
"Kak Soleeeenn" Rena memeluk perempuan dengan ikatan ekor kuda, ia mengenakan apron dengan logo makanan yang mereka pesan.
"Kamu ya tetep aja suka HERI. Heboh Sendiri" wanita itu menoyor sayang dahi Rena.
Rena ingin berkata kasar. "Jaga perkataan!" Ucap Davis yang tahu Rena akan mengumpat.
"Maaf ya bang, Ibuk kelepasan" Rena lembut mengusuk perutnya.
"Kamu hamil? Siapa yang menghamilimu?!" Pekik Solena Thahir. Alisnya menyatu berkerut tajam. Wanita mungil dengan rambut panjang yang dikuncir. Tetangga masa kecil mereka.
"Apasih cebooolll!"
Meraup wajah wanita itu dengan tampang datar.
"Daviiiisss!" Kesal Wanita itu.
Davis menahan kepala. Solen yang ingin memukulnya. Tapi karena tubuhnya lebih pendek dengan mudah Davis menahannya, tawa Davis mengelak. Rena melihat interaksi keduanya. Merasakan kenangan masa lalu ketiganya.
Mereka duduk bertiga, Solena memberitahukan tentang waralaba makanan yang sedang ia geluti saat ini.
"Gue pengen mandiri Vis" itu alasan wanita mungil di depannya.
Memang ia tidak bertumbuh tinggi tapi raut wajahnya, bertambah dewasa dengan garis rahang yang imut menggemaskan. Dengan pipi yang tembam. Tidak dipungkiri Davis terpesona.
Cinta pertama.
"Sayang maaf lama"
"Raka kan aku bilang kalau mau me brother time sama bang Davis! Kenapa sih bandel dateng."
Entah mengapa sejak Raka menyusulnya ke Doha. Setiap melihat wajah Raka bawaannya kesal, ingin marah tanpa sebab.
Lelaki itu hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Padahal ia ingin menghabiskan waktu lebih banyak bersama anak dan istrinya. Rena beranjakndari tempatnya dengan lanjkah yang menghentak kesal.
"Udah sana kejar" ucap Davis menggerakkan dagunya menunjuk tempat perginya Rena.
"Sayaaang, tunggu jangan cepat-cepat, nanti kamu tersandung, tunggu" ucap Raka ambil menunduk pamit pada Solena yang juga ikut menunduk dengan cengiran canggung.
"Dia?"
"Suami Rena"
"Kok aku nggak diundang?"
__ADS_1
"Heh cebol kamu itu siapa? Kemana juga kamu selama ini, kok bisa kamu kesasar ke negara ini?"
"Kenapa kangen ya? Dulu aja, emooh sama aku, aku cantiknya sekarang?" Dengan memasang wajah menggoda, mengerlingkan matanya genit.
"Jangan mimpi! Aku sudah tunangan kemarin" ucap Davis membuat Solena terdiam. Namun kembali menggoda Davis dengan mencubiti lengan Davis.
"Dasar kau raksasa kejam! Suka sekali kau mengataiku, gini-gini aku termasuk primadona kampus dulu"
"Mereka matanya rusak mungkin, Cebol sepertimu mana kelihatan. Tuh-tuh nggak keliatan" Tangan Davis diletakkan di dahi, dengan gestur mencari seseorang.
Wajah Solena menyipit. "Mana sih kamu Solen? Aku nggak bisa melihatmu!"
Bibir Solena cemberut. Ia kesal. Wajah Davis mendekat dan menyipit, jarak sejengkal, mereka saling bertatapan sejenak. Solena terdiam ia melebarkan matanya. Kejadian cepat.
Solena menjauh membersihkan tenggorokan, pipinya hangat, rona merah menjalari pipi tembamnya. Jantung Solen ingin sekali meledak rasanya.
"Kenapa pipimu merona? Jangan bilang kau suka padaku?" Cengiran miring lelaki itu sungguh mematikan. Solena mencoba menenangkan jantungnya yang meliar.
