
Hubungan Raka dan Rena menjadi semakin merenggang, apalagi adanya Kila, ponakan Raka. Belum lagi Kila selalu membawa Padma untuk menginap.
Rasanya memuakkan. Rena melenggang keluar, ia melirik sedikit. Ketiga orang itu sarapan tak mengindahkan Rena.
"Si nggak tahu diri, mau berangkat toh"
"Kil!"
"Ren, sarapan bareng," Rena bukan orang yang tenang, jika ada yang ingin mengajaknya ribut. Apalagi ia sangat muak dengan mulut si Ja blay itu.
"Pagi suami" ketiga mata itu menatap Rena. "Tadi siapa yang kamu sebut Nggak tahu diri? Padma, jangan dengirin Kila ya, dia memang masih labil"
"Sialaaan! Kau yang tak tahu diri! Perempuan busuk!" Kila sudah akan menyerang Rena. Namun Padma menahannya.
" Sebentar Kila, yang kamu katain nggak tahu diri itu aku? Nggak salah, aku istri sah Raka, Nggak tahu diri dimananya? Nah kalau itu buat Padma yang kamu katain nggak tahu diri, baru bener, disini dia siapa? Temen atau bawahan yang dianggap saudara?"
"Padma cepet tahu diri, kamu nggak malu, oh apa semua karyawanmu nggak ada etiketnya?" Rena terlalu muak. Ia tidak takut jika akan dicerai oleh Raka. Rena juga merasa perkawinan mereka ini tidak ada manfaatnya bagi dirinya.
Dengan awal Raka sudah ingin melayangkan tangannya padanya. Rena hilang respek.
"Etiket? Heh! Sampah, kau sendiri saja tidak beretiket." Kembali mulut Kila berbicara.
"Anak yang masih menadahkan tangan sama orang tua, lalu wanita si teman yang tinggal satu atap, lalu suami yang berkelakuan seenaknya, dimana kalian berkaca hingga mengataiku dengan entengnya?"
"Aku tidak pernah sedikitpun menggunakan uangmu Raka. Kau pasti tahu dari atm yang kau beri pasti tidak ada laporan uang keluar, karena aku masih bisa membiayai hidupku sendiri."
"Dari perusahaan orang tua?" Ejek Kila.
"Bocah selain kau sampah, benalu kau juga bodoh, sejak aku masih seumur kau aku kerja di perusahaan yang bukan milik orang tuaku, oh FYI aja" Rena dengan percaya diri membalikkan semuannya. Jangan meremehkan dirinya.
"Dan kau apa karena kau anak panti jadi layaknya benalu pada suami orang"
BRAK!
"Jangan Berlebihan!" suara tinggi dari sudut tempat Raka. Lelaki itu mentap lurus pasa Rena. Terlihat wajah Kila yang tersenyum senang.
"Apa Raka? Aku benarkan? Kita suami istri, dirumah ini aku bebas, aku nyonya sedang kedua orang ini? Hanya keponakan dan bawahan benalu"
"Atau kau tidak merasa Kila sengaja menjodohkanmu dengan Padma, atau memang di belakangku kau mendua dengan bawahanmu ini, lalu mengapa kau menikahiku?"
__ADS_1
"Apa yang kau sembunyikan?" Terlihat dari perubahan wajah ketiganya.
"Hah!" Helaan kasar Rena.
Tet!
"Lanjutkan saja rencana kalian, ya ya kalian ini korban dan aku tersangkanya, aku kekator dulu ya suami, itu sudah dijemput" Rena mencium pipi Raka. Pamit.
Melenggang meninggalkan drama dibelakangnya. Ia masih bisa mendengar makian dari Kila, Padma memang hanya diam tapi tangan gadis itu terkepal kuat. Drama.
Rena melambai pada Gani yang menjemputnya. Namun langkahnya berhenti ia merasakan tarikan kuat dari belakangnya.
"Siapa itu?" Geram dan berbisik, suara rendah juga menyiratkan kemarahan.
