Dendam Sang CEO Tampan

Dendam Sang CEO Tampan
Bab 14. Gani


__ADS_3

"Kamu belajar dari mana?"


"Thanks" Ucap Rena,


Raka meletakkan dua roti bakar di piring Rena. Pagi harinya, mereka sarapan bersama dengan Raka yang memasak, karena kegagalan aksinya semalam untuk menggoda Rena.


"Harus banget ya dibahas sekarang?"


"He'eh," ia menggigit roti garing dengan olesan coklat, diatasnya.


"Hish!" Raka menjulurkan tangannya dan mengelap bibir Rena yang belepotan coklat. Rena hanya melemparkan cengiran juga kecupan, ia menjilat sisa coklatnya.


Mata Rena mengejar Raka untuk menjawab pertanyaannya. Raka mendesah ia melepas apronnya setelah meletakkan telur omelet di piring Rena.


"Bentar-bentar, seriously Raka?"


Rena mengingat sesuatu. Tentang film yang Raka tonton.


"Hmm …"


"Kamu ngikutin Channing tatum? Di Magic Mike?"


Mata mereka saling bersimborok, terlihat mata Raka melebar sekilas dan Rena mendapatkan jawabannya dari buraian merah jambu di pipi Raka.


Kembali wanita itu tidak bisa menghentikan tawanya.


"Aku bahkan menonton livenya di youtube" 


Jujur Raka yang membuat Rena tak bisa membayangkan Raka dengan tampang seriusnya menonton lelaki dengan perut roti sobek hanya mengenakan celana panjang dan menari-nari.


Rena mengulurkan tangannya. Ia mengelus sayang kepala Raka.


"Sayangnya sugar mommy, aku senang dengan ide itu, sini, sini kiss dulu sayangnya Mommy" jahil Rena. Ia memonyongkan bibirnya, mendekat, meraup kepala Raka dan melabukan banyak kecupan.


"Nggak! Mulutmu cemong coklat. Jangan sok-sokan jadi sugar mommyku!" Raka kesal bercampur malu.


"Nggak!" Lain di mulut lain di sikap. Raka menolak tapi tidak sekalipun menghindari kecupan bertubi Rena. Wajahnya dihiasi  coklat dari bibir cemong Rena.


Rena terkekeh, dan kembali mendekatkan wajahnya melu mat sudut bibir Raka yang terdapat coklat di sana.


"Terima kasih sarapannya, aku berangkat dulu ya Honey" Ucap Rena dengan mengalungkan tasnya dan mengambil beberapa lembar tisu berlalu dengan membersihkan bibirnya.


Selesai sarapannya, Raka beranjak ke kamar ia kan mengganti pakaian dan berangkat bekerja. 


Ia menatap wajahnya yang masih merona pada kaca kamar mandi. Lalu tatapan berubah dingin menyoroti kelebatan kelakuannya didepan Rena semalam. Raka membasuh wajah yang penuh bekas coklat disana. Membersihkannya.


Sudut bibirnya terangkat, masih memandangi wajahnya.


"Ternyata mudah" seringaian, muncul di wajahnya yang basah, tetesan air meluncur mengikuti garis rahangnya yang kokoh.


***


Kehidupan pernikahan Rena menghangat. Rakanya kembali. Apa ini waktunya ia menyebut suaminya dengan Rakanya. Miliknya.


Ya hati Rena telah jatuh. Dan Rena tidak akan membiarkan hatinya remuk. Hanya dengan godaan juga kelakuan lembut juga hangat dari lelaki itu, ia kembali luluh. Katakan ia bodoh. Terserah.


Yang menjalaninya kan dia bukan para netizen diluaran sana. Rena akan mempertahankan kedudukannya di sisi Raka.


Jika ada yang mencoba merebut. Dengan senang hati akan ia libas. Dia adalah istri sah.

__ADS_1


Rena menggeleng kepalanya, pikiran apa tadi yang membuatnya begitu. Istri sah. Lha memang. Terus kenapa ia merasa senang dengan sebutan itu.


Apa dirinya lupa jika ia dulu tidak mau menikah bahkan anti menikah. Hanya dengan datangnya Raka semua berubah. Apa ia terlalu mudah luluh? Entahlah. Rena hanya mengikuti kata hatinya saja.


***


Memasuki restoran mewah dengan ornamen arabian. Musiknya sangat mencirikan. Rena menemani Ibrahim menemui kliennya.


"Tuan Abud, telah menunggu anda" ucap Pelayan yang menunjukkan dimana lokasi pertemuannya.


Sebuah ruangan privasi, hanya ada meja dengan empat kursi dan dua diantaranya telah diisi, Rena menggulirkan matanya ke depan. Dua lelaki berdiri dari tempatnya.


"Tuan Ibrahim"


"Tuan Abud Mahmud" mereka menyambut Rena juga Ibrahim, saling  bersalaman.


"Senang berkenalan dengan anda, ini?" Ibrahim menunjuk ke arah sebelah Abud.


