Dendam Sang CEO Tampan

Dendam Sang CEO Tampan
bab 13 Kejutan pasutri


__ADS_3

Memutuskan untuk kembali mempertahankan rumah tangganya, Rena akan mencari tahu apa sebenarnya yang suaminya sembunyikan.


"Ia sama sekali tidak menunggu resepsi. Benar. Kemarin-kemarin ibunya Wila selalu mendesak Rena untuk meminta resepsi dilangsungkan cepat dan meriah.


Rena seperti diteror, tapi entah mengapa belakangan ini ia tidak lagi mendapat teror itu. Bahkan ibunya kembali menjadi sosok yang tidak peduli padanya.


Sejak menikah ia pun jarang bertemu dengan Davis. Tidak seintens dulu. Ini yang ia mau. Tapi mengapa ia merasa kehilangan sosok kakak.


Jam makan siang, Rena menghubungi sang kakak. "Bang, makan siang yuk?" Ajaknya, tak seperti biasanya, yang langsung dijawab. Davis menjawab lama.


"Sorry Ren, Abang sudah ada janji?"


"Janji? Klien? Ya sudah, kita sudah lama tidak makan bersama" kembali nada tak semangat.


"Bu-bukan klien," ucap Davis lirih.


Rena memicing, mengapa dengan suara lirih sang kakak ini.


"Siapa? Ngaku! Calon kakak ipar?" Tanya Rena.


"Belom, eh, bukan, ta-tapi, aku menyukainya" ada kesan malu-malu, yang membuat Rena bergidik. Ia tak pernah menemukan Davis malu-malu seperti ini.


"Hei Bang, kau tak apa? Kau menjijikan jika malu-malu begitu" ucap Rena tanpa saringan.


"Kau ini dasar! Tak pernah mendukungku, kau harusnya ikut senang, adik manis"


"Ish kau sehat?" Rena mengernyit, kakaknya memang menjijikan jika jatuh cinta.


"Yaudah salam dari calon adik ipar untuk calon kakak ipar dariku" Rena terkekeh mendengar nada merajuk Davis yang masih aneh di telinga nya.


Davis mematikan ponselnya, ia kembali duduk di tempat yang telah ia pesan. "Kau sudah memesan?"


"Iya, pelayan" seorang pelayan datang. Dengan buku catatannya. Selesai memesan.


"Terima kasih mau makan siang dengan ku"


"Ya sama-sama, kau kelihatan sibuk Tuan Davis"


"Ah tidak tadi adikku, kamu pasti tahu bukan, adikku, Rena Joel, Istri dari bosmu, Raka Delino, Padma?" Senyuman Davis mengembang. Ia bahagia saat ini bisa berkesempatan makan siang dengan Padma Sekar.


"Tentu" ucapnya dengan senyuman manis, yang memikat hati Davis Joel.


Pertemuan pertama saat di pesta salah satu klien perusahaan Joel. Pertemuan yang membuat hati Davis kebat-kebit saat pertama kali melihat Padma yang sempurna dengan gaun hitamnya.


Rahangnya sempat mengeras saat wanita itu digandeng oleh Raka Delino, adik iparnya. Tapi saat Raka mengenalkan bahwa Padma adalah sekertaris juga asistennya, amarah yang tadi bergumul dalam dirinya mereda.


Davis tertarik pada Padma. Setelah dari acara itu, Davis seolah mencari tahu apapun yang berkaitan dengan Padma. Bahkan mengajukan diri untuk mewakilkan diri untuk perusahaan Joel pada projek dengan perusahaan Raka.


Bak gayung bersambut Padma cukup membuka diri padanya, tidak ada penolakan saat dengan gamblang Davis mendekati wanita itu.

__ADS_1


***


Senyum lebar tak surut di bibir Rena, hari ini Raka bertambah manis, Rena suka, walau ada sesuatu yang mengganjal dihatinya. Rena mengabaikannya. Ia tak mau merusak momen yang hangat diantara mereka.


Ia sedang membereskan makan malam mereka. Seketika ada sebuah lengan melingkari perutnya.


"Kangen" ucap Raka manja.


