Dendam Sang CEO Tampan

Dendam Sang CEO Tampan
Bab 15. Makan Berempat


__ADS_3

Gamelan ala Bali terdengar di kuping, "Aku mau nasi campur bali tambah bebek betutu, kamu mau coba apa?" Ucap Rena menatap Raka yang sibuk membaca menu.


"Nasi Rawon, minumnya teh botol, kamu mau minum apa?"


"Aku mau angsle, soda gembira, angslenya terakhir ya mbak" pelayan wanita itu mengangguk dan menyiapkan pesanannya.


"Soda gembira? Itu alkohol?"


"Bukan, itu cuma, air soda ditambah susu dan sirup berwarna merah, bisa juga fanta stroberi ditambah susu, dan itu menyegarkan"


"Silahkan, teh botol dengan soda gembiranya" minuman telah di letakkan di meja mereka, merasa haus Raka menegak minumannya dengan sekali minum teh milik ya habis.


"Kamu haus apa doyan?"


"Dua-duanya, aku mau pesan lagi"


"Silahkan nasi campur bali dan bebek betutu, juga nasi rawon, sudah semua?"


"Saya mau tambah teh botol satu lagi, juga tahu kipasnya ya" ucap Rena memesankan untuk Raka.


Raka meracik rawon miliknya, Rena pernah membuatkan untuknya dirumah dan ia suka, walau awalnya agak takut karena penampakan rawon yang hitam tapi setelah ia coba, Rasa kuat daging bercampur dengan telur asin kecambah uga kecrutan jeruk lemon, sungguh mengunggah lidahnya.


Apalagi ditambah cuaca dingin saat itu. Raka bisa menghabiskan satu panci sendiri.


"Aku lebih suka masakanmu" bisik Raka pada Rena. "Aku pake bumbu cinta" Rena mengangkat alisnya, jahil. Raka memutar bola matanya, Rena terkekeh pelan.


"Aku dikasih bumbu jadi, sama tante Yuli, orang indonesia, istri pak Dubes RI"


"Duta Besar? RI? Kalian ada kerja sama dengan mereka?"


"Iya, Republik Indonesia, aku menggantikan Bang Isak yang nggak bisa hadir disalah satu acara di Kedutaan Besar saat itu, jadi aku kebetulan ketemu sama ibu Dubes, ngobrol kalau aku suka masak makanan indonesia eh dikasih oleh-oleh bumbu jadi."


Raka manggut-manggut, ia terus menyuapkan daging empuk, dagingnya dipotong super besar.


"Mau coba?" Saat mata Raka tidak berpaling dari Rena yang menggigit sate lilit, lelaki itu mengangguk. Rena menyodorkannya, dan menggigit. Kunyah, kunyah, matanya melebar.


"Apa ini?"


"Sate lilit, terbuat dari ikan, disini katanya dari ikan tuna dan salmon giling, diberi bumbu bali dan kelapa, gurih ya"


"Agak pedas tapi aku suka, lalu itu yang dibungkus daun itu apa?"


"Bebek betutu, mungkin agak pedas, kita lihat" Rena menarik piring besar dengan seonggok daun pisang agak gosong diatas piring.


Menggunakan pisau, Rena membelah daunnya, kepulan asap keluar dari dalam dengan aroma yang mengiurkan, bebek berbalur bumbu kuning dengan cacahan cabe terlihat menggoda.


"Sepertinya itu pedas" ucap Raka, melihat cacahan cabe pada bumbunya.


"Aku coba dulu," Rena memotong sedikit daging dan mencongkel bumbunya. Ia mengunyah daging bebek lembut aroma daun pisang bercampur bumbu membuat bibirnya melebar tanpa disadari.


Raka meneguk ludahnya melihat Rena yang mengunyah sangat nikmat itu. Ia pun tak sabar ikut mencicip. "Bagaimana? Pedas?"


Rena nyengir, sangking enaknya, ia lupa jika ia mencoba untuk mengetes seberapa pedas bebek untuk Raka.


"Menurutku tidak terlalu pedas. Kau harus mencobanya sedikit saja, karena toleransi tingkat kepedasan ku denganmu kan berbeda" ucap Rena.


Rena kembali mengiris daging bebek untuk Raka cicip. Raka mencobanya, "Oh sepertinya aku bisa" ucapnya, bumbu yang mengarah ke asin pedas, yang sangat kaya dengan sentuhan sedikit pedas menurut Raka.


