Dendam Sang CEO Tampan

Dendam Sang CEO Tampan
Bab 20. Terkuak


__ADS_3

Rena merealisasikan perkataannya. Semangkok bakso iga dengan kuah kemerahan tandas. Sepiring sate padang dengan kerupuk kulit pun lenyap. Es jelly juga hilang dan masuk kedalam perut Rena.


Belum lagi ada satu kresek jajanan pasar yang akan ia bekal pulang. Bubur gandul, risol tiga macam, pastel, tahu isi 4, tahu bakso, pukis, dengan toping keju, martabak daging, Rena kalap.


"Kamu habis?" Isak menatap tak percaya pada Rena. Rena hanya mengangguk. Ia memerlukan amunisi untuk begadang. Ia akan menyelesaikan pekerjaannya.


"Bang sampai kapan abang disini?" Rena agaknya terkejut. Isak datang menemuinya atas bujukan Raka.


Yang Rena tahu Isak sedang sibuk di Indonesia. Ia mendirikan Lewi Crop di sana. Dan Lewi Crop masuk kedalam anak cabang Ibrahim Crop. Sudah kurang lebih 5 bulan Isak harus bolak balik Doha-indonesia.


Rena telah memiliki rencana. Rencana yang saat ia masih single tidak tercapai dan saat nanti tiba waktunya ia akan melakukan rencananya.


Rencananya ini perlu waktu yang agak banyak. Maka Rena mencicil dari saat ini. Dan hari ini ia sudah menyerahkan surat pengunduran dirinya.


Entah bagaimana reaksi Pak Bosnya. Ia sudah memutuskan kepalanya tidak bisa terus bekerja keras ia ingin istirahat sejenak.


"Makasih Bang, jangan kapok ya" ucap Rena dengan cengiran lebarnya. Isak menepuk kepala Rena. Isak sudah menganggap Rena layaknya Sara. Adik kecilnya.


"Kapok! Nggak lagi-lagi abang bawa kami kesana, abang bawa ke Biriki aja" tatapan tajam Rena membuat Isak terkekeh renyah. Isak tahu Rena trauma dengan restoran itu.  Menurutnya itu restoran terburuk yang ada di Doha.


"Udah sana masuk, istirahat, salam ya buat Raka" ucap Isak sebelum meninggalkan  halaman rumah Raka.


Rena memasuki rumah Raka yang terlihat sepi. Ia mendengar suara ribut-ribut dari ruang kerja, tempat Rena menemukan surat cerai yang telah suaminya tanda tangani.


"Abang lihatkan, pagi dijemput siapa? Malam diantar siapa? Sudahlah bang ceraikan saja wanita tidak berguna itu"


"Bukannya abang merasa tidak ada manfaatnya wanita itu abang nikahi, wanita itu seolah dia nyonya rumahnya, padahal orang tuanya saja menjualnya padamu" ucapan yang Rena yakini adalah suara Kila itu membuat Rena membeku.


Mengharapkan cinta Raka saja sudah mustahil, dan apalagi kenyataan ini. Orang tuanya menjual dirinya?


"Apa lagi yang ingin abang lakukan pada wanita itu, kasihan Kak Padma, ia menunggu abang dan rela sakit hati, apalagi abang begitu dekat dengan Citra, maka aku bawa Kak Padma kemari."


"Ia mengorbankan hatinya, untuk sikap egois Abang" Kila berkata dengan menggebu.


"Abang masih cinta Kak Padma kan?"


"Hmmn … " Rena mengeratkan rahangnya. 

__ADS_1


"Sudahilah, abang ingin mencampakkan si ja lang tak tahu diri itu kan? Ini waktunya, buang dia, keluarganya saja tidak peduli saat abang ketahuan bersama kak Padma, saat pulang ke amerika, Daddy juga menunggu abang menceraikan wanita itu"


"Dia kira nyonya rumah, tahunya hanya pion untuk kepentingan bisnis. Kalian hanya nikah agama, tapi lagaknya sudah menguasai mu saja, kasihan sekali ya kan kak?" Tawa mengejek juga merendahkan.


"Aku akan ikuti apa rencana Raka, Kila" ucap Padma. Rena menatap pintu di depannya dengan mata berkabut. Hatinya hancur.


"Kak kau juga menggaet kakak si ja lang itu kan, sudah sampai mana?"


"Aku menyusupkan beberapa orang di perusahaan Joel." Ucap Padma.


"Davis gampang sekali dibodohi, ia sama seperti adiknya sama - sama bodoh, jika adiknya keras kepala. Sedangkan Davis seperti kerbau dicucuk hidungnya, jika itu menyangkut aku" ucap Padma bangga.


"Jangan bicarakan lelaki lain jika didepanku"


"Duh cemburu, makanya lepas itu tikus got mengganggu itu, secepatnya! Sudahlah aku mengantuk aku tidur dulu, jangan kelamaan keluarga kita bisa saja tidak sabar, kamu menikah dengan Kak Padma." Rena mencari tempat bersembunyi.


