
Raka melangkah menuju pintu keberangkatan. Ia tak menyadari ada seseorang yang memperhatikannya dari kejauhan.
"Ya aku melihatnya, aku sudah menyangka akan begini" ia menutup sambungannya. Dan melangkah mengikuti Raka.
Raka telah berada di dalam pesawat, kursi bisnis. Menuju Indonesia memerlukan waktu kurang lebih 10 jam.
Didepannya, di atas meja dan kursinya undangan marun itu meleburkan hatinya. Bagaimana bisa Rena memutuskan untuk menikah disaat mereka masih terikat.
Poliandri? Raka tergelak. Memikirkan kata lucu yang akan Rena dapatkan jika ia memang benar menikah dengan Isak. Dirinya dimadu? Kembali ia terkekeh miris.
Dunia sudah gila rupanya. Tidak akan bisa. Raka tidak akan membiarkannya. Tidak ada lelaki lain atau pun perempuan lain.
Raka meminta minuman pada pramugari. Lagi. Lagi dan lagi. Hingga pramugari menghentikan dirinya.
Ia hanya menatap nyalang si pramugari dan menutup matanya dengan penutup mata untuk tidur.
Ia masih waras untuk tidak membuat keributan. Dan alkohol membantunya untuk tertidur. Setiap malam ia harus menenggak alkohol. Juga pakaian Rena.
Raka merasa bahunya ditepuk-tepuk. Ia menggeliat dan membuka penutup matanya.
Pusing ia rasakan, juga dengan efek landing yang membuat pusingnya bertambah.
Raka keluar dari pesawat. Berjalan terhuyung. Dan menapaki bandara Raka berjalan cepat mencari toilet.
Ia bertanya pada salah seorang satpam, dan satpam menunjukan toilet terdekat. Ia berlari. Lalu memuntahkan semua nya dalam toilet.
Perutnya seakan dikuras. Semua yang ia makan kemarin ikut keluar. Ia masih merasakan pusing yang luar biasa. Setelah membersihkan segalanya. Raka keluar dengan terhuyun.
Tak lama Raka ambruk di dekat satpam yang tadi mengantarnya ke toilet. Wajahnya terlihat pucat pasi. Dengan bibir membiru.
"Minggir! Awas," wanita itu mengeluarkan air putih dan mengangkat kepala Raka dan meminumkan sedikit demi sedikit.
Suasana di sekitar Raka tampak panik dan cemas. Mereka tidak berani menggerakkan tubuh Raka. Namun dengan cepat pihak bandara melakukan penolongan pertama, sambil menunggu ambulans datang.
***
"Keracunan alkohol, kami sudah memompa dan mengeluarkan isi perutnya dan semuanya tidak perlu dikhawatirkan. Penanganan awal yang bagus."
"Saya permisi" ucap Dokter. Raka dibawa ke rumah sakit swasta. Isak mengusap wajahnya yang lega. Ia mendapatkan telepon dari nomor Raka. Dan memberitahukan bahwa Raka pingsan di bandara.
Ia belum memberi tahu kabar ini pada Rena. Tapi Nami sudah mengetahuinya dan meluncur ke rumah sakit bersama Ibrahim
"Bagaimana?"
"Keracunan alkohol dan dokter bilang tidak perlu khawatir." Isak menatap Nami yang ikut tegang. "Apa kita keterlaluan?" Guman Nami.
"Sudah, sekarang biarkan Raka istirahat dulu,"
"Kita melakukannya demi anak mereka, anak kandungnya"
"Anak?" Raka membuka mata menengok ke tempat ketiga orang dewasa yang masih berdiri tak jauh darinya.
"Kau sudah sadar? Seberapa banyak alkohol yang kau minum?" Nami mendekatinya dengan wajah garang seorang ibu menemukan anaknya yang bandel.
"Sejak kapan kau meminum alkohol berlebihan begitu!"
__ADS_1
"Anak?"
"Iya kau tak ingin bertemu dengan anakmu? Tak apa kami bisa menjaganya dengan baik!" Ujar Nami, tidak lagi menutupi kabar Rena hamil.
