pekik Rena terkejut. Saat melewati satu pintu, sebuah tangan menariknya masuk. Lalu mendekapnya dalam kegelapan.
Rena menjerit dan berontak dengan liar, terus menjerit.
"Lepaskan! Tolong!"
"Tolong! Tolooong!"
Rena tangannya menjulur untuk meraih pintu. Namun dekapan erat mengikat tangannya.
"Lepaskan!" Jeritnya.
"ini aku, ini aku, sayang … tenang, ini aku, hati-hati anak kita" suara lirih Raka terdengar saat ia harus menenangkan Rena. Raka mendekap Rena sangat erat. Ia menunduk masuk ke curuk leher Rena.
Rena menemukan kesadarannya saat mendengar suara juga kata 'anak kita'
Rena menghentikan berontak kerasnya.
Ia menatap sengit pada Raka yang terlihat pucat. Rena mendorong tubuh lelaki itu dan menjauhinya.
"Apa yang anda lakukan Tuan!" Ucap Rena menatap nyalang dengan suara ketus. Merapikan pakaiannya yang berantakan.
Nafasnya tersengal. Aroma Raka memenuhi penciumannya. Wangi yang membuatnya senang. Ia perlahan mengelus perutnya, gerakan yang tertangkap netra Raka.
"Berapa usia anak kita?" Cicitan lirih lelaki itu. Gerakan Rena terhenti. Ia kembali merapikan letak pakaiannya agar tidak terlihat tonjolan kecil di perutnya.
"Apa … Apa aku boleh … menyentuhnya?" Tatapannya luruh pada perut Rena. Ada letupan bahagia saat ucapan itu terlontar dari mulut Raka.
Rena mengangguk. Raka.yang mendapatkan lampu hijau. Melangkah perlahan. Hingga telapak tangan besar melingkupi tonjolan perut yang tertutup pakaian Rena.
"Hai jagoan apa kabar? Maafkan Ayah telat" ucap Raka membuat hati Rena mencelus. Rasa hangat dan elusan perlahan Raka sangat nyaman.
"Usianya lima bulan" ucap Rena haru, ia bisa merasakan anaknya juga ikut senang. Raka yang terbiasa dengan kehamilan Citra mengerti sedikit banyak mengenai kehamilan. Mengapa Raka langsung menyebutnya jagoan?
"Boleh aku ikut menemani disampingmu?" Rena terdiam. Kemudian gelengan, "Aku tidak ingin berhubungan denganmu lagi—"
"Tapi ini bayiku juga" Raka merasa sakit hati dengan penolakan Rena, suara lelaki itu meninggi. Rena mundur sambil melindungi perutnya. Tubuhnya bergetar hebat.
"Maaf … maaf" ucap Raka sadar dengan tindakannya. Mengapa ia begitu pemarah saat bersama Rena. Membuat Rena ketakutan. Raka ragu ingin menyentuh Rena.
__ADS_1
"Bi-biarkan aku kembali ke-kekamarku" ucapnya takut-takut. Ia takut Raka melukai anaknya. Sebe jat dan Bren gsek apapun Raka pada Rena tidak sedikitpun dalam benaknya akan melayangkan tangan pada seorang wanita.
Anggukan Raka tak terlihat namun tindakannya membukakan pintu pada Rena tanda ia melepas wanita itu saat ini. Raka akan mendekati Rena dengan perlahan. Seperti saat dulu.
***
Rena melangkah panjang dan terburu. Dadanya berdegup kencang. Degupan yang dulu sering ia rasakan. Rasanya menyenangkan.
"Bang, kamu senang ya ketemu Ayah?" Tanyanya pada sang jabang bayi. Rena masih satu lantai dengan Raka hanya berjarak tiga pintu.
Wanita itu menutup pintu dan berdiri menyender pintunya. Merasakan Degupan juga mengelus perutnya. Ada sebuah senyuman. Melunturkan semua amarah juga sakit hati.
Tidak bisa! Rena tidak boleh bodoh lagi. Lelaki seperti Raka mempunyai seribu wajah. Dengan bodohnya membuat Rena terpukau dan terperdaya. Dibeli? Pantas saja Raka memperlakukan dirinya seperti barang yang tidak berharga.
Rena mendengus. "Maafin Ibuk Bang" kembali Rena mengelus perutnya. Ia tidak bisa memberi sebuah keluarga utuh pada bayinya. Tapi Rena bertekat, ia akan memberikan kasih sayangnya penuh.
Tanpa sadar Rena memanggil bayinya juga sebutan 'Bang'
Dering ponsel memanggilnya.
"Ya yang?"
"Gimana hari ini? Maaf eyang nggak bisa datang" ucap Doroty.
"Cicit eyang apa kabar hari ini?"
