
"Raka ini tolong resletingnya" Rena mendatangi Raka di ruang makan rumah Eyang Doroty. Disana bukan hanya ada Raka tapi juga ada, Herman dan Siwa.
Didepan Raka ada punggung putih bersih milik Rena yang sudah lama tidak ia sentuh, nyaris setengah tahun. Usia kehamilan Rena memasuki usia 6 bulan.
Mereka memang tinggal bersama, namun dalam gencatan senjata. Jadi Raka hanya boleh menemani Rena. Tanpa skinship selain Rena yang memintanya.
"Sayang kok keluar kayak gini kamunya, disini ada Pak Herman dan Siwa lho" uvap Raka.
"Aku kan nggak bisa resletingin sendiri," rajuk Rena.
"Cepet makanya" Raka mencoba menutup resletingnya.
"Sayang kayaknya ini kekecilan" Hermanndaj Siwa saling pandang dan menggeleng kepala.
"Maksud kamu aku gendutan gitu?"
"Hah? Aku nggak bilang gitu"
"Iya tadi bilang kalau bajuku kekecilan. Jadi aku membesar? Memngembang? Membengkak? Iya?"
"Eng-nggak sayang kamu sehat"
"Sehat identik dengan badan yang gempal. Jadi bener aku gendutan!"
Mata Rena berkaca, tak lama Rena kabur masuk ke kamar, ia kunci dan menangis.
Herman dan Siwa juga tidak mengerti. Sebegitu menyeramkan mood ibu hamil.
"Sayang, buka dong, katanya mau SunMoRi, ayo keburu siang nanti jadinya SunAfteRi."
Klek!
"Ayo aku sudah siap?" Ia melihat Rena dengan mengenakan tanktop rumbai dan jaket kulit hitam, ia menggunakan celana longgar juga sepatu boots hitam. Kacamata hitam bertengger di hidungnya.
"Kamu belum siap?"
"Eh, iya aku kekamar ambil jaket sama kacamata" ucap Raka. Ia bergegas ke masuk ke kamar samping kamar Rena.
"Ya udah aku tunggu dibawah." Rena melenggang ke ruang makan disana ada Doroty yang membuat cake.
Wangi pandan, vanila, juga jeruk bercampur mentega yang dipanggang suanggu wangi. "Mau bekal ya Eyang"
"Boleh, kalian mau kemana pagi-pagi gini?" Tanya Doroty.
"Mau SunMoRi" Rena sudah melahap satu potong cake lembut. Ia meraih satu cake lagi Aroma jeruk menyeruak.
"Kemana?" Tangan tuanya mengaduk adonan ke delapannya. Meraih satu cetakan yang sudah diolesi carlo. Campuran minyak dan tepung untuk mengolesi loyang agar pinggiran cake tidak gosong.
Juga dialasi dengan baking paper. Agar gampang untuk lepaskan cake dari cetakan.
"Ayo kita mau ke arah bandung Yang, ini helm mu" Raka menyerahkan pada Rena yang sedang mengunyah dengan lahap cakenya.
"Kamu tahu jalannya, kamu itu masih batu dan jangan sok tahu, walau mengandalkan goggle map"
"Kadang alat itu bisa menyasarkan pemakainya!" Doroty mengkhawatirkan cucu-cucunya apalagi Rena sedang hamil.
"Yaudah hati-hati" Oke Doroty mengalah.
__ADS_1
"Iya Eyang kami pergi dulu"
Rena siap dengan semuanya. Sudah mendekati lembang hujan lebat mengguyur deras. Mau tidak mau dengan cepat mereka menyudahi sunmori dan menginap disebuah hotel dengan kamar suit room. Kamar penuh karena memang high season.
"Mandilah dulu" Rena mengangguk. Ia dengan cepat madi dengan air hangat dan mengenakan bathrobe.
"Aku selesai" Rena keluar dengan rambut basah. Ia menuju lemari kaca yang menyekat kamar mandi dan wastafel. Ia melihat Raka sudah shirtless, punggung berotot itu begitu menggiurkan bagi Rena.
Rena membuang wajahnya. Membiarkan Raka melewatinya. "Aku minta sampo dan sabun mandimu" ucap Raka yang terdengar dekat dengan telinganya. Membuat tubuh Rena kaku.