Kepala lelaki itu menempel pada bahunya. Sesekali menciumi telinga Rena. "Ish jangan ganggu dulu, ini masih nyuci piring."


"Oh kalau sudah selesai boleh?" Rena tahu apa yang Raka inginkan.


"Setelah ini aku harus mandi, mungkin kalau dibantu aka— "


"Okey, aku akan bantu, siniin lapnya" Rena terkekeh, melihat binaran bocah pada mata Raka. Raka yang ia kenal.


Raka mengambil piring dan melapnya satu demi satu. "Aku mandi dulu ya" ucap Rena. Ia belum sempat mandi, pulang kantor, ia langsung memasak, dan setelahnya ikut makan malam.


Hari ini ia memasak ayam bawang putih, sebenarnya tinggal goreng saja, tapi Rena memutuskan sekalian saja kotor, dan setelah semua selesai ia kan membersihkan diri yang tercium bau minyak.


"Okey, kamu selesai mandi, aku sudah siap"


"Siap untuk?" Ucapnya menjahili Raka.


"Siap untuk hidangan penutup" gelak tawa Raka mengelegar saat Rena mencoba mencubit perut rata miliknya. Ia beranjak dari tempatnya dan menarik sebuah laci yang terdapat banyak obat. Mengambil satu strip obat. Lalu mengambil gelas dan 


"Jangan lupa minum ini" Raka memberikannya obat pencegah kehamilan. Senyuman Rena meluruh, menatap lama strip dengan isi butiran putih itu.


Perlahan Rena mengangguk, ternyata masalah anak Raka masih sama. Ia tidak ingin memiliki anak dengannya, ah … buang jauh-jauh hal yang negatif, pergi kau syaiton batin Rena.


Ia meneguk air dan pil. Lalu berjalan menuju kamar mereka. Mandi dan kembali menyegarkan pikiran yang ruwet.


Keluar kamar mandi, suasana kamar temaram, banyak lilin juga taburan bunga. Rena tentu terkejut. Rena melangkah, ada tanda dengan tulisan. "Baca ini" sebuah kertas yang tertempel amplop merah jambu.


Rena meletakkan handuknya. Ia mengambil amplop dan membuka nya. "Ada apa di lemari?" Rena mendongak menatap lemari yang di gagangnya ada pita berwarna merah.


Ia membuka dan ada sebuah balon muncul. "Harg … " Rena terpekik. Di tali balon itu ada lagi amplop berwarna sama. "Bawa bunganya dan kenakan itu dan berdandanlah, aku menunggumu di ruang televisi"


Senyuman lebar terlihat diwajah cantik Rena. Ia tak menyangka Raka akan membuat sebuah kejutan untuknya.


Apa yang sedang Raka siapkan, mereka telah makan malam pun, tidak mungkin makan malam romantiskan?


Rena melihat tumpukan kain berwarna merah menggoda. Ternyata dress dengan tali spageti. Lalu Rena mengenakan dress itu. Sangat seksi. Apalagi Rena sengaja tidak menggunakan dala man.


Rena berdandan hanya menggunakan satu lipstik, yang dijadikan pemerah pipi, tak lupa membubuhkan pelembab bibir, maskara sedikit dan untuk rambut Rena hanya mengeringkan dengan hair dryer lalu menggelungnya dan dijepit dengan gaya messy hair. 


Tak lupa perfume. Rena meraih setangkai bunga mawar dan keluar kamar. Temaram. Rena melangkah ke ruang televisi tetapi ia tidak menemukan Raka.


"Raka?"

__ADS_1


Rena menautkan kedua tangannya saat membaca, duduk disini, ada sebuah kursi yang berada di ditengah ruangan. Juga ada banyak lilin, diatas meja ada dua gelas tinggi dan sebotol wine. Juga sepiring keju dan teman-temannya, makanan ringan pendamping wine.


Rena duduk dikursi kayu berwarna putih itu. Musik terdengar. Lalu Raka datang dengan menggunakan kemeja putih, dengan dasi juga celana bahan.