"Pinter kok yang, juga seneng" ucap lirih Rena, kembali ia ingat tangkupan lebar tangan besar Raka pada perutnya. Ia masih bisa mengingat hangat yang seakan masuk dan bayinya ikut merasakan.
"Wah seneng kenapa?"
"Rena ketemu Raka eyang, Raka tahu Rena hamil dan tadi mengelus perut Rena. Dan cucu Eyang minta buat nemenin Renang saat masa kehamilan, menurut Eyang bagaimana?"
Rena tidak menyembunyikan apapun pada Doroty. Tinggal bersama wanita tua itu awalnya Rena canggung, dengan perhatian tiada putus.
Rena seperti mendapat sebuah keluarga, Doroty mengingatkan jika masih banyak orang yang sayang Rena. Interaksinya dengan Herman dan Siwa juga rela mencari dimana keberadaan keluarga Indonesianya.
"Eyang tanya ya? Perasaan Rena bagaimana saat dekat dengan Raka? Jika masih tidak ingin berhubungan dengan Raka, nanti eyang yang akan pasang badan buat Rena"
"Rena inget, perasaan harus nyaman agar cucu eyang tidak stres dan cicit eyang bertumbuh sehat"
__ADS_1
Doroty memang memihak Rena. Setelah mengetahui apa yang Raka lakukan, walaupun ia tak bisa membenci selamanya cucu laki-lakinya itu.
"Kalau Rena tidak mau Raka mendekat lagi apa eyang marah?"
Rena was-was, ia telah nyaman dengan Doroty dan tentu tak mau jika harus dijauhi.
"Nggak sayang, semua keputusan ditangan Rena. Eyang akan selalu mendukung keputusan Rena dan selalu mendampingi Rena apapun yang terjadi. Misal Rena berpisah sekalipun Eyang masih, eyang kamu sayang" ucap Doroty yang menghangatkan hati Rena.
Panggilan telah terputus. Malam itu Rena tertidur lebih cepat dari biasanya. Dan Rena telah memiliki keputusannya.
***
Ketukan terdengar dari pintu Rena, Ia akan sarapan dengan Doroty, semalam mereka membuat janji sarapan bersama.
Rena memeluk tubuh dibalik pintu hangat. Lalu masuk kedalam.
Di pintu lain, sepasang mata melebar. Mengapa Eyang Doroty ada disini dan yang lebih mengejutkan, wanita itu bersama Rena.
"Sialaan! Mengapa Kila tidak mengabariku jika Eyang Doroty tahu tentang Rena." Umpatan berkali-kali keluar dari mulut bergincu merah itu.
Rambut lurus hitamnya ia sugar kebelakang. Sejak tujuannya merebut Raka ia mengubah penampilannya lebih berani.
"Ck! Bren gsek! Kila kau tak bilang wanita tua itu disini!" Makinya pada ponsel. Di seberang ikut mengumpat.
"Siall! Mengapa kau mengumpatiku sialaan!! Kau tak tahu sekarang jam berapa?"
"Kau melucu? Biasanya juga kau tidur subuh! Lupakan! Ini kenapa aku melihat wanita tua itu dikamar Rena? Apa kau lupa memberi tahuku, aaah sialaan!" Mulut Padma penuh dengan umpatan. Doroty tidak pernah suka dengan Padma. Ia tidak pernah ramah padanya.
"Aku pun, tak tahu sialaan! Sudahlah biasanya kau bertahan. Apa salahnya bertahan sedikit lagi," Tanpa pamit Kila menutup sambungannya, membiarkan Padma masuk dalam medan perang seorang diri.
Kila langsung memesan tiket ke Amerika setelah keberangkatan Raka ke Indonesia. Ia tidak mau sendiri di Doha, karena tidak bisa bersenang-senang.
Padma pun tidak tahu apa yang membuat wanita tua itu membencinya. Dan Padma bertahan berteman dengan Raka juga Kila karena wanita itu hanya nenek angkat keluarga Raka. Tidak ada hubungannya dengan keluarga Raka.
Tapi setelah melihat Dorory disini dengan Rena ia merasa terancam, memisahkan Raka dan Rena akan semakin sulit.
Kembali Padma menyugar rambut luruh hitamnya. Rambut panjang sepinggang. Ia mengambil kotak rokok, mulutnya asam. dan membawanya ke balkon. Pemandangan gedung pencakar langit. Padma hanya menggunakan tank top juga celana pendek.
Menyandar pada pagar balkon. Menikmati mobil yang berjalan dibawah sana. Ia menghisap rokoknya. Kepulan asap membumbung ke langit. Hilang tertiup angin.
__ADS_1
Ia tidak boleh berhenti disini. Satu-satunya cara membuat Raka selalu digenggamannya. Padma masih memiliki kartu AS yang akan ia keluarkan jika target melawan.
Bersambung ...