Pintu terbuka, Rena mengintip, Hanya Kila yang keluar, ia tak melihat Padma. Setelah dirasa aman, Kila telah masuk ke kamarnya, kembali Rena berdiri didepan pintu ruang kerja Raka.


"Aku juga tidak suka jika kamu masih terus bersamanya, aku cemburu" ucap manja Padma.


"Kemarilah" suara berat itu. Memanggil Padma.


"Hmmn … aaahh … Rakaaa … " terdengar lenguhan Padma. 


Rena mengepalkan tangannya. Ternyata kebusukan yang Raka sembunyikan 


telah terpampang nyata, Rena ketahui. Dadanya meledak, nyeri, Ia tidak ingin menangis tapi seperti bandel air matanya terus saja mengalir.Menjijikan!


Ia hancur. Dengan semua kenyataan, Raka yang ternyata membeli dirinya. Orang tuanya yang tidak peduli tega menjualnya.


Rena berjalan ke arah kamarnya mengambil semua barangnya. Ia masukkan dalam tas backpakernya. Memasukkan pakaian, juga laptop. Lalu keluar rumah ia berjalan hingga jauh lalu menekan nomor seseorang.


"Bang kamu tahu Papa dan mama menjualku demi menyelamatkan perusahaan ke Raka?"


"Hah?" Davis yang baru saja bangun mendengar suara isakan Rena. Ia masih diawang-awang.


"Ren?" Suara seraknya terdengar. Ini hampir jam satu tengah malam.

__ADS_1


Suara isakan bercampur suara deru mobil yang ia dengar dari seberang,


"Ren? Rena kamu dimana?" Saat melihat masih tersambung dengan ponsel Rena.


"Ren, tunggu abang ya?" Saat kesadaran Davis terkumpul, ia melihat jam menunjukan pukul 1 dini hari. Mendudukan dirinya. Ia mengacak rambutnya.


"Ren tunggu abang ya, Ren jangan dimatikan" tapi tak lama Rena memutus sambungannya.


Rena mengira jika abangnyanpun tahu jika Rena dijual ke Raka untuk kepentingan perusahaan.


"Ren! RENA! REN! SIALAAN!" Davis menekan ponselnya ia menghubungi ponsel Rena tapi tidak lagi tersambung.


Pesan masuk terdengar. "Bang aku perlu menenangkan diri, jangan beri tahu Raka."


Rena sudah berada di dalam taksi. Ia sangat berantakan. Bahkan supir taksi saja melihatnya kasihan. Wajah dengan air mata mengering.


Ia datang ke sebuah rumah, ia berdiri didepan pintu. Rena menekan berkali bel pintu. Matanya kosong dengan isakkan.


"Ya ... Rena?" Lelaki itu melebarkan mata, menatap dengan mengucek matanya. Bukannya tadi ia telah mengantarkan Rena sampai didepan rumah Raka.


"Baang … bawa aku pergi dari sin-nih …" ucap Rena dan wanita itu pun pingsan. Untuk dengan sigap Isak menopangnya.


Tampang yang berantakan, pakaian yang sama dengan yang Rena pakai tadi. Isak melepaskan tas yang Rena pakai. Dan kemudian ia membopong wanita itu. Ringan. Apa wanita ini memang sekurus ini?


Isak meletakkan pada kamar yang biasa Rena gunakan. Rena biasa menginap dulu saat lembur. Karena rumah Isak yang ini lebih dekat dengan Ibrahim Crop.


Untuk saat ini ia tahu jika Rena ingin menghilang dari Raka. Ia mengambil ponsel wanita itu dan melihat benar ponselnya telah mati.


Raka apa yang kamu lakukan pada Rena? Pikir Isak. Ia memeriksa laptop Rena dan menemukan surat pengunduran diri. Juga sedang menyelesaikan sisa kerjaannya yang hampir rampung.


Isak menonaktifkan semua yang berhubungan dengan Rena. Agar tidak terlacak. Ia telah berjanji pada Rena saat dulu awal pernikahannya dengan Raka untuk datang padanya, jika kesulitan.


Dan Rena mendengarkan ucapannya, sebagai kakak ia akan membela Rena. Iask tahu bagaimana perangai Raka. Ia pun dulu menyangka Raka hanya suka menjahili Rena karena selama ini ia dekat dengan si asistennya itu.  Ia akan berjanji akan melindungi Rena.


Raka belum menghubunginya. Berarti kaburnya Rena, Raka belum tahu. Atau Raka tahu Rena kabur, sudah besok ia akan menanyai saat Rena telah siuman. Ia telah membalur kaki Rena dengan minyak hangat.


Isak menungguinya, ia duduk di sofa yang ada di kamar Rena.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2