
Kehamilan kedua Rena tampak merepotkan, ia tidak morning sick, tapi Raka yang mengalaminya dan parah.
Seminggu ia tidak bisa keluar kamar. Jadwalnya hanya bolak balik kamar mandi. Semua makanan hanya akan terbuang dalam kloset.
Tubuhnya kurus. Rena membuatkan memasakan apapun tapi yang ada Raka akan mual.
Hanya satu makanan yang Raka tidak muntahkan. Asinan betawi yang Jum. Raka merasa kembali bertenaga.
Ia sudah bisa keluar kamar. Minggu kedua rasa mual sudah menghilang. Tapi napsu makannya menjadi. Tapi ia hanya mau masakan indonesia. Untung saja ada Jum yang mereka boyong ikut ke Doha.
Belanja ke asian store. Raka seakan lapar mata. Ia beli pete, jengkol, cabe.
Raka meminta dibuatkan nasi uduk komplit, lalu nasi kuning komplit, bahkan maunya nasi kuning dijadikan tumpeng, juga tumpeng putih dengan urap, pecel pincuk dengan serundeng daging. Luar biasa.
Rena dan Jum sampai menggelengkan kepala, darimana Raka tahu semua makanan indonesia itu.
Raka nyengir ia mendapatkan dari buku resep yang ia bawa dari rumah Doroty. Beragam menu tetumpengan buku satu berwarna merah tebal gelap. Dan buku duanya berwarna biru dongker.
Jum dan Rena membaca dan terbawa lapar. Ya mereka bekerja sama untuk mewujudkan rasa lapar mereka.
Ya walaupun ikan asin harganya membuat mata Jum melebar. "Yoloh apa Mbok jadi juragan ikan asin disini aja ya bu bos," melihat peluang bisnis.
"Bener mbok bisa langsung jadi sultan"
Rena mengangkat dua jempolnya. Belum lagi bermacam kelakuan random Raka yang membuat Rena memijat pelipisnya.
Seperti menangis saat akan makan, Rena kira Raka diam ia menikmati makanannya tapi mendengar isakan,wajah yang tertunduk, dan getaran halus pada bahu suaminya. Rena pun bertanya.
Wajah Raka mendongak dengan air mata yang membasahi pipinya. Ia mengusap air matanya dengan lengan tangan.
Layaknya bocah, yang kena omel ibunya. "Kenapa?" Tanya Rena.
"Ay-ayamnya kasihaaan … huwaaa … "
Rena dan Jum seketika dibuat lebih bingung.
"Ana-anak-anaknya nyariin, ju-juliaaa" lagi ungkapan yang tidak dimengerti Rena.
"Siapa Julia?"
__ADS_1
"Ibu si ciap-ciap, temennya gudetama" penjelasan apa lagi ini, pikir Rena. Melihat sang suami sesedih itu.
"Okee, sediih please go away yaaa …"
Rena seperti menenangkan bocah, ia mengelus pelan punggung Raka. Raka sesenggukan dengan tangan menjulur pada paha ayam goreng lengkuas yang menggiurkan. Lalu menggigit dan memakannya.
"Lapar" ucapnya yang masih sesenggukan.
"Ya udah makan yang banyak" Raka mengangguk. Rena dan Jum mengangguk penuh kelegaan. No more drama king. Raka mengeluarkan ponselnya, "Lihat ini" Rena menonton apa yang disodorkan suaminya.
Sebuah animasi isi telur alias gudetama yang bersahabat dengan anak ayam kuning mencari ibunya yang bernama julia. Petualang yang mendebarkan dengan kelucuan anak ayam yang menggemaskan. Juga sikap jutek gudetama pada si anak ayam.
Belum selesai Rena menyerahkan ponsel suaminya kembali. "Sedihkan," ucap Raka yang sudah menghabiskan setengah piring ayam lengkuas, ngomong-ngomong Rena hanya bisa mengangguk. Raka sangat sensitif.
