Dendam Sang CEO Tampan

Dendam Sang CEO Tampan
Bab 49. Kenan Sembuh Ibooook


__ADS_3

Setelah mencurahkan segala rasanya. Mereka mengobrolkan banyak hal.


Rena merasa ia menemukan kembali Raka yang dulu awal mendekatinya. Si playboy cap kadal, Saat ia bertanya, apa waktu mendekatinya pertama kali itu, apa benar-benar hanya ada rasa benci.


Raka mencoba mengingat-ingat sepertinya sedari dulu ia sudah memiliki rasa pada Rena. Dan akhirnya mengalir cerita saat pertama kali pendekatan Raka itu bukan saat Rena dewasa. Tapi saat Rena SMP.


Saat pertama kali Rena diboyong ke Doha oleh keluarga Joel. Dulu sebenarnya ia ditinggalkan di Indonesia. Keluarga Joel sering bolak-balik Doha-Indonesia.


Akhirnya mereka menetap sebagai warga Doha dan tidak lagi pulang ke indonesia. 


Rena dibesarkan memang dibuat untuk bisnis. Awal tahu, tantang itu Rena menangis dan mengamuk, namun Rena hanya mendapat makian dan umpatan dari kedua orang tuanya.


Eyang Doroty muncul dengan bengis mengguncang perusahan Joel. Juga menulis perjanjian bahwa Rena bukan lagi anggota keluarga Joel melainkan Anggota keluarga Javier. Dan keluarga Joel tidak berkutik. Davis ikut mendukung, memang abangnya sableng.


Untuk Kila, ia disekolahkan jauh dengan uang saku yang sedikit. Baik Rena dan Raka tidak pernah bertemu lagi dengan Kila.


Kembali Rena tidak menyangka Raka mengikutinya selama itu. "Apa aku nggak sepeka itu ya, Padahal aku dikuntit sama orang ganteng?"


"Halah kamu dulu memang nggak sepeka itu. Padahal aku selalu duduk disampingmu setiap hari kamu nggak ngeh"


"Aku sampe frustasi juga, nah lucunya waktu temen-temenmu ngomongin aku, kamu cuek aja, kesel banget aku waktu itu" lanjut Raka.


"Bahkan konyolnya aku sampe pergi ke psikiater buat cari tahu aku kenapa? Katanya si embaknya, ya aku jatuh cinta, aku marah nggak lagi kesana,"


"Tapi bener juga kayak kamu suka aku dari SMP, astaga kamu Oom pedo!" Rena menggeser tubuhnya menjauh.


"Boleh aku minta peluk" ucap Raka.


Rena mengangguk, kembali Rena mendekat dan masuk dalam pelukan Raka. Raka merengkuhnya erat. Menghirup wangi Rena yang tidak berubah.


 "Sampe kapan ini?" Rena mendongak.


"Kenapa?" Raka semakin mengeratkan pelukannya. 


"Aku nggak rela kalau kamu pelukan sama yang lain" ucap lirih Raka, Rena lebih menelusupkan diri pada Raka.


"Coba dulu ya,"


"Kan udah kemaren dua tahun pisah, masih kurang?"


"Kan itu nggak bener-bener pisah. Nah sekarang beneran pisah. Aku pengen liat nanti gimana dengan status baru, kamu gimana, terus nanti kalau kembali apa rasanya sama atau nggak"


"Yah," Mau tak mau Raka ikut saja.


"Kenapa ya saat udah diputuskan buat pisah, aku merasa kita bisa ngobrol ringan gini" Raka menelusupkan wajahnya ke rambut Rena.

__ADS_1


"Ini sampai kapan ya? Pegel ini ngomong-ngomong"


"Kamu juga bisa coba sama dia, yang sedari tadi ngintipin kita sambil ngemilin rumput"


"Hush kamu itu" Tawa mereka tergelak.


"Kenapa? Nggak tega, karena air mata buaya?"


"Tuh gini aja kamu cemburu, tapi aku suka sih"


"Apa deh"


"Aku jadi mikir apa kita nggak usah pisah? Kayaknya kamu bikin aku maju mundur ini." Rena menatap melas Raka.


"Yes, gak jadi"


"Ceritain dong waktu kamu kecelakaan, aku mau denger"


Mengalir cerita Raka. Dia tersangkut pada pepohonan dan Mia yang menemukannya. Raka dikira mayat. Tapi Mia membawanya ke rumahnya.


"Aku sempat lupa ingatan, cuma dua hari. Tapi koma hampir sebulan. Aku pulang kepanti asuhanku, aku bawa Mia, dia masih 17 tahun ngomong-ngomong"


"Ha?! Dasar pedo!"


