
Seminggu setelah Raka mengantar Padma ke Amerika, sembunyi dari Davis,
Raka seperti ditahan oleh keluarganya, apalagi istri si Paman yang dengan terang-terang sangat membenci Rena. Ia merasakan perasaan tak enak tentang istrinya.
Raka merasa aneh, ini istri Pamannya alias ibu Kila ini, belum pernah mengenal bahkan bertemu dengan Rena. Dan bagaimana dia bisa membenci istrinya? Aneh. Serba Aneh.
Apa karena ia sudah mencintai sang istri maka Raka melihat orang yang membenci Rena menjadi aneh di matanya.
"Raka ajak Padma jalan-jalan mumpung cuaca cerah, bagus untuk kencan" celetuk Rosaline yang sibuk dengan sarapannya.
"Apa bibi lupa jika aku adalah suami orang" ucapnya pelan, tidak ada emosi lebih kedatar saja.
"Yaaah kan kau bisa bercerai" ucapan yang membuatnya sedikit meradang. Wanita itu sengaja membuatnya marah.
"Tak apa Bi, Raka pasti lelah kan sayang"
Raka mencibir pada Padma. Entah mengapa sekarang ia muak dengan Padma. Wanita itu sedang diatas angin karena bisa mengancamnya. Dan membawanya jauh dari sang istri. Padma mendorong roti yang tertangkup berisi selai buah. Kesukaannya dulu.
"Paman kemana Bi?" Tanyanya mengambil roti lain dan mengoleskan rotinya dengan selai coklat. Sejak Rena hamil ia menjadi suka apapun dengan rasa coklat didalamnya. Rena bilang padanya mungkin ia juga merasakan ngidam.
Raka bahagia ikut merasakan apa yang istrinya rasakan. Setidaknya mereka berbagi sesuatu yang sama karena anak mereka.
"Entah" cuek Rosaline.
"Cuaca memang cerah bagus untuk berkencan, pria puber kedua juga bisa berkencan" Raka melahap rotinya. Mulutnya penuh. Ia mengunyah seperti orang kelaparan.
"Apa maksudmu?" Rosaline menatap tajam Raka. Raka hanya mengangkat bahunya.
Padma mengulurkan tangannya ingin menyeka coklat di bibir Raka. Refleks Raka yang bagus, membuatnya menghindar dengan cepat. Padma menarik tangannya. Ada rasa kesal dalam dirinya.
"Pamanmu itu cinta denganku, tidak mungkin selingkuh!" Nada tinggi juga tidak suka Rosaline pada Raka.
"Tidak ada yang tidak mungkin, Paman bisa menceraikanmu sewaktu-waktu, Bi"
"Apa katamu!" Rosaline murka dengan ketidak sopanan Raka. Wanita itu mungkin tidak berkaca pada ucapan entengnya pada Raka sebelumnya, untuk menceraikan Rena.
"Aku hanya membalik perkataanmu tadi bibi, jika dengan mudah kau memberi saran untuk ku menceraikan istriku, mengapa aku tidak bisa memberi paman saran untuk menceraikanmu" Ia memakan tangkupan roti keempatnya.
Terkekeh renyah menatap bola mata Rosaline yang akan keluar jika saja ia tidak memiliki kelopak mata. Wanita itu geram.
"Mengapa kau marah bibi? Makanya tolong dipikir lagi kalau berbicara, aku beristri dan akan tetap dengan istriku, dan jika kalian mengusikku aku juga bisa membalasnya pada kalian, aku bisa saja mengirim sesuatu pada pada paman yang pasti akan disukainya. Kau ingat bibi Brigitta?"
Raka menikmati wajah tegang sang istri pamannya itu. Raka tidak takut pada mereka yang mengancamnya. Dunianya memang berisi ancam mengancam. Raka sudah paham aturan mainnya.
"Cinta mati pamanku" lanjutnya dengan seringaian liciknya. Bom kecil yang akan membuat Rosaline kepikiran.
Raka tahu sejahat apa sang bibi. Ia diam karena nampak pamannya telah mencintai bibinya itu. Tapi apa yang mereka perlihatkan didepan dengan dibelakang sangat berbeda.
