
Dua minggu setelah terakhir mereka bertemu di Doha. Rena duduk dengan alpukat kocok dengan toping coklat. Ini makanan entah yang keberapa, yang masuk kedalam mulutnya.
Ia menunggu munculnya sang kakak yang sibuk mengantri kesana sini. Mereka ada di sebuah acara jajanan nusantara yang diadakan mereka kecap terkenal.
Jcc adalah tempat langganan para brand ataupun aliansi membuat acaranya disini. Tempat luas, tangah kota, parkiran banyak,
"Ini pesananmu" ucap Davis dengan banyak kresek di tangannya.
"Teyima kasi ongkel Dapis" Rena membuat suara layaknya bocah. Davis hanya berdecih. Ia kepanasan, juga berkeringat. Adiknya ini sangat menyiksanya.
Ia menyusrup minuman dingin yang sempat ia beli. "Aku lapar," Davis menarik salah satu kotak berisi roti lapis dengan banyak daging di dalamnya.
"Apa itu? Curang abang cuma beli satu?" Tahan Rena saat Mulut Davis sudah menganga lebar ingin menggigit makanannya.
"Kamu tadi nggak minta ini" jawab Davis santai. Ia menggigit roti dengan bar-bar. Sedari tadi ia memang sudah tergoda dari aroma roti ini. Sangat menggugah.
"Iiih kok dimakan? Kan harusnya kakak beli semuanya serba dua!"
Davis melirik Rena yang sangat merepotkan, Davis pikir makanan yang Rena pesan saja sudah banyak dan ia takut Rena tidak habis.
"Oke jangan ngambek, ini coba dulu,"
"Nanti dibelikan?"
"Coba aja dulu" ucap Davis.
"Tapi nanti beli ya?"
"Aaaaa …. " Davis menyodorkan pada mulut Rena yang menganga. Ia menggigit dan mengunyah, mereka memang saudara Rena menggigit dengan bar-bar. Ia memenuhi mulutnya dengan roti lapis itu.
"Henyak mahu ithu lahi, belhi khan lagi" ucap Rena dengan mulut penuh. Davis hanya mengangguk kemudian ia mendial satu nomor.
"Mas, ini saya yang minta nomernya mas, bisa pesen tiga lagi? Iya, iya sama persis, iya sayaaaa … di G6 meja 30, terima kasih" Davis kembali duduk setelah celingak-celinguk mencari posisi mereka berada.
"Gedenya ini telur gulung, satunya berapa kalau segede ini?" Rena menyodorkan gumpalan telur yang digoreng dengan sumpit.
"25 ribu satu."
"Hmn enyaak uhuuf … huuuff … panashh" Rena sibuk dengan telur gulung jumbo. Kembali ia mencocolkan pada saus merah yang padas.
"Dek mau coba dong abang" Davis membuka mulutnya. "Dikit ya," Davis mengangguk, Rena terlihat ragu-ragu.
"Tapinya dikit yaaa … ABANG MAH!" pekiknya dengan merengek. Kesal.
__ADS_1
"Aaarg fanaaass … " Davis mengigit hampir setengah telur gulung milik Rena. Rwna tahu sejahil apa Davis.
"Hhh … hhh … hmnn … " Mengunyah cepat, karena sangking kepanasannya. Lalu Davis meraih alpukat kocok Rena, meredakan mulutnya yang terasa terbakar.
"Sukurin! Emang enak! Makanya jangan jahil!" Omel Rena. Dering ponsel Davis membuat mata Rena melirik siapa yang menelepon kakaknya.
Padma.
Nah Rena hampir lupa, dengan tujuan awal dirinya ingin menghabiskan waktu dengan sang kakak.
"Bang kok nggak dijawab?" Suara kunyahan garing, memperhatikan sang abang yang juga sibuk dengan makanannya.
"Biarkan saja" Rena menghela nafasnya.
"Kau sudah tahu?" Rena tidak ingin langsung bertanya yang akan menyebabkan mood Davis memburuk.
"Tahu apa?"
Sebenarnya greget juga bertanya pada Davis. Ini akan panjang dan lama juga butuh kesabaran ekstra. Bagaimana kesabaran ekstra? Jika kesabaran nya hanya setipis tisu.
Rena memilih jajanan buah segar di depannya. Satu mangkuk berisi potongan buah tipis. Rena menaburkan garam cabe. Ia membukanya lagi dan membuka plastik basah yang berisi serutan es yang setengah leleh. Hanya sedikit lalu menutup dan mengocoknya.
