
Pemeriksaan Raka berjalan cepat, dan hasilnya Raka dinyatakan sembuh, walau ia dianjurkan untuk banyak beristirahat kedepannya.
Dengan sumringah Raka mengetuk pintu rumah Doroty. "Mau bertemu siapa?" Jum memperhatikan gerak-gerik mencurigakan dari Raka. Ia tidak membuka pintu lebar.
"Rena, mana Rena?" Raka dengan celingukkan, mencari keberadaan istrinya. Ia mendorong pintu yang sengaja tidak dibuka lebar oleh Jum.
"Maaf Tuan, jangan sembarangan masuk ya! Tuan tunggu disini, nanti akan saya panggilkan" Jum menghalangi saat Raka akan melangkah ke dalam rumah.
Raka teelihat geram. "Kamu nggak tahu saya? Saya ini—"
"Siapa Jum?" Suara Doroty dari dalam. Wanita tua itu mendengar suara keributan. Melepaskan upronnya. Menyusul Jum keruang tamu.
"Raka? Kok kamu kesini?"
"Aku sudah sehat yang, makanya kemari mau ketemu Rena."
"Lho Jum bukannya Rena udah kembali ke Doha ya?" Tanya Doroty pada Jum.
"Nah iya Nyonya makanya saya curiga sama masnya ini, kok nyari Non Rena, kalau teman kan pasti tahu keberadaan Non Rena" Jim masih menatap Raka penuh selidik.
"Kok Eyang nggak ngasik tahu Raka" pantas saja ponsel sang istri tidak aktif.
"Ada apa Rena ke Doha?"
"Nyonya siapa masnya ini? Kok kepo sekali" Jum adalah pekerja baru, tentu tidak tahi siapa Raka.
"Dia suami Rena" ucap Doroty, Raka tersenyum jumawa saat melihat reaksi Jim yang terkejut.
"Lha situ kan suami Non Rena, kok malah nggak tahu istrinya kemana? Aneh! Suami macam apa yang nanya alasan si istri pulamg kampung?"
Senyum jumawa Raka luntur. Doroty kembali masuk ke dalam, meneruskan acara memasaknya. Biarkan saja Raka di libas oleh Jum.
"Masnya ini kan bisa nelpon, masa jaman canggih gini masnya nggak ikut canggih."
"Udah tapi nggak dijawab."
"Lha kok bisa? Saya aja diangkat kok telponnya sama non Rena." Jum mengeluarkan ponselnya dan mendial nomor Rena. Dering kedua sambungan terangkat.
"Ya Mbok Jum" suara Rena. Raka melangkah mendekati Jum.
"Non Rena, udah sampai?"
"Alhamdulillah, sampai dengan selamat."
"Sayang Rena kok kamu nggak bolang mau balik ke Doha?" Raka meraih ponsel Jum. Tubuh gempal Jum sedikit oleng, untung keseimbangannya bagus. Jum tidak terjatuh.
"Hih nggak sopan!" Jum melirik Raka sengit.
"Lho Raka kamu pake ponsel Mbok Jum?"
"Aku nggak bisa ngehubungi kamu, tapi kenapa Mbok Jum-Mbok Jum ini bisa sih sayang?" Rengek Raka.
__ADS_1
"Oh aku pake ponsel lain, kalau yang kamu punya itu, ponselnya mati, habis batre" Rena merogoh tasnya dan menemukan ponselnya itu dengan layar gelap.
Raka masuk kedalam ruang tengah. Sibuk berbicara dengan Rena.
"Mas'e ponsel saya mau dibawa kemana?"
"Pinjem dulu"
"Ganti pulsanya ya" teriak Jum, dari jauh.
"Iya gampang, Sayang kenapa kamu ke Doha?"
"Davis tunangan" Rena menyusun keperluannya dalam tas, ia berada di apartemennya, semua pakaian formalnya ada si lemari apartemennya. Dan Rena menelan ludahnya susah payah.
Setelah mendapat kabar jika sang kakak bertunangan, Rena marah. Ia tahu dengan siapa sang abang bertunangan.
Rena langsung menghubungi dokter kandungannya dan berkonsultasi apa Rena boleh terbang. Dan setelah diperiksa dan dinyatakan kandungan Rena sehat, Dokter memperbolehkan.
Rena mendudukan dirinya di pinggir ranjang. Menyugar rambutnya. Jika benar 'wanita itu' menjadi tunangan abangnya, Rena akan mengacaukan acaranya. Sebelumnya 'wanita itu' bahkan masih menempeli suaminya beberapa hari lalu.
"Tunangan? Kapan?" Ucap Raka lirih, ia merasa perasaannya tidak enak.
"Nanti malam jam 7, Iya, apa kamu tahu Raka siapa tunangannya?" Tanya Rena. Matanya nyalang menatap ke depan. Ia menunggu jawaban Raka.
"Nggak, siapa tunangan nya apa aku kenal?" Rena yang sekarang terdiam. "Akupun tidak tahu, tiba-tiba aku mendengar ia akan tunangan saja." Raka menghembuskan nafasnya. Ia tidak mungkin tidak tahu siapa tunangan Davis.
Raut wajah Rena kembali mendung pikirannya "Aku siap-siap dulu ya, kita ldr sebentar, bye sayang" tanpa menunggu jawaban Raka, Rena sudah menutup teleponnya.
