
Keesokan harinya, Raka tidak datang ke tempat Rena, ia pikir Raka memberikan waktu bersama anaknya, Rena membuang semua pikiran negatifnya pada sang suami. Ia bisa menghabiskan waktunya bermain bersama sang anak.
Dan hari berikutnya, hari kerja. Raka juga tidak datang ke rumahnya juga tidak datang kekantor, selama lima hari lelaki itu tidak memunculkan hidungnya.
Rena bertanya pada Mike yang dijawab, sudah biasa sang CEO menghilang. Dan nanti akan muncul bersama seorang wanita.
Mike memang masih ketus padanya tapi tidak lagi membully Rena. Ia hanya bicara seperlunya pada Rena. Dan mengerjakan pekerjaannya.
Sedari awal. Mereka telah membagi pekerjaannya dengan Rena. Kalau masalah jadwal, Rena percaya dengan lelaki itu, walau ketus dan rese ia bagus dalam bekerja.
Rena enggan menghubungi Raka. Ada gengsi, lagipula ia juga merasa senang diberi waktu yang panjang bersama Kenan.
Jumatnya, ia melihat Raka yang berjalan dari lift dan mengangguk dingin pada Rena, Raka meminta jadwalnya pada Mike. Melakukan pekerjaan seperti biasa.
Makan siangnya, Raka terlihat makan siang dengan wanita cantik, rambut kecoklatan, juga riasan sederhana. Begitu dekat dan akrab. Rena bahkan bisa mendengar tawa renyah keduanya. Asa rasa sakit dalam hatinya. Ia sudah lama tidak melihat Raka yang tertawa selepas itu sejak kejadian bayinya yang meninggal.
Rena mengabaikannya, ia teringat ucapan Mike yang berkata Raka akan kembali dengan wanita cantik setiap kali selesai menghilang, Raka sering kali menghilang saat dulu awal pernikahan, apa ia juga membawa wanita setelahnya?
Rena menggeleng, mengaburkan pikiran dan spekulasi gilanya. Tidak mungkin Raka sudah tidak lagi peduli pada Kenan bukan?
Kembali ia gelengkan kepalanya keras. Pikiran gila macam apa itu! Jelas Raka menginginkan Kenan, tapi sampai saat ini Raka tidak juga menjemput Kenan dirumahnya?
Bukannya, Rena senang jadi ia tidak perlu susah dengan perebutan anak, jika mereka memang pisah?
Pisah? Apa itu yang Rena mau saat ini? Mengapa hatinya masih sangat nyeri saat melihat Raka yang akrab dengan wanita lain?
"Mike Rena masuk kedalam!" Suara Raka menginterupsi, pikiran gila yang sedang bergelut di otaknya.
"Iya bos"
Mereka berdua sudah berada didepan Raka. "Nanti malam pukul 7 saya akan ke pesta milik Hisland, kalian ikut, saya jemput pukul 7" ucapan singkat tidak menatap mata 9Rena.
"Baik Bos" Rena ingin bertanya tentang kapan lelaki itu menjemput Kenan tapi Raka sepertinya tidak memberikan waktu, apa lelaki ini memghindarinya? Tidak mungkin!
Malamnya, Rena meninggalkan Mbok Jum bersama Kenan. Ia bersiap dengan gaun terbaiknya. Long dress dengan potongan leher v depan belakang yang jatuh, berlengan panjang, membuat buah dadanya mengintip sedikit. Berwarna biru dongker dan berkelip.
Dengan high heels hitam dan clutch hitam dengan kerlip dan rambut sebahu yang terurai di sebelah kanannya, dan sebelah kiri, rapi, dijepit jepitan besar dengan hiasan batu kristal hitam.
Tak lupa anting, lingkaran besar menggantung di kedua telinganya, riasan smokey eyes dipadukan dengan lipstik merah marun. Sangat cantik, anggun dan menawan. Rena berkaca. Mengapa ia setotalitas ini, apa yang ia harapkan?
Debaran halus, rasa ingin menunjukan pada Raka, apa yang ia kenakan, namun Rena juga gengsinya ia menolak jika ia merasa gugup.
Terdengar klakson mobil. Rena bergegas keluar rumah. Berjalan cepat dan membuka pintu mobil.
Ia tidak menemukan Raka disana, hanya ada Mike dengan wajah malas. "Bos tidak bisa menjemput kita, ia menyuruh kita berangkat sendiri nanti dia kan menyusul"
Ada rasa kecewa di wajah Rena. Ia hanya diam dalam perjalanan. Mike juga terlihat enggan berbicara dengannya.
