Dendam Sang CEO Tampan

Dendam Sang CEO Tampan
Bab 8. Ingkar Janji


__ADS_3

Dering ponsel Raka mengacau di tengah malam panas mereka. Raka melepaskan pagutannya bersama Rena. Lelaki itu menerima telepon dengan cepat. Membuat Rena yang sudah terlena menjadi kesal dan penasaran siapa yang tengah malam begini menghubungi suaminya.


"Telepon dari siapa?" Saat melihat kepanikan Raka.


"Maaf, aku keluar sebentar" ucapnya tergesah.


"Tapi ini sudah tengah malam"


"Cuma sebentar"


Raka menggunakan kembali pakaiannya lalu mendekati Rena mengecup kening istrinya.


Rena menatap punggung Raka yang berlalu. Menatap punggung suaminya nanar.


Rena menunggu suaminya. Ponselnya pun tidak dijawab membuat Rena bertambah khawatir. Dan menjelang pagi sang suami baru kembali. Wajahnya dingin. Saat Rena bertanya Raka hanya menjawab sepatah kata.


Rena pikir suaminya lelah. Seminggu berlalu entah mengapa Rena merasa Raka menjaga jarak darinya. Setelah kejadian panggilan tengah malam itu. Setiap hari suaminya pulang terlambat juga meninggalkan Rena tengah malam.


Alasan yang sama. Alasan yang biasa Raka ucapkan. Perusahaannya sedang ada masalah. Dan Raka sebagai pemilik perusahaan harus selalu ada. Alasan yang akan Rena maklumi. Kemarin. Rena tidak ingin hanya menurut. Karena sikap Raka pun ikut mendingin juga cuek.


Tidak ada kata sayang lagi, hanya jawaban singkat. Pagi dengan dua gelas kopi Rena siapkan. Ia menunggu suaminya turun. Ia sengaja bangun lebih pagi jika tidak mereka tidak akan pernah bisa membahas bagaimana kelanjutan pernikahan mereka.


Rena mendengar langkah kaki Raka. Ia menunggu suaminya itu lewat. Mata mereka bersimborok.


"Kopi?"


Lama keduanya terdiam. Menatap. Rena tahu Raka akan menghindarinya. Lelaki itu seperti sedang mencari alasan lain. Raka ingin menolak.


"Ah kamu pasti nggak mau, sudah sana pergilah. Hati-hati, jangan sampai pekerjaanmu menunggumu" ucapan sarkas Rena. Ia beranjak dari island ke dapur dan membuang kopi buatannya. Rahang Raka mengeras.


Suara pecahan cangkir juga rintihan Rena terdengar. Rena mengeraskan rahangnya. Raka mendatangi istrinya.


Jangan nangis Rena. 


"Kamu kenapa ceroboh begini?" Mendapati jari Rena yang berdarah. Juga pecahan cangkir. Ia mendengar isakkan sang Istri.


"Aku nggak apa-apa, sudah sana" Rena mendorong Raka.


"Kamu kenapa? Marah sama aku?" Raka meraih tangan Rena yang berdarah, dan membersihkan darahnya. Lelaki itu meninggalakan Rena yang semakin tersedu.


Tangan Rena diraihnya dan meletakkan kotak p3k di meja. Merobek tisu dapur dan mengeringkan jari basah Rena.

__ADS_1


"Kamu itu, harusnya lebih hati-hati." Omelnya Rena masih menangis.


"Sakit ya?" Rena menggeleng menatap wajah Raka tampak kerutan kecemasan pada dahinya. Ia alihkan pandangannya pada luka yang sedang diobati oleh Raka.


"Kenapa jadi secengeng ini sih" ucap raka hangat. Ia mengulurkan tangan dan mengusap bulitan air mata Rena. Menatap lembut Rena.


"Maaf, tapi aku sekarang harus pergi. Nanti aku pulang cepat, kamu janji akan memasakan soto untukku kan?" Ucap Raka ia memeluk sang istri. Tatapan Raka menjadi dingin kembali. Sorot mata tajam sambil menepuk punggung Rena perlahan.


Dalam pelukan Raka, Rena mengangguk, senyuman mengembang pada wajahnya. Hanya begini saja, segala kesal pada sang suami yang mendadak cuek itu lenyap.


"Janji?"


Rena keluar dari pelukan Raka. Ia menjulurkan  jari kelingkingnya, Lagi Raka melihat lama, namun mengaitkan kelingkingnya perlahan.


"Janji" pikirnya ia sangat kekanakan saat ini.


Senyuman Rena melebar. Ia sangat senang terlihat dari goyangan tangan mereka yang menaut.


"Yaudah aku pergi dulu, atau mau bareng?" Rena menggeleng. Ini masih terlalu pagi untuk Rena berangkat ke kantor.


***


"Nanti malam ada pesta dari perusahaan Alam Jaya, bisa kamu temani Saya?"


"Ibu Nami kemana Pak?" Tanya Rena. Ia harus menolak, karena Ia berjanji akan memasak untuk Raka.


