Dendam Sang CEO Tampan

Dendam Sang CEO Tampan
Bab 42. Saudara Ibu


__ADS_3

Rena memandang dengan lama nisan di depannya. Rapi. Berarti ada yang selalu kemari dilihat dari tumpukan bunga tabur yang tidak terlalu kering.


"Mana?" Siwa memberikan buket bunga pada Rena, meletakkan di dekat batu nisan. Lalu Siwa memberi kantong kresek. Dan menaburkan isinya.


Rena berdiri lama memandangi makan rapi milik kedua orang tuanya. Sang istri minta dikubur dalam satu liang dengan sang suami.


"Maaf? Adek siapa ya?" Seorang wanita paruh baya menghampiri Rena. Tubuh pendek dan agak berisi. Itu agak kaget melihat wajah Rena.


"Wita?" Nama ibunya disebut oleh wanita ini. 


"Apa anda kenal dengan ibu saya?" Mata wanita paruh baya itu mengembun. Ia menutup bibirnya. Menggeleng tidak percaya.


"Rena?" Ucap kembali wanita yang menangis tergugu ditempatnya. Wanita itu perlahan mendekati Rena.


Tangan gempalnya menangkup sebelah pipi Rena. "Kamu cantik seperti kedua ibumu"


"Juga mirip dengan ayahmu" tak kuasa Wanita itu menarik Rena pada pelukannya. Dengan bergumam, "Bu aku sudah ketemu Rena Bu" sambil terisak.


***


"Silahkan masuk, duduk dimana saja tak apa, maklum rumah tua, banyak debu." Wingka. Adik si kembar ibu Rena. Rena tertarik berjalan ke arah tengah ruangan. Terpajang banyak foto tua disana.


Banyak sekali foto si kembar. "Eyang utimu dan Kakung, suka sekali mengambil foto dari ibu-ibumu" kenang Wingka.


"Ada banyak foto, kamu mau lihat?" Rena membalik badannya dan mengangguk, dengan senyum hangatnya.


"Oh iya, mau minum apa?"


"Apa aja Tante, nggak perlu repot"


"Apa yang repot, nggak, buat tamu jauh, itu suamimu suruh masuk, kok duduk diluar." 


Rena meringis. Ia tidak menyangkal dan tidak membenarkan. Siwa yang merasa diperhatikan, mengerti. Ia masuk kedalam. Mendampingi Rena.


Teringat saat dimakan, setelah temu haru. Wingka memperkenalkan diri sebagai adik si kembar, anak bungsu dari Santoso.


Setelah menyuguhkan tiga gelas teh melati. Dengan bersemangat Wingka meminta tolong Siwa untuk membantunya membawa tumpukan album foto.


"Maaf ya agak berdebu, karena sudah jarang disentuh."


"Maaf merepotkan tante,"


"Nggak, tante malah senang, apa kabar yang lain?"


"Mama dan papa sehat, dan mereka masih di Doha. Lalu Abang Davis, ada di indonesia, tapi sedang berada di lombok. Nanti kalau sudah kembali, Rena akan ajak sesini"


Rena membuka album foto, dengan antusias Wingka menceritakan apa yang terjadi pada foto itu. Rena lebih banyak mendengarkan. Ini cara Rena untuk mendekat pada keluarga ibunya.


Malam tiba, Wingka menelpon beberapa sanak saudaranya dan memberitahukan keberadaan Rena.


"Tanteeee bahenol, ponakan kinyis-kinyis dataaaaang" Rena familiar dengan suaranya. Benar dugaan Rena.


"Ibu Rena?" Udin dengan segala keterkejutannya.


"Pak Siwa?" Ia melihat seseorang keluar dari kamar Yangtinya. Bingung tentu saja. Mereka bos di kantornya mengapa ada dirumah sang tante bahenolnya?


"Udin, selalu berisik" Udin hanya menyengir.

__ADS_1


"Dek Lulan Jamiludin belum pulang tant? Emang anak durhaka dia! Aaaaw … "


"Siapa yang kamu katai durhaka, hah?" Seorang wanita dengan rambut yang diikat, dengan tampang lelah menatap Rena dan Siwa bergantian.


"Siapa Din?"


"Oh ini bos Udin Dek,"


"Dak Dek, Dak Dek gundulmu kuwi!" Kesal Wulan. Bagaimana tidak.ia yang lebih tua dari Udin dan harus memanggilnya abang.


Mana tuh bocah tingkat percaya dirinya super bikin malu. Sudah dia tak mendebat banyak dulu saat si Udin memanggilnya begitu.


"Lho lulan jamiludin jangan marah sama Rahmet Dangdut"


"Sumpah absurd, pasti si udin" datang lagi seorang gadis, mungkin seumur Kila duduk didekat Rena.


"Dek Rojah yang sopan, Abang Udin" ucap Udin.