Penuh kepalsuan, munafik dan kejam. Berbohong demi membuat iri orang lain. Memperlihatkan kehidupan mereka yang bahagia nyatanya tidak sama sekali.
"Salam untuk paman, aku akan kembali ke Indonesia. Padma yang tahu tentang Erik bukan hanya Davis tapi aku juga. Dan aku tidak takut dengan ancamanmu"
Padma menelan sarapannya susah payah.
"Maaf a-aku tidak berpikir jernih saat mengancammu kemarin" Padma tidak boleh gegabah.
"Jika Kila disana melakukan sesuatu pada Rena, aku akan bongkar semua kebusukan kalian pada pamanku, Tentang Bibi Brigitta, juga anak kandung pamanku yang kau lenyapkan" suara Raka terdengar tidak seperti mengancam. Hanya seperti berbicara tentang cuaca.
Raka melempar serbetnya. Ia tidak tahu kedua wanita itu menatapnya tajam. Tangannya mengepal.
Tidak Padma tidak akan kalah. Wanita itu bertekad jika Raka tidak jadi miliknya maka tidak ada satu gadis pun yang dapat memilikinya.
"Maafkan aku, aku hanya ingin keluar dari rumah Davis. Ia monster" Padma terisak. Air mata palsu, senjatanya.
__ADS_1
"Raka boleh aku mengantarmu, aku juga ingin ke supermarket" Supermarket memang dekat dengan bandara.
"Oke"
"Aku akan bersiap"
Padma melonjak dari kursinya, ia girang. Tangis adalah kelemahan Raka. Padama tahu itu. Di kursinya Rosaline tidak tahu apa rencana Padma, wanita itu licik, licin layaknya belut. Untuk saat ini cukup. Ia tidak ingin terlibat lebih jauh.
***
Mereka berkendara. Melewati sebuah bukit dengan jurang dan Rena akan mengambil kesempatan yang tidak akan datang untuk kedua kalinya.
"Padma apa yang kau lakukan" Raka tersadar ia tidak lagi berjalan ke bandara, melainkan ke bukit. Padma melajundengan kecepatan tinggi. Wanita itu tertawa kencang. Bahkan ia membuka penutup mobilnya.
Padma menggunakan mobil sport milik kila dengan atap yang bisa dibuka.
"Jangan gila! Apa yang kau lakukan!" Teriak Raka dengan memegang erat pintu mobil juga sabuk pengaman.
"Aku tidak akan menyerahkanmu pada dia! Kamu milikku! Aku! Kamu cinta padaku!" Kembali Padma terus saja menginjak gasnya.
"Dengarkan aku Padma—"
"Kamu yang dengarkan aku Raka! Kau yang mengkhianati cinta kita! Kau milik ku! Raka Delino milik Padma Sekar!" Teriaknya dengan tawa mengerikan.
"Oke, tapi bisa kita bicarakan, sekarang, turunkan kecepatannya dulu ya" Raka mencoba membujuk Padma yang menggila.
"Kau pasti berbohong! Tidak! Lebih baik.kita mati bersama dari pada kau dimiliki oleh ja lang itu!" Raka menatap panik, mereka berada di bukit dengan sampingnya kanannya jurang tinggi. Ia tidak bisa mati sekarang.
"Katakan Raka! Katakan kau mencintaiku!" Ucapnya memaksa.
"Aku tidak berbohong, tapi turunkan dulu kecepatanmu okey, kita berbicara dulu" Raka mencoba mencari cela untuk merebut kemudi Padma. Memperhitungkan segalanya dalam pikirannya.
"Aku bodoh sekali! Hanya mengatakan itu saja kau tidak mau, kalau begitu hanya satu cara!"
"Renaaa!"
Dentuman keras terdengar. Mobil menghantam tebing dengan kecepatan tinggi.
Lalu berguling jauh sebelum meledak dan terbakar.
***
"Hhh …hhhh ssss … hhh ssss" nafasnya memburu, ia terduduk menatap ruangan yang hanya bunyi dari benda disebelahnya.
Disorientasi tempat. Tatapnya menjelajah. Remang. Bau antiseptik menguar tajam. Ia berada dirumah sakit. Rena ingin bergeser namun nyeri terasa perih. Disekitar perutnya.
