
Raka pergi ke Amerika, selain untuk bekerja, ia ingin menghilangkan Rena dari dalam pikirannya. Ia pikir berkumpul dengan keluarganya akan mengembalikan amarahnya pada sang istri yang kabur begitu saja.
Setelah ia mendekatkan diri pada Padma, untuk mengusir segalanya tentang Rena. Semua itu tidak berhasil. Malah rasa bersalah semakin menjadi. Ia merasa mengkhianati Rena saat bermesraan dengan Padma.
Ia tidak membawa serta Padma pada perjalanan bisnisnya kali ini. Padahal Padma telah menyiapkan keperluannya untuk ke Amerika.
Padma tentu saja protes tapi Raka dengan mudah mendiamkan protesan Padma dengan rayuannya juga sentuhan. Dasar ba jingan!
Raka menuruni tangga rumah keluarga adik dari ibunya. Andruw. Pamannya itu yang menemukan Raka di panti asuhan. Setelah dua tahun mencari saat itu Rama berusia 10 tahun.
Setelah orangtuanya meninggal Raka dibawah oleh teman ayahnya dari Doha, dan dititipkan pada panti asuhan. Yang ternyata ada di Indonesia.
Bilangnya hanya dititipkan, yang ada, Raka ditinggalkan. Istri dari teman ayahnya begitu kejam. Ia tidak mau menampung Raka.
Raka yang tidak begitu fasih bahasa indonesia menjadi bulan-bulanan teman yang lebih besar darinya dipanti itu, Untung ada Padma, yang membela Raka.
Itulah pertama kali Padma dan Raka bertemu, setelah dua tahun tinggal dipanti, Andruw menemukan, ia memboyong Raka ke Amerika. Dan Padma juga diadopsi oleh pasangan tua kaya dan baik hati.
Pasangan itu memboyong Padma ke Doha. Orang tua adopsinya menyekolahkan Padma di sekolah internasional yang terkenal.
Namun nahas bagi Padma, pasangan tua itu kecelakaan. Lalu karena Padma tidak tahu apapun semua harta pasangan tua itu di bawa kabur oleh orang terdekat orang tua angkatnya. Itu saat tahun ketiganya di sekolah.
Setelahnya Padma tinggal di slah satu Panti asuhan di Doha. Disana hanya ada sedikit anak. Ia dekat dengan sepasang adik dan kakak.
Sang kakak sepantaran dengannya. Adiknya tiga tahun di bawah padma ia menderita penyakit keturunan, jantung.
Sang kakak dan Padma menjalin hubungan. Seperti nasib buruk melingkupi Padma, sang adik jantungnya kambuh, Padma tepat waktu membawanya ke rumah sakit namun nyawa sang adik tidak tertolong karena tidak mendapatkan penangan cepat.
Sang kakak atau kekasih Padma kecelakaan pada saat ingin datang ke rumah sakit. Kemalangan bertubi membuat Padma ingin mengakhiri hidupnya.
Dan disinilah Raka bertemu dengan Padma. Wanita itu berniat menabrakkan dirinya pada mobilnya. Raka ingin membalas budi. Kedekatan mereka kembali terjalin hingga kini dan membuat Rena pergi dari Raka.
__ADS_1
Raka memang kembali ke Doha tempat dimana orang tuannya dikuburkan. Ia mendirikan anak perusahaan pamannya yang bisa kelola di Doha.
Orang tua Raka meninggalkannya saat Raka berusia 8 tahun. Mereka mengalami kecelakaan kerja. Namun perusahaannya tidak bertanggung jawab. Menyalahkan kepada orang tuanya yang lalai.
Namun itu semua hanya dusta yang perusahaan tempat ayah ibunya bekerja untuk tidak membayar kompensasi. Raka tahu itu. Usianya memang masih 8 tahun tapi ia adalah anak yang pintar.
Raka mendengar semua dari teman sang ayah yang membawanya ke Indonesia itu.
