
Raka berkutat dengan banyaknya laporan. Ponselnya kembali berdering. Melihat siapa yang menghubungi, ia hanya melirik sekilas dengan tampang datarnya.
"Makan siang?"
Senyuman hangat wanita yang baru muncul itu mengalihkan pikirannya dari si penelpon. Menghela nafasnya. Raka beranjak dari kursi kebesarannya. Menuju sofa yang ada ditengah ruangan menarik jas yang tersampir di kepala sofa.
"Mau makan dimana?"
"Kamu mau makan apa?"
"Pasta?"
"Boleh, setelah itu aku mau langsung ke tempat Miss Colton. Sekalian nginep disana, kamu juga kan? Inget ini ulang tahun Sisil,"
Ia kembali menghela nafasnya. "Untung kamu ingetin." Raka mengulurkan tangannya dan mengelus rambut wanita itu.
Perusahaan Raka memang dibawah perusahan Lewi milik Isak. Tapi mereka masih dalam satu garis yang sama.
Sepanjang koridor banyak pegawai yang memberi hormat pada Raka. Padma berjalan disebelah Raka. Mereka pasangan idola di perusahaan ini.
Sangat serasi. Cantik dan tampan. Pintar, cerdas, saling melengkapi satu dengan yang lain, para pegawai menunggu idolanya ini untuk melanjutkan ke jenjang selanjutnya.
"Jadi bagaimana dengan Orang tua Isak yang memergoki kita?" Padma menarik sealbeltnya.
"Mereka tidak akan merecoki masalah seperti itu" jawab Raka.
"Tapi kamu dengarkan bagaimana mereka memperingatimu dengan halus saat di pesta kemarin?"
"Kau tenang aja, semua berjalan sesuai keinginan, jangan khawatir" Raka menarik perseneling dan memutar kemudinya ia keluar dari parkiran dan meluncur ke tempat makan tujuan mereka.
***
"Terima kasih traktirannya, sering-sering ya" Yosi, teman kantor Rena. "Maumu!" Peter, asisten Ibrahim.
"Makasih ya Pete, kau memang luar biasa" ucap Rena.
"Kalian ini kalau masalah ditraktir saja jadi semanis ini" kesal Peter. Lelaki melambai dan baik hati ini memang sangat royal.jika memiliki banyak uang. Uang bonus miliknya telah cair.
Jangan ditanya jika akhir bulan dan pundi-pundi miliknya menipis. Jangan harap kau bisa menikmati makan gratis seperti ini. Memotong sedikit rotinya saja ia akan mengamuk layaknya reog.
Mereka selesai makan siang. Dan dengan tampang macam sultan jejadian Peter mengulurkan tangannya dengan kartu ditangannya pada kasir. Yosi mencibir kelakuan Peter sedangkan Rena hanya terkekeh.
Kling!
"Selamat datang, dengan berapa orang?"
__ADS_1
"Dua orang atas nama Raka Delino"
Mendengar nama suaminya disebut oleh suara yang cukup lembut sontak mata Rena mendongak. Ia menemukan suaminya berada di depannya, yang hingga kini tak memberinya kabar.
Dan menemukan di sini, restoran pasta dengan sekretarisnya. Mata keduanya bertatapan. Tak lama. Rena membuang tatapannya pada kedua temannya yang memanggilnya.
Keduannya telah berada diluar restoran, telah melewati Raka dan sekretarisnya. Yosi menatap bingung pada Rena yang tak kunjung keluar. Sedangkan Peter melihat ke arah tatapan Rena sebelumnya. Raka.
Layaknya lelaki, ia kembali masuk dan menarik tangan Rena yang susah sekali digerakkan. Terlalu terkejut. Terima kasih pada Peter. Kaki Rena seakan bisa kembali digerakkan. Rena menatap punggung Peter. Tak mengindahkan Raka yang ia lewati.
Greb!
Raka mencengkram lengan tangan Rena. Rena menatap Raka dengan wajah dingin.
"Ikut aku!" Raka menarik Rena namun yang ditarik tak bergeming. Raka menengok ke Rena yang tak lagi menatapnya. Rena mencengkram erat tangan Peter.
"Lepas tangan Rena!" Peter berbicara dengan nada keras. Raka dengan cepat merangsek pada Peter.
