
Isak datang dengan Davis. Ia melihat Siwa dan Jum di depan ruang oprasi. "Bagaimana bisa? Bukannya masih dua minggu lagi?"
"Tadi saya pulang, Nyonya Muda duduk lemas di ruang tamu"
"Tadi sebelumnya ada tamu wanita yang menemui Bu bos, dan saya mendengar suara ribut-ribut sebentar,"
"Siapa tamu wanita itu?" Isak menatap Jum intens.
"Saya dengar Bu bos menyebut sela atau dila atau kila" jawabnya.
"Kila?" Doroty yang langsung ke rumah sakit tanpa pulang dulu itu menyela.
"Ah Jum ingat tamunya Bu bos bilang kalau dia cucu yang mau menginap di rumah eyangnya, Tapi Bu bos langsung melarangnya. Diusir dan tunggu eyang Doroty pulang"
"Kila!" Doroty langsung menyentakkan dagunya pada Herman yang menunduk dan Siwa mengikuti Herman. Terlihat Doroty yang murka.
"Pak kita akan kemana?" Siwa menanyai Herman.
"Ya pasti mencari keberadaan bocah merepotkan itu. Lacak mereka" Siwa hanya menjalankan perintah tanpa banyak tanya lagi.
Herman memang menanamkan pelacak pada semua ponsel anggota keluarga Doroty. Berkecimpung didunia bisnis yang banyak persaingan, mau sehat maupun tidak sehat. Membuat sosok nenek tua itu melindungi keluarganya dengan cara ini.
Namun ia kecolongan tentang Raka. Dengan perkawinan diam-diam cucunya itu. Ia masih bisa memaafkan saat cucunya itu sudah mendaftarkan pernikahannya di KUA.
Ia akan sangat murka jika cucunya itu mempermainkan pernikahan hanya untuk membalas dendam.
"Yang Bu bos sangat tenang, saya takut Yang" ucap Jum.
"Kita berdoa yang terbaik untuk Rena, di dalam sana" ucap Doroty. Jum mengangguk.
Doroty menghampiri dua pemuda yang juga ikut menunggu, "Kalian tahu dimana Raka?" Tanya Doroty.
"Saya sudah menghubunginya namun ponselnya tidak bisa tersambung" Isak sedari tadi berkutat dengan ponselnya.
Setelah beberapa jam lampu operasi mati, tak lama pintu ruang operasi terbuka memunculkan dokter dan susternya.
"Bayi sehat, lelaki, namun ibu sang bayi masih dalam pantauan."
"Cucu saya kenapa dok? Apa ada masalah?" Cemas Doroty.
"Kita lihat dulu perkembangannya ya bu, dan pasien akan tetap di icu selama kami pantau"
"Jadi dengan kata lain adik saya koma dok?"
"Kemungkinan, kami juga butuh doa dari keluarga, saya permisi dulu" Dua suster keluar dari ruang persalinan, membawa kasur bayi yang didorong menuju ruang bayi.
Doroty mengikutinya. "Suster dia cicit saya, ya? Apa saya bisa menggendongnya?"
"Nanti ya bu, setelah kami siapkan" ucap salah satu susternya dan membawa pergi anak Rena, terlihat merah.
"Cicitku,"
__ADS_1
"Eyang duduk dulu, katanya baru pulang dari luar kota." Doroty mengangguk, Isak mendudukan Doroty pada kursi kayu panjang didepan ruangan Rena.
Rena belum juga membuka matanya. Doroty berdoa, agar tidak terjadi apapun pada cucunya yang ia sayangai itu.
"Eyang, ini minum dulu, teh hangatnya" Davis memberi satu cup teh pada Doroty juga Isak.
"Terima kasih Davis" Ponsel Doroty bergetar.
"Bawa kesini! Herman suruh anak buahmu mencari keberadaan Raka, sekarang juga, dan sampaikan pada Andruw aku ingin mereka kemari!"
Doroty menatap pintu ruangan Rena sendu.
"Kau tahu dimana tunanganku bukan?" Davis akhirnya membahas tentang Padma.
"Ia kabur dengan Raka" masih terdengar nada amarah disana. Isak memperhatikan Davis yang sorot matanya berubah.
"Sejak kapan kau menutupi kepribadianmu yang lain?" Pertanyaan yang tidak Davis sangka. Ia pikir Isak akan diam dan menjauh setelah mengetahui keadaannya.
Isak seperti adiknya Rena. Langsung menanyakan dan tetap merangkulnya.
"Aku pernah tidak sengaja melihat dirimu yang lain. Rena juga ada disana, aku tidak peduli selama kau tidak membuat masalah denganku" ucap Isak.
"Dari sekitaran SMP dan Rena SD, setelah kami pindah ke Doha. Rena tetap mengajak aku dan diriku satunya bermain walau banyak kejadian yang menyebabkan Rena terluka. Dimarahi karena aku satunya selalu playing victim."
"Aku juga penyebab Rena tidak menyebabkan pilih kasihnya kedua orang tuaku pada Rena." Lanjut penjelasan Davis. Makanya dirinya sangat menyayangi Rena. Rela terikat pada Padma untuk dirinya juga Rena.
"Itu bukan salahmu sepenuhnya." Isak ingin menceritakan apa yang Rena dapati akhir-akhir ini.
"Apa dia menemukannya?"
"Ya, dan membuatnya menjadi drop"
"Ada apa? Apa mereka tidak menerima kami?" Suara Davis meninggi, amarahnya tersulut.
