Dendam Sang CEO Tampan

Dendam Sang CEO Tampan
Bab 16. Kembali Ditinggalkan


__ADS_3

Raka mengantar Rena kembali ke Ibrahim Crop. Dengan perdebatan alot sebelumnya. Raka tidak suka Rena kembali bersama Gani.


Benar-benar definisi 'Kalau ada yang ribet kenapa pilih yang mudah' ada pada suaminya itu.


Kantor Raka jika dari warung Indonesia lebih dekat dan ia akan menurunkan Padma dahulu lalu mengantarkan sang istri. Ya Padma ikut dengan mereka.


"Nanti aku jemput" ucap Raka.


"Nggak usah, aku bawa mobil" ucap ketus Rena. Ia benar dibuat jengkel dengan kelakuan Raka yang tidak sopan pada Gani.


"Biarin aja mobilmu disini, biar nanti aku suruh anak buahku mengambilnya" yah, ribet, kenapa tidak mereka pulang sendiri-sendiri saja, jadi tidak perlu menyusahkan orang lain.


Tapi ini Raka yang bebel sekali.


"Iya iya, aku masuk ya" Mereka sampai di Ibrahim Corp, Rena turun, tidak ingin mendebat Raka yang keras kepala. Ia tidak ada waktu untuk berdebat, meeting nya dengan Gani segera dimulai.


"Gani, maaf ya, Raka kekanak-kanakan" ucap Rena tidak enak dengan kelakuan Raka saat makan di warung Indonesia. Melihat Gani sudah menunggunya di ruang rapat.


"Tak apa, ayo kita mulai" rapat berjalan lancar. Mereka mencapai kesepakatan kerja sama. Yang menguntungkan keduanya


"Ucapkan terima kasih untuk suamimu atas traktirannya di makan siang tadi. Aku senang kamu memperkenalkan warung indonesia itu, kapan-kapan aku yang akan mentraktir kalian ya"


"Ngomong-ngomong aku memesan es yang kau pesan tadi, aku penasaran bagaimana rasanya. Sepertinya menyegarkan" lanjut Gani.


"Ya memang segar, harusnya tadi kau mencoba milikku"


"Sayang?" Tangan berbulu bertengger di pinggang Rena.


"Raka kau sudah disini"


"Oya aku pulang cepat, sama sepertimu jadwalku hanya rapat dan selesai dengan cepat" ucap Raka yang masih memeluk pinggang Rena menunjukan kepemilikannya, posesif.


"Lepas ini di lobby" bisik Rena tak enak dengan pandangan sekitar, apa lagi masih ada Gani disebelahnya.


"Jadi kalau di mejamu tak apa?" Iseng Raka menggoda Rena.


"Ren, sampai jumpa minggu depan ya, Raka terimakasih makan siang tadi, kapan-kapan gantian aku yang akan mentraktir kalian, see you soon" ucap Gani mengulurkan tangan pada Raka, juga Rena.


"Sama-sama kau tak perlu repot-re— Aw!" Rintihan Raka pada perutnya yang disikut Rena. Rena menyambut tangan Gani.


"Terima kasih Gani, Sampai jumpa minggu depan" Rena mengangguk hormat. Sepeninggal Gani, Rena menatap kesal pada Raka lalu meninggalkan suaminya itu begitu saja.


"Seyeng … tunggu seyeeeeng" ucap Raka melucu. Tapi Rena sama sekali tidak tertarik. Wanita itu masuk lift dengan memutar bola matanya malas.


Sebelum pintu lift menutup segera Raka menyelinap. Benar-benar istrinya itu tega. Hampir saja ia terjepit pintu lift.

__ADS_1


"Sayaaang teganya" Drama king mulai, pikir Rena.


"Kencan yuk" Raka mengikuti Rena, lelaki itu mendudukan tubuhnya di meja Rena.


Pintu terbuka. Ibrahim menyapa pasangan di depannya.


"Raka selalu ngintilin Rena, dulu kamu sering ngatain Om bucin lha kamu sendiri ini lebih-lebih, Jadwal saya hari ini?"


"Menemani Bunda belanja, Pak bos" Ibrahim mengangguk. Mengangkat tangan mendapati pukul setengah 6.


"Tenyata buncin setelah nikah itu mantap Om,"


"Nah kan apa saya ucap, kamu ketulahkan" tawa Ibrahim tergelak. Dulu Raka suka sekali sewot jika Ia dan Nami, melakukan PDA.


"Kalau begitu Om juga mau ngebucin ah, laporan yang tadi letakan di meja saya saja, Ren seperti biasa. Sampai jumpa besok" Ibrahim melipir begitu saja.


"Siap Pak bos" Rena mengangguk, ia pun membereskan tumpukan berkas, membawanya masuk. Raka membantu mengambil tumpukan itu dari tangan Rena dan meletakkan di atas meja Ibrahim.


Kebiasaan Raka saat dulu masih melancarkan pendekatan dengannya. Selalu membantu tanpa diminta, ya pasti sangat mengganggu di awal. Membuat Rena kesal dengan tingkah sok baik playboy itu.


