
Sara sibuk dengan adonan dan segala macamnya. Ruang persegi dengan cat berwarna putih itu menyimpan banyak kenangan.
Lagu dear moon milik IU yang dicover oleh salah satu youtuber korea semakin terdengar dalam dan magis. Ritual yang biasa Sara lakukan saat ingin melakukan hobinya. Membuat kukis.
Sara telah menakar banyak sekali adonan permintaan Baginda Pangeran Kenan. Lucu juga sebutan Simon, bawahan Rena di kantor, belum lagi dengan para pasukan penggemar Kenan.
Kembali celetukan mereka terngiang. Menimbulkan senyuman. "Oke Ready Go!" timer Sara nyalakan, ini permainan menguji diri sendiri. Berapa lama ia membuat satu adonan dan akhirnya masuk lemari es.
"Sayang" Sara merasakan pelukan hangat kekasihnya. "Laper"
"Aku buat salad kentang, sama lasagna, ada juga makaroni schotel, mau yang mana?"
"Lasagna aja, sama Bronies pake lelehan coklat karamel. Thanks beb" Sean Dalton. Kekasih Sara. Ia masuk ke kamar dan akan membersihkan diri.
"Wangi" tanpa suara Sean menikmati sendok demi sendok lasagna. Ia mengamati Sara yang begitu cantik menikmati setiap detail apapun yang ia kerjakan.
"Buat Kenan ya?"
"Hmn … "
"Kapan acaranya?"
"Sabtu tapi aku akan menginap di hari ini, kau—"
"Maaf sayang aku sudah keburu ikut pesta Nick, aku mau mengajakmu, tapi kau tak apa kalau kau tidak ikut denganku, Tapi maaf ya, aku nggak bisa ingkar lagi, beberapa kali aku tidak ikut pesta Nick."
"Hmn … "
Alasan yang panjang, tipikal, pembohong, sudah berapa lama dirinya bersama Sean? 4 bulan? 5 bulan? Dan begini.
Apa dirinya harus menjual apartemen lagi. Selalu saja setiap ia putus, Sara akan menjual apartemen dan semua kenangannya.
Sepertinya putus dengan memergoki kekasihmu selingkuh itu lumayan. Dibilang cinta? Iya dulu, namun makin kesini makin hambar. Setiap putus Sara pasti telah memiliki cadangan atau incaran.
Namun kali ini rasanya malas mencari yang baru. Seperti kembali ke nol, belum lagi masalahnya sama, cemburu, pada sahabat lawan jenis atau mantan dan segala selingkuhan.
Sara bosan.
Sara mengemas semua adonan dalam ice box dan siap untuk ke rumah Rena. Rumah Doroty. Panuh dengan alat canggih. Dan mengesankan tidak akan bosan jika kau ingin membuat apapun disana. Ia menatapi seluruh dapurnya sejenak. Bye.
"Seaaaannn aku berangkat ya" Teriak Sara.
Tak ada jawaban entah apa yang sedang kekasihnya itu lakukan.
Setidaknya Sara telah memindahkan barangnya di apartemennya yang baru. Sampai jumpa nanti malam sayang.
***
Jam menunjukan pukul 12 malam, selesai juga kukis terakhir.
"Ren, Rak, aku ambil barang yang ketinggal dulu ya,"
"Sara ini udah malem lho, mau kita temenin?"
"Apa deh, ngerepotin kalian aja," Sara melangkah kedepan,
"Kalian nggak usah khawatir ada yang udah siap ditebengin." Ucap Sara melihat Oliver dan Mia, dan yang baru datang Nalen. Bagus banyak pasukan lebih dramatis.
"Guys ikut yuk, anterin, butuh pasukan, bang ayok" Sara menarik Nalen dan Mia. Ke mobil Oliver. Sara membuka pintu depan untuk Nalen eh ada orang lain disana, tatapanya menyorot tajam pada Sara. "Maap, yok duduk dibelakang" pintu belakang dan mendorong Mia masuk, diikuti Sara dan Nalen.
"Let's go Bestie!"
"Ada apa? Mau kemana, aku lagi nggak pengen ke klub!"
"Pak dokter nggak boleh nakal!" Mia menjewer kuping Oliver.
"Nggak nakal sayang" Mia mencibir.
"Hilih jangan denger omongan playboi! Ke apartemenku ya Oliver si pleboi, oi pak dokter itu temennya nggak dikenalin?"