Acara diadakan di sebuah lobby hotel berbintang. Seorang valet membukakan pintu Rena. Dan Mike menyerahkan kunci mobilnya.
__ADS_1
Mike menyerahkan undangannya. Mempersilahkan mereka masuk. Ia menjelajah mencari keberadaan Raka. Tapi ia tidak menemukannya.
Rena dan Mike mendekati meja mereka. Tiga meja kosong. Dan Rena menunggu Raka disana.
"Sayang?" Suara wanita paruh baya kesayangannya.
"Bunda Ayah? Rena kangen, kapan sampai kemari? Kok nggak ngabarin Rena" Rena memeluk erat Nami. Ia dengar Nami sering ke Indonesia.
"Ini nih susah sekali disuruh pulang" Nami memukul bahu Isak. "Apa sih Bun, abangkan kan sibuk" ucap Isak membela diri.
"Sibuk! Sibuk!" Kesal Nami.
"Ayo ke meja kita saja" Ibrahim menegahi, ia menggiring ketiganya di meja khusus mereka.
"Aku kesana Mike" Mike yang menguping, ia tak menyangka jika Rena dekat dengan keluarga Ibrahim. Lelaki gemulai itu hanya berdehem dan mengangguk.
Ia memang tak tahu jika Rena adalah bekas sekertaris Ibrahim karena rumor yang beredar ia hanya sekretaris perusahaan yang dipecat karena menggoda bosnya. Entah dari mana rumor kejam itu berhembus, yang pasti bukan dari HRD. Mereka jelas tahu, sebelum masuk ke perusahaannya. Rena bekerja dimana.
Tak lama ia melihat Raka masuk dengan seorang wanita yang ia lihat makan siang bersama Raka. Raka bergandengan dengan mesra. Para wartawan membidik kehadiran Raka.
Pesta Hisland adalah pesta milik Harlan. Dan mengundang banyak wartawan. Mereka mengadakan peresmian sebuah resort baru di daerah asia. Ada beberapa negara Asia yang menjadi tempat Hisland. Termasuk Indonesia. Harlan adalah adik Ibrahim.
"Itu Raka menggandeng siapa?" Nami mengira Raka tidak datang dan digantikan Rena juga lelaki yang duduk disebelah Rena tadi.
Kembali Rena merasa jantungnya terkoyak. Melihat keakraban itu. Semua pasti mengira mereka sepasang kekasih. Lagi-lagi Rena harus menelan pil pahit.
Rena menatap Raka yang terlihat kasmaran pada wanita itu. Apa ini akhirnya? Kembali pikiran negatif merongrong Rena.
Wajahnya sendu. Menjawab pertanyaan atau obrolan sekenanya. Dan wajahnya pucat pasi. Ia ingin sekali keluar dari ruangan ini. Raka membawa wanita itu berkeliling. Semua menyangka mereka pasangan. Memberi selamat.
"Bun Rena ke toilet ya" Rena melangkah menjauh. Ia perlu membasuh wajahnya. Pusing menambah keruh wajahnya yang sendu.
Mungkin berjalan di taman hotel, akan membuat Rena baikkan. Rena menyusuri lorong yang akan membawa dirinya di sebuah taman hotel.
Menghembuskan nafas, membiarkan angin menerbangkan semua pikirannya yang acak-acakan, amburadul.
"Kenapa kau malah datang dengan wanita lain!" Suara yang Rena dengar. Ia yakin itu suara Citra.
"Kenapa jadi seribet ini hidupmu! Kau tinggal bilang ke Rena, maaf, dan ungkapkan penyesalanmu, juga beberapa hari kemarin yang kau hampir mati keracunan alkohol lagi!"
Rena mau menghindar dan pergi, mendengar namanya disebut, mau tidak mau ia menguping. Keracunan alkohol lagi?
"Ya Tuhaaan, ini malah menambah masalah baru! Kau mengajak Paulin? Kau tahu wanita itu menyukaimu!"
"Dia selalu menempeliku, aku sudah menghindar tapi tadi ia sudah ada di depan rumahmu kan?"
"Kamu bisa menolak! Tolak! Tegas! Aku tak habis pikir, kamu selain pengecut juga bodoh, dan plinplan!" Citra memaki dan semua itu dibenarkan oleh Rena.
"Juga istrimu itu gengsinya tinggi bak gunung everest! Mengapa harus terus menghindar, nyatanya di cinta mati padamu! Kau tahu bukan tatapan kecewanya! Kau sanggup jika ia melarikan diri dan membuangmu!" Hembusan nafas Citra tersenggal.
