Dendam Sang CEO Tampan

Dendam Sang CEO Tampan
Bab 37. Makan Siang


__ADS_3

Rena makan siang dengan Nami dan Ibrahim, Nalen juga ada disana, Nalendra Ibrahim, anak kedua pasangan Ibrahim, adik Isak.


"Mau?" Sedari tadi Rena ngiler melihat brownies di piring kecil Nalen. Rena mengangguk cepat, matanya berbinar namun menatap tajam Nalen.


"Ambil" Rena tak bergeming, wanita itu terus menatap lurus Nalen.


"Kenapa?" Ucap Nalen.


"Berubah pikiran?" Rena menggeleng,


"Terus?"


"Kamu makan dulu" ucapnya dengan wajah berbinar menunggu Nalen memakan brownies itu.


"Makan siangku belum habis, nanti setelah ini habis" Nalen memperlihatkan makan siangnya yang masih setengah. Ia tidak akan menyentuh dessertnya sebelum makanan utamanya selesai.


Rena mengerutkan bibirnya. Ia menatap bronies itu dengan dramatis. "Aku aja yang memakannya?" Suara lelaki terdengar dari belakang Rena.


Rena menengok kebelakang. Ia melihat sosok suaminya dengan senyum sumringah. Wajahnya tidak sepucat pertama kali Raka menginjakan kaki di Indonesia.


"Raka? Kamu datang?" Raka merangkul Rena dan mengecup kelapa wanitanya itu. 


"Siang Bun, Yah, Nalen kamu disuruh segera ke Indonesia oleh Isak"


"Wah ramai" kembali gerombolan mendekat ke meja Rena. Gerombolan keluarganya, keluarga Joel. Juga pasangan yang baru bertunangan itu.


Meja yang Nami pesan adalah meja besar dengan kapasitas 10 orang. "Silahkan kalau mau ikut bergabung" ucap Nami.


Tanpa sungkan Davis ikut bergabung lebih dulu. Sebenarnya mereka sudah menyewa satu meja. Wila dan Troy ingin menolak tetapi Davis sudah lebih dulu duduk jadi mau tidak mau mereka ikut duduk.


"Keponakan ongkel gimana kabarnya?" 


Davis tidak terlalu memperdulikan orang tuanya, Apalagi Rena yang tersakiti oleh mereka.


"Baik ongkel ganteng" jawab Rena yang sedari tadi Raka mengelus perut istrinya. 


Padma tidak melepaskan pandangannya pada Raka. Wanita yang mengenakan dress terusan dengan lengan panjang juga turtleneck hanya diam di tempatnya.


Orang tua yang menjualnya, suami yang membelinya juga selingkuhan suaminya. Lengkap dalam satu meja.


Tidak ada dari kedua orang tuanya yang meminta maaf padanya. Suasana hati Rena berubah kacau. Ia sudah tidak berminat lagi pada makanannya.

__ADS_1


Nalen pun cuek mengajak bicara Davis. "Selamat Bro, maaf nggak datang kemarin, baru dari sampai hari ini di sini"


"Its okay, terima kasih dengan hadiahnya, Isak di Indonesia, aku ingin sekali bekerja sama dengan kalian nanti, saat aku ke Indonesia."


"Bang, kamu mau ke indonesia?" Tanya Wila, ada keterkejutan disana yang wanita itu samarkan. Tangannya yang menaut dibawah meja terlihat cemas.


"Iya saya juga ingin melebarkan saya Joel lebih besar, mungkin salah satunya  dengan bekerjasama dengan putra Om" sebenarnya Ibrahim enggan menanggapi.


"Davis jangan bicarakan bisnis disini" Bisik Troy yang bisa melihat keadaan. Davia hanya mengangguk. Padahal apa yang ingin ditanyakan sesungguhnya belum terucap dimulutnya


"Terima kasih ya Mbak Nami kami boleh gabung"


"Tak apa Mbak Wila, jangan sungkan" Rena mengerti Nami tidak suka dengan orang taunya.


Suasana canggung terlihat pada keluarga Joel.


Tak lama seorang pelayan datang, memberitahukan jika meja pesanan keluarga Joel sudah siap.


"Kami minta maaf, Pak Ibrahim, Ibu Ibrahim, mengganggu makan siang kalian. Kami permisi, sebenarnya kami sudah memesan meja lain." Ucap tak enak Troy.


"Silahkan Pak, tak apa" Ucap Ibrahim. Ketiganya beranjak, kecuali Davis.


"Mengapa tidak disini aja? Lebih banyak orang juga ada adikku disini, lagi pula Om Ibrahim dan Tante Nami tidak keberatan. Iya kan tante?"


 


Kalau tidak, berarti memang tidak memiliki hati mereka. Menjual, memaksa menikah, dan mengabaikan. Harusnya Rena keluar saja dari keluarga iblis itu.


Nami ikut geram. Ia menatap Rena ingin sekali memeluk anaknya itu.


