
Rena melihat seseorang yang sedang ditunggu oleh Isak. Wanita tua, yang modis. Ia melenggang dengan anggun.
"Ibu Doroty?" Rena menyambutnya. "Pak Isak telah menunggu anda" Rena mempersilahkan untuk Doroty masuk.
"Tidak perlu, Saya kesini ingin menemuimu Rena Delino" Wajah Rena berubah, yang awalnya ramah menjadi berbenteng tinggi. Wanita di depannya memanggil dirinya dengan nama belakang Raka. Ini tidak bagus.
"Bisa kita bicara empat mata? Saya sudah meminta izin Pak Isak" Ucap Doroty.
Rena menatap tajam pintu Isak. Kesal.
"Baik, kita mungkin bisa berbicara di kafe bawah" ucap Rena. Apa ini pengacara Raka, untuk apa? Apa surat-suratnya tidak lengkap? Apa ia harus menghubungi pengacaranya? Tanpa sadar Rena mengelus perutnya yang semakin terlihat.
Gerakan itu tak luput dari pandangan Doroty. Mereka telah duduk di salah satu meja, agak pojok, membuatnya lebih tertutup. Satu gelas coklat hangat dan kopi mengepul di depan masing-masing manusia yang duduk berhadapan itu.
"Berapa usianya?" Doroty tanpa basa-basi.
Rena yang sedari tadi mengusap pinggiran gelas coklat hangatnya itu menghentikan gerakan jemarinya.
"Maaf sebelumnya, boleh saya tahu siapa anda?" Tanya Rena, ia sama sekali tidak tahu siapa wanita didepannya ini.
Tawa renyah terdengar.
"Aduh, maaf saya belum mengenalkan diri ya? Maklum ya wanita berumur, jadi sering lupa" ucapnya yang seakan Rena dekat dengannya.
"Perkenalkan saya Eyang Doroty, Nenek Raka" Rena membeku, mengapa ada keluarga suami, ralat, mantan suaminya disini, di Indonesia? Apa ia sudah ketahuan? Bagaimana ini? Wajah Rena yang semula hanya tegang menjadi cemas.
"Tenang, Raka tidak tahu keberadaanmu, hanya aku saja, tidak apakah jika eyang berbicara tidak formal dengan istri cucu eyang" ucap Doroty. Ia menangkup tangan Rena untuk menenangkan wanita hamil itu. Rena mengangguk.
"Berapa usia kandunganmu Rena?"
"Masuk bulan ke empat Bu,"
"Panggil aku eyang" Doroty tersenyum menenangkan.
"Boleh eyang mengelus cicit eyang" Rena menatap sekilas. Ia akhirnya mengangguk ragu.
__ADS_1
Doroty beranjak dan duduk disebelah Rena. Ia mengulurkan tangannya di atas perut Rena. Rasa haru melingkupi dirinya. Ia menarik Rena dalam pelukannya.
"Oh malangnya cucu mantuku," suara Doroty bergetar. Ia tahu bagaimana hidup Rena dari laporan Herman. Doroty mengelus punggung Rena yang menegang kembali rileks.
"Disini Eyang akan merawatmu, sayang" ucap Doroty. Ia mengelus punggung.
"Maksudnya bagaimana, Yang?" Rena masih dibuat bingung ini terlalu mendadak untuknya. Ada keluarga Raka lainnya yang mendatanginya.
Pertama kalinya Rena menghadapi keluarga Raka, tetua di keluarga Raka. Mungkin, apa ia diterima? Atau hanya untuk mengambil bayinya? Rena menghalau semua pikiran negatifnya.
"Kamu tinggal dengan eyang ya, eyang punya rumah di sini dan nanti kamu kerja diantar oleh supir Eyang" ucap Doroty. Ia menyakinkan Rena.
"Nggak usah repot, Yang" ucap Rena tidak enak. Hidupnya saat ini sudah lebih dari cukup.
"Apa Eyang nggak boleh merawat cucu menantu eyang beserta calon cicit eyang?" wanita tua namun tetap cantik itu murung, kembali Rena merasa tidak enak.
"Baik Yang, Rena akan tinggal dengan Eyang" senyum lembut Rena merekah.
