Dendam Sang CEO Tampan

Dendam Sang CEO Tampan
Bab 31. Menanggapi Serangan


__ADS_3

"Kamu datang?" Rena terlihat tenang. Ia mendekati keduanya. Rena berdiri di sebelah Raka dan menengok perlahan ke tempat sang suami.


Rena menyungging senyuman manisnya. Tak lupa mengulurkan tangan, membelai pelan wajah Raka. Tubuh Raka menegang sesaat, lalu lelaki itu memejamkan matanya merasakan kerinduan disana.


"Kamu kurusan, dan pucat, kamu sakit?" Rena melirik menjauh saat melihat Raka menikmati sentuhannya untuk mempertahankan kewarasannya.


Ia melepas kasar tangannya, namun menarik kepala Raka, Rena mendekatkan wajahnya. Menempelkan dahinya di dahi suaminya.


"Kamu demam?"


Kembali Raka memejamkan mata merasai panas nafas sang istri rasanya sudah lama, sangat lama. Rasa pulang. Mata Rena menyorot kesakitan untuk sesaat.


"Minta obat sama asistenmu ini!" Rena menunjuk Padma dan dengan cepat menjauhkan dahinya. Raka merasakan kehilangan.


"Aku permisi" Rena melangkah maju, mendekati Padma.


"Kau lihat tadi bagaimana dia sangat merindukan aku, si istri sah" bisik Rena pada Padma yang meradang mengepalkan tangannya hingga memutih.


Rena menegaskan walaupun Padma selingkuh dengan Raka tapi Rena masih berhak atas tubuh Raka.


Yang keluarganya, Padma dan Rena tidak tahu, Raka telah mendaftarkan pernikahannya di KUA. Mereka resmi suami istri, agama dan negara.


Rena melangkah panjang, ia melipir ke pinggir. Mengatur nafasnya yang sesak, berdekatan dengan Raka setelah lama sangat tidak baik untuk tubuhnya. Matanya mengembun.


"Makasih ya sudah kuat dengan Ibuk" Rena melipat bibirnya. Mengelus perutnya. Dan kembali ke tengah pesta.


Raka kembali ke dalam pesta. Tidak mau lagi Padma mengikutinya. Ia tidak mau Rena bertambah salah paham. Wanita itu menurut kali ini tanpa keras kepalanya dan Raka lega.


Pesta berlangsung. Sebuah kata penyambutan dari Isak. Tidak ada menyinggung tentang pernikahan, pertunangan, ataupun hubungan keduanya.


Yang ada Isak membahas tentang perusahaan yang Isak bangun ini, dan pesta peresmiannya. Apa ia salah baca undangan? Tidak mungkin jelas-jelas itu undangan pernikahan, ada nama Rena juga Isak.


Raka berbisik pada reka sebelahnya. "Bisa lihat undangan kalian?" 


"Ini"


Raka meraih kertas hijau lumut sama elegannya, namun ini undangan pesta biasa bukanlah undangan pernikahan.


Raka masih belum yakin. "Boleh lihat punyamu"  sebelahnya mengulurkan undangan padanya, sama, hijau lumut, undangan biasa.


"Ada apa Pak Raka?"

__ADS_1


"Ah tidak saya lupa membawa undangan saya" Hanya satu jawabannya. Isak sengaja. Lelaki itu membuat Raka tidak tenang. Siaal! Ia dibodohi.


Tapi mengapa ia malah lega tidak ada amarah mengamuk seperti saat membaca undangan pernikahan yang Isak beri.


Raka lega luar biasa, ia menyender ke kursi. Namun wajahnya semakin pucat, namun ada senyum bahagia mengembang.


"Pak Raka anda tak apa?" Rekan Raka merasa Raka tidak enak badan.


"Iya saya tidak apa,"


"Kalau begitu kami permisi,ingin berkeliling" ucap salah satu rekannya lagi.


"Silahkan, silahkan pak" Raka mengangkat sudut bibirnya.


Begitupun dengan Padma dengan sambutan juga peresmian tidak menyingging temtang pernikahan, ia ingat undangan milik Raka tidak seperti undangan yang ada di tangannya ini, warna lumut, sedangkan undangan Raka warna marun. Ujung bibir Padma naik pongah.


"Ternyata mereka melakukan hal memalukan seperti ini" wajahnya berubah menjadi lebih dingin. 


***


Rena masih berkeliling, Isak menyuruhnya untuk beristirahat, dan lebih memperhatikan kandungannya.


"Rena" suara wanita mendayu dikupingnya. Ia merasa jijik jika mengingat de sahannya di ruang kerja sang suami.


Mata Rena mengulir malas menatap Padma yang terlihat layaknya wanita malam itu.


