Dendam Sang CEO Tampan

Dendam Sang CEO Tampan
Bab 17. Rahasia


__ADS_3

"Terima kasih Gani" Rena mengangguk tanpa lagi melihat ke Gani. Pikirannya penuh dengan Raka yang kembali menghilang.


Apa sebenarnya yang disembunyikan suaminya. Gani yang memperhatikan ada yang tidak beres dengan rumah tangga wanita itu menjadi kasihan. Itu yang dapat disimpulkan dari sudut pandangnya.


Gani masih memperhatikan Rena yang masuk kedalam rumahnya. Setelah Rena menutup pintu dan menyalakan lampu. Gani langsung melajukan kendaraannya.


Apa ia memiliki kesempatan untuk mendekati Rena. Tidak dipungkiri ia memiliki rasa dengan Rena, sedari dulu perasaan itu ada.


Saat Rena tidak memandangnya aneh juga tidak jijik pada jerawat akibat hormon masa remajanya.


Dulu Gani berbadan gendut dengan wajah berminyak penuh jerawat. Ia menggunakan seragam yang kesempitan. Membuatnya menjadi bahan bulian satu sekolah.


Gani menanggapi dengan biasa saja bulian-bulian itu. Hingga ada salah satu anak yang menjadi pentolan sekolah, mengerjainya dengan keterlaluan.


Disana Rena muncul, ia membelanya bahkan si pentolan itu menjadi tak suka dengan Rena yang bak pahlawan kesiangan membela Gani.


Rena terkena imbas ia menjadi bahan bulian selanjutnya. Namun Rena selalu melawan dan beredarlah bahwa Rena dan Gani menjalin hubungan.


Gani yang merasa rendah diri juga tidak mau menyusahkan Rena pun menghindar dan menjauh hingga Rena pindah sekolah.


Gani pun menjadi bulan-bulanan lagi, ia merasa sedih juga patah hati, ia akhirnya memutuskan untuk pindah sekolah juga.


Dan akhirnya entah kebetulan atau bagaimana ia bertemu kembali dengan Rena. Ia pikir Rena dulu pindah karena kesalahannya karena si pentolan katakan pada Gani. Rena tidak mau lagi berteman padanya. Juga membencinya.


Tapi ia tak melihat kebencian pada Rena untuknya. Sudahlah takdir memang baik membawanya lagi pada Rena untuk meminta maaf. Namun Gani belum memiliki waktu untuk membahasnya.


Kembali memikirkan Rena yang tidak baik-baik saja. Apa ini saatnya maju? Kemudian Gani mengulurkan tangan menyalakan radio, ia mengangguk angguk mengikuti alunan musik, senyumannya mengembang.


***


Rena terus menghubungi Raka. Mengirim banyak pesan. Dan akhirnya hari kedua Raka tak pulang. Hari ketiga Rena mendatangi kantor Raka.

__ADS_1


Ia menuju lobby perusahaan yang terlihat sama dengan Ibrahim Crop. "Maaf bisa saya bantu?"


"Saha ingin bertemu dengan Raka Delino" 


"Apa sudah membuat janji?" Tanya resepsionis dengan dandanan tebalnya itu.


"Katakan pada sekretarisnya, Padma, Rena Joel ingin bertemu" ucap Rena, menyakinkan si resepsionis yang menatapnya tidak santai itu, kalau ia mengenal Padma.


Sang resepsionis dengan malas mencoba menghubungi entah siapa. Setelah ia meletakkan gagang telepon. Tatapannya kembali sengit pada Rena.


"Maaf Bapak Raka dan Bu Padma sedang tugas ke luar negeri" ketus.


"Tugas luar negri kemana kalau boleh tahu?"


"Maaf saya tidak tahu" kembali melirik kesal. Rena menatap tajam si resepsionis yang kembali sibuk dengan ponselnya.


"Terima kasih, Saya permisi" dan dijawab hanya dengan gumaman. Benar-benar tidak beretika, kemarahan Rena bertambah. Raka keluar negeri dan tidak mengabarinya.


Ia melihat mobil Raka. Rena tidak diam. Ia membuntuti mobil itu. Benar itu mobil Raka. Membuntuti dengan jauh dan tak terlihat. Ia mengikuti mobil itu.


Membawanya ke arah sebuah daerah pegunungan, dengan kebun pohon kurma di kanan kirinya, Mobil itu masuk ke pelataran sebuah bangunan tua dan asri dikelilingi banyak pohon jeruk juga lemon yang berbuah lebat.