"Kamu yang lepas!" Dengan sekali gerak. Tangan Peter terlepas dari tangan Rena. Tanpa lagi ada drama. Raka menyeret Rena keluar restoran.
"Padma kamu bisa naik taksikan?" Sebelum keluar restoran Raka menghampiri Padma. Wanita itu mengangguk. Ia melihat tatapan Rena yang tajam padanya.
"Lepas!"
Rena mengelus tangannya yang memerah akibat genggaman tangan Rak yang terlampau kuat. Rena meringis. Nyeri.
Raka melajukan mobilnya. "Pakai sabuk pengamanmu!" Ucapnya dengan nada tinggi.
Kenapa jadi dia yang marah!
Tampang Rena bertambah keruh. Amarah, kesal, sedih dan rasa curiga menggerogoti pikiran Rena.
Rena tidak mendengar perintah Raka. Dengan kasar lelaki itu meminggirkan mobilnya.
Bruk!
"Aark … " Rena terpekik. Tubuhnya menghantam pintu cukup keras.
"Kamu kenapa sih! Mau membunuhku!" Teriak kasar Rena. Sikunya sakit. Ia menatap nyalang Raka.
"Makanya dengarkan aku! Aku menyuruhmu menggunakan sabuk pengaman. Aku tidak ingin ditilang!" Ucap dingin Raka.
Tatapan Rena tak lepas dari Raka. Siapa sebenarnya suaminya ini. Mengapa sangat berubah. Kemana Raka yang dulu ia kenal, hangat, humoris dan sangat penyayang.
Apa selama ini ia telah dibohongi? Tapi untuk apa?
__ADS_1
"Cepat" desis Raka tak sabar. Lelaki itu menarik kasar tali sabuk pengaman Rena dan menguncinya.
Mereka kembali berkendara dalam hening. Rena diam. Otaknya berputar. Dengan banyaknya tanya. Ia merasakan kejanggalan ini sejak awal pernikahan.
Tapi Rena tidak terlalu peduli. Rena anggap Raka sedang lelah dengan perusahaannya. Lantas kini apa yang ia temukan sikap Raka yang dingin dan arogan.
"Kemana saja kau? Tidak ada kabar, Tidak bisa dihubungi, ternyata sedang makan siang dengan sekretarisnya"
"Sibuk" jawab acuh Raka.
"Seberapa sibuk hingga kau tidak bisa meluangkan waktumu semenit untuk memberikan kabar padaku"
Hening.
"Bodohnya aku, harusnya aku tidak secepat itu mengiyakan lamaranmu, janji yang kau miliki palsu!" Dengusan terdengar dari bibir Raka.
"Lalu kau dengan bebasnya makan siang dengan lelaki lain?" Balas Raka.
Tentu saja Rena tidak terima. Wajah wanita itu mengerut.
"Bukannya kau juga sama? Dia sekretaris atau jal angmu? Kau menikah denganku untuk menutupi hubungan entah apa dengan sekertarismu!"
"DIAM!" Bentak Raka.
Rena terkesiap. Ia terpaku menatap Raka tidak percaya. Matanya berembun.
Jangan menangis Rena.
"Sebenarnya buat apa kau mengajakku menikah, hei tuan Raka Delino! Mengapa tidak kau nikahi saja ja langmu itu!"
Rena mengeluarkan amplop coklat dengan menghamburkan isinya. Mereka telah berada di parkiran apartemen Raka.
"Aku diam bukannya tidak tahu, tapi aku hanya memberi kesempatan untuk kita, tapi aku salah."
Rena membuka pintu mobil Raka. Ia bergegas keluar dan menuju luar apartemen. Ia akan pulang ke apartemennya.l
Raka didalam mobil meraih satu kertas yang berhambur. Sebuah gambar dirinya dan Padma. Kebersamaan mereka. Keluar dari hotel. Bergandengan mesrah. Makan berdua. Datang ke pesta dengan mesrah. Berdansa.
Raka meremas foto itu menjadi tak berbentuk. Rahangnya mengeras. Ia murka. Siapa yang mengirimi Rena foto-fotonya.
"HAARRGH!" Teriaknya dalam mobil. Ia menggebrak kemudi beberapa kali hingga mobilnya berbunyi nyaring di pelataran parkir apartemen.
"Kau tidak akan bisa lepas dariku Rena!" Desis Raka berbahaya.
Bersambung ...
__ADS_1