Dendam Sang CEO Tampan

Dendam Sang CEO Tampan
Bab 18. Muak


__ADS_3

Rena terbangun dengan mata bengkak. Ia tidak mengatakan apapun. Ia menyimpan surat itu dalam koper miliknya. Diantara tumpukan baju yang belum dikeluarkan.


Rena langsung masuk kedalam kamar mandi ia akan bekerja. Ia tidak bisa jika hanya berdiam diri. Ia perlu kesibukan.


Tak selang lama ia tiba di kantor. Menyibukkan diri dengan berbagai berkas. Ia bisa mengakali matanya dengan makeup. Untuk saat ini ia akan diam.


Rena fokus pada kerjaannya, hingga dirinya tak melewatkan makan siang, ia merasa jika perutnya akan berulah. Membuka laci mengambil bar coklat, dan mengunyahnya.


Pengganjal perut yang efektif.


"Rena kamu belum pulang?" Ibrahim baru tiba dari rapat, ia akan meletakkan berkas. Lelaki itu menatap jam tangannya. Pukul 7.


"Belum Pak Bos, Mau lebur" ucapnya. "Memang ada projek apa yang belum beres, jangan sampai Raka mengomel karena kamu yang lembur" ucap Ibrahim.


"Projek dengan Kulaza, FireJaw sama CircleOne"


"Bukannya itu untuk bulan depan?"


"Iya Pak Bos—"


"Ah kamu mau ambil cuti ya? Jaga kesehatan saja, jangan sampai drop saat cuti, Jangan terlalu malam, Saya pulang dulu ya" Pamit Ibrahim.


"Terimakasih Pak"


Kembali Rena sibuk melakukan pekerjaannya. Cuti. Tidak terpikir tapi boleh juga.


Ketukan di mejanya menggulirkan mata Rena ke atas. "Hai" Sapaan lelaki didepannya.


"Oh Hai,"


"Aku bawa makan malam, pasti kamu belum makan malam kan?" Rena mengerutkan dahinya.


"Aku tadi nggak sengaja ketemu Pak Ibrahim, ia membicarakanmu yang lembur, dan aku inisiatif kesini, apa aku mengganggu?"


"Nasi goreng domba" Rena dapat mencium aroma rempah menguar dari dalam kotak makan yang Gani siapkan untuknya.


"Kita pernah rebutan dulu" ucapnya dengan mata yang menerawang pada kejadian lampau. Mereka berebut naai goreng dan membungkusnya dengan tortilla.


"Masih inget aja, Terima kasih" ucap Rena menerima makanan yang Gani beli.


"Dan kamu makan bagianku, karena kamu sesuka itu"

__ADS_1


"Membuat perutmu terus bunyi karena kamu kelaparan, Maaf ya kelakuanku dulu semena-mena"


"Tapi kamu ngasih aku coklat ya bolehlah buat ganjel bunyi berisik itu" tawa renyah Rena menular pada Gani.


"Inhi enhak banghet" ucap Rena masih mengunyah. "Iya nggak bau prengus" Rena menyendok dagingnya.


"Aku pesen juga sup tomat, coba, ini juga enak gurih" Gani membuka bungkusan dan meletakkan satu kotak di tengah mereka. Kembali menguar aroma tomat kental. Rena menyedok kuahnya. Gani meletakkan roti baget. Untuk dicelup ke kuah sup.


Rasa asin manis dengan gurih bercampur menjadi satu. "Gimana enak?" Rena mengangguk. Rena lebih suka Domba ketimbang kambing. Dan entah bagaimana orang timur tengah selalu bisa menghilangkan bau prengusnya.


Rempah yang digunakan juga minimalis. Tapi bisa mengurangi bau prengusnya. Dan dimakan dengan plantain, alisa pisang goreng juga enak.


"Terima kasih Gani, kamu repot-repot membawakan makan malam"


"Nggak apa, seenggaknya aku makan ada temennya" Gani membereskan tempat makan mereka yang telah kosong.


"Pekerjaanmu sudah selesai?" Tanyanya saat Rena juga membereskan barang-barangnya.


"Iya, cukup untuk hari ini"


"Aku antar pulang?"


"Aku bawa mobil"


Sampai di rumah Raka. Rena melihat ada mobil lain disana. Mobil yang tak ia kenali. Rena memarkirkan mobilnya di sebelah mobil asing itu.


