Dendam Sang Pembunuh

Dendam Sang Pembunuh
Angel Terluka


__ADS_3

Setelah satu jam kemudian Angel kembali ke markas.


"Mama," seru Angel sambil menunduk.


"Angel, bagaimana dengan kondisimu? kelihatannya wajahmu agak pucat," tanya Monica.


"Apa yang telah terjadi semalam?" tanya Rose yang duduk di kursi besarnya.


"Semalam aku mengejar pembunuh yang menembak dari jarak jauh, dan kami bertarung selama satu jam. karena aku ditikam...oleh sebab itu aku langsung menghindar dan merawat luka sendiri di salah satu hotel," jawab Angel.


"Terluka? apakah benar apa yang kamu katakan?" tanya Selvie dengan tatapan sinis.


"Untuk apa aku berbohong," kata Angel yang menaikan kaos yang dia kenakan. mereka yang di sana melihat perban yang melilit luka gadis itu serta darah mengenai perban tersebut.


"Angel, sebaiknya kamu istirahat dulu!" ujar Rose.


"Terima kasih, Mama," ucap Angel yang melangkah pergi.


"Monica, panggil dokter untuk merawat lukanya!" perintah Rose.


"Baik, Mama," jawab Monica dengan patuh.


"Angel Rebecca, jangan mengira mama sangat sayang padamu, mama hanya menganggapmu sebagai alat untuk membunuh," batin Selvie.

__ADS_1


"Mama, apakah Angel sedang berbohong pada kita?" tanya Selvie.


"Apa yang kamu curiga,kan?" tanya Rose.


"Aku hanya merasa aneh, kenapa dia bisa terluka. dengan keahlian menembak yang dia kuasai seharusnya tidak menjadi masalah baginya untuk mengalahkan musuh," jawab Selvie.


"Untuk apa dia membohongiku?"


"Mama, kita tidak tahu apa yang dia rencanakan, selama ini sudah berapa banyak senior sendiri yang mati di tangannya," kata Selvie.


"Mereka pantas mati karena telah menghalanginya melakukan perintah dariku," ujar Rose.


"Kenapa dia tidak memberitahu kita siapa yang melukainya," ujar Selvie yang berusaha memprovokasi Rose.


"Yang melukainya tentu saja bukan musuh yang mudah dilawan, kelompok Black Eagle memiliki banyak anggota yang tangguh," kata Rose.


"Biarkan Angel istirahat! urusan luar jangan melibatkan dia dulu. karena dia harus menyelesaikan misi yang lebih penting," ujar Rose.


"Baik, Mama," jawab Selvie.


"Misi penting adalah membunuh ayah kandung sendiri," batin Selvie.


Angel yang sudah kembali berada di kamarnya dan mengoles obat pada lukanya itu. ia menahan sakit akibat luka tersebut cukup dalam. dirinya memang sengaja menikam diri sendiri agar tidak dicurigai.

__ADS_1


"Seharusnya mama tidak mencurigaiku, jangan sampai ada yang mengetahui hal ini. jika tidak, maka ajalku akan dijemput olehnya sebelum aku mengetahui keberadaan orang tuaku," batin Angel.


Klek.


"Angel," suara panggilan Monica.


"Kakak, ada apa?" tanya Angel.


"Sebentar lagi dokter akan datang mengobati lukamu," kata Monica.


"Tidak perlu! ini hanya luka ringan!"


"Ini adalah pesanan mama, ikuti saja perintahnya!" ujar Monica.


"Kakak, kalau saja masalah ini tersebar ke telinga musuh, bukankah sama saja kita memancing mereka," kata Angel.


"Dokter Lui adalah dokter yang selama ini mengobati kita. dia tidak akan berani bicara sembarangan," jawab Monica.


"Istirahatlah! dia akan segera sampai," ujar Monica yang meninggalkan kamar Angel.


Setelah setengah jam kemudian dokter wanita itu mengobati luka Angel, ia melilitkan lukanya dengan perban. tentu saja luka tikamannya cukup dalam sehingga pendarahan.


"Jangan banyak bergerak dulu! karena lukamu cukup parah sehingga mengeluarkan banyak darah," pesan dokter itu.

__ADS_1


"Beri aku obat untuk anti sakit, aku tidak ingin hanya berbaring di kasur," kata Angel.


"Kamu harus banyak istirahat, aku akan memberimu vitamin penambah darah. kondisimu masih lemah. jadi, jangan banyak bergerak dulu!" ucap Dokter.


__ADS_2