"Aku mau, potongkan untukku pahanya"


"Baiklah" 


Rena meletakkan satu paha bebek di piring Raka. Raka mengucurkan dengan lemon dan menyantapnya. Awalnya Raka hanya merasakan sedikit rasa pedas, kemudian di akhir pedas mulai menyerang dirinya.


Untuk ukuran Raka pedasnya sudah membuat kepalanya gatal dan berkeringat. Lelehan peluhnya menetes, bibirnya mulai memerah.


"Teh lagi, susu juga boleh" kata Raka dengan ber 'ssshah'


"Ini pedas dan aku tak bisa berhenti" kembali ia menyendok bumbu dengan mengambil nasi milik Rena.

__ADS_1


"Mbak boleh teh botol dan es cendol" kembali Rena memesan minum.


"Sepertinya kita mampir ke hotel dulu aku ingin mandi, tubuhku lengket oleh keringat" ucapnya. Rena hanya mengangguk dengan menggerogoti tulang belulang si bebek.


Setelahnya, panas pada mulutnya hilang, menyisakan bengkak memerah. Raka mengelus perutnya yang membuncit.


"Hilang sudah roti sobek kesukaanmu" Raka bergumam dengan terus mengelus perutnya. "Aku sangat kenyang. Dan puas." Bibirnya tertarik lebar. Menyisakan piring-piring kosong di atas meja.


"Angsle itu enak, itu susu hangat dengan isi didalamnya, cendol juga lezat,"


"Makanan indonesia tidak mengecewakan ya kan?" Rena berujar. "Ayo cepat kita kembali, katanya mau mampir ke hotel untuk mandi." Mereka beranjak. Raka memacu mobilnya membelah jalanan ibukota.


***


"Ren?"


"Gani, kita rapat masih satu jam setengah lagi kan?" Rena mengangkat tangan dan melirik jam tangannya.


"Iya aku ingin mengajakmu ngopi, bisa?" Tanya lelaki tinggi dengan rambut yang disisir klimis rapi.


"Boleh, lagi pula ini makan siang." 


Klink!


Mbak Rena, jangan lupa pesanannya ya.


Rena berdecak. Menatap Gani tak enak. Ia lupa jika harus mengambil pesanan bumbu di warung indonesia.


"Kenapa?" Gani memperhatikan Rena, ia tahu jika Rena tak bisa ngopi dengannya.


"Aku lupa kalau aku harus ketempat lain"


"Bagaimana jika aku antar?"


"Tak usah, aku tidak ingin merepotkanmu, aku hanya mengambil pesanan" Rena membereskan tasnya dan beranjak menuju lift.


"Tak apa rapat juga masih satu jam setengah lagi"


"Ayo"


Tak sampai setengah jam mereka tiba di Warung Indonesia, Setelah kemarin Ia dan Raka makan di tempat ini, yang ternyata juga menjual bumbu jadi racikan owner warung. Rena memesan berbagai bumbu jadi.


Ada rendang, Bumbu soto, bumbu rawon, ada bumbu kambing, bumbu ungkep ayam, Rena pun mendapat resep ayam ungkep khas yang mereka buat.


Mereka mengungkep dengan cara mengukus. Membaluri ayam lalu mengukusnya selama 45 menit. Rena dipersilahkan melihat proses memasaknya.


Dan ingin segera mengeksekusi resep ayam goreng ungkepnya.


"Wah wanginya, ini restoran apa?"


"Indonesia?" Gani membaca nama yang ada di plang depan.


"Iya ini restoran masakan Indonesia. Kamu mau coba?"


"Boleh, dari wanginya sepertinya enak"


"Memang enak,"


"Aku tak tahu mau pesan apa?" Saat mereka telah duduk.di satu kursi dan pelayan menyodorkan buku menu padanya.


"Mungkin aku pesan Iga sapi madu, ayam goreng ungkep, juga ayam goreng bawang putih, terus minumanya, es jelly medan, es jeruk kelapa, tahu tahu kipas satu, bakwan jagung satu"


Bakwan jagung berisi 3 buah ukuran jumbo, tahu kipas ukuran jumbo berisi 4 buah. Terhidang dengan dua minuman berbeda.


"Ini cobalah, ini namanya bakwan jagung dan ini tahu diisi oleh sayuran dan digoreng, namanya tahu kipas" jelas Rena meletakkan kedua gorengan pada piring Gani.


"Renyah, manis jagung, enak" Gani menyobek bakwan menjadi dua, terus mengunyah.