"Dia sedang ngambek sama Saya" keluh Ibrahim, Rena akan menjadi pendengar jika kedua orang yang sudah ia anggap orang tuanya sendiri ini bertengkar. Pasti masalah sepele.


"Karena saya memakai dasi hadiah dari perusahaan Lukman Sentosa, istri kesayangan saya itu marah."


"Pantes ajalah pak, bapak lupa dulu Bu Dara, perwakilan Lukman Sentosa ingin sekali bapak jadikan istri kedua bahkan nikah siri pun tak mengapa, ini sih, bapak yang nyari ribut itu namanya"


Tawa Ibrahim tergelak. Rena selalu blak-blakan dalam berkomentar dan dia suka. Dahi Rena mengkerut heran.


"Jadi istri saya cemburu ya" Hati Ibrahim meletup kegirangan. Ternyata selama apapun hubungannya berjalan rasa cemburu manis ini bisa menyenangkan hatinya.


"Maaf Pak masalah pesta, saya tidak bisa, ada janji" Rena tidak enak.


"Oh tak apa,"


Rena mengangguk, ia keluar ruangan dengan wajah bingungnya. Tapi ia ingat akan makan malam dengan Raka. Ia kembali dan membuka kembali instagramnya. Disana terdapat foto-foto masakan semua hasil eksperimennya yang berhasil. Cookbook miliknya. Menyimpan semua resep yang berhasil ia buat dan rasanya enak.

__ADS_1


Rena memiliki hobi memfoto hasil masaknya dan mempostingnya pada media sosial miliknya. Ia sangat senang jika ada satu dua orang bertanya padanya.


***


Rena memilih memasak soto rumahan namun rasanya tidak kalah dengan yang ia makan di restoran indonesia itu.


Mendorong troli. Memilih bahan apa saja untuk membuat soto. Ayam, kentang, bawang goreng masih ada, seledri, bumbu jadi, duo bawang, Rena masih punya. Ah sereh, bihun dan cabe.


Rena mulai membayar. Rena ijin pulang siang, setelah makan siang. Ibrahim mengizinkan lagi pula ia akan meminta maaf pada istrinya. Pun pekerjaannya sudah ia selesaikan. Ia bebas, Rena pun sama.


Memarkirkan mobil masuk kawasan parkiran apartemen Raka. Rena sudah pindah ke apartemen Raka yang lebih besar dari apartemennya dengan peralatan dapur yang lumayan lengkap walau tak selengkap miliknya.


Rena meletakkan segala belanjaannya di atas island. Mengeluarkan semua yang ia perlukan untuk memasak soto.


Juga Rena tadi sedikit kalap saat berbelanja di toko asia, juga toko swalayan biasa. Rena membeli banyak buah dan cemilan.


Cemilan Indonesia yang Raka suka. Rena mempersiapkan semua bahan, Dan masaknya cukup gampang ia tinggal memasukkan semua bahan menjadi satu lalu tunggu 30 menit untuk ayam lalu ia akan angkat dan tiriskan sebelum digoreng.


Untuk kentang. Rena menggunakan tiga buah kentang ukuran besar, yang telah ia kupas dan potong tipis-tipis. Setelah itu Rena menggoreng dan merebus bihun. Untuk kuahnya biarkan mendidih dan masak terus hingga airnya asat.


Rena tak lupa memasak nasi. Jangan sampai lupa. Karena seperti kebanyakan moto orang asia. Tidak makan nasi berarti belum makan.


Rena tadi mampir sebentar ke apartemennya dan mengambil benda sakralnya. Cobek.


Ia akan membuat sambal rebus. Ini untuk dirinya. Raka bisa makanan pedas tapi bukan pedas yang biasa di makan orang indonesia.


Awalnya Rena pun tidak bisa makanan pedas, bahkan ia benci. Namun ia suka makan bakso dan bakso tidak afdol kalau tidak menggunakan sambal. Setidaknya saat ini Rena bisa makan gorengan dengan cabe.


Saat ini Rena mengulek sambal rebusnya. Ia berjalan ke tempat kuah soto. Aroma soto semerbak memenuhi ruangan dapur. Ia mengaduk dan mencicipi. Senyum lebar menunjukan bahwa makanannya sukses.


Mengiris seledri dan daun bawang. Meletakkan pada mangkuk kecil. Ah! Rena lupa merebus telur.


Dengan gesit ia melangkah ke kulkas dan mengambil empat butir telur dan memasukkannya ke alat khusus pengukus telur. Menyalakan timer. Dan ia mengatur waktunya 5 menit.


Setelah semua beres Rena bergegas membersihkan diri. Dan menunggu Raka pulang.


Senyuman mengembang, Rena menatap jam masih pukul 6 malam, Raka berjanji akan pulang cepat.


Namun dari sore berubah menjadi senja dan senja berubah kembali menyambut sang surya, Raka tidak kembali.  Semua makanan telah dingin sedingin wajah lelah tidak tidur milik Rena. Suaminya ingkar janji.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2