"Nggak deh, kamu udah punya pacar" sekarang giliran Sara mencibirnya.
"Pelit!"
"Tuan, tuan boleh kenalan nggak?" Nalen lebih baik menatap jalanan, daripada mendengarkan adiknya yang genit.
"Saya tidak suka jadi yang kedua!" Suaranya berat dan dalam, membuat Sara terpaku. Sara memundurkan duduknya. Matanya mengerjab.
"Kita mau ngapain sih? Jangan bilang mau ngegeruduk?"
"Begitulah bang, aku udah curiga"
"Dok punya obat tetes mata nggak kok ya tiba-tiba gatel ini mata." Kembali Sara maju dan menatap Oliver.
__ADS_1
"Cari di pppk di belakang." Sara dengan gerak cepat, menemukannya langsung mencobanya.
"Gimana ketemu?"
"Iya"
Mereka sudah berada di lobby tadi di parkiran ia melihat mobil Sean.
Sara dan yang lainnya sudah berada di depan pintu apartemen Sara. Ia mengeluarkan kunci cadangan. Dan membuka dengan sepelan mungkin.
Sara melihat beberapa sepatu. Dari dalam terdengar suara orang berbicara juga tayangan televisi dan musik yang memekakan telinga.
"Dia pesta di apartemenmu?"
"Ya aku akan jual setelah ini, buat buang sial" bisiknya. Sara meletakkan telunjuk dibibirnya.
"Sean udah 5 bulan tinggal sebulan lagi dan kamu jadi pemenangnya" mereka mendengar obrolannya.
"Ya lumayan lah dapet hadiah sama piala bergilir, untung cantik, kalau nggak kan boncos." Tawa ramai dari suara lelaki yang Sara dengar.
"Maksudnya apa?" Bisik Nalen.
"Nanti dulu, kita dengerin"
"Udah dapet apa aja?"
"Semua"
"Waah lebih lucky dari si Remi" Remi adalah mantan Sara sebelum dengan Sean.
"Gimana enak?"
"Nggak, enakan kamu sayang" dan Sara juga mengenal suara wanita itu.
"Keluar kita" Sara keluar dengan pasukannya.
"Hai Sean, Kita putus! Oh ternyata kamu selingkuh sama mbak salon ini toh, ati-ati setelah hubungan kamu periksa gih, dia mantan Jose kan? Jose Ricardo? Dia positif sih aku denger"
"Jangan ngaco kamu" Sean menatap Belinda ngeri.
"Ja lang! Kamu Fitnah!"
"FYI guys, aku nggak pernah lebih pelukan, ya kadang si piktor ini suka curi kesempatan dan berakhir, dia jajan sama mbak O."
"Kamu nggak lebih baik dari aku, piala bergilir, jadi bahan taruhan, buat lelucon, kasihan kamu!" Rambut blonde murah ia kibaskan membuat Sara meringis.
"Itu rambutmu nggak rontokkan? Karena sofaku harganya lebih mahal dari harga diri kalian, bisa-bisanya menikmati fasilitas milikku tanpa tahu diri, masih punya malu?"
"Sudah jangan didengarkan, ayo kita pindah ke klubku saja" Sean merangkul Belinda yang tersenyum mencemooh.
"Bersihkan!" Sean menyentak tangan Sara di bahunya.
Bugh!
"Bang!" Jeritan Belinda juga beberapa wanita ditempat itu.
"Ini orang tau nggak kamu anak Ibrahim?"
Sara menggeleng,
"Pantesan, kampung!" Ucapan Nalen.
"Bersiin b@ngsat!" Sara melipir keluar, sudah, Ia akan serahkan pada Nalen.
"Maaf ya ngerepotin, padahal aku kira kita dapet tontonan syur, eh malah kebodohanku yang kelihatan."
"Kak Sara nggak apa kan?"
"Iya Mia, Ver balikin yak, lho itu mas dokter yang nggak mau jadi yang kedua, ini aku single kemana dia?"
"Pulang"
"Lha nggak bareng?"
"Dia punya apartemen disini" Sara berOria.
"Balik"
"Hmn …"
Sara tidak kembali ke apartemennya. Ia duduk ditaman, duduk di ayunan. Seberapa sebenarnya kebodohan dirinya. Piala bergilir, jadi taruhan. Pantas saja cinta yang diberi tidak membuat Sara merasakan jatuh cinta yang orang katakan.