"Coba tahunya," Gani menggigit tahu montok itu. Renyah lapisan tepung dengan lembut tahu bercampur isian sayur yang manis. Gani memakannya dengan lahap.

__ADS_1


"I know kau pasti suka ini, ini makanan favoritku disini" ucapnya yang memakan tahunya dengan cabe.


"Benar ini enak, boleh aku lagi?"


"Makanlah, tapi aku tak menjamin kau jadi membengkak lagi, sepeti dulu, karena minyak dari gorengan menggoda ini"


Tawa Gani tergelak, makanan mereka datang. Dua piring nasi, satu piring iga bakar madu, ayam ungkep juga ayam goreng bawang putih.


"Semua serba gorengan, cheating da—"


"Cheating?" Suara terdengar di belakang memotong obrolan Rena. Raka beserta sang asisten berdiri tegap dengan mata nyalang menatap Rena.


"Hah apa tadi? Cheating ya istriku?"


Wajah Raka mendekat pada wajah Rena. Lalu mengecupnya sekilas, semburat merah menjalari pipi Rena, lelaki itu menarik kursi di sebelah Rena, dan Padma duduk di sebelah Gani, sebelumnya Padma menganggukan kepala pada Gani. Yang ditanggapi anggukan juga oleh Gani.


"Boleh bergabung?" Raka sudah duduk,


"Permisi boleh minta buku menu?" Seornag pelayan memberikan dua buku menu untuk Raka dan Padma.


"Nasi pecel empal, teh botol dan teh leci, kamu pesan apa?"


"Aku nggak terlalu mengerti makan apa?" Padma berucap meninggalkan keformalannya.


"Nasi goreng saja satu ya, lebih cocok, itu saja" Padma mengikuti Raka saja. Pelayan mengangguk dan beranjak.


"Tolong satu piring kecil" ucap Rena.


Rena melirik sang suami, kesal saat terlihat Raka sangat perhatian pada Padma.


Gani berdeham.


"Apa kabar Pak Raka" basa basi Gani, ingin memecah kecanggungan diantara mereka berempat.


"Baik Pak Gani, kebetulan kalian juga makan siang disini," ucap Raka melirik Rena. Ia tak mendapatkan kabar dari sang istri, yang makan siang dengan lelaki lain.


Pelayan datang membawakan piring kecil dan Rena meletakkan piring kecil itu di depan Padma.


"Ini cobalah, makanan khas negara Indonesia, namanya bakwan jagung" ucap Rena meletakkannya di piring Padma.


"Ini buat kamu, coba, ini enak, walau tak seenak tahu kipas sih" Rena meletakkan bakwan jagung pada piringnya dan meletakkan di depan Raka.


Sepiring berdua. Tak mengapa mereka suami dan istri. Rena mematahkan bakwan jagung menjadi potongan kecil, memudahkan suami untuk memakannya. Perhatian itu tak luput dari pengelihatan kedua orang didepan mereka.


"Aku suapi ya? Aa …"


Raka membuka mulutnya, kemesraan yang natural diantara mereka membuat kedua orang yang ada di depan mereka seakan tak terlihat.


"Gimana enak?" 


"Iya, garing, renyah, lagi" Raka kembali membuka mulutnya. Rena menatap Padma yang hanya menyentuh bakwan jangungnya.


"Cobalah"


"I-iya Bu" ucapnya.


"Kalian ini, kasihanilah kami para jomlo, dunia milik berdua yang lain kontrak." Gerutu Gani.


Tawa terdengar dari bibir Rena. "Ya namanya juga pengantin baru masih anget-angetnya." Ucap Rena malu-malu.


"Mau coba es jellyku?"


"Boleh" Rena menarik mangkuk es jelly yang terlihat segar. "Sagar" Raka menenguknya.


"Jangan dihabiskan!" Ucap Rena tak rela. Tapi tak keburu, Raka sudah menghabiskannya. Terlambat.


Bibir Rena merengut kesal. Dengan sengaja Raka mengangkat mangkoknya, mendekatkan pada wajah Rena, menghabiskan hingga tetes terakhir es jelly milik Rena.


Rena menatap nyalang. "Udah, bisa pesan lagi,"

__ADS_1


"Jangan sentuh!" Rena mengelak sentuhan Raka pada kepala gadis itu. Raka tergelak. Gani hanya menggeleng pada kelakuan pasangan itu. Namun ada satu yang hanya diam, mengeraskan rahangnya. Padma.


Bersambung ...


__ADS_2