Namun sekarang ia terbiasa. "Ayo kencan seyeng" ucapnya jenaka.


"Nonton ya? Tapi aku yang pilih filmnya"


"Pokoknya awas aja kalau ketiduran"


"Jangan film romantis ya,"


"Oke, kita lihat aja nanti ada film apa" Raka langsung mengeluarkan ponselnya. Melihat film apa yang sedang diputar di bioskop, melalui aplikasi.


Mereka sampai di bioskop. Rena menunggu Raka mengantri tiket dan cemilan. Ia menunggu terlihat cengiran Raka dengan tiket ditangan juga bungkusan popcorn. Juga soda.


"Ini donat pesanan anda Ratuku" memberikannya donat pesanan Rena. Rena melirik sekilas dan menggelengkan kepala dengan kelakuan Raka.


"Ayo masuk," 


Mereka masuk kedalam ruangan bioskop. Mencari kursi sesuai tiket mereka. Ponsel Raka berkedip.


"Aku ke kamar mandi ya" Raka mengecup kepala Rena dan beranjak dari tempatnya.


10 menit, Raka belum juga kembali. Film yang Raka juga sudah mulai. Film genre horor. Rena kesal sekali. Rena tak suka film horor. Suara jumpscarenya membuat Rena menutup telinga. Rasanya ia ingin keluar saja.


Rena mengirim pesan pada Raka. Namun lelaki itu tidak membacanya. Rena coba telpon pun tidak diangkat.


Kembali, Raka susah dihubungi. Renanterus saja tidak fokus pada film dan ia memang ingin keluar bioskop. Sedari tadi ia hanya meringkuk dan terkejut dengan suara dalam film yang tiba-tiba akan mengagetkan. 30 menit, ambang batas Rena.

__ADS_1


Ia tak lagi peduli. Ia tinggalkan segala cemilan dan keluar ruangan. Sibuk dengan ponselnya. Menunggu Raka di depan kamar mandi lelaki.


Seorang lelaki keluar kamar mandi. Ia menatap Rena. Lalu menghampiri wanita yang sedang sibuk dengan ponselnya.


"Ren, Rena?"


Wanita yang ia panggil mendongak. "Gani"


"Kamu sama siapa?" Pertanyaan bodoh dari Gani. Sudah jelas Rena menunggu didepan kamar mandi laki-laki. Jelas lah sama suaminya. Raka.


"Emm … " wajah Rena tampak ragu.


"Bisa lihatkan apa Raka ada di kamar mandi?" Ucap Rena sedikit tak enak. Satu alis Gani terangkat. Ia tidak mengerti. Tetapi lelaki itu menurut. Kembali Gani masuk ke dalam toilet dan mencari keberadaan Raka.


Ia yakin toilet itu kosong. Ia sudah membuka satu demi satu kamar mandi yang tertutup namun tak ada. Gani keluar.


"Tidak ada. Kamar mandi kosong"


"Apa ada kamar mandi lain selain disini?"


"Suamimu bilang ke kamar mandi? Dan sampai saat ini tidak kembali?" Rena mengangguk pelan. Ia merasa ini konyol jika benar Raka meninggalkannya di bioskop sendirian dengan izin ke kamar mandi.


Mengapa Raka selalu begini? Selalu pergi meninggalkan dirinya. Apa tidak bisa izin dulu, Rena pun bisa pulang sendiri jika Raka sendang buru-buru. Mengapa Raka setega itu. Rena adalah istri lelaki itu.


Wajah murung Rena membuat Gani tidak bisa meninggalkan wanita itu sendiri. Sebenarnya Gani pun sedang menonton dengan pasangan kencan butanya.


"Aku antar kamu pulang, tunggu aku sebentar disini" Bioskop yang Rena datangi memiliki gedung sendiri. Tidak seperti kebanyakan bioskop di indonesia yang menjadi satu dengan mall besar.


Rena mengikuti Gani yang menghampiri seorang wanita. Dan yang membuat Rena terkejut, wanita yang bersama Gani menampar lelaki itu. Lalu pergi dengan wajah marah.


Rena berjalan menghampiri Gani. "Maaf Gani, kau kejar pacarmu, aku bisa pulang sendiri." Ucap Rena tak enak. Ia bisa melihat adanya bekas merah di pipi Gani.


"Dia hanya teman kencan" ucap Gani enteng.


"Tapi, sungguh aku tidak ingin membuat kencanmu berantakan"


"Tidak aku malah berterima kasih padamu, kamu melepaskan aku dari kencan membosankan" ucapnya.


"Dan kau tak perlu bersalah, ini bukan salahmu," Gani terkekeh menatap wajah bersalah Rena.


"Sudah, ayo aku antar kamu" ucapnya sudah mendorong tubuh Rena ke tempat parkiran.


Sunyi. Rena masih dengan pikirannya pada Raka. Dan Gani tidak ingin bertanya. Ia tidak ingin mencampuri urusan rumah tangga orang. Walau tidak dipungkiri ia pun penasaran.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2