
"Tidak! Kau tidak bisa pergi dariku!" Desisnya lagi.
Raka memutar kunci mobilnya. Ia harus mengejar Rena. Wanita itu harus kembali padanya. Ia tidak akan membiarkan wanita itu pergi.
Ia masuk dengan tergesah saat melihat tubuh sang istri sedang menunggu lift.
"Ren, Rena dengarkan aku, ini nggak seperti kayak apa yang kamu pikir." Raka menyentuh tangan Rena. Yang wanita itu kibas cepat. Rena tidak ingin Raka menyentuhnya.
"Ren, itu foto lama, kamu tidak mempercayaiku? Kamu lebih percaya dengan foto-foto yang memang tujuannya untuk memecah kita" ucapnya menggebu. Ada kesal, kemarahan dan sesal.
"Ka, lepas,"
"Kamu dengerin aku, please, Rena, kamu percaya aku, kamu ingatkan aku berjanji padamu untuk membuatmu percaya tentang pernikahan itu."
"Tapi kamu, Raka yang buat aku semakin tidak percaya"
"Kamu yang sering menghilang, juga kamu yang berubah, mungkin kita perlu waktu, aku rasa, bukan, bukan kita tapi aku, aku terlalu kaget dengan kehidupan setelah menikah"
"Tolong beri aku ruang" ucap Rena. Ia telah berada di de0an pintu kamar mereka.
Rena menutup pintu kamarnya. Tangisannya tidak lagi Rena hindarkan. Dadanya sesak. Ia tak begitu tahu tentang Raka rupanya. Selama ini ia hanya tahu jika Raka tertarik padanya. Dan tidak berpikir lelaki itu memiliki hubungan dengan yang lain.
Isak tak pula mengatakan apapun padanya. Jika setidaknya Raka adalah playboy tengik harusnya Isak memperingatinya bukan.
Rena menyusupkan kepalanya pada lututnya ia duduk disamping ranjang. Ia tak merasa bahwa Raka mengikutinya naik. Entah kemana lelaki itu. Mungkin saja ke tempat selingkuhannya.
Rena menangis dalam gelap hingga alam mimpi merengkuh dirinya.
***
Raka menghabiskan malam di sebuah klub. Ada Isak disana menatap temannya itu. Ia tak mengerti apa yang terjadi. Bahkan Nami wajahnya keruh saat Isak menyebut nama Raka.
"Kau bertengkar dengan Rena?" Raka hanya minum dan terus minum.
"Hei jangan lagi, kau sudah mabuk" Isak mengambil gelas dengan cairan berwarna kecoklatan, sekilas tampak seperti teh, namun ditempat ini siapa yang akan memilih meminum segelas teh.
"Berikan gelasku! Ah Rena, mengapa kau tidak mendengarku! Dasar bandel." Rancunya.
Isak menghela nafas panjang. Lebih baik ia mengantar Raka kembali ke Rena. Biarkan mereka menyelesaikan masalahnya sendiri.
"Pak Isak?" Sapanya. Ia melihat Raka yang terhuyun di papahan Isak.
"Pak Raka, ia mabuk?" Isak mengangguk, saat Isak ingin segera keluar dari sini. Wanita itu menghentikannya.
"Pak Isak biar Saya saja yang mengantar Pak Raka" ucapnya membuat kedua alis tebal Isak menyatu.
"Tak udah biar Saya saja Padma, lebih baik kau pulang, mungkin besok Raka akan terlambat ke kantor"
__ADS_1
Isak kembali memapah Raka keluar. Bukannya ia tak mau dengan bantuan Padma. Tapi biarlah dia yang mengantar dan membuat pasangan didepannya ini menyelesaikan masalahnya.
Setelah menekan bel ratusan kali akhirnya, wajah sembab Rena terlihat.
"Ini suamimu, dia minum hingga tak sadarkan diri. Sud … ugh … sudah kubilang berhenti tapi tetap saja bebal" omel Isak, ia menyeret susah payah tubuh Raka. Rena membantu, memapah dan meletakkan Raka pada ranjangnya.
"Aku tak tahu apa masalah kalian, tapi selesaikanlah. Aku pulang" ucap Isak dengan memutar lengan tangannya yang linu akibat membopong tubuh besar Raka.
"Makasih bang"
"Kalau kau perlu apapun, kau bisa menghubungiku," Isak keluar dari apartemen Raka.
Rena bergegas mengambil baskom dan kain. Mengisinya dengan air hangat. Membawanya ke kamar.
Ia berdiri menatap lurus-lurus Raka. Yang tertidur. Ia meletakkan baskom di atas makas dan mulai melepaskan kaos kaki, lalu kemeja, dan celana panjang menyisakan boxer.