"Oh iya Raka terima kasih dengan kadonya, kamu tidak keberatan kan aku mengambil sekertarismu?" Seringai licik Davis terlihat. Akhirnya bomnya ia lemparkan. Rwna merasakan elusan Raka pada perutnya berhenti.


Hening.


Rena menatap sang kakak tajam, ia tahu kakaknya tidak akan melepaskan Raka dengan mudah. Rena menghela nafas sesak, menatap Wila dan Troy yang mengabaikannya sedari tadi.


Orang tuanya termakan tipu daya Padma. Rena mengeratkan rahangnya. Amarah yang ia anggap telah hilang kembali. Rasa sakit dikhianati meremas jantungnya.


Memaksa Rena sadar, kalau mereka kumpulan manusia bi adap. Ia ingin mengumpat juga memaki dirinya yang begitu cepat luluh pada Raka.


Rena menatap meja dimana makanan lezat tersaji. Tetapi tatapannya menjadi datar dan dingin. Raka menegang tempatnya.  Melihat perubahan raut wajah sang istri.

__ADS_1


Mereka memang belum membahas lagi masalah mereka, ia masih tahap pendekatan lagi. Dan Raka tahu setelah ini Rena tidak akan seramah sebelumnya.


Lagipula mengapa kedua orang didepannya ini bertunangan secepat ini. Tidak, Raka tidak cemburu. Sejak Raka menyadari Rena adalah nafasnya. Raka tidak lagi berhubungan dengan Padma.


Raka mengabaikan Kila atau keluarga Amerikanya yang akan terus mengingatkan tentang rasa bencinya pada Rena.


Tapi mereka tidak berhasil sama sekali. Raka dibuat bingung pada masa denial akan perasaannya pada Rena, tidak mungkin ia langsung menerima begitu saja.


Semakin ia didorong dan di pojokan, Raka semakin tahu apa yang ia mau. Apa yang hilang dan apa yang ia inginkan. Raka memeras genggaman tangannya pada Rena. Senyum bahagianya. Mendapati Renanya kembali. Tidak ada keraguan.


Padma yang sedari tadi hanya diam ikut bereaksi. Wanita itu menggulir matanya kedepan. Tatapannya bersimborok dengan Raka. Hanya sekilas.


Davis mendesis memperhatikan Padma yang matanya jelalatan. Ia pasti akan ia hukum nanti malam.


"Kakak Ipar harus menjaganya, aku ikut senang akhirnya kalian merasakan cinta sepertiku dan Rena, dia selain sekertarisku juga sahabatku jadi langgeng hingga akhir hayat" ucap Raka dengan menatap Rena.


Nalen dan Nami hanya mendengus. Apa Raka kehilangan ingatannya. Perselingkuhannya sudah menjadi konsumsi publik.


Sayangnya yang dituduh selingkuh adalah Padma, yang lebih memilih Davis. Kasihan perempuan itu pikir Nalen. Berbeda dengan Nami, ibunya itu sedang menyumpahi Padma dalam hatinya.


Menurutnya ia pantas mendapatkan itu. Dan sekarang entah apa yang mereka rencanakan. Kembali Nami menatap Rena penuh sayang.


Dan anaknya iti saat ini tidak baik-baik saja. Rena hanya diam. Dasar Joel sialaan! Ini anakmu sendiri bede bah! Ia ingin menyuarakan pikirannya, namun tangan hangat menggenggam tangannya.


Ia menengok ke suaminya yang menggeleng perlahan. "Biarkan dulu, jangan membuatnya lebih keruh" bisik sang suami.


"Tenang saja aku akan menjaga apa yang jadi miliku dengan baik, iya kan sayang?" Davis berdiri dan mengelus rambut hitam Padma yang terdiam. Rena melihat tubuh Padma bergetar halus.


"Dan mungkin kamu akan cepat mendapatkan sepupu untuk keponakanku" ucapnya lebih lirih.


Untuk sesaat Davis mengeluarkan aura yang berbeda. Dengan sigap Rena bersuara. Menyadarkan Davis yang mengangkat sudut bibirnya.


"Bang nanti boleh Rena ketemu? Mau minta beli hadiah buat keponakanmu ini!" Rena tidak ingin menebak. Dan segera menghentikan abangnya. Semoga dugaannya meleset.


Tapi melihat dari Padma yang hanya diam, menurut, berbeda sekali saat beberapa hari ini ia mengelendoti lengan suaminya. Dengan penuh percaya diri menantangnya dengan dandanan juga pakaian yang ia kenakan. Dan sekarang menatapnya saja wanita itu takut.


"Iya adikku, kangen juga abang berduaan sama kamu, kita buat Brother Sister time, Oke, Saya permisi dulu, Om, Tante, orang tua saya, sudah menunggu, terima kasih dan maaf mengganggu makan siangnya. " Davis pamit setelah membuat Raka kembali dibenci.


"Makan yang banyak, abang mau ponakan abang sehat" Davis mengusap sayang kepala Rena.


Tatapan Nami kembali menajam padanya. Wanita itu semakin tidak suka pada Raka. Perjuangannya akan panjang dan berliku sepertinya.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2