Ini gila. Solena melirik pada Davis. Lelaki itu sibuk dengan ponselnya. Terlihat cincin yang dengan cepat menyadarkan ia juga degup jantung yang tidak tahu diri.
"Aku sudah tunangan kemarin" ingatannya berputar pada Davis beberapa menit yang lalu.
Terima kasih otak sudah menyadarkan hati juga jantung Solena yang tidak tahu diri, pikir wanita itu menghela kasar. Davis menengok pada Solen yang tiba-tiba terdiam.
"Kenapa?"
Jangan menyakiti dirimu lagi!
"Aku antar ya, sekalian aku mau lihat menu lain"
"Hah!" Niat mau kabur malah si penyebab kabur pengen ngiku lha giman ini?
"Ayo, kayaknya Rena dan suaminya juga nggak akan balik kesini, aku ikut kamu jaga aja, dari pada kayak anak ilang, sendirian"
"Apa? Oh ayo kalau gitu" seketika Solena linglung. "Kamu kenapa sih kok jadi canggung gini?" Davis mencengkram dagu Solena. Ia menyentuhkan telunjuknya ke pipi bulat Solena.
"Sakit Daviiiiss, kukumu itu lho, nggak kamu potong, ish sampe bekas gini!" Davis suka ketika Solena jejeritan kesal padanya.
"Iya maaf-maaf" Ia masih memainkan pipi tembem Solena. Mereka berjalan beriringan menuju stand Solena.
"Mbak, stok daging teriyaki kita habis." Ucap lelaki yang bari saja menghampiri mereka. Ia menggunakan apron dari stand Solena.
"Kalau gitu, tutup menu teriyaki, yang masih yang mana?"
__ADS_1
"Balck paper dan yakiniku"
"Nggak Dam, yakiniku sold out! Teriak salah satu pekerja Solena. "Jadi nyisa apa Ben? " tanya Adam,
"Nyisa satu Black paper, rica dan cajun"
"Aku borong semua ya sisanya."
Ketiga orang yang sedang berdiskusi itu menengok pada Davis.
"Gimana bos?" Tidak mendapat jawaban dari si bosnya yang bengong.
"Buatkan semuanya jadi hari ini kita tutup cepat" ucap Solena. Mendapat senyuman girang dari para karyawannya.
"Makasih Davis, coba kalo pelanggan sepertimu ada setiap hari, cepat aku jadi sultan" tawa Solena tergelak. Ia menepuk pelan lengan Davis.
"Aku aminin aja"
"Aku juga ikut amin biar beneran diijabah" mereka berakhir dengan cerita kembali ke masa lalu.
***
"Raka capek! Mana sih mobilnya"
"Sabar sayang sebentar lagi, tapi tak apa kita tinggal Bang Davis?" Ia menatap bangunan besar di belakang mereka. Sekarang Raka dan Rena ada di parkiran.
"Nggak apa ada Mbak Solen"
"Siapa mbak Solen?" Mata Rena memicing.
"Kenapa? Kamu suka?" Tuduhan tidak mendasar Rena tujukan pada Raka.
"Nggaklah, cuma baru liat aja, teman barumu?" Rena menggeleng.
"Mbak Solena itu tetanggaku dulu di Doha. Dia pindah waktu dia dan Bang Davis umur 12 tahun, waktu itu Bang Davis sampe nggak mau makan, ya kayak patah hati gitu. Maklum Cinta pertama kan susah lupa, Nggak tahu malah ketemu disini. Jodoh mungkin" Ucap ibu hamil itu sembarangan.
"Oh"
Mereka menemukan mobil Raka. Rena masuk kedalam. Ia menghabiskan air dingin. Lalu ia berikan satu botol.penuh yang sudah ia buka pada Raka.
"Kita gencatan senjata dan belum mencapai kesepakatan lho ya inget!"
"Iya, kenapa?"
__ADS_1
"Nggak apa-apa" Rena menidurkan kursinya. Ia lelah berkeliling jcc untuk memuaskan perut juga rasa penasaran.
Bersambung ...