Meninggalkan Raka ia beranjak ke lemari. Mengambil kaos oblong abu. Juga celana sweatpants.
Rena duduk ditepi ranjang, memeras kain dengan air hangat. Ia menyeka wajah, tangan juga tubuh Raka.
Raka menggeliat, ia meraih pinggang Rena menyurukkan kepalanya ke perut Rena.
"Maaf" ucapnya. Gerakan Rena terhenti untuk sesaat. Setelah mendengar deruan nafas teratur, Rena kembali menyeka tubuh Raka.
Rena ingin sekali berlari menjauh, berteriak cukup dalam hati tapi hati dan kelakuannya berbanding terbalik. Hatinya tidak membolehkan ia untuk kembali lemah, tapi tubuhnya bergerak sendiri tanpa diperintah.
Menghela nafas panjang Rena mengusap lembut rambut hitam tebal milik Raka. Tapi bukannya ia bertekad untuk mempertahankan pernikahan seumur jagungnya ini.
Jadi ya ia akan bertahan. Bertahan sampai lelah membuatnya berhenti.
***
Mata Raka terbuka. Ia menatap sekeliling. Kamarnya. Ia terbangun hanya dengan boxer saja. Yang ia ingat, ia minum dengan Isak. Untuk bisa sampai di apartemen dengan selamat ia tak ingat.
Raka melangkah ke kamar mandi. Membersihkan diri dari bau alkohol pada tubuhnya. Ia minum sebanyak apa, semalam?
Rak menuruni tangga. Dapurnya terdengar ramai. Dari susut pandang Rena ia tahu Raka telah rapi.
"Makanlah, dan jangan lupa minum ini, kau mabuk semalam Bang Isak mengantarmu pulang" ucap datar istrinya.
Raka menatap sang istri lamat-lamat. Rena mengangkat panci kecil dan meletakkan di dekat mangkuknya.
Rena menyiram benda putih dalam mangkuk dengan cairan kuning pekat, wangi menguar membuat perut Raka menjerit dan Rena yang mendengar menaikkan alisnya.
Raka tersenyum kikuk. Ia menggaruk rambut belakangnya. "Aku lapar" ucapnya lambat.
"Makanlah, kau mau kedelai?" Raka mengangguk.
__ADS_1
"Bawang goreng" kembali Raka mengangguk
"Daun bawang?" Lagi mengangguk.
"Sambal?"
"Sedikit" ucap Raka.
"Kecap?" Kembali Raka mengangguk.
"Ini telur, kerupuk, lemon, sam adaging ayamnya" Rena meletakkan semua komponen bubur soto di depan Raka. Agar lelaki itu meracik sendiri, bubur versinya namun Raka hanya mengangguk. Mereka saling menatap. Lama.
Rena menghela nafasnya, lalu masukkan semua komponen tanpa bertanya lagi.
"Makanlah" Raka mengangguk dengan senyuman lebar. Ia mengaduk buburnya. "Tambah kuah" ucap Raka.
Kuah segar dan hangat, sangat cocok untuk sarapan. Hangat makanan bisa Raka rasakan. Tubuhnya ikut menjadi hangat
"Mau kuah lagi?" Rena menawarkan dan bagai anak kecil yang ditawari permen, Raka mengangguk cepat.
"Tambah lemon" Rena mengucurkan lemon pada mangkuk Raka. Setelahnya hanya ada suara denting sendok bertemu dengan mangkuk dan kriuk kerupuk yang keduanya kunyah.
Raka kenyang. Namun ia tetap ditempatnya. Ran melirik suaminya itu. Ia tahu apa yang akan Raka ucapkan.
"Maaf" benar tebakannya. Permintaan maaf.
"Ada syaratnya" ucap Rena.
"Apa?"
"Bisa jujur padaku, aku tak suka dibohongi, dan utarakan dengan gamblang kemauanmu, bisa?"
Jeda. Lama.
"Bisa" Rena menarik sudut-sudut bibirnya. "Ini sudah siang kau tak kekantor?"
"Aku malas ke kantor, dirumah saja denganmu" Raka berjalan ke tempat Rena. Ia merengkuh tubuh istrinya.
Menciumi kepala Rena. "Apa, aku juga mau kerja"
"Yaudah kita berangkat bersama"
"Nggak ah aku bawa mobil sendiri saja, kau yakin bisa menjemputku?" Ada sindiran halus didalamnya.
"Bisa" Rena menelisik mata Raka. Mencari kebenarannya disana.
"Oke, aku ambil tas dulu" Ya, Rena memutuskan ia akan kembali berjuang dalam pernikahannya hingga lelahnya tidak lagi bisa ia tahan dan akhirnya menghilang. Kita lihat bagaimana kedepannya.
__ADS_1
Bersambung ...