"Tapi kau tidak bisa mendekatinya dulu saat ini, bisa tapi butuh waktu, takutnya berpengaruh pada kehamilannya."
Isak mendekat. Dengan cepat Raka meraih kerah leher Isak.
"Kau menyembunyikan istri dan anakku!" Nami memekik ia tidak tahu jika Raka akan menyerang anaknya. Raka melemparkan bogem mentah pada Isak.
Isak yang tidak siap, pipinya memerah dan kaku. Isak mendengus. "Aku menyelamatkan anak dan istrimu dari manusia tidak berhati sepertimu! Menyiapkan surat cerai? Membeli dari orang tuannya? Apalagi yang kau sembunyikan Raka?"
"Harusnya disini aku dan keluargaku yang marah padamu, kamu mempermalukan kami dihadapan keluarga Rena!"
Isak mengeluarkan semua unek-uneknya. Ia meraih kerah Raka dan berbalik menariknya kencang. Ibrahim menahan Nami yang akan menghentikan Isak. Ibrahim tahu, Isak tidak akan gegabah untuk membalas dengan baku hantam. Saat ini membalas Raka hanya dengan perkataan itu sudah cukup menonjok lelaki yang sudah ia anggap anak.
"Kami yang ikut melamar Rena dari keluarganya, kita yang ikut meminta seorang anak gadis dari keluarganya. Dan kamu menyia-nyiakannya. Kau tahu Rena memiliki keraguan untuk menikah? Dan kau membuatnya menjadi lebih buruk" Isak menghela nafasnya panjang.
"Lalu anakku?" Isak mendorong pelan tubuh Raka yang masih pucat.
"Kalau ingin ketemu datanglah ke undangan yang aku beri padamu, mungkin kau akan bisa melihatnya." Isak tanpa kata ia pergi dari kamar Raka.
"Kau kesini bersama siapa?"
"Sendiri" ucap Raka pelan.
"Raka kamu bisa menginap dirumah kami" Ibrahim menawarkan.
"Nggak usah Om, Raka sudah menyewa kamar hotel di tempat acara yang Isak adakan.
Raka menuju hotelnya diantar oleh Nami dan Ibrahim. Nami masih mendiaminya. Anak? Berita bagusnya tidak mungkin Rena akan meninggalkannya.
Berita buruknya mungkin Rena akan tetap menikah dengan Isak. Raka menyeret kopernya. Ia mengkonfirmasi pemesanan kamar atas namanya.
Menempelkan kartu ke pintu. Kamar luas dengan view menghadap ke gedung-gedung pencakar langit. Lampu jalanan dan langit yang gelap tanpa bintang.
"Indonesia, kamu ada disini, sayang? Aku rindu dan ini menyiksa" Raka menatap kaca jendela. Pandangan Raka menerawang, mengingat perkataan Kila. Ia yakin jika orang tuanya tidak akan kecewa. Orang tuanya pasti menerima keputusannya.
"Anak? Ma kalian akan punya cucu"
Ia kembali ke kopernya. Mengambil selembar pakaian Rena dan membawanya keranjang. Ia memeluk pakaian itu.
***
Raka bersiap pakaiannya sudah rapi ia siapa turun. Wajahnya masih terlihat pucat. Raka masih duduk di ranjangnya. Menghela nafas panjang. Apa yang akan dia lakukan di acara pernikahan istrinya. Bisa saja Raka membuat ulah.
Raka keluar kamarnya. Menaiki lift. Semakin dekat dengan ballroom semakin langkahnya semakin berat.
Mendengar musik dari ballroom serasa oksigen semakin menipis dan Raka sesak. Jantungnya seakan diremas. Melihat Rena disana dengan senyum manis dan menawan. Dengan gaun indah menjuntai hingga mata kaki. Rambutnya diurai dengan bagian bawah bergelombang. Wajahnya segar.
Raka terdiam pada tempatnya. Ada rasa enggan untuk mendekat. Apa Rena sebahagia itu saat ia tidak lagi terikat dengannya?
