
Setelah mereka saling terbuka. Keputusan Rena tidak ada perceraian. Dan Raka sangat bahagia. Matanya berbinar.
"Sayang, aku pernah ketemu dengan keluargamu, aku diajak Eyang Doroty. Ibunya Kila sepertinya tak suka padaku ya?"
"Iya biarain saja. Sebelum aku kecelakaan aku berdebat dengannya. Ia ingin aku menceraikanmu lalu bersama Padma, enteng sekali ucapanya."
"Aku marah, lalu aku balikin aja dengan membawa orang ketiga dalam pernikahannya. Dia juga marah."
"Memang siapa orang ketiga yang kamu bawa?"
"Namanya tante Brigit, dia harusnya yang akan menjadi istri Paman jika Tante Roseline berbuat licik, tapi tante Brigit, dia sudah bahagia."
"Seberapa jauh kamu dengan Padma?"
"Kamu bukan mau nyari kesalahankukan?"
Rena tidak langsung menjawab. "Aku nggak mau menyakitimu" Rena menjadi deg degan sendiri. Ia memang masokis, sudah tahu itu akan menyakitinya tapi Rena masih saja ingin tahu.
"Hanya sampai ciuman, karena kamu akan selalu muncul diotakku, jika aku sudah melangkah jauh. Tanpa sadar aku dengan dirinya tidak bisa melanjutkanya."
Raka menatap mata Rena yang ingin mencari apa yang Raka ucapkan itu kebohongan atau tidak.
"Tapi aku pernah dengar kamu melakukan sesuatu di ruang kerjamu" Rena sendu. Ia jadi ingat kejadian yang membuat hatinya hancur.
"Hanya ciuman yang agak jauh, dan lagi-lagi kamu muncul di kepalaku, aku merasa seperti berkhianat."
"Tuh kan jadi kesel pasti, maaf ya sayang, tapi aku nggak bisa ngerubah masa lalu"
Rena hanya mengangguk.
"Sini peluk"
Rena masuk dalam dekapan Raka. Keadaan Raka saat ini, ia sudah bisa berjalan tapi tidak bisa lama. Itu kemajuan pesat. Sebenarnya Rena tidak tega melihat perjuangan sang suami. Tapi ia tahu jika dirinya adalah salah satu motivasi suaminya.
Maka Rena dengan tegar berdiri disamping suaminya. "Ayaaaah" suara melengking sang Baginda Pangeran, ia dititipkan pada Simon.
"Lama ya?"
"Nggak nakalkan?"
"Enan baik"
"Pinternya jagoan ayah" Kenan duduk dipangkuan Raka dan Rena mendorong kursi roda Raka. Rena memutuskan untuk menetap di Doha hingga Raka sembuh dan pulih. Rena juga masih bekerja di Ibrahim Crop.
Raka mengajak keluarganya berlibur ke pulau pribadi milik Ibrahim. Kenan dititipkan pada Jum. Rena mengajak Raka menikmati pagi hari di pantai. Menyiris tepi pantai yang indah, hembusan angin menerbangkan rambut Rena.
__ADS_1
"Terima kasih terus berjuang, terima kasih mau kembali, terima kasih sudah bertahan hidup." Rena memeluk dari belakang. Hati Raka menyembur rasa bahagia yang hangat. Rasa bahagia yang tidak bisa iantukar dengan apapun.
"I love you Raka Delino" ucap Rena.
"I love you too, Rena Samantha Delino"
"Yaahh … yaaahhh … yahhahahaha"
Dari jauh terlihat ginuk-ginuk kesayangan masyarakat online. Ya sejak Sara dan Simon mengupload kelakuan Kenan, ia biasa seterkenal cipung. Endors mulai berdatangan. Kecil-kecil milyuner. Sudah bisa cari uang sendiri.
Rena menyerahkan semua pada Sara. Antinya itu tahu memilah yang baik dan tidak terlalu memforsir anaknya.
"Bukannya yang menggandeng Kenan itu Kila ya sayang?" Rena masih memperhatikan. Wanita itu menggendong Kenan menuju tempat mereka, semakin dekat semakin jelas wajahnya terlihat.
"Kila?"
"Bang, apa kabar?" Sosok Kila yang ada didepan mereka 180 derajat sangat berbeda dari yang terakhir Rena ingat. Tidak ada rok mini, tidak ada baju tipis dan terbuka, tidak ada dandanan tebal, juga kuku-kuku marah runcing.
Kila yang ada di hadapan mereka sangat cantik tanpa dandanan. Kaos dan celana jeans. Rambut hanyan dicepol biasa. Terlihat lebih muda, segar dan bebas.
