
Raka menyelimutinya. Wajah Raka masih sepucat pagi tadi. "Kamu kenapa disini deh," Rena berdiri dari duduknya dan menangkup wajah sang suami. Mereka masih suami istrikan? Raka mengusir pengacaranya, juga Rena tidak mendapatkan panggilan dari pengadilan.
"Tuh masih demam, ayo kembali ke kamarmu" ucap Rena.
"Temenin" manja Raka. Rena berjalan mendahuluinya. Raka terdiam pada tempatnya. Ia dibuat bingung, ia ada di dunia nyata atau alam mimpi.
Rena tidak menghindarinya. Juga tidak melarangnya mendekat. "Kok malah diem di situ, katanya mau ditemenin?" Rena memutar bola matanya, malas.
"I-iya" Raka melangkah lebar. Berjalan di samping Rena.
"Sudah di makan buburnya?" Rena menengok Raka yang hanya menatapnya tanpa menjawab. Mereka menaiki lift dan tak lama pintu terbuka.
"Raka udah dimakan buburnya?" Raka menggeleng, "Pasti udah dingin"
Pintu kamar Raka terbuka. "Ni orang eee … ditinggal panasin bubur langsung menghilang" omel Doroty.
"Sekarang sana naik ke kasur, Eyang biar sama Rena aja,"
"Nanti kamu tertular lho, selain keracunan Raka itu tipes, di kerja terus nggak ada istirahatnya." Doroty gemas. Ia telah mengubah kamar Raka menjadi kamar suit dengan dua kamar.
"Percaya si abang kuat, kayaknya dia mau buat bapaknya itu sembuh" ucap Rena yang Raka dengar, membuat hati Raka menghangat juga melonjak bahagia.
Daroty paham, ia hanya menghembuskan nafasnya kasar. "Eyang nunggu disini kalau gitu" ucapnya tidak mau meninggalkan pasangan itu berduaan.
Raka sakit dan tidak ingin mereka melakukan sesuatu yang akan membuat Rena ikut sakit. Sesuatu yang biasa pasutri lakukan.
"Iya, Rena kedalam dulu ya, Yang"
Rena mendorong meja dorong dengan semangkuk bubur ayam hangat dan teh hangat juga beberapa butir obat.
"Makan dulu buburnya"
"Pahit"
"Nggak coba dulu" Raka terlihat enggan.
"Katanya mau nemenin jaga si abang?"
"Si abang?" Kerutan terlihat dari alis tebal Raka yang menyatu.
"Si abang" Rena mengelus baby bump, Rak mengulurkan tangannya. Menyentuh benjolan bayi itu. Mengelus sayang. Haru. Mata lelaki itu berembun. Namun dengan cepat ia mengusapnya.
"Boleh?"
Rena mengangguk, "Tapi harus sehat dulu, Ya Yah" ucap Rena mencoba bersuara bayi. Raka mengangguk. Ia meraih buburnya dan memakannya dengan lahap.
Air mata Raka mengalir deras. Tidak lagi ia sembunyikan, senyuman menghiasi wajah lelaki itu. Rasa bahagia ikut mengalir disetiap aliran darahnya.
"Pelan-pelan si abang, nggak akan kemana-mana, disini jagain bapaknya ini" Rena mengulurkan gelas tehnya. Raka meminumnya hingga tandas.
Bubur pun habis, "Ayah abang hebat ya bang" ucap Rena mengelus rambut Raka yang berantakan. Rambutnya lebat dan hitam.
Doroty menyungging senyuman, mendengar interaksi pasangan itu, beranjak dari tempatnya. Keluar kamar Raka, memberi ruang untuk keduanya, Siwa mengikuti nyonyanya itu.
Rena keluar kamar Raka tidak lagi menemukan Doroty. Ia kan mengambil air untuk Raka meminum obatnya.
"Ini minum dulu, lalu istirahat"
"Kalian disini aja," Raka menepuk kasur kosong disebelahnya.
"Jangan ngelunjak! Kamu masih sakit aku nggak mau ketularan" ucap Rena.
"Cepat istirahat, cepet sembuh, biar bisa deket si abang" lanjut Rena. Wanita itu melihat anggukan Raka.