"Bukan, mereka sungguh menerima kalian dengan sangat hangat. Rena juga membawamu kesana saat kau sudah sehat. Karena mereka menantikan kunjungan kalian"
"Aku sebenarnya tidak ingin ikut campur dalam masalah keluargamu, tapi bisa kau menghubungi orang tuamu, setidaknya suruh mereka datang dan melihat anak yang mereka besarkan sedang sekarat disini"
Isak mengeraskan rahangnya menahan sakit hati yang ia rasakan. Dia hanya sebagai pendengar saja merasakan sakit hati, bagaimana dengan Rena yang mengalami.
"Rena sebenarnya adik sepupumu, dia anak dari kembaran ibumu, untuk detailnya bisa kau tanyakan pada orang tuamu atau nanti menunggu Rena sadar."
Davis terasa asing dengan sekitarnya. Apa yang ia lakukan selama ini? Ia terlalu cuek pada sekitar, kepada Rena, kepada orang tuanya. Ia hanya mengasihani dirinya sendiri. Merasa paling sedih dan paling harus dikasihani.
Davis melangkah ke ruang kaca menampakkan Rena dalam keadaan tertidur disana. "Maafkan abang ya" ucapnya lirih. Kecuekannya ternyata membuat Rena harus menjalani hidup dipaksa kuat.
"Lalu orang tuanya kemana?" Saat menyadari Isak ikut menatap Rena dari tempatnya.
"Meninggal, ayahnya kecelakaan ibunya karena persalinan," Davis menatap Isak dengan mengangkat sudut bibir.
"Terima kasih bro, kamu dan orang tuamu menganggap Rena sebagai adik dan anak sendiri, aku setiap mendengar Rena bercerita sempat iri, karena dirumah, Rena tidak pernah mendapatkan perlakuan sehangat keluarga kalian memperlakukan Rena."
__ADS_1
"Rena gadis baik, aku senang mendapatkan adik secerewet dia."
Isak telah menganggap Rena sebagai adik. Makanya saat ide gila Nami yang ingin mereka berjodoh. Isak tidak bisa.
"Lepas! Kau kenapa seenaknya! Kau hanya kacung eyangku! Siaalan! Lepas kalian ini hanya pesuruh!" Suara tinggi berontak memenuhi lorong rumah sakit yang sepi dan hening.
Doroty duduk masih sibuk memeriksa laporan perusahaan.
"Eyang, Eyaang! Lihat pesuruhmu ini begitu kasar! Pecat saja mereka yang!" Kila merasa diatas angin saat melihat Doroty menatapnya. Ia akan membuat pelajaran pada babu yang sudah kurang ajar menariknya dari klub saat ia berpesta.
Doroty memandang Kila dari atas hingga bawah.
"Herman kau bawa siapa kesini?"
"Eyang, ini Kila! Cucu eyang, mereka membawa Kila dengan paksa Eyang, merusak acaraku, dasar babu! Pecat mereka Yang!"
Ia mendekati Doroty. Wanita tua itu tidak percaya cucunya yang dulu manis sekarang menjadi seliar ini, memangnya berapa lama mereka tidak bertemu?
Rok pendek setengah paha, bahu dan belahan dada terumbar. Riasan wajah yang tebal, bau rokok dan alkohol.
"Kamu temukan wanita malam ini dimana? Saya tidak memiliki cucuk layaknya wanita yang suka jual diri begini, mungkin jika wanita malam dengan attitude baik aku masih bisa menerimanya. Ini perilakunya sangat jelek, apa yang dilakukan orang tuamu selama ini?"
"Apa mereka tidak mengajarkan budi pekerti, seperti tidak berisik dirumah sakit? Itu anak teka saja tahu, berapa usiamu? Memalukan!"
Kila menganga lebar, bagaimana bisa Eyangnya mempermalukannya di depan para babunya.
"Eyang! Eyang keterlaluan, mengatakan cucu sendiri wanita malam? Aku sakit hati!" Mata Kila mengembun, jika si lampir tua ini mau drama ia akan berikan.
"Kalian bawa dia dimobil tunggu hingga orang tuanya datang, suruh Pak Zackary, menghapus nama Kila Jarvis menjadi pemegang saham"
"Eyang! Eyang tidak bisa begitu! Aku cucu Eyang, kenapa Eyang tega!"
"Tunggu orang tuamu, dan hidup mereka bergantung pada kelakuanmu!"
"Dasar kau wanita tua! Tidak tahu diri sekali! Yang mengembangkan perusahaanmu hingga sebesar ini adalah Daddyku! Dasar penyihir tua tidak tahu balas budi!"
"Kau harusnya mati bersama wanita penjahat itu, sama-sama kelakuannya, yang satu pembunuh, yang satu lagi penyihir bau tanah tidak tahu diri, kalian harusnya mati saja— "
Tubuh Kila terkulai dalam sekejap, Siwa melumpuhkannya. "Maaf Pak, dia berisik ini rumah sakit" ucap Siwa yang diangguki Herman.
Kila dalam ketidak sadarannya, tangannya di borgol ke pintu mobil. Ditempatnya Dorothy Menghembuskan nafas lelah.
"Aku sudah tua, tidak sanggup lagi untuk mengurusi masalah perebutan harta atau jabatan. Aku ingin santai bersama cicitku"
"Dia yang datang sebelum Rena harus melahirkan?"
Davis pernah melihat wanita itu bersama Padma, waktu ia tahu Padma hanya memainkan perasaannya, karena tidak suka dengan adiknya itu.
"Iya pak" ucap Jum yang juga mengantuk di kursi kayu. Kembali terlihat sorot asing pada mata pemuda itu.
Bersambung ...
__ADS_1