"A-ada di-didalam" ucap Rena terbata, nafasnya memburu. Ia melipat bibir menggigitnya untuk menahan hasratnya terpompa karena Rena bisa merasakan hembusan nafas hangat Raka pada kupingnya.
Rena tidak berani menengok ke arah Raka. Sedikitpun. Rena segera melangkah saat kakinya bisa kembali ia gerakkan.
"Mandilah nanti kau sakit!" Ucap Rena menjauhi Raka. Ia mendengar Raka yang terkekeh renyah.
Klek!
Rena menyenderkan dahinya pada lemari. Mengatur degup jantungnya yang melompat tidak karuan efek Raka mengerjainnya tadi.
Rena telah mengeringkan rambut, tubuhnya juga terasa hangat. Ia membuat teh hangat yang disediakan oleh pihak hotel.
Teh tarik kemasan. Not bad.
Ia menyesap, Rena bisa merasakan aliran hangat menjalari masuk ke dalam perutnya. Rena membuka tas punggung mungil dan mengeluarkan bekal cake dari Doroty.
Untung saja. Ada ini. Pikirnya. Rena melahap cake buatan Doroty dengan senyum mengembang. Ia tidak jadi menunggu Raka. Ia terlalu lapar.
Rena menunggu Raka, lelaki itu lama sekali berada didalam kamar mandi. Meninggalkan memo di dekat gelas dan teh kemasan. Juga cake buatan Doroty.
Rena berbaring di kasur. Menarik selimut. Dengan mengabari Doroty ia sedang di hotel karena tiba-tiba hujan deras. Jika hujan redah maka Rena akan pulang. Tak lama mengirimi pesan Rena tertidur.
Menatap Rena yang sudah bergelung di ranjang. Ia menghampiri telepon dan memesan makanan.
Ia menuju meja bar, Raka menemukan memo yang Rena tulis. Dan membuatnya. Raka merasakan aliran hangat masuk ke dalam perutnya.
Gigitan pertama cake begitu enak di mulutnya. Dan Raka memakan cake Doroty dengan lahap.
Ketukan terdengar. Makanan pesanannya datang. Dan penjemput laundry kotornya. "Sayang bangun yuk makan," Rena hanya bergumam namun bergelung lebih dalam masuk kedalam selimut.
"Kamu nggak lapar, yuk makan dulu aku sudah pesankan" ucap Raka yang sudah duduk disamping Rena. Raka membuka sedikit selimut. Menyampirkan rambut Rena yang menutupi wajahnya ke kupingnya.
Raka mengelus pipi Rena yang tembam. Menoel, menusuk, mencubit gemas. Raka menyurukkan wajahnya ke pipi Rena dan mengelus pipi istrinya dengan hidungnya.
Nafas hangat juga aroma mint bercampur wangi enak Rena lebih mendekatkan diri. Kesempatan Raka ikut bergelung. Rena semakin menempelkan diri. Bathrobenya melorot memperlihatkan sebagian aset itu.
Tidak tahan Raka mengecupi pundak mulus Rena. Menjalar ke rahang dan garis tulang selangkah disana Raka berdiam lama. Sebelum pikirannya makin tidak terkendali. Sudah.
Ia menutup pemandangan indah. Dan menarik Rena dalam dekapannya dan memeluk dengan erat. Tak lupa tangan mengelus perut Rena yang sudah terlihat besar.
Raka jadi ikut terlelap. Hujan deras dilembang ini awet. Hingga sore hari mereka tidak juga bangun.
Tengah malam Raka dibangunkan dengan suara yang memanggilnya.
"Kanapa sayang? Kamu sakit? Mana yang sakit" Raka bangun dengan cepat masih dalam keadaan belum sadar sepenuhnya. Ia terkejut Rena yang menangis.
Rena menggeleng. Tapi air matanya mengalir deras. Raka mengusap wajahnya kasar. Ia menyadarkan dirinya menyalakan lampu kamar lebih terang.
__ADS_1
Raka bersimpuh di samping ranjang. Memegang tangan Rena yang masih sesenggukan dengan isakkan kencang.
"Ada apa? Mana yang sakit? Anak kita tak apa kan?" Jawaban dari pertanyaan Raka adalah gelengan yang membuatnya sedikit frustasi.
"Udah sayang, jangan nangis ya," Raka sudah naik keranjang dan memeluknya Rena erat.
