
Raka mengusap wajahnya kasar. Ia tidak bisa tidur. Tidak bisa jika ia tidak mencium aroma Rena. Ini terjadi setelah mereka menghabiskan malam bersama.
Ia tidak menyadari saat matanya tidak bisa terpejam tidur di ruang kerjanya di rumah. Biasanya ia bisa tidur dimana saja. Saat ia coba untuk ke kamar, berbaring dengan
Rena yang sudah terlelap, aroma wanita itu mengelilingi kamar tidurnya, dan dalam itungan detik, kantuk itu membawanya kealam mimpi. Entah sejak kapan ia perlu menghirup aroma Rena untuk tidur. Yang tidak Rena tahu Raka mengambil kaos bekas Rena dan dibawanya kemana-mana.
Raka memijat kepalanya. Pikirannya dipenuhi Rena. Kemana wanita itu pergi. Juga sengaja ia tidak membawa kaos Rena. Dan sekarang ia merasa sengsara.
Apa ia … ? Tidak!
Selalu penolakan. Sebanyak apapun hatinya bergejolak untuk Rena. Ia tetap menolak. Surat cerai yang Rena kirimkan padanya berakhir menjadi sobekan kecil dalam lacinya.
Seminggu di amerika berjalan bergitu cepat. Raka sudah kembali ke Doha. Pikiran kepada Rena tidak sedikitpun menghilang. Belum lagi entah mengapa ia merasa tidak enak badan, lemas dan mual.
Dan saat ini ia ingin sekali makan di warung indonesia. Disinilah dia. Raka memesan bakso. Ia menuangkan sambal. Dan menyantapnya. Sebenarnya saat di Amerika, Raka susah makan. Karena apapun yang ia telan akan segera keluar lagi.
Tapi saat makan bakso ini, yang ada ia makan dengan lahap. Sekembalinya ini makan pertama yang tidak ia muntahkan.
Apalagi ia tambah kucuran lemon didalamnya. Menjadi lebih menyegarkan. Raka pun memesan rujak buah. Rasa mangga muda yang asam membuatnya suka. Ia membeli 3 porsi. Dulu ia tak suka sesuatu yang terlalu asam.
Raka pun dibuat bingung oleh dirinya sendiri. Hidupnya tatap saja hampa. Ia pun kembali mencari keberadaan Rena. Ia sudah tidak lagi peduli dengan perasaan marahnya.
Apalagi Citra mendorongnya dan mengatainya bodoh. Kalau Raka melepaskan istrinya itu. Citra adalah temannya. Yang hamil dan ditinggal oleh bapak si anak.
Kusut dan tak terawatnya Raka membuat wanita itu bertanya. Kenapa gerangan si flamboyan menjadi seperti mayat hidup. Jika semua anggota keluarga dan Padma akan terus menekan untuk Raka menceraikan Rena.
Berbeda dengan Citra, ia menjadi pendengar yang baik. Ia sangat berterima kasih Raka telah menampung juga memperhatikannya saat hamil tua ini. Malah Citra merasa Padma lebih aneh. Sudah tahu Raka, suami orang tapi kelakuannya sangat pelakor sekali.
"Aku bawa rujak." Seru Raka saat datang ke panti miliknya.
"Rujak? Apa itu?" Si ibu hamil tua itu menghampiri dengan susah payah.
"Cobalah ini tidak terlalu pedas."
Citra duduk di meja makan, Raka membuka kotak dan terlihat potongan buah didalamnya.
"Raka aku tidak suka buah, kau tahu itu kan" rengek manja Citra.
"Jangan dulu merengek, kau harus coba. Ini cocok dengan ibu hamil,"
Raka ingat penjabaran rujak yang Rena katakan dulu, jika orang hamil akan mengidam, salah satu makanan ngidam orang hamil adalah rujak.
Raka kembali mengingat Rena.
"Ini rasanya asam, manis dan sedikit pedas, ini cocolan gula merah dan kacang"
Citra agaknya malas mencoba. "Coba dulu!" Perintahnya mutlak.
Citra mengambil garpu dan mulai menusuk salah satu buah, bengkoang, ia mencicipi buah itu tidak ada rasanya. Lalu ia mencocol pada gula merah. Lumayan.
Lalu menusuk mangga muda. Asam. Saat dicocol rasanya menjadi manis asam, "Hmn ini enak" ucap Citra.
__ADS_1
"Apa aku bilang, habiskan" ujar Raka yang menyodorkan kotak itu pada Citra. Citar kembali menusuk nanas rasa asam manis segar penuh air, sangat enak dicampur dengan gula merahnya.
"Ini favorit" ucapnya
"Tuan Raka ada tamu, di ruang tamu" salah satu pekerja masuk, lalu pamit.
"Habiskan aku akan menemuinya" Raka menepuk kepala Citra yang sibuk menguyah entah buah apa ia tidak tahu.
Raka membuka ruang tamu. Disana oa melihat sosok yang familiar. "Eyang Doroty?" Raka dibuat terkejut. Sang Eyang menyambanginya tanpa kabar.
"Eyang kapan datang kok nggak ngabarin Raka?"
"Apa eyang harus melapor dulu jika ingin bertemu cucu eyang."