Isak ada disebelahnya meletakkan tangannya dipinggang Rena, Raka menangkap perut Rena yang sedikit buncit.
"Anak papa" guman Raka selirih angin.
__ADS_1
Greb!
"Ayo Bos beri selamat pada mempelai" Padma menyeret Raka mendekati Isak dan Rena. Wanita itu menggandeng lengan Raka posesif.
Padma mengenakan gaun dengan potongan v neck hingga perut. Dengan backless. Rambutnya di tata urai panjang lurus. Dengan makeup smokey eyes. Tak lupa bibir diwarnai merah terang. Sepatu dengan tumit runcing, membuat seperti penggoda kelas atas.
Raka hanya diam. Matanya hanya fokus pada Rena yang tidak lagi memperlihatkan senyumannya saat mata mereka saling bertemu.
"Selamat Pak Isak." Ucap Padma dengan percaya diri.
"Terima kasih, Katanya kau sendiri?" Isak mendengus melirik tak suka pada Padma yang terlihat berani saat ini.
Raka hanya diam, namun matanya mengatakan segalanya. Tidak lepas matanya menatap Rena. Rena menganggap Raka tak ada.
"Rena itu bukannya Gani? Apa Ayah yang mengundangnya?"
"Bukan Bang,kita juga bekerja sama dengan perusahaan Pak Abud. Ayo kita kesana" Rena melangkah lebih dulu. Isak mengerti Rena tidak mau berdekatan dengan Raka.
Raka mendengar suara Rena. Kembali ia menatap Rena dalam. Sedangkan Padma menyeret Raka juga menjauh menemui siapapun yang Ia kenal.
Mata Raka terus mengikuti Rena kemanapun berada. Dan Padma mencoba menjauhkan Raka dengan Rena.
"Pak Raka?" Seorang kliennya yang mengajaknya berbicara.
"Maaf Saya permisi sebentar" Raka melepas gandengan Padma.
Ia melangkah mengikuti Rena. "Raka!" "Raka!" Padma mengejar Raka. Ia menarik lengan Raka kasar. Mereka berada diluar ballroom, Raka mengikuti Rena yang keluar Ballroom dengan tergesa.
"Apa!"
"Kamu mau kemana? Kamu mau ninggalin aku sendiri?"
"Sedari tadi aku diam, kamu melakukan apapun sesuka hatimu di dalam sana. Tapi kamu malah tidak tahu diri!"
"Kenapa kamu disini? Dengan dandanan yang membuatku malu! Apa kamu nggak malu mempertontonkan tubuhmu ini!"
"Aku begini untuk kamu! Agar dipandang pantas mendampingi kamu!" Suara Padma meninggi.
"Aku tidak memintamu! Kamu datang sendiri!" Raka mulai lelah, menghadapi Padma sama seperti menghadapi Kila.
"Kamu tidak bisa meninggalkan semua ini! Kita memulai semuanya bersama dan kamu mau meninggalkan saat kita sudah sejauh ini?" Padma bisa melihat Rena yang mendekat.
Padma mengikis jarak antara dirinya dan Raka. Ia wajahnya mendekati telinga Raka. Ia mengelus menggoda. "Bagaimana jika istrimu tahu alasanmu yang sebenarnya mendekatinya?"
Padma menatap lurus. Rena menemukan mereka. Padma mengecup kerah dan juga leher Raka. Meninggalkan bekas kemerahan disana.
Ia tersenyum menantang Rena lewat senyumannya. Rena tertegun. Menatap datar pemandangan di depannya.
Rahang Raka mengeras. Padma kembali manatap Raka. Seringaian kemenangan terbit dari bibir merah terang itu.
"Mbak Rena, selamat ya" ucap Padma keras. Menyadarkan Raka. Lelaki itu berbalik dan mendapati pandangan Rena yang penuh kecewa.
Rena hanya memandang lurus pada Raka begitupun sebaliknya. Dalam hati jika ia maju sekarang apa suaminya akan memilihnya atau sang suami akan mempermalukannya.
Dan Rena memilih maju, Mari kita bermain!
__ADS_1
Bersambung ...