Dendam Sang CEO Tampan

Dendam Sang CEO Tampan
Bab 26. Kedatangan Kerabat 2


__ADS_3

Rena berbelanja bersama Eyang Doroty. Menyarankan untuk ke pasar tradisional. Ada Mbok Jum, orang yang Eyang pekerjaan. Bertubuh gempal agak pendek, namun sangat cekatan, masakannya juga enak sekali, Mereka berdua mengikuti Mbok Jum. Rena merasa senang begitu pula Eyang Doroty yang merasakan kenangan masa lalunya.


"Yang, Mbak, mau makan ikan?" Mbok Jum menawarkan ikan segar,


"Ibu hamil bagus makan bandeng mbak, ikan ini dapat meningkatkan kecerdasaan otak selain salmon" ucap Mbok Jum


"Boleh, tapi banyak durinya mbok, saya nggak suka,"


"Ini bandeng gresik kan pak?"


"Iya mbak, dari segi besarnya, bandeng gresik sangat besar, dibandingkan bandeng lamongan. Dan jelas tidak ada bau tanah di bandeng gresik." Ucap pedagangnya. Mbok Jum mengangguk.


"Disini bisa dihilangkan durinya Yang, Pak bandengnya cabut duri satu kilo dan yang satu kilo nggak ya,"


"Iya mbak" penjualnya menimbang, dua kilo ikan, "Nanti yang ada tulangnya kita bikin bandeng presto saja Mbak, bagaimana?"


"Wah boleh, sama sambal bajak yang kemarin ya Mbok, itu nggak pedas tapi enak, saya suka" ucap Rena.


"Ide kamu bagus Jum, kalau begitu saya serahkan sama kamu, kami suka bingung mau makanan indonesia tapi mau buat apa,"


"Eyang sama Mbak Rena ingin apa nanti saya rekomendasikan masakan apa saja" ucap Mbok Jum percaya diri.


"Saya sebenarnya ingin makan lodeh nangka muda kacang tolo mbok" Doroty menatap nangka muda di lapak pedagang sayur.


"Siap Eyang, berarti hari ini kita masak, bandeng goreng kering dengan sambal bajak dan sayur lodeh, tempe tahu, dan krupuk"


"Aku jadi lapernya sekarang mbok" Rena dengan senang hati menanti masakan mbok Jum.


Mereka kembali pulang setelah berbelanja dengan kalap. Doroty menyuruh Jum untuk memborong buah dan sayur segar. Mereka berbelanja untuk seminggu kedepan.


Rena duduk di taman milik Doroty, akhir minggu, ia merilekskan pikirannya. Jangan tanya bagaimana ia bertahan saat awal menginjakkan kaki di Indonesia dengan hati yang hancur.


Setiap malam tiada hari tanpa menangis, tubuhnya mengurus, pucat, hingga ia tahu bahwa ia membawa kehidupan lain di dalam perutnya.


Itu tidak begitu saja membuatnya kuat. Ia terkejut dan kembali hanya menangis dan menangis sampai Isak muak.


Bukannya sehat, Rena semakin kurus, dan malnutrisi. Rena merasa bersalah pada kandungannya. Dorongan untuk menjadi ibu yang baik untuk sang jabang bayi membuat Rena kembali semangat.


Apalagi ia ingat pada tujuan lainnya ia di indonesia. Menemukan para kerabat. Saat awal hamil muda, ia memang mual tapi tak lama. Rena masih bisa berkeliling dan mencari keberadaan kerabatnya.


Berbekal media sosial, ia mencari Nama Udin Saripudin dan dengan berani mengajak bertemu beberapa orang itu. Namun nihil.


Semua zonk. Tapi tentu Rena tidak sendiri bertemu dengan Udin-Udin KW itu. Ada Isak disana.


"Siwa?" Asisten Doroty selain Herman.


"Bagaimana kau sudah menemukannya?"

__ADS_1


"Belum Mbak"


"Ini Mbak susunya."


"Kemana lagi mencari si Udin Saripudin ini" gumamnya. Mbok Jum mendengar itu.


"Di kampung saya, di Depok saya punya tetangga namanya Udin Saripudin Mbak," sela Mbok Jum.


"Depok?"


"Iya mbak, ini saya punya nomornya, bisa dicoba?" Ucap Mbok Jum.


"Coba hubungi Mbok" Rena merasa ueforia.


"Halo mbok,  ada ape nelpon Udin?" Suara terdengar dari seberang.


"Din gua mau nanya same lu nih, Lu punyak sodara yang tinggal di luar negri kagak ya?"


"Lha ngapa mbok, lu nanyak? Ada sih, tapi udah lost kontek ane mbok, lha lu tau dari mane dah!"


"Begini Din, lu bisa kagak dateng kerumah majikan mbok, buat bantu-bantu, dimari mau ada syukuran gede dan butuh tenaga lakik, tenang ada bayarannya, gede lu mau kagak?" Mbok Jum membaca arahan Rena. Rena mengangguk mengacungkan jempolnya.


"Oke siap, Lehaaa, gua dapet kerja, bisa nambah-nambah tabungan ke Qatar besok, Haaaa … " ucap girang Udin.


"Yaudeh, besok senen lu kemari, pake baju rapi yak"


"Semoga Udin yang ini bener ya Mbak" Rena tidak sabar. Ia langsung menelpon Isak meminta izin cuti hari senin. Selain untuk menunggu Udin, juga mau cek kehamilannya.


***


Udin bersiap, ia telah rapi wangi dan ganteng, ini berkat Leha yang menyisir rapi rambutnya hingga klimis. Ia bahkan sengaja membeli minyak rambut dengan harga lebih dari maretmaret.