Rena keluar kamar Raka. Ia akan menutup pintunya.
__ADS_1
"Pintunya jangan ditutup" Raka lemah. Ia ingin bisa mengintip Rena dari tempatnya berbaring.
"Iya" Rena meletakkan bubur juga gelas di tempat cuci dan mencucinya. Ia menghela nafas lelah, apa keputusannya sudah benar? Memberi kesempatan Raka. Semoga. Rena menatap pintu Raka.
Setelahnya ia menyalakan televisi dengan volume kecil. Rena tidak menonton apapun itu yang ada di televisi. Ia menyalakan agar ada suara di sekelilingnya.
Rena menyibukan diri pada toko online perlengkapan bayi. Ia menggulir dan menyimpan sesuatu yang ia rasa lucu. Nanti jika ia tahu jenis kelamin juga mendekati hari persalinan ia akan meng-cekout semua apa yang ia simpan.
Rasa kantuk menerjangnya. Selama hamil Rena semakin sering mengantuk. Ia merebahkan dirinya dan terus mengulir ponselnya.
Hingga ia masuk ke alam mimpi.
***
Rena menggeliat, namun ia merasa ada sesuatu yang menahannya. Ia membuka mata, remang. Ia berada di kamar, ia mendudukan tubuhnya sama ada sesuatu menahannya.
Lengan besar mengkungkungnya. Ia menengok kesebelah. Raka.
Lelaki itu pulas. Menjulurkan tangan meraih dahi Raka. Panasnya turun. Merasa terganggu, Raka mengeratkan rengkuhannya pada Rena.
"Biar gini dulu, aku kangen sayang" suara bisik serak Raka. Membenamkan wajahnya di rambut Rena. Menghirup banyak-banyak aroma Rena yang menenangkannya.
Rena menepuk tangan yang memeluknya. "Kita cuma gencatan senjata buat sementara"
"Hmmn … " pelukannya mengerat.
"Ish jangan kencang-kenceng kasihan si abang!" Rena memukul pelan lengan Raka.
"Astaga abang, maafin Ayah ya, Ayah rindu Ibuk juga Abang soalnya" suara bangun tidur, Raka mendekatkan wajahnya dan mengecup baby bump Rena.
Dering ponsel Rena membuyar keheningan. Meraih ponsel menatap nama si pemanggil. "Kalian nggak makan malam? Ini sudah jam berapa?" Suara Doroty dari seberang terdengar hingga luar.
Dengan gerakan mata Rena bertanya jam berapa pada Raka. Dengan sigap lelaki itu meraih ponselnya dan melihat, lalu menunjukan angka 8 dengan jemarinya.
"Kami sedang menunggu makan malam Eyang, ini lagi diantar" ucap Rena yang menggerakan dagunya. Memerintahkan Raka untuk memesan makanan, Raka mengangguk dan turun dari ranjang dengan tergesah.
"Suara apa itu?"
"Ah itu televisi Eyang" Rena berbohong, menyiasati Doroty untuk tidak mengomelinya. Ia merangkak melihat keadaan Raka dengan meringis.
Raka di lantai, mengelus kakinya sambil bergulingan menahan nyeri pada tulang kering yang terantuk keras.
"Raka gimana?" Rena mengulurkan ponselnya ke atas.
"Aku sudah mendingan yang" teriak Raka, mencoba berdiri dengan menahan perih. Raka susah payah duduk di pinggir ranjang.
"Yaudah, selamat malam, cucu dan ccicit eyang, setelah makan kamu pulang, Nanti Siwa dan Herman menjemputmu, Biar Raka di jaga Herman, Kamu pulang dengan Siwa"
"Yah Yang, Raka mau sama anak istri Raka Yang" Rajuk Raka protes.
"Nggak, Kamu sembuh dulu abis itu susul ke rumah Eyang! Kamu itu, seharian sudah Rena kamu kekepin, jangan buat cucu mantu sama cicit Eyang sakit ya kamu!"
"Kan kangen Yang, Sakitnya Raka, itu obatnya cuma Rena sama baby"
"Hilih gombal!"