"Kamu memang tidak tahu malu, memberikan undangan yang berbeda pada Raka"


Rena masih menyorot tajam pada Padma yang berdiri angkuh dengan melipat tangannya di dada.


"Cara yang licik untuk mendapatkan perhatian Raka! Memalukan!"


"Kau tahu kau hanya alat tukar bagi Raka? Tapi alat tukar yang tidak berharga, bahkan Raka tidak sudi memiliki anak denganmu, ia tidak mau ada darah Joel dalam darah manusia yang ia sebut anak." 


Tangan Rena mengepal kuat. Tanpa sadar ia mengelus perutnya dalam hati berkata, "Jangan dengarkan ya Nak, jika nanti Ayahmu tidak menganggapmu ada, Ibuk akan selalu menyayangimu selamanya"


Rena berusaha tenang menanggapi kegilaan Padma. Wanita itu semakin angkuh ada rasa marah didalam dirinya. Rena terlihat tenang dan tidak menanggapinya.


"Kau tidak lupakan, awal pernikahan apa yang Raka bawa padamu? Itu aku yang sarankan" ucapnya dengan tawa renyah.


Rena kembali memijat tungkainya, tak menghiraukan ucapan si lampir. Padam yang ia lihat lemah lembut ternyata begini sifat aslinya. Mimpi apa Raka akan berdampingan dengan salah satu demit ini.

__ADS_1


Kehamilan Rena memasuki bulan ke lima dan karena pakaian longgar yang ia kenakan perut buncitnya tidak terlihat. Sengaja Rena tutupi ia takut jika orang yang tidak mencelakai dirinya dan sang bayi.


"Tunggu saja Raka akan segera menceraikanmu!" Tidak mendapat tanggapan membuat Padma kesal sendiri.


"Padma, tolong titip, kau bilang pada Bosmu, jangan mengusir pengacara yang aku kirim, agar proses perceraian cepat, bilang juga jangan memperlambat!" Rena senyum manis tercetak dibibirnya.


Padma kembali dibuat murka, ia meninggalkan tepat Rena dengan menghentakkan kaki. Rena tidak bisa di tekan. Ia salah jika melakukan seperti cara yang Kila sarankan. Dasar bocah sialaan! Sarannya hanya membuatnya bertambah malu. Umpat Padma untuk kebodohan Kila yang ia lakukan.


Rena menyadarkan punggungnya pada kursi, sangat melelahkan berhadapan dengan dua orang saja. Gerombolan lelaki berdiri di sebelahnya.


"Hei kau tadi bersebelahan dengan Raka?" Mendengar nama suaminya disebut Rena menajamkan telinganya.


"Iya, kau merasa juga? Wajahnya pucat, apa dia sakit, kenapa juga dia datang ke pesta!"


"Kau, ini pesta sahabatnya, mau tak mau ia harus datang apapun yang terjadi"


"Halah, Pak Isak juga akan mengerti kalau dia tidak datang karena sakit,"


"Mungkin ia mau pamer sekretarisnya itu, padahal tidak ada yang istimewa,"


"Mereka pacaran, Raka selalu membawanya dan si sekertaris selalu menggandeng Raka dengan mesrah"


"Kau tahu darimana mereka pacaran, jangan buat gosip kau!"


"Benar jangan bergosip, Raka tidak pernah berucap mereka pacaran, hanya tersenyum begitu pun sekretarisnya saat istriku bertanya, ia menanggapi dengan senyuman saja" 


Status Padma sama dengannya, tidak diakui di publik, walau sudah sering digandeng.


"Yah Raka tidak pernah mengatakan dengan lantang, tapi kau tidak melihat gestur tubuh jika mereka memiliki hubungan"


"Ah sudahlah, biarkan saja, eh itu dia yang baru kita bicarakan sudah bermesraan aja disana" salah satu lelaki itu menunjuk dengan dagunya. Mau tak mau Rena yang sedari tadi menguping menatap tujuan pandangan gerombolan lelaki itu.


Padma yang menyentuh dahi Raka, dan ditepis begitu saja oleh Raka. Lalu Padma yang meninggalkan Raka dengan bersungut. Rena melihat nafas Raka yang tersengal.


Rena memanggil pelayan, lalu membisikkan  sesuatu. Pelayan itu mengangguk. Rena beranjak dari tempatnya. Hanya itu yang bisa ia lakukan untuk Raka.


Isak memberikan izin Rena untuk kembali ke kamarnya di hotel ini, ia menyusuri lorong hotel.


"Aaaaaargh" Pekik Rena terkejut. Saat melewati satu pintu, sebuah tangan menariknya masuk. Lalu mendekapnya dalam kegelapan.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2