"Hilih bapakku itu kakak emakmu, Udin!" Telak Serojah membalas Udin, ia masuk kubu Wulan, dan Wulan membelikan high fivenya pada Serojah.


"Aku kubu Bos Rena ajalah. Ikut pakde Troy ke Doha." Rena hanya bisa diam. Ia tidak tahu bagaimana menjelaskan hubungannya dengan orang tuanya.


"Mana mau Pakdemu bawa kamu yang begajulan gitu" seloroh Wingka.


"Duh Tante bahenol, pasti kesepian Udin akan pergi jauh."


"Dahlah Ma, biarkan dia dan khayalannya. Mama nggak mau kenalin kita?"


"Oh iya  ayo mama udah beli masakan, kita makan malam dulu" Wingka menggiring semuanya ke meja makan. Termasuk  Siwa dan Rena.


"Bukan tante, Siwa asisten nenek suami saya, maaf baru bilang sekarang. Suami saya sedang kerja di luar" Rena menjelaskan. Rojah menatap Siwa berbinar. 


"Jadi Om masih single atau gandengan?" Genit Rojah.


"Dek Serojah masih dibawah umur, mending Abang Siwa sama yang lebih mateng, kayak Mbakmu ini, Wulan Jatmiko"


"Oh tentu tidak, umur bukan jaminan mutu kedewasaan." Lawan Rojah berani.


"Duh kalian, bikin malu, maaf ya nak Siwa, maklumi saja ya, oh iya nak Siwa masih sendiri?" 


"Ohoo tante bahenol kesayangan Udin, tidak bisa tante menikung, ini persaingan ketat Rojah dan mbak Wulan."


"Jadi bantuan dibutuhkan dalam keadaan kepepet! Ingat kepepet, bamguannya berupa, orang tua,  orang dekat dan terakhir pelet"


"Hush kamu ini, masih kecil, kuliah dulu selesai baru—"


"Nikah kan?" Ayah Seroja, Kakak sulung, Ibu Rena, Pakde Sanusi menggeleng.


"Kerja!"


"Hilih jadi perawan tuwir dong aku, kayak mbak Wulan" celetuk Rojah yang mendapat lemparan kacang rebus. Suara tawa dan canda menghiasi ruang makan keluarga Santoso.


Dan yang diperebutkan sama sekali tidak peduli, ia menikmati makan malamnya.


***


"Cieeee … Kamu laku sekali Siwa kayak kacang rebus"

__ADS_1


"Saya punya tunangan Bos" Wajah Siwa datar menatap jalanan.


"Alasan! Aku pernah dengar Pak Herman mendaftarkanmu ke perjodohan"


"Benar, tapi saya punya tunangan, namanya Amelia, namun kami tidak berjodoh di dunia ini, ia pergi dengan menyandang status tunangan saya,"


"Maaf ya, tapi kan sudah nggak ada,  ham yang disimpan dihati, tapi hidupmu masih berjalan kan, masa kamu mau sendiri seumur hidup?"


"Ya tidak, saya sedang menunggu seseorang menerima saya dengan status saya memiliki bertunangan"


"Hih, Ribet! Aku nggak ngerti maksudmu, udahlah, nanti kalau ada yang nyantol sama kamu, jangan lupa undang-undang, aku tidur dulu"


"Siap bu bos"


"Hmn …" 


***


"Sayang kata Siwa kamu udah ketemu keluargamu, si Udin itu beneran keluargamu, terus kapan kamu mau aku ajak ke Amerika?"


"Nanti setelah Brojol"


"Bener ya?"


"Iyaaa …"


"Rak ayo"


"Aku kerja dulu ya sayang,"


"Hmn …"


"Padma bisa kalau aku teleponan dengan istriku jangan masuk semba— tiiiitttt …. "


Rena terdiam.


Ia kembali menatap layar gelap ponselnya. Rena mengirim Raka pesan. Kenapa Raka tidak bilang jika ia kembali bersama Padma? Jangan berpikir negatif dulu, batin Rena.


"Padma?"


Rena mendial Davis. Tidak diangkat, sekali dua kali, masih tidak diangkat. Mendial ketiga kali. Ini ada yang tidak beres. Rena mendial nomor lain yang akan langsung dijawab milik Davis. Namun tidak diangkat. Ini tidak baik.


Rena mendial nomor lain. "Hai Bro,"


"Kenapa lagi dia?"


"Nggak tahu tapi nggak mengangkat panggilanku, bahkan dengan nomor khusus."


"Oke, aku telepon rumahnya dulu"


"Oke thanks" 


Rena menunggu dengan cemas. Tidak mungkin yang tahu tentang sifat tersembunyi Davis hanya Rena, wanita itu tidak akan sanggup menangani jika Davis mulai kembali pada sifatnya itu.


Tak lama dering ponsel memekakan telinganya. "Kita harus ke tempatnya" suara panik dapat dirasa Rena. Jika orang di seberang saja panik berarti ini benar-benar tidak baik.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2