
Rena menatap mangkuknya yang berada di depan Raka. Lelaki itu menghabiskan miliknya hingga tak bersisa. Dan menatap mangkuk Raka yang juga kosong.
"Ah kenyangnya"
"Kamu habiskan punyaku"
"Ternyata sotomu lebih enak, itu tadi apa? Kuning telur tapi kenyal aku suka." Ucapnya
"Telur muda"
"Jangan cemberut! Itu bubur ayammu datang" pelayan datang kemeja mereka. Membawa sebuah nampan coklat. Lalu meletakkannya di depan Rena.
Wajah Rena yang semula mengkerut karena dengan tega Raka menghabiskan sotonya menjadi sumringah.
Bubur ayam cirebon, bubur kare biasa Rena menyebutnya, biasa si pedagang menjual bubur dengan lontong sayur, makanan yang memang cocok untuk sarapan, selain soto dan nasi uduk.
Rena mengaduk buburnya. Maaf nih Rena masuk tim bubur diaduk. Bukannya apa-apa. Dulu ia pun tidak terlalu suka bubur ayam karena penampilannya menjijikan.
Tapi saat ini bubur ayam salah satu makanan favoritnya. Ia sudah mencoba bubur yang tak diaduk dan hasilnya, toppingnya lebih dulu habis dan menyusahkan banyak bubur yang tentu akan ia buang.
Dan solusinya Rena mengaduk menjadi satu dan mangkok ya akan bersih. Rena tim bubur diaduk.
"Kayaknya enak" Raka menengok pada mangkuk bubur ayam Rena. Dengan gesit wanita itu menggeser mangkuknya menjauh dari jangkauan Raka.
"Jangan berani!" Peringatan Rena.
"Dasar pelit!" Raka menyibir sang istri.
"Kamu belum kenyang?" Sang suami menggeleng. Mata Rena membola menatap tak percaya. Dan Raka hanya menyengir lebar.
"Yaudah aku mau bagi, tapi … jangan dihabiskan!" Lagi Rena memperingati Raka yang hanya mengangguk macam bocah.
Rena mulai mengaduk namun baru setengah putaran Raka menghentikan tangan Rena. Alis Rena naik, menatap heran pada suaminya itu.
"Kenapa?"
"Kamu mengaduk buburnya?" Rena hanya mengangguk.
__ADS_1
"Jangan! Nanti jadi encer aku nggak suka, jijik" ucap Raka. Nggak bisa! Ini buburnya.
"Ini mangkuk buburku, kalau kamu mau pesan lagi aja" Rena tetap mengaduk dan membuat perut Raka mual. Ia memang tidak suka bubur encer. Ia melihatnya seperti muntahan.
Dan benar mangkuk Rena berubah warna menjadi coklat. Tiba-tiba ia merasa mual. Ia menjauh. Ia menatap ngeri Rena yang sangat menikmati bubur ayamnya.
Rasa yang ia rindukan. Walau rasanya hanya mirip tetap saja rasa indonesia. Wangi rempah bercampur santan yang gurih. Bukan rasa rempah dan wangi bunga mawar.
Cukup. Rena merasa cukup untuk masakan Qatar. Sama-sama berempah tapi berbeda. Hingga saat ini lidahnya masih lidah indonesia.
Jika ditanya apa ia bisa memasak. Jawabannya ia Rena bisa memasak. Ia belajar dengan lama untuk bisa memasak rendang yang persis di indonesia. Semua untuk memberi makan cravingnya. Jangan tanya apa mama Rena bisa memasak jawabannya tidak bisa.
Dulu Rena sering merengek meminta mamanya membelikannya indomie goreng. Satu kardus namun sang mama tidak pernah mau menuruti permintaannya. Alasannya indomie adalah makan instan yang tidak bagus untuk tubuh.
"Kenyangnya" ucap Rena menandaskan bubur ayamnya. Ia menyusrup teh kemasan. Menatap Raka yang mulutnya masih terus mengunyah. Peyek.
"Apa enak?"
Seakan membalas Rena. Raka menyembunyikan peyeknya dalam dekapan lelaki itu.
"Nggak! Ini tepung dan kacang enak, gurih, aku suka makanan asin." Ucapnya.
"Iya ya habiskan-habiskan" ucap Rena, wanita itu beranjak untuk membayar. Setelahnya merak kembali ke apartemen saat malam.
"Kita makan di antara sore menjelang malam. Apa kamu lapar?" Rena sibuk di dapur ia akan membuat teh disana.
"Tidak aku masih kenyang"
"Kalau aku kupas buah aja bagaimana?"
"Boleh, sekalian cuddling?"
Rena mendengus saat Raka mengedipkan matanya padanya.
***
Rena dan Raka duduk berpelukan. Mangkuk besar berisi buah potong diletakkan di atas perut Raka. Mereka menonton sambil menikmati buah potong.
__ADS_1
"Apa kami bisa membuat soto?" Tanya suaminya itu tiba-tiba. Rena melirik sekilas, lalu mengangguk.
"Aku ingin lagi. Sepertinya kau ketagihan, apalagi dengan bumbu bubuk yang kau campurkan di akhir itu"
"Bikin bumbu itu yang banyak, enak dimasukan kuah sotonya." Ucap Raka. Rena mengangguk. Mengiyakan.
"Kamu anterin aku belanja ke toko asia kalo gitu. Oh … bentar … " Rena beranjak dari tempatnya masuk ke dapur ia membawa kantong besar.
"Untung kamu menyinggung soto, aku bakal lupa sama harta karunku"
Leha meletakkan tas berbahan kain itu di antara dirinya dan Raka. Tentu saja membuat lelaki itu dibuat penasaran.
"Ini aku nemu waktu belanja di toko asia. Aku nemu coklat kesukaanku waktu kecil. Dan taraaaaa … "
Ia memperlihatkan bungkus merah dengan gambar coklat di depannya
"Benk benk?"
"Iya!" Pekik Rena kesenangan. Ia tak sabar membuka bungkusan itu. Penampakannya seperti reguler jajanan coklat.
"Ini cobalah"
Raka menerima suapan Rena. Coklat sekali hap itu masuk dalam mulut Raka. Lelaki itu mulai mengunyah.
"Hmmn … " mata Raka melebar, kepalanya mengangguk-angguk tanpa sadar.
"Ya kaaaannn … "
"Hhmm … enaknyaaa … "
Rena melahap bagiannya. Merasakan coklat yang lumer bersama cui nya karamel yang manis legit juga kriuk dari rice krispi, berpadu menyatu dengan kenangan masa kecilnya uang menyenangkan kala itu.
"Ada lagi ini namaya kico kico, ini pasta coklat enak juga sama ini, mogigi, kamu harus coba!"
Kembali Raka hanya mengangguk dan terus mengunyah tanpa henti. Mereka melupakan mangkuk penuh buah di depannya. Lebih memilih yang ada di tas kain milik Rena.
Bersambung ...
__ADS_1