Eyang Doroty, adalah ibu angkat dari Andruw, paman Raka. Wanita kebangsaan Indonesia ini yang merawat pamannya saat ibu Raka harus ke Doha dan tidak bisa membawa Andruw.
Ibu Raka orang kebangsaan Amerika yang bertemu Ayah Raka orang kebangsaan Timur Tengah. Mereka menikah dan memboyong keluarga kecilnya. Kehidupannya belum stabil dalam keuangan. Makanya Andruw ia titipkan pada Eyang Doroty.
Wanita tua kaya baik hati tetangga mereka di Amerika. Ia janda tanpa anak, Setelah suaminya tiada, Andruw yang menjalankan perusahaannya hingga menjadi lebih besar. Belum lagi peran Raka. Perusahaan yang tadinya kecil dan hanya lingkup Amerika.
Berkembang melebarkan sayap memasuki rana benua Asia juga.
"Apa benar kami sudah menikah?" Tanya Doroty langsung tanpa basa basi. Raka mengangguk.
"Bawa eyang ke istrimu itu" ucap Doroty yang membuat Raka gelagapan.
"Kenapa? Kalian bertengkar? Itu kenapa kamu kemarin pulang ke tempat pamanmu?" Tidak salah menebak. Wanita tua itu lebih berpengalaman jadi sekali melihat ia bisa tahu ada masalah yang Raka tutupi.
"Yah—"
Jika saja ia belum mendekati hari lahir sang calon anaknya, sudah pasti ia akan menolong Raka mencari istrinya.
"Siapa kamu?" Sorot tajam menyelidiki Doroty arahkan pada Citra.
"Ah, maaf saya tidak sopan, perkenalkan saya Citra, teman Raka yang ditampung di panti ini"
"Raka membantu menjaga kandungan saya yang akan lahir sebentar lagi. Ayah dari bayi saya mencampakan saya,"
Citra menceritakan semua nya tanpa ia tutupi. Doroty mengangguk.
"Istri kamu kabur?"
"Yah" jawab Raka malas.
"Kenapa? Kamu kdrt? Kamu selingkuh?"
Raka menggeleng, "Tapi dia tahu jika Raka sudah menyiapkan surat cerai untuknya, yang sudah Raka tanda tangani." Ya itu yang Raka tahu alasan Rena meninggalkannya.
"Apa maksudmu? Kau nikah dengan perjanjian?"
"Ya seperti itu" Doroty dibuat geram oleh cucunya itu.
__ADS_1
"Jelaskan! Raka!"
Mengalirlah cerita Raka tentang perjanjian dengan orang tua Rena dan tentang lainnya, mereka menikah tanpa cinta hanya tertarik.
"Oke, Eyang pulang dulu" Raka hanya bisa melongo saat Doroty pamit pulang setelah mendengar ceritanya.
"Jaga Citra, Hplmu kapan cantik" Doroty bisa melihat kebaikan dari wanita hamil itu.
"Kira-kira dua minggu lagi Nyonya"
"Jangan panggil nyonya, panggil eyang saja"
"Oh oke, yang"
Doroty meraih tasnya dan siap beranjak dari tempatnya.
"Eyang beneran pulang?" Tanya Raka. "Iya kerjaan Yang masih banyak, kamu bertambah kurus, jaga kesehatan jangan ambruk, temukan istrimu dan bawa ke eyang segera!" Ultimatum Doroty.
"Nyonya" Herman sudah menunggunya didepan pintu. Doroty mengangguk
"Eyang pulang ya" pamit Doroty sebelum masuk mobil.
Doroty duduk di belakang. Mobil melaju menjauhi panti.
"Bagaimana Herman kau telah menemukannya?"
"Sudah, Nyonya, benar kata Nyonya, sedang mengandung" ucap Herman.
"Bawa aku kesana secepatnya Herman, aku tidak ingin istri cucu dan cicitku terlantar"
"Tidak Nyonya ia dalam perlindungan keluarga Ibrahim"
"Keluarga Ibrahim? Ibrahim Corp?"
"Benar Nyonya"
"Pantas saja cucu nakalku tidak bisa menemukan keberadaan sang istri"
"Siapa sebenarnya Rena ini?" Tanya Doroty penasaran.
"Semuanya sudah saya rangkum di amplop coklat di samping Nyonya"
Doroty meraih amplop itu membuka, dan membaca semua berkas dengan alis yang naik keatas.
Wanita tua itu menganggukan kepalanya. Wajahnya berbinar cerah, senyumannya mengembang. Namun ada satu yang membuatnya mengerutkan alis.
"Cucuku memang bandel, kerja bagus Herman, aku jadi semakin tidak sabar bertemu dengan mantu cucuku" Ucap Doroty setelah membaca semuanya.
"Saya sudah menyiapkan semuanya, kita akan pergi besok pukul delapan nyonya. Dengan Siwa juga"
"Atur semuannya,"
__ADS_1
Doroty memejamkan matanya. Lelah. Umurnya tidak muda lagi dan harus menyelesaikan masalah yang cucunya buat. Ia sudah terlalu tua, tapi demi cicit yang sedang dikandung cucu mantu. Ia rela. Mungkin ia akan memberi sedikit pelajaran untuk cucunya yang bandel.
Bersambung ...