
Rena terbangun dengan termenung. Ia segera mandi dan keluar kamar. Secepatnya ia ingin pergi dari negara ini. Ia harus berbicara dengan Isak.
"Sarapan" Isak duduk di meja makan. Menanti Rena.
"Aku ikut denganmu, Bang" tidak lagi ada basa basi. Isak menatap Rena. Wanita itu bahkan belum duduk.
"Duduk dulu kita sarapan, setelah sarapan kita bahas lagi"
Rena menurut. Ia tidak ingin jatuh sakit. Hening. Isak menatap Rena. Wanita itu mengeratkan bibirnya saat Isak menyinggung Raka.
"Kemarin Raka menyuruhku untuk menemuimu"
"Bang bawa aku ke Indonesia" ucap Rena.
"Kenapa harus membawamu ke Indonesia?"
Isak menanyakan. Kembali Rena mengeratkan bibirnya. Apa yang akan ia keluarkan itu sangat menyakitkan.
Menjelaskan masalah pernikahannya juga akan menjelaskan tentang ketidak inginnya ia berumah tangga sebelum ini.
"Pernikahan inj hanya kedok dari orang tuaku menjual diriku untuk melunasi hutang perusahaan Joel"
"Entah apa yang didapat Raka dari menikahiku, akupun tidak tahu, tapi aku sudah tidak mau melanjutkan pernikahan ini"
"Dari awal aku tidak ada niatan untuk menikah. Tapi aku ingin memiliki keluarga hangat saja, tanpa menikah. Lalu Raka datang dengan iming-iming jika dengannya aku akan memiliki keluarga hangat. Aku pun menerima tawarannya."
"Namun aku salah, bodohnya kau percaya. Ternyata dia sudah memiliki hubungan dengan asistennya, pantas saja saat nikah keluarganya tidak ada yang datang, dan dia telah menyiapkan surat cerai yang aku bawa"
"Jadi semua yang ia ucapkan hanya kebohongan, bawa aku pergi dari semua ini" Tatapan Isak ikut menajam ia tidak tahu ternyata selama ini ia tak begitu tahu sifat asli sahabatnya.
"Baiklah, abang lihat juga persiapanmu sudah matang sekali. Lalu bagaimana dengan keluargamu?"
"Aku tidak tahu, mereka selama ini mereka juga tidak menganggapku ada, sakit bang, juga menjual ku demi harta, maaf aku sudah sampai di ujung kesabaranku"
Air mata itu kembali meleleh. Rena pikir air matanya sudah habis ternyata tidak. Nafasnya tersegal.
Kali ini ia akan menghilang selamanya. Tidak tahu kapan, "Aku juga ingin mencari sodaraku, Kau tahu kan bang kalau ibuku adalah orang asia, Indonesia tepatnya, aku ingin mencari tahu mengapa ibuku itu enggan sekali kembali ke sana."
__ADS_1
"Padahal aku memiliki kenangan yang menyenangkan, aku ingin mencari tahu." Ini adalah rencana yang memerlukan waktu itu.
Willa orang indonesia, dulu saat kecil keluarga mereka pernah tinggal di sana. Hingga usia Rena menginjak 10 tahun, mereka pindah permanen ke Doha.
Troy sedari awal tinggal dan memiliki perusahaan di Doha, Willa dan Troy sering bolak-balik Doha-Indonesia. Bahkan Rena sering ditinggal di Indonesia. Sedangkan Davis selalu dibawa kemanapun orang tuanya pergi.
Makanya saat ia pindah ke Doha. Kesepian juga merasa dianaktirikan. Ia berjanji akan kembali ke indonesia suatu saat nanti.
***
Seminggu setelah kekacauan, Nami dan Ibrahim ikut terkejut. Berita keluarnya Rena. Awalnya wanita itu tidak ingin memberitahu siapapun, namun Nami membuatnya tak enak. Wanita paruh baya yang sudah dianggap ibu itu, ia sangat mengkhawatirkan dirinya.
Jadi yang tahu kepergiannya adalah adalah keluarga Ibrahim. Davis sang kakak tidak ia beritahu tapi Rena telah mengirimkan pesan untuk berhati-hati dengan Padma.
Davis mana mendengar. Ia bebal. Dan tidak mengindahkan peringatan, ia masih mengejar Padma.
Menegaskan pada dirinya jika Padma tidak sejahat itu. Tetapi tak dipungkiri dalam dirinya ada ragu. Keputusannya, ia tetap mengejar Padma. Dan membuat wanita itu terbiasa dengannya.
Rena mengirimkan sesuatu dalam email yang tak pernah Davis buka. Sebuah bukti Padma tidak sebaik tampilannya.