"Aku mimpi kamu ninggalin aku dan anak kita" kembali tangisan itu menjadi menyesakkan untuk Rena maupun Raka.
"Aku nggak akan pernah ninggalin kamu, aku cinta kamu, aku akan bersama dengan kalian selamanya" ucap Raka mengeratkan pelukannya.
Tidak Rena tidak akan perna mau kehilangan Raka. Rasanya mimpinya itu sungguh nyata. Raka berpaling berjalan menjauh setelah mereka seharian bermain layangan bersama di taman.
Lalu tiba-tiba Raka meninggalkannya di lapangan luas. Rena memanggilnya berkali-kali lelaki itu tidak mendengarkannya hingga tubuh lelaki itu tidak lagi terlihat.
Rena berteriak kencang hingga suaranya habis tapi Raka tidak kembali. Rasanya sangat menyakitkan. Jantungnya seakan tertimpa batu besar. Sesak tapi tidak mau hilang walaupun Rena sudah berlari ke segala arah. Untuk mencari keberadaan Raka.
Lalu ia terbangun dalam keadaan menangis sesenggukkan memanggil nama Raka. Dan membangunkan Raka.
"Kamu juga janji ya jangan meninggalkan aku apapun yang terjadi, janji?"
Rena yang menagis didada Raka mengangguk. Raka mengangkat kelingkingnya. Dan Rena menautkannya. Dan Raka mencium tautan jemari itu.
Apakah ini tanda Rena menerimanya kembali?
Raka membersihkan air mata pada wajah Rena. Pandangan kedua nya terkunci lama satu dengan yang lain.
Tanpa siapa yang memulai bibir mereka menempel dengan sempurna. Lama dengan gerakan lambat. Yang semakin lama semakin menuntut.
Raka melepaskan pagutannya. Menangkup wajah Rena mengecup dahi, mata kiri, mata kanan, mendekatkan hidungnya pada hidung Rena. Mengecupnya. Kembali kecupannya berlari pada kedua pipi menjalar ke garis leher, Raka masuk ke curuk leher berlama mengecupi leher yang membuat Rena mengerang keras.
Mata sayu kedua manusia itu bertabrakan Raka memagut keras bibir leha yang tampak menggiurkan.
Kembali mereka bercium liar seakan tidak ada lagi hari esok.
Tangan Raka meremas benda kenyal milik Rena. Membuat wanitanya itu mengerang. Gairah mengitari keduanya. Suasana semakin memanas. Keringat membasahi dahi keduanya.
Bibir Rena membengkak merah. Kembali tangan Raka meremas gundukan saat ia ingin memasukkan tangannya kedalam suara perut Rena terdengar nyaring.
Raka membatu di atas Rena. "Aku lapar" Rena nyengir lalu menggigit bibirnya. Gemas Raka me ***** bibir bawah Rena menggigit pelan dan menariknya.
Sensasi yang membuat mata Rena sayu. "Kamu perlu makan" Raka beranjak dan melangkah ke arah kulkas. Mata sayu Rena mengikuti Raka. Ia ingin lebih tapi benar Rena perlu makan. Lelaki itu mengeluarkan piring penuh dengan makanan.
Menyalakan microwave dan memanaskan makanannya satu per satu. Rena berada di kamar mandi, membasuh wajahnya. Agar kantuk juga gairahnya turun.
Tak lama Rena keluar kamar mandi dengan makanan tersaji di depannya. Perutnya kembali berbunyi. Aroma masakan menguar lezat.
Raka membuka balkon hotel, menarik kain gorden tipis untuk menutupnya. Angin segar masuk kedalam kamar hotel menerbangkan gorden tipis itu.
"Makan sayang"
Raka membukakan botol air mineral dingin. Rena menguknya. Dan mulai memakan makanannya. Raka mengulurkan tangannya. Mengelus perut Rena.
"Maaf ya jagoan ayah lupa kamu dan mamamu belum makan dari siang."
Rena memundurkan tubuhnya membiarkan raka mengelus perutnya. Tangan Rena ditumpuk di atas tangan Raka yang bergerak di perut Rena.
"Sayang Ayah dan Ibuk sayang kamu" ini Rena yang berbicara. Rasa hangat dan bahagia membuncang dalam hati Raka. Begini rasanya kebahagian lengkap itu.
__ADS_1
Bersambung ...