__ADS_1
Tidak ada rasa berdebar hingga perut tergelitik oleh kupu-kupu. Hanya ada rasa senang karena kau di istimewakan. Tahu hanya dijadikan bahan taruhan dan piala bergilir, ia tidak sakit hati tapi hambar.
Hanya O yang bisa Sarah keluarkan dari bibirnya.
Suara ayunan di sebelahnya. "Oh hai Tuan yang tidak mau jadi yang kedua"
"Nggaak ngoantuk" Sara menguap lebar. Matanya berari. Tapi dia nggak mau kalau harus balik ke apartemennya. Ia sudah jijik dengan tempat itu.
"Kenapa masih disini?"
"Nggak mau balik kesana, jijik"
Sara merengut.
"Tuan tuan boleh kenalan, sekarang aku single lho, semua orisinil, ya cuma digerepek dikit, masih mulus, hanya jadi yang pertama, mau coba?"
"Boleh, saya mau jaminan mutu"
"Tentu, jadiiiiiii kita pacaran?" Lelaki itu menggeleng. Senyum terukir.
"Tunangan, berani?" Tantang Lelaki itu. Jantung Sara serasa menyembur rasa gembira yang menyenangkan. Yang melebarkan senyum dengan sendirinya.
Selamat Sara, kamu jatuh cinta!
"Kenalkan Misyarah Ibrahim, Sara tunggu kedatangan Bersama kedua orang tua kerumah ya Bapak …"
"Alden Banyubiru" tidak ada salaman yang ada hanya tatapan yang menjurus ke arah serius. Sara tidak sabar apa yang menanti hatinya kedepan.
***
Pesta meriah, Rena mengundang anak panti dari panti asuhan milik Raka. Ini kedua kalinya melihat wanita hamil yang turun dari mobil Raka dulu.
Namanya Citra, hanya sahabat. Tidak lebih dan kurang. Ia sudah pernah dengar dari Doroty tentang Citra, ibu dari Elzar. Teman taman Kenan.
"El ayo," Kenan mengulurkan tangan gembilnya.
"Sebentar Anti sasa mau nanya kalian mau kemana pake gandengan segala, Anti menjadi cemburu ini nggak ada yang gandeng" ucapnya jenaka.
"Mo sana, mo kukis soklat"
"Oh kalo gitu gandeng anti"
"Yo" dua tangan gembil mengulur,
"Bentar ya anti foto dulu buat bayar kukisnya"
"Hmn … " Keduanya mengangguk.
"Kiyowooo, sapa ini Baginda?" Simon dengan kehohannya.
"El teman Jum en Enan" Simon merasa gemas pada Kenan dan Elzar. Bayi montok dan ginuk-ginuk.
"Nan itu,"
"Yo"
"Lho anti nggak jadi di gandeng ini" keduanya menggeleng berbarengan. Mereka mendekati salah seorang bocah perempuan yang asik makan kukis coklat.
El dan Kenan menatap lurus perempuan yang tidak sekalipun menatap mereka. Bocah perempuan itu sibuk dengan kukisnya.
"El"
"Enan" Kenan mencoba berkenalan. Kenan menunjuk Elzar, lalu menunjuk dirinya sendiri.
"Yoloh yoloh anak Bundaaaa udah kenalan sama cewek aja, syok aku lho ini" Simon mendapatkan pelototan dari Sara.
"Brisik ini the moment of truth!"
Sara menyalakan video, Kedua bocah itu mengulurkan tangan roti sobek mereka. Dan yang terjadi adalah bocah perempuan dengan pita bando merahnya mematahkan kukis menjadi tiga dan memberikan pada tangan roti sobek yang terulur itu.
"Mayasyi"
Kenan lalu melahap kukis itu. Berkata dengan mulut penuh kukis. Dan bocah perempuan gembul itu mengangguk dengan cengiran lebar.
"Lanya sini Nak" seorang ibu melambai pada si bocah gembul perempuan yang ternyata menggunakan tas punggung kepala boneka beruang.
"Bye-bye" bocah itu melambai ke dua anak itu.
"Cutie pieeeee overload maksimal mayasyi baginda pangeran"
"Ku bilang apa"
Bersambung ...
__ADS_1