
"Oom duduk" panggil Kenan lemah.
Rena mengurai pelukannya dengan sang anak. Ia menengok mengikut arah pandang anak gempalnya.
Wajah Rena pias, darahnya seakan disedot habis. Mata mereka bersiborok, lelaki itu, lelaki yang menghilang dirinya dan anaknya. Lelaki yang tega meninggalkan dirinya dengan anaknya.
Lelaki kerdus! Lelaki bren gsek! Ba jingan! Sialaan! Umpatan itu tidak bisa ia keluarkan saat lelaki itu mendekat dengan sebuah kursi beroda yang membawanya. Rena hanya tertegun dengan menatap lurus pada lelaki itu.
"Hai jagoan Oom" Suara lembut yang lama Rena ingin dengar. Raka Delino.
Rena sedikit memberi ruang agar anaknya lebih leluasa berbicara dengan lelaki itu. Mengapa mulutnya keluh untuk menyebutkan nama ataupun sebutan lainnya.
"Oom dicini syakit" Kenan mengangkat tangannya yang diinfus.
"Disini? Ini akan alat buat kuman raksasa lemah, jadi tahan ya, kalau kuman raksasanya lemah, alatnya pembasminya copot sendiri"
"Kumannya nakal Oom" ucap manja Kenan, miris Kenan harus memanggil sang ayah dengan sebutan Om. Sebenarnya apa maksud Raka. Ia bisa lebih dulu berdiskusi dengannya.
Ia merasa Raka tidak menganggap Kenan anaknya. Jika demikian Rena akan membawa Kenan jauh.
"Mas Raka, sudah waktunya" seseorang masuk, wanita dengan rambut sebahu, mengangguk pada Rena. Rena demi kesopanan membalasnya.
"Jagoan Oom, Oom harus berlatih dulu ya, kapten kan mau membasmi monster daging sama Oom" Kenan mengangguk, Tangan Raka menjulur dan mengelus Kenang sayang. Rena sudah menjauh.
"Mbok Jum," ia melihat Jum yang hanya menunduk. Rena menghembuskan nafas kasar.
"Mbok tadi administrasi Kenan pakai uang Mbok ya? Berapa Mbok nanti aku transfer, makasih ya Mbok" Rena tidak akan membahas tentang 'Oom duduk' Kenan.
"Bukan Bu bos, yang bayar Pak Raka" ujar Jum. Sorot mata Rena menjadi datar. Ia melirik Raka.
"Mbok Jum Saya permisi." Raka pamitan. Menatap sebentar Jum lalu matanya menatap Rena tanpa putus.
Rena menghela nafasnya. Ia melangkah lebar. Menyusul Raka.
"Tuan, tunggu Tuan." Raka menghentikan rodanya bergerak.
"Tuan, sebelumya, perkenalkan diri Saya, saya ibu anak yang Tuan bantu, terima kasih, banyak-banyak terima kasih, dengan kesigapan anda membawa anak saya ke rumah sakit"
"Dan ini nomor saya, Anda bisa mengirimkan nomor rekening anda untuk biaya administrasinya."
Rahang Raka mengatup keras. Ada rasa marah dengan sikap Rena yang menganghapnya orang asing. Dan apa 'anak saya'? Kenan anaknya juga! Rasanya ia ingin meneriaki kata itu pada wanita di depannya.
"Seriusly Rena?" Suara Raka terdengar dingin.
Sudut bibir wanita itu tersenyum meremehkan.
"Anda kenal saya Tuan? Saya pikir anda lupa ingatan!" Senyum meremehkan itu menghilang menjadi tatapan penuh kekecewaan.
"Nona, ini nomor saya, dan kirimkan nomor rekening bos anda, saya akan ganti biaya administrasi 'Oom Duduk' teman anak saya, saya permisi"
Rena menarik tangan wanita yang berdiri kikuk di antara dirinya dan Raka. Dan memberikan kartu namanya. Dengan cepat. Wanita itu memberikan kartu nama miliknya.
"Rena? Dimana Jagoanku?" Sosok tinggi mendekati mereka. Tatapannya yang khawatir tak menyadari adanya Raka disana.
"Gani? Gimana rapatnya?" Rena tadi panik, yang ada di otaknya hanya satu Kenan.
"Tak usah memikirkan rapatnya, mana Daddynya ini mau ketemu jagoan" senyuman Rena mengembang. Melihat tingkah Gani yang panik.
"Saya permisi, Nona, dan OOM duduk" Rena melenggang. Mata Gani melebar, saat tahu ada siapa disana. Ia hanya mengangguk dan menyusul Rena.
__ADS_1
"Ren, itu Raka?"
"Hmn … "
"Dia tahu kamu sama Kenan disini?"
Rena hanya menaik bahunya. Ia malas membahas Raka. Lelaki Bren gsek yang tidak mau mengakui anaknya. Tidak apa kalau lelaki itu tidak mengakui. Karena Rena akan mencurahkan seluruh kasih sayangnya untuk sang anak.
"Katanya Kau mau ketemu Kenan, itu dia" Sang anak sedang mengunyah apel.
"Daddyyyyyyy" teriak Kenan kencang.
"Oohh kesayangan Daddy," Gani berlari lalu memeluk Kenan. "Mana yang sakit sayang?"
"Ini syama ini syakit, Daddy" Kenan menunjuk leher dan lengan yang diinfus.
Rena meninggalkan ruangan Kenan. Ia melangkah ke ruang administrasi. "Permisi, Apa saya bisa minta bill untuk kamar Poli anak Dino 3-12?"