"Mbak Rena, Kila minta maaf dengan semua kelakuan Kila yang jahat. Kila sangat malu, makanya lebih memilih sembunyi."
"Mbok Jum bawa Kenan dulu ya" Jum mengenal wanita itu. Dia adalah tamu yang datang dan membuat Bu bosnya koma.
"Mbak Rena, Kila minta maaf, karena membuat Kenan lahir tidak di waktunya," mata Kila menangis. Air matanya mengalir bersusulan. Kila susah menyekannya.
"Masih di dekat kampus."
"Sesekali pulang lah, Eyang merasa bersalah padamu. Jenguk lah dia,"
Raka mengusap saat adiknya itu memeluknya dengan tangisan yang keras. Ia pun menangis. Rasanya sudah lama ia tidak memeluk adiknya yang satu ini. Perubahannya membuat Raka meringis.
"Kamu kalau butuh uang, langsung hubungi abang, jangan sungkan," Kila mengangguk. Rasanya beban yang selama ini menggelayuti dirinya terlepas.
"Kila!" Sosok lelaki terlihat dari kejauhan. "Siapa?"
"Pacarku Mbak, dia yang buat aku menyadari kejahatan ku selama ini, dia yang menarikku dari lumpur, doakan ya mbak"
"Enak aja, doakan-doakan, bawa dulu dihadapan abang sini!" Ucap Raka berusaha sok kejam dan menakutkan.
"Nggak usah sok akting gitu, biasa aja kamu udah garang, dan menakutkan" Kila dan Rena tergelak. Raka yang ngambek.
"Dasar ambekan!" Ejek Rena. Kila memanggil sang kekasih yang menggaruk kepalanya canggung. Namun percakapan menjadi menyenangkan dan ditutup makan malam bersama.
Fisioterapi masih terus Raka jalani. Semakin lama Raka bisa berjalan, lama, namun masih belum boleh terlalu diforsir.
__ADS_1
***
Satu tahun,
"Kamu kenapa sayang?" Rena sedari tadi selalu menutupi hidungnya jika Raka ada didekatnya.
"Kamu bau"
"Mana orang aku baru mandi, nih bau aja, wangi sabun mu kok" Raka menyodorkan diri.
"Ih sana kamu bau tahu, aku tidur dikamar tamu! Kamu sama kamar ini bau" Rena keluar dengan mengusap hidung kasar.
Raka mencari keberadaan Rena. Namun ia tidak menemukannya dimanapun, bahkan di kamar tamu. Raka khawatir jika Rena meninggalkannya karena bau.
"Mbok Jum liat Rena?"
"Bu bos ada dikamar Mbok katanya mau tidur sama Mbok nggak bau katanya" Raka mengangguk.
"Iya mbok katanya saya bau, ini saya sudah mandi lho, malah saya mandi lagi waktu dia kabur dari saya." Curhat tuannya.
"Pak mending jangan dekat dulu biarkan dulu pak, dan lebih baik Pak Raka beli tespek,"
"Tespek?"
"Maksud kamu Rena hamil? Adik Kenan?" Jum melihat binaran bahagia dalam mata Pak bosnya.
"Oke, oke, saya ke apotek dulu Mbok Jum, tanya sama Rena mau dibeliin makan apa, saya pergi ya" Raka sudah bisa berjalan bahkan bisa mengendarai mobil.
Jum masuk ke kamarnya. "Bu bos? Bu bos mau makan apa?"
"Mbok Jum bisa buat wedang jahe, jahenya dibuat manisan"
"Bisa Bu bos, tadi bapak nanya bu bos mau makan malam apa?"
"Doner kebab, mau tiga, isi daging jamur, daging jagung, campur satu" Jum mengangguk.
"Aku ngantuk, aku tidur lagi ya mbok Jum" Rena menguap kembali bergelung diatas ranjang mbok Jum"
"Iya bu bos" mbok Jum meninggalkan Kamarnya dan memberitahu Pak bos apa yang istrinya mau.
"Bang Kenan mau dongeng?" Tanya Jum, ini sudah waktunya jam tidur Kenan.
"Mau ibok," ia merengek. Jum memeriksa suhu tubuhnya. Tidak panas, memeriksa popok tidak basah. Jum memberi sari kacang hijau, juga tidak mau, apa Kenan tahu mau punya adik.
Makanya bocah tiga tahun itu rewel. Ia menggendong Kenan di masuk ke kamarnya. Meletakkan Kenan pada pelukan Rena.
__ADS_1
Dan tak lama Kenan tertidur. Sebenarnya bocah itu sudah mengantuk tapi rewel karena tidak menemukan bau ibunya. Mitosnya bisa karena rewel karena Kenan tahu akan mendapatkan adik baru.
Bersambung ...