__ADS_1
"Tak apa, mungkin saat ia tak bersamaku, hatinya kembali membaik, ini percoban diriku tidak lagi mengganggunya, walau sulit, aku akan memberikan apa yang Rena mau, jika ia ingin lepas" suara Raka pelan dan membuat hati Rena seperti disiram air es, sakit dan sesak.
Tidak! Ia tidak mau jika Raka menyerah. Rasanya sangat menyakitkan saat Raka mau melepasnya. Tidak! Tidak boleh!
"Tak apa kak? Kan ada Paulin disini" Entah datang dari mana wanita itu sudah menggandeng lengan Raka erat.
"Kau mau dengan lelaki tak bisa move on ini? Siap dengan resiko clbk? Mendengar setiap malam dirumah sakit dia menyebut istrinya saja kau meraung! Sudah bocah kau tak usah menjadi pelakor jika tidak siap!"
Citra mendorong tubuh Paulin, melepaskan belitan lengannya pada Raka.
"Huh! Dasar! Aku yakin bisa!"
"Sudah sana, kau mau semua aibmu terbongkar? Dan ayahmu menyeret dirimu pulang?"
"Dasar nenek lampir bisanya mengancam! Aku bakal mempunyai pasangan melebihi Raka dan Siwa! Lihat saja!"
"Iya-iya sana pulang sana!" Usir Citra. Ia sebal sekali dengan Paulin, anak donatur panti asuhan Raka. Yang selalu saja genit, bocah 18 tahun yang terlihat dewasa pada penampilan tapi tidak kelakuan.
"Raka kau pulanglah, wajahmu pucat, apa masih tidak enak badan?"
"Aku tak apa, aku udah menyewa satu kamar, dan beristirahat disana." Setelahnya mereka kembali masuk ke dalam aula.
Rena mendengar semuanya. Wanita itu memilin jari-jarinya. Apa Raka belum sembuh? Keracunan alkohol? Rasa tidak ingin kehilangan dan kecemasan menyeruak dalam hatinya.
Rena kembali ke meja Nami dan berpamitan ia akan kembali lebih dulu. Ia juga tidak lagi melihat Raka disana. Ini adalah hotel dimana Raka membawanya. Bukan Raka tapi saat Rena membawa Raka yang mabuk waktu itu.
Ia tahu dimana kamar Raka berada. Rena melangkah dengan percaya diri. Ia tidak mau dianggap gengsi, Rena harus menyelesaikan semuanya.
Otaknya kembali memutar, sebelum ia masuk ke aula. Ternyata Citra tidak kembali dengan Raka. Ia tahu jika Rena menguping pembicaraannya.
"Hai Rena, apa kabar?"
"Ba-baik" Rena gugup ia ketahuan menguping.
"Nggak usah gugup, kamu pasti sudah tahu semua kan? Dia mencintai kamu, yah walau ia mengambil cara mempertahankanmu dengan cara segoblok itu!"
"Dia sefrustasi itu! Menyiksamu juga menyakiti dirinya. Tapi melepasmu itu membunuhnya perlahan. Dia memang masih bisa bekerja dan melakukan semua kegiatannya. Tapi dia akan jadi empty shell. Kosong tidak berjiwa."
"Lihatlah dari sisi dirinya, ia juga begitu terpuruk dengan bayi kalian, bukan cuma dirimu, aku tahu pasti ada trauma dalam dirimu, tidak mudah memang kehilangan tapi tidak adil juga untuk Raka dan Kenan"
"Mereka ingin istrinya, dan ibuknya yang dulu, yang memperhatikan mereka. Aku bilang kamu egois sekali Rena, manusia paling egois, tidak memikirkan perasaan suami juga anakmu"
"Tapi tindakan Raka yang memaksamu itu juga tidak benar. Kalian hanya ingin saling melindungi."
"Tolong jangan biarkan mereka berubah, karena ketika mereka berubah, kau tidak akan bisa menariknya kembali. Jangan menunggu menyesal" ucapan Citra di akhir membuka mata Rena tentang keegoisannya. Tanpa memikirkan dari sisi lain orang sekitarnya.
Kembali ke saat ini Rena berada didepan pintu yang kemarin, menatap lama sebelum Rena menekan belnya. Lama. Ia tak mundur.
"Rena?" Ucap mata lebar, terkejut Raka, namun suara lirih yang masih wanita itu dengar. Ia melihat wajah Raka. Ada rasa rindu membludak dalam dirinya. Ia merasa benar.
__ADS_1
Jika kemarin ia mendorong Raka masuk dalam keterpaksaan juga ancaman, saat ini ia mendorong Raka masuk dengan kepercayaan penuh jika lelaki ini adalah miliknya utuh. Pintu kokoh itu menutup erat.
Bersambung ...