"Bisa, sudah dibayar ya Bu"
"Boleh saya minta lagi Billnya?"
"Boleh tunggu sebentar ya bu" Tak lama Rena mendapatkan Bill dan ia merogoh kantongnya.
"Simon, bisa kau kirimkan uang 20juta, cash, ke alamat kantor Rakena, untuk Tuan Raka Delino."
"Bisa Bu, kapan?" Tanya Simon, bawahan Rena.
"Secepatnya ya, kalau bisa besok sampai" perintah Rena.
"Kalau bisa kamu kirimkan sendiri, dan pastikan Raka Delino yang menerimanya langsung" lanjutnya.
"Besok saya cuti"
"Baik, Bu, tadi Tuan Ibrahim sudah memberitahu saya, nanti saya mau jenguk ya Bu,"
"Iya jenguk aja jangan lupa bawa buah tangan untuk orang sakit ya Simon, kamu tahukan anakku sukanya apa?" Rena menyungging senyum jahil. Ia mendengar helaan berat diujung sana.
"Baik bu, untuk baginda pangeran aku akan bawa pasukan penggemar baginda pangeran. Biar mau diajak pt pt buah tangan baginda pangeran yang bisa membuat kantong jebol itu" tawa nyaring Rena terdengar.
"Bagus-bagus, saya permisi Baginda Pangeran sudah memanggil," Rena mematikan sambungannya.
Derapan langkah kaki membuat pandangan Rena menemukan wanita berusia 50an yang masih tampak cantik walau ada kecemasan disana di depannya.
"Mana cicit Bunda manaa"
"Itu lagi makan apel, Sara apa kabar kamu?"
"Mbak Rena, baik dong,"
"Lagi seneng ini kayaknya apa perkembangannya?"
"Iya dong, biasa gebetan yang menolak mati-matian wanita caem ini menjadi sebucin sandal jepit yang selalu maju bersama"
"Kamu jangan kebanyakan bergaul sama Udin, jadi ketularan aneh kamu"
"Udin keki ntat mbak bilang gitu. Seru tahu mbak curhat sama Udin. Bahasanya itu lho suka ajaib." Tawa Sara renyah.
"Mana nih ponakan roti sobek antiiiiii"
__ADS_1
"Anti Syasyaaa" Kenan merentangannya yang tidak diinfus keatas.
"Wow keren apa ini?" Sara terlihat takjub. Kenan dengan penuh percaya diri menceritakan kegunaan alat ditangannya.
"Ini namanya alat pembasymi kuman laksyasya, alat ini copot syelesyai"
"Oh begitu, kapan copotnya? Kita harus pesta, berarti kuman raksasanya sudah punah"
"Iyah pesyta dirumah kapten! Ibook pesyta ibok" Rena melirik Sara.
"Iya nanti minta anti Sasa buat monster kukis juga"
"Yeee kapten mau rasya syprinkle syama coklat syama pink, blue, and yellow! Yeee … "
"Nah lho banyak amat requestnya, bagus Ibok suka anak cerdas"
"Siap laksanakan Kapten gembul" Suara tawa riang Kenan membuat semua lega dan ikut berbahagia.
"Bagindaa pangeraan anti Simon datang membawa pasukan" Simon,
"Syapa kamu? Aku nggak kenal!" Kenan menunjuk dengan mainan pedang yang Gani Bawa."
"Maafkan kelancangan kami baginda, ini sedikit upeti"
Rena dan Sara saling pandang dan tergelak kencang. "Itu Kenan baru dua tahun aja udah banyak penggemarnya. Lha nanti kalo 20 tahunan?"
"Mbak nggak mau dia cepet gede, kok melo ya?"
"Permisi,"
"Bang Raka? Kemana aja? Itu lho anaknya sudah dua tahun aja," Sara memang suka ngomong tanpa mikir. Ia kesal dengan cara kabur Raka.
"Ini siapa bang? Gebetan baru?" Ada rona pada pipi wanita itu juga senyum malu-malu, Jelas sekali jika wanita itu memiliki rasa pada Raka.
"Kalau begitu bisa kali ceraikan dulu kakak saya sebelum anda memiliki hubungan dengan yang lain"
Sara memasang badan untuk Rena. Senyuman wanita itu memudar diganti dengan rasa malu luar biasa.
"Sar, kenalin ini, TEMAN Kenan, biasa Kenan panggil OOM duduk, baik dan suka memasakkan makanan untuk Kenan. Terima kasih atas perhatian Anda untuk Anak saya"
"Mungkin sedikit ramai, keluarga saya sedang berkumpul. Silahkan masuk" Rena mempersilahkan. Ia melihat Raka tajam. Ia pikir Raka akan memilih mundur nyatanya lelaki itu masuk.
"Mia kamu tunggu disini" wanita yang dipanggil Mia mengangguk.
"Apa perlu saya bantu?" Rena menawarkan diri.
"Boleh" Raka mempersilahkan. Sara sudah masuk lebih dulu.
Rena seakan menjadi orang jahat, mengumpankan Raka pada keluarganya. Yang pasti akan murka pada Raka. Rena pikir, semoga itu tidak terjadi. Ada Kenan bersama mereka.
"Selamat malam semua, Bunda Ayah," Semua kepala menengok ke arah orang yang menyapa. Kenan yang sedang bermain ikut menatap siapa yang datang.
"OOM DUDUK, sini main sama Enan" Pekik senang, kedatangan teman barunya.
"Om?"
"Oom?"
Bersambung ...
__ADS_1