Rena baru ingat tentang perutnya yang sedikit mengempis. Dokter mengambil tindakan sesar dikarenakan ibu bayi yang tidak lagi bisa mengejan.
Rena menekan tombol pemanggil suster atau dokter.
Tak lama beberapa orang suster dan dokter masuk dan memeriksanya. Rena dinyatakan melewati masa kritisnya. Dan bisa dipindahkan ke kamar rawat jika besok lebih membaik.
"Terima kasih dokter," ucapnya.
"Sus boleh saya minta minum?" Suster itu tidak mendengarkannya. Ia mencoba menyentuh tangan susternya tapi tangannya menembus tangan susternya.
Rena bingung. Ia turun dari ranjangnya. Tak ia rasakan perih pada perutnya. Menatap sekeliling yang sudah sepi.
Dokter dan suster susah keluar, ia melihat Isak dan melambai.
"Bang!"
"Bang Isak!" Teriaknya kencang namun Isak tidak mendengarkannya. Ia ingin melangkah keluar pintu tapi Rena merasa tersedot masuk ke dalam sebuah ruangan gelap.
__ADS_1
Ia kebingungan juga ketakutan. "Raka!" Rasanya dadanya sesak saat menyebutkan nama suaminya. "Bang Isak!" Air mata mulai menetes dengan deras.
"Rakaaa" raungnya.
"Eyaang Rena takut yang" ucapnya lirih. Rena meringkuk dalam duduknya. Kepalanya ia rebahkan dalam lututnya.
"Rena?"
"Rena"
"Sayang?"
"Raka? Kamu dimana? Disini gelap, takut" ucap Rena dengan sesenggukkan.
"Sayang aku disini"
"Dimana? Disini gelap aku nggak lihat apapun" ucap lagi Rena masih menangis.
"Aku di … coba bayangin ladang chamomile luas, aku disitu." Ucap Raka.
"Oke dengerin aku, tutup matamu, bayangkan ladang bunga warna putih dengan putik kuning, tumbuh di padang luas"
"Buka matamu"
Perlahan Rena membuka matanya, dan ia disambut dengan sinar menyilaukan dengan hembusan angin sejuk yang mengibarkan rambutnya.
"Hai"
"Hai" Ia menemukan wajah Raka yang tersenyum lebar. Guratan senyumnya terlihat tidak melunturkan ketampanan suaminya.
"Kamu ganteng banget, wajahmu bersinar lho ini, kamu pergi malah makin ganteng, aku cemburu!" Rentetan omelan yang hanya di balas senyum sumringah.
"Apa sih senyum-senyum terus, jangan liatin gitu, aku malu!" Rengekan manja Rena.
"Aku kangen" ucap Raka. Raka menarik Rena dalam dekapannya memeluk erat istrinya. Mengecupi kepalanya lama dan berulang-ulang.
"Aku harus pergi" ucap Raka.
"Kok pergi, aku ikut" Rena mencengkram erat pakaian Rak yang serba putih itu. Rena baru menyadari.
Rena menggunakan pakaian pasien. "Rakaaa aku ikut" Raka hanya menggeleng dengan senyuman lebarnya. Raka terus menjauh namun kaki Rena terpaku di tempatnya.
"Rakaaa!"
"RAKAAA!"
"IKUT RAKA!" Teriaknya, melihat tubuh Raka menghilang dalam kabut.
"Raka!" Mata Rena terbuka. Ia bisa mencium antiseptik begitu kuat.
"Rena? Astaga terima kasih Tuhan!" Doroty mendekat lalu memeluk Rena yang masih berbaring.
"Ssss …" nyeri terasa perih di bagian bawah perut. Yang tersenggol.
"Maaf sayang perih ya?" Rena mengangguk.
"Siwa panggil dokternya cucuku sudah sadar" perintah Doroty. Ia memandang dengan wajah penuh air mata.
"Eyang jangan menangis, Rena nggak apa" Doroty hanya bisa terus mengangguk dan terisak.
Brak!
"Rena? Akhirnya kamu siuman sayang" Nami melangkah masuk ia mengelus wajah Rena dan mencium anaknya itu. Rena menyungging senyum lemah di bibir pucatnya.
__ADS_1
Bersambung ...