Saat ini ia disibukkan oleh Citra. Seorang sahabat yang hamil besar sendirian. Rasa iba membawanya ke sebuah panti asuhan yang ia dirikan.
"Raka kau datang? Bisa kau elus perutku" tanya Citra. Disana Padma tidak pernah meninggalkan Raka berdua saja dengan Citra.
Padma merasa semakin lama Citra semakin melonjak. Seakan dia adalah pemilik panti. Jadi apa yang ia ingin harus ada. Padma mendapatkan laporan dari berbagai pekerja panti.
Padma sudah melaporkan pada Raka tapi respon Raka yang tidak membuat Padma senang. Biasanya Raka akan mendengarkan dirinya.
Padma hanya menatap interaksi dari kedua nya. Ia menahan kekesalannya sendiri. Pulang dari panti asuhan. Ia menelepon Davis. Lelaki manis yang akan mengabulkan apapun yang ia pinta.
"Davis, bisa temani aku?" Padma berucap lembut. Dari seberang terdengar suara bersemangat lelaki itu. Benar yang Padma duga. Davis dengan cepat mendatanginya di apartemen wanita itu.
Menenteng banyak makanan. Dan bahan masakan. Lelaki itu pasti akan memasakan sesuatu untuknya. Padma merasa hidupnya terisi.
Davis meletakkan apa yang ia bawa, namun pelukan dari belakang menghentikan gerakannya.
"Ada apa?"
__ADS_1
Davis membalik tubuhnya. Merengkuh tubuh kecil yang pas dalam pelukannya itu. Mengelus kepala dan mengeratkan pelukannya.
"Aku lelah."
"Berhenti sebentar kalau begitu, istirahatlah" Padma mengeratkan pelukannya. Padma wanita itu selalu mencari kesenangan dengan para lelaki. Ia merasa kesepian, apalagi dengan obsesi Raka pada Rena. Walau Padma secinta itu pada Raka. Ia pun merasa tidak cukup.
Namun Davis datang dengan ketulusan yang awalnya Padma anggap itu hanya sebuah lips servis playboy, namun hingga saat ini Davis tidak pernah sekalipun membawanya keranjang.
Mereka paling nakal hanya berciuman dan Davis berkata jika ia ingin menjaga. Yang awalnya Padma cibir. Padma terus saja menggoda Davis saat godaan nya tidak mempengaruhi lelaki itu. Padma menyebutnya pria membosankan.
Bukannya menjauh Davis semakin mendekat. Kenyataannya Padma merasa cukup jika ada Davis disampingnya.
Walau kedekatan itu tidak mengubah kebiasaan Padma untuk berganti lelaki setiap ia kesepian. Ya Padma adalah kebren gsekan wanita di bumi.
***
Raka kembali ke rumahnya. Tampak sepi. Kila sudah kembali ke Amerika, Padma kembali ke apartemennya. Raka disibukan oleh Citra yang semakin membuatnya susah.
Rumahnya tampak sepi. "Tuan ada surat" ucap salah satu pekerja dirumahnya. Sebuah amplop coklat dan familiar.
Jantungnya sesaat berhenti. Udara seakan menghilang. Entah mengapa tangannya ikut bergetar. Ia perlahan membukanya. Rasa penolakan dengan kemungkinan pikirannya benar.
Ia menarik kertas putih itu. Ia membaca. Benar ini miliknya tapi mengapa bisa dikirim padanya. Seingatnya amplop ini masih ada di atas meja kerjanya. Siaal!
Surat Cerai dengan tanda tangan Rena didalamnya.
Seketika ia butuh topangan. Ia meremas kertas yang telah ia siapkan itu. Namun bukan begini. Bukan dirinya yang terkejut hingga dadanya sesak dan susah bernafas. Tapi harusnya Rena yang terkejut.
"Siaal! Siaall! Bren gsek! Bren gsek! Siaalan!" Raka meraih ponselnya ia menghubungi Rena tapi tidak ada jawaban. Kakinya melangkah cepat melihat keadaan kamar wanita itu. Yang sebagian barang wanita itu punya lenyap.
Raka mengumpat keras. Membanting apapun yang ada di meja Rena. Amarah juga keterkejutan melingkupi dirinya. Bukan begini ending yang ia inginkan.
"Haargh!!" Geramnya menakutkan, Raka melempar sprei ranjang Rena. Ia melangkah besar ke ruang kerjanya. Disana ia tak menemukan amplop itu. Berarti Rena telah menemukan surat cerai yang ia siapkan dan kabur.
"Rena kamu tidak bisa kabur dariku!" Teriaknya Matanya memerah bergetar dan nyalang. Tangannya terkepal kuat. Tidak bisa! Ia tidak akan melepaskan Rena begitu saja.
Bersambung ...
__ADS_1