Mia akhirnya membantu di panti asuhan, dan Raka tinggal di rumah Citra. Raka berobat kerumah sakit, sebenarnya ini tidak akan fatal jika langsung dibawa ke rumah sakit, tapi saat itu Raka koma dan lupa ingatan pula.


Semua karena Kenan. Menambah tekad Raka menjadi lebih kuat lagi. Lalu Raka menemukan Rena menjadi tetangganya.


"Eh ternyata setelah dua tahun, kita jadi tetangga, aku mau menyebut aku Ayah ke Kenan, ia ikut memanggilku Oom Duduk seperti bocah lain"


"Bukannya aku nggak mengakui, aku malah ingin diakui sebagai ayah sama Kenan," ada getaran suara Raka. Rena mengelusi punggung lelaki itu.


"Maaf ya, aku salah sangka, sekarang kamu bisa kasih tahu Kenan pelan-pelan siapa kamu, dia anak yang pintar dan cerdas, kadang aku sampai bingung kenapa pikirannya sedewasa itu"


Rena sedikit haru. Membicarakan tentang anak, Rena lemah.


"Dia jarang banget nanya mana ayahnya? Aku kadang bingung, tapi ternyata ia sudah memiliki banyak bapak"


"Maksudnya?"


"Mereka nggak mau di panggil ongkel, paman, Om, mereka maunya di panggil Papa buat Davis, Abah Buat Isak, Daddy buat Gani jangan cemburu, Gani sudah nikah, anaknya manggil dia Daddy, jadi samain aja katanya, Pop buat Nalen, Papi buat si Udin"


"Aku masih ada slot, Ayah, aku mau dipanggil ayah" girang Raka.


"Iya Ayah, masih ada satu slot untuk jadi Dadanya Kenan"

__ADS_1


"Nggak berakhir di Ayah, gak ada lagi nambah bapak!" Raka melotot. Ia tidak mau membuka peluang lelaki yang ingin mendekati Rena.


"Ish si Ayah mah posesip" Rena menoel dagu Raka. Tawa renyah Raka.


"Makasih masih disini sama kami ya ibok"


"Aduh aku makin mundur nih buat pisah, kalau gini caranya" Rena terharu.


"Aku semakin seneng kalau begitu, nggak usah pisah ya buuuuk" Raka menggoyang-goyangkan lengan Rena manja. Rena menggeleng. Raka semakin menarik bibirnya ke bawah. Raka semakin mendekatkan diri, mereka saling pandang.


"Hei kalian, liat tempat, mana ada bocah ngintip lagi!" Suara dari tempat Mia mengintip. Raka dan Rena menjauh. Rena mendorong kursi roda Raka.


"Pak dokter ini apaan sih, Mia nggak bisa liat! Lepasin tangannya Pak dokter"


"Oliver apa kabar? Minggu besok jadwalmu lagi kan ke SayapKasih?"


"Oh Pak kepala panti, nggak boleh lho kasih contoh menyesatkan anak-anaknya." Oliver mengejek Mia.


"Dokter Oliver, Visite Kenan ya?"


"Ah Ibok Kenan, ia Dada Kenan mau Visite" cengir dengan lesung pipi manis. Sangat Palyboy. 


"Bang itu Mia diganggu, Laksyasya jelek!" Mia semakin kikuk rona wajahnya semerah buah paprika.


Tubuh Oliver memang sangat tinggi menjulang. Rena saja harus mendongak jika berbicara dengan dokter Kenan ini.


"Ayo kami juga mau kedalam" ucap Rena yang lebih dulu berjalan dengan mendorong kursi roda Raka.


"Ibok bok, Enan gambral, semua"


"Pintar, Dada mana ya?"


"Dada belom, nanti" Kanen mengambil kertasnya dan mengambil krayon lalu membuat dia titik yang mungkin menandakan kacamata Oliver.


"Inih-inih Dada"


"Dada paling ganteng disini" narsis Oliver membuat Mia mukok.


"Ndak enan ganteng syeantratiksa," ucap bocah yang sudah tidak lagi menggunakan infus.


"Bagus ini, kuman raksasanya kabur, jadi besok Kenan bisa pulang" 


"Yeeeee kuman raksyasyanya pegi yeeee  ibok Kenan menang, kita raya raya pesta yeeee kukiisss" kenapa ini bocah masih ingat janji Sara dan Rena.


Ingatkan Rena untuk lebih berhati-hati dalam melakukan apapun kedepannya, apalagi jika ia bersama dengan Kenan.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2