Ia memarkirkan mobilnya agak jauh tapi Rena masih bisa mengawasi. Raka benar itu sang suami turun kemudian, ia membuka pintu penumpang dan keluarlah seorang wanita dengan perut besarnya. Ia menggandengan wanita itu memasuki rumah asri.


Rena tersentak. Diam. Darah Rena berdesir dengan jantung yang berdebar kencang. Rasa sesak membuatnya lemas ditempat. Matanya berkaca. Bibir Rena bergetar.


Ia melihat senyuman Raka yang tak pernah Rena lihat. Tulus. Ini perasaan yang tak pernah Rena rasakan. Sebanyak apa Raka tersenyum dan juga tertawa bersama nya, Rena tidak merasakan ketulusan itu.


Rena mencengkram kemudinya keras-keras. Jadi fakta besar ini yang selalu membuat si suami pergi tak sedikitpun ingat padanya.


Rena merasa Raka memperlakukan dirinya dengan keterpaksaan. Dan bodohnya Rane menepis segala prasangka yang ia miliki.

__ADS_1


Ini fakta apa? Suaminya tidak tugas luar negeri dan Rena menemukan suaminya dengan wanita hamil besar. Apa Raka berselingkuh.


Rena melihat Padma, si asisten menyambut keduannya dengan binar senang. Apa sebenarnya yang mereka sembunyikan. Rena teringat saat awal menikah, ada sebuah kamar yang terlarang untuknya. Selama ini ia tidak begitu peduli dengan kamar itu.


Rena cukup. Ia memutar mobilnya dan meninggalkan bangunan itu. Padma menatap tempat Rena yang sudah hilang. Wanita itu sekilas melihat adanya kendaraan yang pergi. Lalu menutup pintu bangunan itu.


Rena melaju kencang. Meliuk memotong kendaraan lain sesuka hatinya tak jarang mobil lain memperingatkannya dengan gaya mengemudi yang membahayakan kendaraan lain itu.


Rena peduli setan dengan bunyi klakson protes orang-orang itu. Di pikirannya ia harus segera sampai di rumah itu.


Rena masuk, ada dua pekerja disana. Mereka hanya bingung mengapa nyonyanya begitu tergesa. Rena menaiki tangga lantai kedua disana, ia sudah berada didepan pintu yang tak pernah ia masuki itu.


Ia masuk. Pemandangan yang Rena temukan hanya ruang kantor biasa. Tidak ada yang aneh. Sofa panjang di susut ruangan. Meja kerja dengan kursi kulit mengkilap dengan warna coklat tua terlihat paling gagah di antara perabotan lain itu. Dan dua kursi dibagian depan meja kerja kayu kokoh, dengan plitur coklat gelap.


Juga lemari buku besar di kanan kiri meja kerja dan jendela besar dengan tirai berwarna merah wine menjuntai ke lantai berkarpet abstrak.


Tidak ada yang perlu disembunyikan menurut Rena. Rena mendekat meja kerja banyak berkas bertumpuk disana. Ia melihat ke jendela besar yang langsung menyorot ke arah paviliun yang juga tak pernah Rena masuki.


Terlihat dari kaca jendela ruang Raka ini. Jendela di paviliun. Ruangan tampak rapi. Ruangan apa itu? Ia membalik tubuhnya ia kan mendatangi paviliun itu.


Karena hubungan yang aneh antara Raka dan Rena, mereka lebih banyak menghabiskan waktu di apartemen Rena. 


Matanya menemukan amplop coklat. Saat membaliknya. Jantung Rena seakan diremas oleh aesuatu yang tak terlihat keraa dan menyakitkan.


Saat berbalik ia melihat sesuatu, Rena menyuruh tubuhnya untuk mendekat pada meja dan meraih sesuatu itu. Membaca tulisan besar yang tercetak di amplop coklat itu.


Tangannya bergetar hebat. Namun tidak membuat Rena mundur untuk membuka amplop coklat itu. Dadanya berdebar kencang dalam hati ia tidak ingin apa yang ada dipikirannya benar.


Di kertas putih itu ada nama sang suami lengkap dengan tandatangan milik suaminya. Dan disebelahnya tercetak namanya.


Rena meremas kertas itu. Tangan bergetar dengan urat menyembul. Satu tetes air jatuh pada tangannya. "Raka ini yang kamu sembunyikan" ucap lirih Rena dengan mata memerah.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2