Dendam Sang CEO Tampan

Dendam Sang CEO Tampan
Bab 29. Gusar


__ADS_3

"Ini" undangan itu Raka terima langsung dari Isak. "Datanglah" ucapnya.


Undangan berwarna marun dengan garis keemasan disana. "Wwohoo akhirnya kamu mau menikah" ucap Raka merangkul Isak.


"Hmn … "


"Sama siapa?"


"Aku duluan ya, masih banyak yang harus ku urus," dering ponsel Isak terdengar.


"Ya Bun?" Isak melenggang pergi.


"Ini Rena, nggak mau model pakaiannya, jadi kamu juga harus ganti, kalau Rena juga ganti" ucapan Nami yang terdengar keluar ponsel Isak pergi dengan langkah panjang. Samar Raka mendengarnya.


Untuk sesaat Raka tertegun di tempatnya. Ia mencerna apa yang ia dengar barusan. "Rena ada bersama Bunda? Pakaian?" Tangan Raka bergetar, ia meraih undangan Isak.


Jantungnya remuk. Nafasnya tertahan. Oksigen seakan menjauhinya. Disana dengan tinta emas ada nama Rena dan Isak, bagaimana mungkin? Ia belum cerai, pengacara Rena pun telah ia usir tanpa mendapatkan apapun.


"Pak Raka!" Pekik Padma yang tidak tahu apa yang membuat Raka kesetanan. Ia mengejar bosnya itu. Tapi ia kehilangan jejak. Sepatu tumit tingginya menghalangi pengejarannya.


Raka melesat ingin mengejar Isak, tanpa peduli siapa pun, selain Isak, ia mencari disekitar perusahaannya. Ia berlari ke arah mobilnya. Ia lempar undangan itu ke kursi penumpang. Dan memacu mobilnya dengan cepat.


Tujuannya perusahaan Ibrahim, pasti lelaki itu ada disana. Raka mendial ponselnya. Nomor Isak tersambung lalu mati. Saat kembali ia hubungi lagi. Sudah tidak aktif.


"Siaal! Bren gsek, kau Isak!"


Raka membanting ponselnya ke jok sampingnya. Sampai di lobby Raka melangkah lebar menuju ruangan Isak. Nafasnya memburu, ada amarah dari setiap helaan nafanya yang ia hbuskan. Dengan kasar Raka buka pintu Isak. Kosong, lalu tanpa kata Ia menuju ruangan Ibrahim.


"Maaf Tuan Raka, Tuan Ibrahim sedang rapat! Anda tidak boleh masuk"


Ia melihat sekertaris Ibrahim yang ingin menghentikan Raka, namun tidak bisa.


Brak!


Mata nyalang Raka mencari keberadaan Isak. Ia menyusuri ruangan Ibrahim itu. Sang sekretaris merasa bersalah tidak bisa menahan Raka.


Ibrahim dengan santai, membereskan peralatan rapat onlinenya. Hanya menatap Raka sebentar.


"Maaf Tuan, Tuan Raka menerobos masuk" ucap sekretaris pengganti Rena.


"Sudah tidak apa, saya sudah selesai. Kau bisa keluar Sally"


"Baik Tuan"


"Tolong buatkan dua cangkir chamomile ya"


"Baik"

__ADS_1


Raka masih mengitari ruangan Ibrahim. Ibrahim sendiri menatap Raka yang geram dan murka.


"Pak Ibrahim dimana anakmu itu?" Ucapnya tidak bersahabat. Ia masih menatap nyalang ke arah lelaki paruh baya itu.


"Duduk dulu" tawar Ibrahim yang beranjak menuju sofa didepannya.


"Dimana dia, katakan?" Suaranya meninggi. Dengan langkah tegas menuju sofa.


"Mungkin dalam perjalanan menjemput masa depannya" Ibrahim tersenyum miring. Terlihat santai, ia menyandarkan tubuhnya ke punggung sofa. Dan menaikkan satu kakinya. Tangannya dilipat di dada.


Ketukan pintu terdengar. Tak lama Sally masuk dengan nampan berisi dua cangkir berisi air bening. Aroma lezat dan menanyakan menguar.


"Terima kasih Sally" ucap Ibrahim. Lalu lelaki paruh baya itu menarik satu cangkir dan memberi satu kotak balok putih berukuran mini kedalam cangkir berornamen uliran bunga. Pasti semua Nami yang memilihnya.


"Minumlah" kembali Ibrahim tidak terpengaruh dengan amrah Raka. Ia menyesap air dalam cangkir itu. Rasa sepat bercampur manis mengitari mulutnya. Aroma menenangkan seperti tersedot dalam hidung dan menyebar ke otak. Membuatnya rileks.


"Dimana?" Mata tajam.Raka arahkan pada Ibrahim, ia masih pada posisinya. Berdiri angkuh. Bak algojo siap menebas siapa saja.


"Duduk dulu, jika kau ingin tahu dimana Isak berada?"