"Nah caem lu! Emang lu mau kerja apaan dah? Pelayan restoran yak?" Tanya Leha.


"Kagak tahu, Mbok Jum tiba-tiba telepon gua dan ngajak kerja, ya lu tahu kita lagi nabung pan, ya gua ambil aje dah, kayaknya sih bayarannya gede"


"Lu kagak dagang barang haram pan Din? Gue kagak mau ye tabungan lu kagak berkah terus ntar kenapa-kenapa pesawat kite! Naujubilaaaah …" Leha nyebut membayangkan kejadian mengerikan macam di film barat yang suka ia tonton.


"Lu jangan kebanyakan ngayal lu, gegara ntu pelem bule lu bayangin yang kagak-kagak," Udin menoyor kepala Leha. Leha adalah sahabat dari orok si Udin. Mereka berjanji akan menonton langsung piala dunia 2022 di Qatar langsung.


Mereka sudah menabung dari bulan lalu. Leha mengambil banyak pekerjaan. Dari mulai ngangon bebek hingga kambing milik abahnya. Bahkan ngojol pun wanita itu jabani. Bukannya ia tidak dapat kerja. Tapi ia ingin mendampingi sang abahnya yang tidak rela anaknya jarang pulang kerumah akibat kesibukannya. (Taipan Qatar Pencuri Hati)


"Ya udeh, gua berangkat,"


"Ati-ati lu yak, jangan asal nyalip-nyalip, lu bukan Rosi!" Wajangan Leha.


"Iyaak, Bah Udin berangkat yak" pamit Udin ke Hamid.

__ADS_1


"Iyak sini lu salim, cium tangan gue, biar berkah" goda Hamid kepada Udin yang sudah ia anggap anak sendiri.


"Iyeee abah semoga lancar yak kerjaan Udin, entar Abahntraktir Udin Di padang Uda ciek duo tigo yak Bah"


"Iyeee Din, amin, lha ngape gue yang bayarin dah, lu nyang kerja! Dasar bocah ndableg!" Gelak tawa Udin kabur dari pukulan Hamid.


Udin mengendarai motornya dengan santai sampai ia menjadi korban tabrakan beruntun, sialnya Udin, Motornya tak bisa ia kendalikan dan masuk keparit membawa tubuhnya.


Kejadiannya sangat cepat membuat Udin tak sasarkan diri.


***


Jadwal pemeriksaan Rena pukul 10 namun pukul 9 ia sudah duduk di antrian, jakarta dengan kemacetannya. Rena berangkat lebih awal. Ia ditemani oleh Doroty dan Mbok Jum.


Rena terlalu bersemangat, karena akan bertemu dengan Udin kenalan Mbok Jum, menjadikan wanita itu susah tidur semalam. Dan paginya rasa mual yang sudah hilang mendadak muncul,


Paginya Rena turun dengan lemas dan langkah terhuyun. Dan dipapah Doroty dan Mbok Jum membawa perlengkapan Rena, mereka langsung membawa wanita itu kerumah sakit.


Doroty sudah akan memesan kamar, ia panik dan cemas. Ini pertama kali merawat orang hamil. Untuk Mbok Jum mengambil kendalinya.


"Eyang nggak usah cemas ya, ini memang gejala kehamilan. Biasa ibu hamil mual-mual, memang lemas karena apapun yang dimakan pasti akan keluar." Penjelasan Mbok Jum.


Nasib Mbok Jum juga tak kalah memprihatinkan. Ia pun janda tanpa anak, jika Doroty ditinggal mati, kalau Jum ditinggal pergi dan diselingkuhi oleh mantan suami. Bahkan mereka tidak bercerai.


Mantan suaminya tidak peduli dan malas mengurus bahkan perceraian yang akan mengeluarkan uang itu.


Namun ia memiliki beberapa anak angkat yang sangat menyayanginya. Ada di kampungnya. Saipul dan Diana, ia ambil Saipul dari panti asuhan, jika Diana juga ditinggal Ayah dan Ibunya dalam kecelakaan.


Akhirnya mereka diasuh oleh Mbok Jum, dan Diana dan Saipul ini sudah menikah. Mbok Jun tidak melarang, karena mereka memang tidak memiliki hubungan darah.


Nama Rena pun dipanggil. Pemeriksaan berjalan lancar, dokter memuji Rena yang bisa meningkatkan berat badan dirinya juga bayinya yang berkembang sehat.


Ada haru dari Doroty dan Jum. Rena meminta izin dokter untuk memperbolehkan dirinya mengajak kedua wanita hebat yang menjaganya dengan penuh kasih dan perhatian.


Air mata keduanya mengalir mendengar detak jantung dari anak Rena. Mereka tidak pernah mengalami ini, namun Rena membaginya pada mereka.


Mereka tidak tersinggung karena keduanya sudah mencapai tahap ikhlas.


Jum melangkah ke apotik, ia akan menebus vitamin yang dokter resepkan untuk Rena. Rena menunggu dengan Doroty. Untuk menuju apotik Jum harus melewati UGD yang ramai.


Ia mengerutkan keningnya, apa ada kecelakaan, ada beberapa ambulan yang menurunkan  beberapa pasien.


Jum mengenali salah satu korban yang diturunkan dengan ambulan. Dalam keadaan tertidur. Tidak mungkin ia salah lihat.


Ia mengikuti perawat yang mendorong brankar menuju salah satu ruangan. Ia mengintip dan benar saja.


"Udin?!" Pekiknya.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2