"Ini anak saya, dia yang akan bertanggung jawab untuk proyek kita nanti, Gani Mahmud, anak sulung saya"


"Ibrahim, Tuan Gani, dan Ini sekertaris juga asisten saya Rena Joel, selanjutnya yang akan menggantikan Saya"


"Gani"


"Rena"


"Silahkan duduk Tuan, Miss" Abud mempersilahkan mereka duduk. Dimulailah mereka membahas masalah pekerjaan. Hingga tak terasa waktu makan siang.


"Kamu tidak berubah Rena" ucap Gani. Rena menelisik, alisnya bertaut. Apa mereka saling mengenal.


"Maaf,"


"Hmm maaf, apa kita pernah bertemu sebelumnya Tuan Gani?"


Rena mengelap mulutnya dan fokus pada lelaki yang tak kalah tampan dari sang suami, rahangnya tegas, hidung tinggi, rambut hitam lebat dan matanya yang tajam.


Rena menggali memorinya lebih dalam, apa pernah ia bersinggungan dengan lelaki yang sebenarnya membuatnya agak risih karena dipandangi dengan intens saat rapat tadi.


"Kita satu SMA kamu tidak ingat denganku Ren? Dulu kamu sering memanggilku Rangga" ucap Gani.


"Rangga?" Dalam ingatannya ia pernah mendengar nama Rangga dan cukup akrab. 


"Ranggani Akbar?" Gumannya lirih.


"Hai Ren, apa kabar?"


"Ini kamu? Kamu … beda"


"Iya, apa yang beda, apa aku gak lagi semembal dulu?"


"Yah, kau berubah banyak dan salahkan aku jika tidak ingat padamu?"


"Wah kalian saling kenal rupanya" Abud ikut bersuara.


"Dad, ini anaknya Om Troy Joel, teman Daddy itu" ucap Gani.


"Oooh, kau anak Troy, apa kabar orang tuamu?"


"Terakhir kali saya dengar si mereka baik-baik saja Tuan,"

__ADS_1


"Tak udah memanggil formal begitu kita di luar kantor, panggil saja Om"


"Iya Om"


"Benar Gani kamu juga bisa memanggil Saya Om, Rena ini sudah Saya anggap anak sendiri"


"Baik Om" suasana menjadi semakin hangat. Mereka selesai makan siang. Gani berjalan berdampingan dengan Rena.


"Boleh aku meminta nomormu?"


"Mana ponselmu" Rena memasukkan nomornya.


"Aku benar-benar tidak menduga dengan perubahanmu"


"Puberty hits you hard" Gani terkekeh. Ia mengusap dagunya dengan percaya diri.


"Oh tentu saja, berapa anak perempuan yang kamu patahkan hatinya Tuan playboy?" Rena mencibir.


Dering ponsel Rena bergema. "Ya, sudah, iya disini? Kamu dimana?" Rena mengedarkan pandangan mengelilingi restaurant.


Melihat Raka yang berjalan ke arahnya. Tak lupa tentu saja ada asisten yang selalu menemaninya. Padma.


"Sayang kamu makan siang disini juga?" Raka melingkarkan tangannya ke pinggang Rena lalu mengecup pelipisnya.


"Iya, udah ah, tadi nemenin meeting Pak Bos" Rena menjauh. 


"Ini siapa?" Tanya Raka yang masih saja melingkarkan tangannya dipinggang Rena.


"Oh ini klien kantor, dan teman SMA ku, Gani, Gani kenalkan ini suamiku, Raka"


"Raka" menjulurkan tangannya. Gani membalas cepat.


"Gani, teman SMA Rena, kamu sudah menikah☎? Kenapa nggak mengundangku?"


Rena tampak bingung, menjawabnya, bagaimana mengundang, mereka hanya melakukan akad saja, belum melakukan resepsi, dan entah kapan resepsi itu terjadi.


"Nanti saat resepsi pasti kami undang" Raka yang menjawab.


"Oke aku tunggu undangan kalian, sepertinya aku duluan ya Ren, ini Tuan Abud sudah menelpon, Raka duluan ya permisi" Gani melangkah meninggalkan Mereka bertiga.


"Kamu sudah makan?" Rena bertanya pada Raka. "Belum, ayo makan, temani aku, nanti aku minta izin ke Pk Bos gampang"


"Dasar nepotisme, eemm ini?" Rena menunjuk Padma.


"Padma kamu kembalilah ke kantor" ucap Raka yang diangguki Padma.


"Permisi Pak, Bu"


Rena mengapit lengan Raka. Memperlihatkan kepemilikannya. Padma menatap Rena datar. Lalu berlalu setelah mengangguk pada Raka.


"Mau makan dimana kita?"


"Bukannya disini?" Tanya Rena.


"Nggak ah, makan di warung Indonesia aja bagaimana?"


"Boleh, yuk aku nggak bakal nolak"


Mereka meluncur ke warung indonesia yang pernah mereka datangi. 

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2