"Gombal!" Ucap Rena dan Doroty berbarengan.
"Udah sabar aja, kayaknya bentar lagi kamu sembuh itu, tapi Rena harus pulang" titah Doroty tidak bisa diganggu gugat. Raka menghela nafas tidak rela.
Raka mengambil handuk, "kamu mau kemana? Jangan mandi dulu" larang Rena.
"Tapi aku lengket, gerah, nggak nyaman," Raka memang seperti itu. Bersih dan rapi.
"Ya udah, pake air anget" Raka mengangguk sambil melangkah ke kamar mandi.
__ADS_1
5 menit, Raka berteriak dari kamar mandi memanggil Rena.
"Sayang, aku lupa bawa sabun"
"Pake aja sabun hotel"
"Nggak mau, mau sabunmu" Kekeuh Raka.
"Pake aja sabun hotel, kenapa sih?!" kesal Rena.
"Mau sabunmu sayang, biar aku berasa meluk kamu nanti tidur" teriak suaminya itu.
Dengan langkah yang menghentak kesal Rena mengambil peralatan mandi miliknya.
"Ini"
Raka menarik Rena masuk kekamar mandi. Rena menjerit. Saat Raka membuat dirinya basah.
"Raka!" Pekiknya.
"Ayo kita mandi bertiga sayang" menyemprotkan air hangat ke tubuh Rena.
"Aku nggak mau mandi!" Tolak Rena yang akan keluar. Tapi ditahan oleh Raka.
"Ayah mau mandi sama abang, Ibuk" Raka memeluk Rena yang bertambah basah. Dan ya Rena kalah.
***
Ketukan pintu terdengar. Rena masih mengeringkan rambutnya, dengan wajah kesal.
Raka yang telah segar, membuka pintu, ia kira makan malam mereka yang datang, tapi kedua asisten Doroty sudah berdiri rapi. Siwa dengan tampang datar, juga Herman dengan senyuman ramahnya,
"Tuan Raka, anda sudah baikkan?"
"Sudah, makanya aku tidak butuh dijaga, bilang sama Eyang, aku mau dengan anak istriku"
Raka menutup pintunya setelah kedua tamu yang tidak diharapkan itu masuk.
"Saya akan membawa Nona Rena pulang, Tuan" Siwa mengeluarkan suaranya.
Eyangnya itu benar-benar menjalankan ucapannya. Dan kedua asistennya ini begitu penurut dan setia.
Rena telah pulang. Ponselnya berbunyi menandakan pesan masuk, "Aku sudah dirumah" Raka berguling di ranjang dengan mendial nomor Rena. Namun Rena tidak mengangkatnya.
Sebelum pulang, Rena memperingatkan Raka agar tidak menelponnya saat dia dijalan. Ia menurut.
Dan sekarang Rena mengapa tidak menjawab teleponnya. Apa wanitanya itu sudah tidur?
Raka keluar kamar dan mencari Herman. Lali tua itu sedang sibuk dengan ipadnya.
"Pak Herman, coba telpon Siwa, tanya istri saya ada dimana? Kok nggak angkat telepon saya" ucap Raka yang terus mendial nomor Rena.
"Baik Tuan"
Herman meletakkan Ipadnya dan menghubungi Siwa. "Katanya Nona Rena ada di kamarnya Tuan, kemungkinan sudah tidur, karena kamarnya gelap"
Terlihat raut kecewa di wajah Raka. Istrinya kelelahan, tapi tadi Rena makan dengan lahap, mengingatnya menaikkan suasana hati Raka yang jelek.
"Terima kasih, Pak Herman, saya istirahat dulu, besok antar saya ke rumah Eyang"
"Tidak Tuan muda, Besok anda akan ke rumah sakit dan cek kesehatan, jika sehat baru saya diperbolehkan mengantar anda ke tempat nyonya"
"Iya, iya, selamat malam Pak Herman"
"Selamat malam tuan muda" Senyum merekah mengiringi kepergian Raka ke kamarnya
__ADS_1
Tidak ada gunanya Raka memarahi Herman karena patuh pada sang majikan. Karena kedua asisten Doroty hanya mendengar perintah dari Doroty.
Bersambung ...