"Teman"
"Kau membalasku?"
"Membalas? Apa?"
"Jangan berkelit, kau membalas Padma dengan ini?"
"RENA!" cengkraman Raka menguat.
"Lepas! Aku akan bekerja, agar tidak menjadi benalu di rumahmu" ucapnya saat Rena memutar tubuhnya dan menatap tajam dan dekat dengan Raka.
"Suamiku, jangan cemburu, Gani hanya teman." Rena menjinjit dan mengecup yang berakhir dengan ciuman dalam dan lama. Rena ingin memperlihatkan pada kedua makhluk jahanam di dalam sana, sedangkan Raka ingin memperlihatkan pada lelaki yang Rena sebut 'teman' itu.
"Sampai ketemu nanti malam," Rena berbicara didepan bibir Raka. Wanita itu mengusap sisa lipstik di bibir suaminya.
Raka masih menatap Rena bak elang memburu targetnya. Hingga mobil yang ditumpangi Rena tak lagi terlihat lelaki itu mengusap kasar rambutnya.
Amarahnya sudah kembali keubun-ubun ini masih pagi. Perasaannya kacau. Siapa itu Gani, Rena berani sekali padanya.
"Kita tidak bisa diam saja," kedua wanita itu menatap Raka. Mereka takut Raka terpengaruh oleh Rena.
"Kita harus ingat kan pada Bang Raka, tujuan awalnya." Keduannya tahu Raka sedikit terpengaruh. Namun mereka percaya rasa benci Raka pada Rena lebih besar.
"Lalu bagaimana denganmu, kakak wanita itu? Aku lihat dia semakin bucin padamu?" Sudut bibir Padma menjawab pertanyaan Kila.
__ADS_1
"Begini dulu, nanti lihat perkembangannya."
***
Raka selalu mengirimkan pesan dan juga banyak telepon Raka yang ia abaikan. Rena kembali lembur. Karena menghabiskan sisa hari di rumah Raka sangat menyesakkan.
Sakit hati. Dengan peelakuan Rak yang tidak membelanya saat keponakannya itu mengatai dirinya.
Dari situ sudah terlihat jika ada alasan lain saat Raka menikahinya. Dan Rena ingin tahu alasan dibalik itu. Makanya ia bertahan.
Gani menelponnya. Tadi pagi ia telah menegaskan hubungan keduannya. Jika hanya teman dan tidak lebih.
Untuk antar jemput, mangantar makanan juga menunggunya bekerja. Itu terlalu berlebihan untuk seorang teman. Rena menolaknya secara halus.
Rena pun mengabaikan panggilan dan pesan dari Gani.
"Kamu masih disini?"
"Lho Bang, ada punya Pak Bos yang ketinggalan?" Tanya Rena, tak biasanya Isak kekantor Ibrahim jika jam-jam segini.
"Bukan ada teman yang memintaku memantau istrinya yang lembur" ucap Isak yang Rena langsung paham.
"Kenapa kalian berantem?" Rena membuang nafas berat.
"Kamu sudah makan?" Isak menawarkan Rena malam malam.
"Sudahi lembur mu, kita makan malam, di Warung indonesia, bakso iga super pedas?" Senyuman Isak melebar dengan alis yang ia mainkan keatas kabawah.
"Sama sate padang dan es jelly medan."
"Kau mau merampok?"
"Iya sama sekalian jajanan pasar, pas sekali setiap malam selasa begini akan ada pesta jajanan pasar, yuk, aku lapar"
Rena sudah mematikan komputernya, ia menarik tangan Isak. Di lobby ada dua lalaki yang menunggu Rena di tempat yang berbeda.
Yang satu menatap penuh kelegaan, yang satu menatap penuh kecemburuan, bahkan ketika Rena dan Isak telah meninggalkan Ibrahim Corp.
"Haargh!" Teriaknya, Lelaki itu mengacak rambutnya dan menggebrak setir berkali-kali hingga pergelangan tangannya memerah.
__ADS_1
Bersambung ...