Kembali ia mengambil ayamnya dan kembali melahapnya. Sedih Raka menghilang. Dan keadaan ini berlangsung setengah bulan usia kandungan Rena memasuki ke tiga bulan. Jum dan Rena sampai bingung dan hanya bisa menebalkan kesabaran yang hampir setipis tisu itu.
Pekerjaannya di Ibrahim ringan tapi pegal diseluruh tubuhnya berkali lipat. Ia telah merebahkan diri sebelum tidur ingin melihat toko online perlengkapan bayi juga melihat baju Kenan
"Ibook, Enan mo bok syinih"
Rena meletakkan ponselnya mendengar suara Kenan sangat menggemaskan para onty ongkel online kalau mengucapkan huruf s selalu ada tambahan huruf y dan itu membuat geregetan.
"Ibok Enan ndak bisya nek ibok … " ucapnya tangan kecil ginuk-ginuknya berusaha meraih kain selimut tebal.
"Bisa coba dulu" ucap Rena.
"Iya Enan bisyaaa … " bocah itu mengeram, mengangkat kakinya agar menyangkut di atas ranjang, Rena sedari tadi geli masih terus melihat bagaimana si anak berusaha untuk naik.
"Heerrrgh … eeegh … tngu ibok Nan nek"
Kembali tangan kecilnya mencoba meraih selimut lebih jauh. Ia tidak menyerah. Ia mencoba mendorong tubuhnya, pan tatnya yang gemoy menungging lucu. Kakinya diarahkan ke pinggir atas ranjang. Kenan layaknya spiderman ia menempel pada pinggir ranjang. Tidak menapak ke lantai.
Rena sudah cukup melihat usaha anaknya dan membantunya. "Good job! Kenan kayak spiderman lho kuat gitu nempel disini"
"Yeeeeehhh nek, sypaiderman yeeeee" Kenan menepuk tangannya, lalu merangkak masuk pada rengkuhan Rena.
"Ibook"
"Manjanya nak ibok nih, ngantuk ya"
__ADS_1
Rena menepuk pan tat si anak. Tak lama mata sayu jagoannya menutup.
"Anak pintar, ibok bangga, tidur nyenyak, mimpi indah sayang" Rena mengecup dahi sang anak lama. Ia pun ikut masuk tenggelam dalam ruang mimpi.
Seseorang masuk, ia berhenti dan menatap pada ranjang di depan pintu. Ia mendekat. Melihat lama kedua orang yang ia cintai, sorot matanya hangat. Ia mendekat.
"Sayang kalian, Jagoan Ayah yang gemoy" Raka melemparkan ciuman di dahi Rena juga, Kenan. Merengkuhnya sayang. Rasanya ia bahagia sekali. Keluarga kecilnya.
*****
Bersambung ...
🌻🌻🌻
promo cerita baru guys, bisa ditengok ya...
Cuplikan,
"Putra Mahkota?"
"Putra Mahkota? Anda dimana?"
Dalu mendekat ia ingin menepuk bahu Tirkam bahwa dirinya ada di kamar itu.
"Dasar menyusahkan, dia terbantu karena dia Putra Mahkota, lebih baik aku yang menggantikannya. Tidak berguna" tangan Dalu melayang. Ia membatu. Tak menyangka orang kepercayaannya membicarakan dirinya.
Tunggu, Dalu mulai mencerna situasinya. sedari tadi ia ada disekitar dua orang ini, tubuhnya besar, tapi mengapa tidak ada yang melihatnya?
Dalu berjalan ke baskom air, ia melongok ke air tersebut. Namun ia tidak melihat bayangan dirinya disana.
Kembali ia mencoba melongok ke dalam baskom air. Dan ia tidak mendapati bayangan dirinya disana. Apa dia sudah mati? Ia menjadi arwah? Tidak mungkin!
Selanjutnya ....
ada di lapak Pecut Sang Putra Mahkota, ditunggu disana ya guys,
Terima kasih, Lazy❤
__ADS_1