Ia keluar mobilnya dengan cepat. Dan berterima kasih dengan Gani yang mengantarkan. Tak lama setelahnya Gani melaju meninggalkan kediaman Rena.


Dena berjalan masuk dalam rumah. Ia melihat seseorang disana, sibuk di dapur. Rambut panjang hitam, Rena ingin menghampiri seseorang itu, namun suara berat menghentikan langkahnya.


"Kamu pulang jam segini?" Ucap Raka yang menatap tajam. Lurus. Dingin. Sangat berbanding terbalik dengan apa yang Rena lihat beberapa hari yang lalu.


"Lembur" ia mendengar air yang dimatikan. Sosok itu berbalik menatap tak suka pada Rena.


"Siapa dia? Kamu bawa pacarmu kemari?" Ucap Rena datar. Rena lelah. Gadis muda itu tidak mengenalkan diri atau pun menyapa. 


"Sangat nggak beretika sapa seperti resepsionis di kantormu" Rena tidak lagi peduli jika kata-katanya menyinggung.


Rena tahu gadis itu kesal padanya. "Bang!" Tapi Raka mengangkat tangan memberinya peringatan agar si gadis tetap di tempatnya.


Rena melangkah. Ia capek dan ingin segera beristirahat. "Kita belum selesai, Rena!" Tangan Raka menarik lengan Rena.

__ADS_1


Rena menyentak lengannya yang Raka pegang. "Ingat pulang juga kamu" ucapnya sarkas.


"Rena, please aku sibuk, aku haru—"


"Ya aku sudah tahu dari resepsionis yang jutek itu, kamu tugas luar negeri,"


"Kalau sudah tahu kenapa kamu masih marah?" Ucapnya enteng. Rena benar-benar lelah. Ia membuang nafas geram.


"Hooo … apa aku juga melakukan halnya sama, aku akan ijin ke rumah orang tuaku, dan aku akan melancong melalang buana. Dan tidak kembali, jika aku kembali tolong sambut aku, begitu?"


"Apa maksudmu?" Raka dengan kepolosannya atau kebodohannya. Rasanya kesabaran Rena sedang diuji.


"Beri kabar, kalau kau tidak lagi ingin meneruskan pernikahan ini, Bren gsek!"


"Tenang nanti aku urus semua dengan beres dan aku tidak menuntut apapun padamu" ucap Rena ingin mengakhiri perdebatan yang tidak akan pernah berakhir bagus ini.


"Apa maksud perkataanmu!" Geram menatap lurus Rena dengan nyalang.


"Sudahlah bang! Lebih baik kau cerai saja"


"Siapa Ja lang kecil ini, kau bawa dari klub atau panti pijat mana Raka?" Ucap Rena tidak takut dengan sikap angkuh si gadis yang menatapnya tak percaya. Jika ingin beradu mulut kotor. Rena tidak akan mengalah.


"Rena!" Pekik nada tinggi Raka. Mata Raka nyalang tangannya pun ikut terangkat. Rena memejamkan matanya. Raka tidak, belum memukulnya.


"Jangan keterlaluan," peringatan Raka. Rena menatap mata Raka berani.


"Kau salah jika aku takut padamu Raka. Kau mengenalku bukan? Semakin kau seenaknya, akupun bisa seenaknya."


"Siallan! Sampah seperti mengataiku ja lang!"


"Sampah? Siapa sebenarnya kau?"


"Aku keponakan Suamimu!" Gadis itu menatap sengit. Ada rasa angkuh saat mengatakannya. Ia pikir Rena akan merasa bersalah. Kau salah gadis manis, Rena tidak akan melakukan itu.


"Aahh … Kau yang seharusnya di katakan sampah, uang masih dari orang tua kan? Tolong ajari lagi itu keponakanmu, sopan santun Raka, masa, sebelas dua belas kelakuannya sama resepsionis kantormu, kurang etika"


"Rena kita belum selesai!" Teriak Raka.


"Tidak tahu diri" maki si gadis.


Rena masuk ke salah satu kamar. Ia telah memindahkan semua barangnya pagi tadi ke kamar lain. Rena merasa bodoh saat mengetahui apa yang disembunyikan suaminya.

__ADS_1


Menangis tidak akan membuatmu maju. Karena kau hanya dengan dirimu sendiri. Lelah.


Bersambung ...


__ADS_2