Rena memasuki lobby hotel. Tunangan Davis digelar dengan besar-besaran. Ponselnya menempel di telinga Rena dengan susah payah menarik ujung gaunnya agar leluasa melangkah.
"Iya, Raka, aku sudah sampai, tadi naik taksi" laporannya. Dengan ini entah berapa kali Raka menghubunginya. Lelakinya itu terdengar khawatir.
"Kamu kenapa sih? Aku itu bukan sakit, tapi hamil"
"Iya hamil makanya, aku khawatir" ucap ulang Raka yang membuat Rena memutar bola matanya, malas. "Dasar posesif egois" runtuk Rena.
Namun diseberang sana bukan amarah, tetapi kekehan Raka yang terdengar. "Kamu lho suami sakit malah ditinggalin" Rajuknya.
"Kamu juga lho selalu ninggalin aku dirumah sendirian, hei bang toyib kamu jarang pulang" ucap balasan Rena. Ia menaiki lift dan tak lama ia dampai di ballroom hotel berbintang yang disulap mewah.
"Siapa itu bang toyib?" Nada Raka meninggi.
"Hilih pake acara cemburu segala, banh toyib—"
Pintu ballroom dibuka lebar, Rena dibuat terpaku di tempatnya. Didepan sana lurus, Rena melihat abangnya menggandeng seorang wanita dengan pakaian yang senada dengan kabangnya, bahkan tuan dan nyonya Joel ada dibelakang mereka, menyapa dan memperkenalkan calon abangnya dengan gembira.
"Sayang …" ponselnya masih tersambung, dan menempel ditelinganya.
"Raka … " bisik pelan Rena.
"Raka apa yang akan kamu lakukan jika calon tunangan abangmu orang yang kamu benci?" Pertanyaan Rena pelan.
__ADS_1
"Rena? Sayang? Kenapa?" Bunyi panggilan terputus.
"Aaargh! Sialaan! Kenapa mati ini ponsel saat dibutuhkan!" Raka mengambil charger dan mengisinya. Raka telihat cemas.
Rena menatap dingin keluarga bahagia di depannya sana. Kemudian saat keluarga bahagia itu mendekati Nami. Tatapan Nami dan Rena bersimborok. Calon tunangan kakaknya itu mengulurkan tangan pada Nami.
Nami tidak menanggapi uluran tangan itu lebih dengan antusias melambai ke arah Rena dan memanggil namanya.
"RENA! Anak Bunda sini nak," membuat keempat keluarga bahagia itu menatap ke arahnya.
Dengan percaya diri Rena datang menghampiri Nami, tubuhnya berbalut dress warna hitam yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang pasti dengan baby bump. Ia melangkah anggun.
Bukan hanya keluarga bahagia itu, banyak mata lelaki yang tak lepas dari Rena. Putri keluarga Joel yang tidak diketahui banyak orang.
"Bang" ucap Rena memeluk hangat Davis. Lelaki itu menarik Rena masuk kedalam pelukan hangatnya.
"Davis hati-hati, si abang kegencet itu" peringatan Nami,
"Kamu datang, cucu Opa apa kabar?" Ibrahim mengelus baby bump Rena.
"Iya Pak Bos, sehat dan kuat Opa" jawab Rena. "Halo jagoan, kenalkan Onkel Davis"
Davis mengelus baby bump Rena. Mereka lebih terlihat layaknya keluarga yang punya acara.
Harusnya itu yang dilakukan Wila dan Troy, malah mereka yang seperti figuran di acaranya mereka sendiri. Bahkan calon tunangan Davis ia tersingkir begitu saja.
"Hai Ongkel ganteng, Onty Padma, selamat ya atas pertunangannya." Rena melirik Padma sekilas. Kembali pandangannya ia larikan ke Davis.
Untuk sekilas ia melihat wajah dingin sang kakak. Namun itu hanya sekilas. Karena tertutup dengan senyuman ramah bisnis yang selalu terpajang di wajah sang kakak.
"Terima kasih adik ipar"
"Ma, Pa" Rena hanya mengangguk. "Kamu sehat Ren?" Tanya sang ibu, agak canggung. Semua mata yang melihat drama itu mulai bisik-bisik. Melihat keanehan keluarga Joel. Terlihat sekali tidak begitu dekat dengan anak sendiri.
"Baik Ma" singkat Rena.
"Pak Joel, acara akan dimulai" pembawa acara mencela mereka.
"Pak Ibrahim, Bu Nami silahkan duduk, kami permisi dulu" ucap Troy pamit untuk memulai acara, Wila, dan Padma mengikuti Troy.
"Abang kesana ya," Pamit Davis dengan menepuk kepala Rena. Rena mengangguk. Tapi menarik lengan Davis menghentikan langkah Abangnya itu.
"Bang nanti aku mau bicara" ucap Rena melepaskan lengan Davis, waktu kakaknya itu memberikan anggukkannya.
Acara pertunangan Davis berlangsung lancar. Rena terus memperhatikan pasangan yang berbahagia tapi hanya dipermukananya itu.
Ternyata datang kemari ia mendapatkan satu kejadian yang tidak Rena sangka. Senyuman Rena mengarah pada Padma, ia mengangkat gelasnya dengan senyum mengembang. Pdma hanya menatap Rena sekilas.
Senyuman dan kebahagian semu di depan sana memang simbol dari pernikahan keluarga-keluarga kelas atas. Tidak semua. Tetapi kebanyakan.
Bersambung ...
__ADS_1