"Anakmu itu ingin merebut istriku!" Bentak Raka, membuang tubuhnya ke sofa depan Ibrahim. Mereka saling berhadapan.


"Merebut? Sejak kapan Rena menjadi milikmu? Aku kira ia wanita bebas walau kau telah menikahinya" ucap tenang Ibrahim. Memperhatikan perubahan wajah Raka yang semakin memerah. Murka.


"Sejak ia, aku peristri! sejak itu pula dia adalah milikku, Milik Raka Delino!" Ucapnya lantang.


"Rena itu milik dirinya sendiri, buat apa memiliki suami yang  tidak peduli jika di luar ada yang bisa membahagiakan dirinya!" Goda Ibrahim kembali menghirup aroma chamomile. Tenang berbanding yerbalik dengan suasana hati Raka yang berontak dan mencelus.


"Ohooo anak muda kau sungguh arogan dan egois. Ini belum seberapa dari fakta yang kau tahu Raka. Datanglah ke pesta anakku, kau mendapatkan undangan nya kan?" 


"Datanglah dan lihatlah, bandingkan, seberapa bahagia istrimu saat ia berada disisimu atau disisi yang lain"


Rahang Raka mengeras. Tangannya mengepal hingga buku-buku jarinya memutih.


Ia begitu murka dengan perkataan Ibrahim, jika pun ia orang tua temannya, lebih baik ia hancurkan hubungan baik ini daripada Rena direbut lelaki lain. Ia sudah tidka peduli.


"Dan lagi bahagia? Kau? Sejak kapan? yang aku dapati Rena yang tersiksa batin dan juga mental, dengan ketidak jelasanmu!"


"Dan bukannya kau sudah memiliki wanita didekatmu, Padma, dan satu lagi wanita dengan satu orang anak, apa dia janda?" Lanjutnya, perkataan menusuk Ibrahim membuat Raka terdiam.


"Kau bisa membuat janda Istrimu dan anakku tentu tidak menolaknya."


"Datanglah!"


***


Reka kembali pulang ke rumahnya. Raka langsung menuju kamarnya. Ia mengambil koper yang Rena siapkan jika mereka ingin pergi mendadak agar tidak perlu lagi berkemas.

__ADS_1


Menyeret kopernya kebawah.


"Bang mau kemana? Aku disini sendiri, kau tidak bisa meninggalkan aku" rengek Kila.


"Aku akan ke Indonesia, lebih baik kau pulanglah ke tempat paman, aku mungkin akan lama" ucap Raka sekilas mengelus kepala Kila.


"Pekerjaanmu? Atau kau mengejar wanita tidak tahu diri itu!" Teriak Kila tidak terima, mengapa Kakak sepupunya ini malah mencari sang penjahat itu dengan kelimpungan begini?


"Jangan bilang kau jatuh cinta pada si penjahat ba jingan itu! Wanita kampung! Wanita pe lacur!"


"Diam!"


"Kenapa memang penggoda tidak tahu malu, pe lajuran pasti menerima dirinya, wanita ja lang itu!"


"Aku bilang Diam, DIAM!" Bentakkan Raka membuat Kila mundur. Ini pertama kalinya ia mendapat bentakan kasar dari Raka.


"Bang? Ka-kau membentakku?" Suara Kila bergetar. Raka seolah sadar. Ia menjulurkan tangannya. Namun Kila beringsut mundur.


"Lebih baik kau kembali ke Amerika" ucap Raka ia bersiap untuk menuju bandara.


"Kau bukan hanya membentakku, tapi ju-juga mengusirku" cicit kecewa Kila.


Raka menatap jam tangannya ia tidak ada waktu lagi untuk meladeni rengekkan Kila.


"Aku pergi" Raka melangkah menuju mobilnya. Namun lengannya ditahan oleh Kila.


"Abang! Kau mau meninggalkan aku? Dalam kondisi begini?" Raka melepas paksa lengan Kila.


"Jaga dirimu jika masih ingin disini" ucapnya beranjak masuk kedalam mobil.


"Abang! Kau mengapa berubah, bukannya, dia penjahat, kau berpihak pada penjahat daripada orang tuamu?" Kila masih berusaha untuk menahan Raka. Ia menggelendot di kaca mobil Raka.


Raka kembali mengeraskan rahangnya, tangannya mencengkeram setir erat.


"Kau tidak tahu apapun!"


"Aku tahu! Kau berkhianat pada paman dan bibi!"


"Kau membuat mereka di surga sana tidak tenang dan kecewa!"


"Kau pengkhianat keluargamu sendiri!"


"Dan kau mengkhianati sumpahmu pada orang tuamu! Aku kecewa padamu bang!" Bertubi Kila menyudutkan Raka. Lelaki itu tidak peduli, ia melajukan mobilnya. Kila mengumpati sepupunya itu.


Kila menatap mobil Raka yang menjauh dengan tampang dingin dan tak terbaca. Meletakkan ponselnya di telinga. Tersambung.


"Ia mau menyusul si ja lang bi adap itu!!"

__ADS_1


Bersambung ...


 


__ADS_2