Membuka tutupnya liurnya sudah akan menetes padahal ia baru membayangkan saja.
Ia menusuk buah kekuningan. Rasa segar manis khas buah tropis. Nanas. Segarnya. Garam meningkatkan rasa manis pada nanasnya.
"Tahu kalau mereka mempermainkan aku awalnya, tapi dengan Padma mendekatimu, kenapa mereka mengincar kita?"
"Dan jika kamu sudah membuka topeng yang kamu tutupi itu. Padma akan was-was. Takut kejahatannya padaku terbongkar." Ucap Rena dengan mulut tidak berhenti mengunyah.
"Ini cobalah, enak, menghilangkan rasa minyak dari telur gulung."
Rena menyuapkan sepotong nanas pada Davis.
"Asem?" Rena menggeleng.
"Nggak, nanas madu ini kayaknya" Davis mengunyah nanasnya dengan kepala mengangguk.
"Tuh nelpon lagi kan" dering yang hanya dilirik malas oleh Davis.
"Kamu benci sama dia kan dek?"
"Iya, tapi nggak pengen bales pake abang, aku mau bales dia pake Raka. Karena kata-kata atau perbuatan orang yang kita sayangi berefek lebih hebat."
__ADS_1
"Abang aku nggak sebaik itu, aku juga marah dan masih apalagi saat tahu ternyata kamu malah sengaja mengikat diri ke Padma. Aku nggak habis pikir kenapa?"
Rena menatap Davis yang sedang menatap lurus. Matanya menerawang ada kecewa disana.
"Abang mau bikin banyak anak" ucap Davis.
"Dan itu harus dengannya" lanjut dengan mata menyiratkan rasa terluka dalam. Dan dendam.
Jawaban yang tidak menjawab pertanyaan Rena. Bukannya jika ingin anak, Davis bisa mencari wanita lain yang mungkin lebih dari Padma.
"Aku nggak tahu seberapa dalam luka yang Padma timbulkan tapi jika suatu hari kamu menyesal dan bingung menyelesaikannya, datang padaku kak, aku pasti membantumu"
"Aku memang sangat membenci Padma, tapi aku lebih terluka karena kelakuan orang tua kita. Andai saja semua anak bisa memilih dimana ia akan dilahirkan aku tidak akan mau bertemu mereka"
Rena kepalan tangannya bergetar. Ia tidak menangis. Davis merekuhnya. "Makasih dek selalu ada buat abang"
"Oh iya Bang, aku lagi mencari keluarga kita yang ada disini, ketemu satu, Udin Saripudin. Tapi masih diselidiki sama Siwa. Asisten Eyang Doroty.
Davis sudah bertemu dengan Eyang Doroty dengan asisten nya yang lain, Herman.
"Kamu mencarinya?" Rena kembali mengangguk.
"Iya aku mau tahu apa yang membuat mama nggak mau balik ke sini, dan selalu menghukumku jika aku merengek minta kesini" ujar Rena. Ia memang sepenasaran itu.
Karena salam ingatannya, hidupnya sangat inda, papa juga mamanya masih sayang padanya, semua berubah saat mereka mulai pindah ke Doha dan mengembangkan perusahaan yang sekarang Davis pegang.
"Bang masih inget nggak, kita pernah berenang di gelanggang olah raga, yang airnya bau kaporitnya tajam, terus bekal makan nasi, mie goreng juga telur dadar"
"Waktu itu papa nggak punya uang, tapi berusaha buat permintaanku terwujud. Itu masa paling membahagiakan dalam hidup Rena."
Pelan ia mengingat dengan senyuman manis yang tersungging namun tidak lama berganti dengan senyuman getir penuh luka.
Kembali dering yang sama.
"Aku akan mendapatkan anak darinya, hingga nanti aku membiarkan dia berlari dariku, aku akan tetap mengikatnya disampingku"
"Dan salahkan aku jika Raka mencoba untuk membantunya, aku tak segan melakukan apapun pada suamimu itu." Rena menatap Davis ngeri. Tiba-tiba ia merasa haus.
"Permisi, pesanan cheesy mushroom beef teriyaki"
"Ya, Solen?"
"Kak Solen?"
__ADS_1
"Davis, Rena?"
Bersambung ...