"Hai My Lady, selamat datang di Raka Castle. Perkenalkan saya Raka Delino akan melayanimu, My Lady, hari ini aku adalah milikmu" Raka membungkuk hormat layaknya pelayan kerajaan.


"Kamu apa-apaan deh, ini apa?"


"Ssstttt … nikmati saja" Raka memulai aksinya. Ia menari dan meliuk didepan Rena. Mencoba membuka satu persatu kancingnya, lidahnya dijulurkan layaknya komodo, seyelah kemejanya terbuka ia melemparnya ke sembaranga tempat.


Lalu kembali Raka menari mengikuti irama musik, masalahnya tubuh Raka begitu kaku, gerakan dan musiknya tidak singkron, dan lagi aksinya yang membuka celana, Bukannnya terpesona. Tawa Rena menyembur. Ia terpingkal. Membuat Raka yang susah payah menggodanya merengutkan kening, kesal.


"AHAHAHAHAHAA … Aduuuhh … aduh perutku, aduuuhh Ahahahhhaa …"


Raka yang kesal ia berhenti, Raka dengan boxernya menuju ketempat dimana ia menyalakan semua lampu.


Seketika terang. Ia meniup lilin yang ada diatas lemari laci didekatnya dengan kasar. Merengut. Wajahnya ditekuk.


Rena masih saja tertawa. Bukannya tergoda, Rena malah merasa Raka melakukan stand up komedi. Miris sekali Raka.


Rena menghapus air matanya di sudut. "Astaga kamu dapat ide dari mana coba? Lucu banget" wajah Raka semakin ditekuk.


"Sini, sini, duduk sini sama tante, hmph …" Rena menepuk pangkuannya, masih dengan tawa yang ditahan.


"Kalau mau ketawa, ketawa aja!" Rajuk Raka. Lelaki itu mendekatkan diri, dan duduk dipangkuan Rena. "Mau apa sih sugar baby mommy ini?" Ucap Rena mengerling menggoda.


Raka mengalungkan tangannya di leher Rena dan berbisik, "Mau ini Mommy" ucapnya serak. Ia menunjuk gundukan kembar milik Rena yang menyembul dan menggodanya. Lha, bagaimana ini? Harusnya Rena yang tergoda bukan dirinya.


"Boleh, gimana kalau, Kita ganti peran?"


"Hah?" Raka mengangkat alis, tidak mengerti maksud Rena. Rena mendorong Raka agar turun dari pangkuannya. Ia mendudukan Raka di kursinya dan beranjak ke tempat saklar lampu berada. Membuatnya kembali redup.


Juga kembali menyalakan musik yang lebih mendayu dan seksi.


Ia meraih setangkai mawar yang tadi ia bawa, lalu menggigitnya. "Daddy ayo menari bersama" Rena mengulurkan tangan dan menggerakkan jemarinya agar Raka mendekat.


Raka berdecak, namun lelaki itu ikut berdiri. Dan Rena mengajak Raka berdansa. Raka memutar tubuh Rena. Mendorong menjauh dan menariknya hingga tubuh mereka saling menempel satu dengan yang lain.


Rena tersenyum miring ia dengan nakal menggesekan asetnya pada aset Raka. Menggoda, lalu menjauh. Mengangkat tangannya dan melepas jepitnya. Rambut hitam Rena yang bergelombang asli itu jatuh dengan seksi.


Raka tergoda, matanya berkabut, berkali ia membersihkan tenggorokannya. Tapi ia tak tahuan juga. Ia menarik tubuh Rena yang sangat pas dengan dress yang ia pilih, terlihat nakal dan kuat.


Mendekap Rena dari belakang, mereka bergerak mengikuti musik, sekarang Raka bisa mengikuti musik karena mengikuti gerakan Rena. Kecupan demi kecupan Raka bubuhkan di setiap kulit Rena.


Malam semakin larut dan panas untuk pasangan baru itu. Tak tahan, Raka memperdalam ciumannya. Dan gerakan pasti menyeret Rena ke arah kamar mereka.


Lupakan semua wine dan semuannya. Mereka langsung menuhu ke akhir acara, berada dikamar hingga esok menjelang.


bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2