"Bang sampe kapan?" Tanya Kila. Meja makan hanya ada mereka berdua. Raka baru bangun saat makan siang.
"Tadi subuh"
"Kau tidak bersama Kak Padma" Raka hanya menggeleng ia menyesap kopi hitamnya.
"Kenapa? Kau berantem karena si ja lang itu?" Ia bisa menangkap nada kesal dari ucapan Kila.
"Kapan abang pisah dengannya, eyang bahkan sudah menunggu pernikahan abang, atau abang masih berhubungan dengan si Citra-Citra itu" Kila malas jika harus berkaitan dengan wanita tidak tahu diri itu.
"Jangan sampai eyang tahu kau sudah menikah diam-diam bang!" Sedari tadi Raka hanya mengunyah tanpa menjawab perkataan Kila.
"Kau tidak bilang ada eyang! Dasar tikus kecil!"
"Aku juga tidak tahu, aku baru pulang subuh tadi! Siaalan kau babi air!" Makinya dengan berbisik. Mereka saling menatap sengit.
"Jelaskan padaku siapa yang menikah diam-diam! Sekarang atau aku akan mencari tahu sendiri dan kalian tidak akan lolos!" Ucap wanita itu murka.
Jika seperti ini Raka harus menjelaskan, Eyangnya ini tidak bisa dibohongi atau di curangi.
"Bang Raka yang" ucap Kila mencari aman. Ia tidak mau kehidupannya diselidiki.
"Kau sudah gila! Pekik tua.
__ADS_1
"Kau menikah tidak mengundang keluargamu!" Nadanya melengking, hingga menyakiti telinga. Kila mengorek kupingnya yang pengang.
"Namanya juga diam-diam ya tidak mengundang" guman Kila yang mendapat pukulan koran di kepalanya.
"Kamu kira eyang tidak tahu kamu selalu bermain dan minum alkohol di club hingga pagi!"
"Herman! Herman! Aku mengurangi saham keduanya!" Ucap lantan Eyang Doroty.
"Yang jangam dong, masih banyak yang mau aku beli," rengek Kila.
"Kamu terlalu banyak bermain dan fokuslah dengan pendidikanmu,"
"Yang jangan gitu aku berjanji akan fokus pada kuliahku" ucapnya menawar. Tapi bagi Doroty, tidak ada tawar menawar untuk pendidikan.
"Tetap kurangi sahamnya. Dan kita lihat perkembanganmu, selama satu semester ini, seberapa besar IP yang akan lau hasilkan, setelah itu akan aku pertimbangkan lagi" ucap Doroty yang membuat wajah Kila pucat pasi.
"Jangan ikuti aku, aku tidak akan luluh, dan Kau Raka bawa istrimu ke hadapanku!"
"Tapi Yang … "
"Kenapa kalian bertengkar?"
"Atau kalian pisah sebelum aku tahu wajahnya? Gila! Anak muda jaman sekarang, dengan mudah mempermainkan sebuah mahligai pernikahan. Dan lebih tidak bisa dipercaya. Cucuku sendiri yang melakukan itu!" Ucap Doroty dramatis.
"Aduuh, aduh, Herman bawa aku pergi, aku tidak mau melihat mereka berdua." Ucap Doroty. Yang artinya jangan muncul di depannya lagi. Sebelum mereka membawa apa yang Doroty minta.
"Kau enak bang, Suruh si ja lang itu datang, kau tinggal bilang kalau dia keluarga Joel, dan boom … kau akan tahu bagaimana eyang akan langsung mengusirnya tanpa segan-segan, kau tak perlu pakai cara kasar untuk menceraikan wanita itu."
Meninggalkan kedua sepupu itu.
Doroty berada di mobil ia ingin ke perusahaan. "Herman, selidiki semua tentang Raka, sepertinya ada sesuatu besar yang mereka sembunyikan"
__ADS_1
"Baik nyonya" Herman, lelaki paruh baya, tangan kanan Doroty.
Bersambung ...