"Sayang, Raka memang tidak salah, memilihmu menjadi istri" membuat senyuman Rena luntur perlahan. Tapi jika ia istri.yang tidak diinginkan bagaimana? Rasa sakit itu kembali menyeruak, apalagi dengan kejadian dibalik pintu ruang kerja Raka.
***
Mendengar cerita keluarga Rena yang tidak menganggapnya, juga mengenai mengapa ia kabur dari Raka. Karena pernikahannya hanya pernikahan bisnis, dan Raka sudah memiliki kekasih, Rena bahkan membantah jika suaminya selingkuh. Rena tidak pernah menjelekkan Raka.
Juga setelah mendengar cerita permasalahan Raka dari sudut pandang Citra. Doroty dibuat geram dengan kenyataan hubungan Raka dan Padma.
Tentang Pernikahan Rena yang hanya pernikahan agama, Raka tidak pernah mengurus pernikahan mereka ke KUA. Sedangkan Rena tahunya, ia sudah menikah KUA.
Mengapa cucunya begitu kejam pada wanita sebaik Rena. Ia tak habis pikir.
Jalan satu-satunya, menjauhkan Rena dari Raka. Melihat seberapa cucunya itu merasa kehilangan. Jika tidak berefek apapun pada Raka. Maka Doroty akan terus menyembunyikan Rena, hingga wanita itu siap bertemu Raka.
Raka sungguh bodoh, di pantinya ia merawat temannya hamil besar, namun menelantarkan istri sah yang hamil.
"Herman aku akan berikan sahamku pada cucuku ini" ucap Doroty. Ia ingin anak Raka mendapatkan bagiannya.
__ADS_1
"Tolong urus semuanya,"
"Baik Nyonya"
***
Pada tempatnya Raka, merasa tidak enak badan. Ia kembali merasa mual, dan merasa sangat malas, ia inginkan hanya tidur.
Raka berada di panti. Ia memilih di panti, agar tidak memikirkan Rena. Yang hingga saat ini masih tidak tahu dimana keberadaannya. Rena berhasil hilang dari hidup Raka.
Kembali Raka kembali mengingat saat mendatangi Ibrahim Crop dan disana dikatakan Rena telah berhenti sebulan sebelumnya. Ada keterkejutan dalam wajah lelaki itu.
Rena sudah mengaturnya. Mengatur kapan lepas darinya. Ia keluar dari kamarnya. Berjalan terhuyun.
Ia mendudukan dirinya di salah satu meja makan. Ada Citra disana. "Kamu sangat pucat Raka" ucap Citra ia menyentuh dahi Raka.
Tidak panas, "Rasanya mual sekali" Raka menidurkan kepalanya di meja makan. "Aku ingin makan es krim" ucap Raka.
Kembali kernyitan terlihat di dahi Citra. "Kamu seperti wanita hamil saja, mual dan ngidam" ucap Citra. Raka mendengus. Apa dia keracunan makanan? Nanti ia coba ke rumah sakit.
"Raka, Rena tidak meninggalkanmu dengan keadaan mengandung kan?"
"Tentu saja nggak, dia meminum dengan rutin pil yang aku beri"
"Kau sungguh kejam pantas saja dia meninggalkanmu," kesal Citra, Raka pikir hormon ibu hamil.
"Kau akan menyesal jika ternyata Rena hamil dan anakmu tidak mau mengakuimu sebagai ayahnya, karena kamu menolak kehadirannya." Ucap kesal Citra. Bagaimana Raka bersikap Bre gsek seperti mantannya itu.
"Raka?!" Padma masuk ke panti dengan rusuh. "Kamu sakit? Ayo ke dokter!" Ia memapah Raka.
"Semoga kamu cepat menemukan istrimu Raka, atau kau akan selamanya dalam penyesalan," Citra masuk dan tidak menyapa Padma yang semakin lama semakin menjadi kelakuannya.
Padma pun sama ia tidak akan melepaskan Raka kepada siapapun. Ia akan ada di samping Raka.
Ia pernah dipisahkan oleh takdir dan disatukan kembali oleh takdir. Saat di Doha. Ia dipertemukan dengan Raka. Mereka akrab hingga kini. Bahkan mereka membagi rahasia yang sama. Ia merasa Raka terikat dengannya. Dan ikatan itu tidak akan pernah terlepas apapun yang terjadi. Padma percaya itu.
__ADS_1
Bersambung ...