Dendam Sang Pembunuh

Dendam Sang Pembunuh
Serangan


__ADS_3

Sementara beberapa wanita bersenjata telah memasuki gedung apartemen itu dengan perlahan. mereka adalah utusan Rose untuk membunuh Angel Rebecca.


Angel yang berada di dalam, ia langsung mendengar suara hentakan kaki yang sudah tidak jauh dari tempat tinggalnya.


"Sudah saatnya kita berhadapan, Rose," ucap Angel yang berlindung di suatu tempat.


Sekitara lima belas anggota Rose yang bersiap menyerang tempat tinggal Angel Rebecca.


Brak...


Brak...


Dobrakan pintu dilakukan oleh mereka sehingga terbuka.


Lima belas anggota Rose melangkah masuk dan berpencar mencari keberadaan Angel.


"Hancurkan semuanya, tembak!" perintah salah satu anggota.


Dor...


Dor...


Mereka menembak ke seluruh ruangan dari tv, sofa, meja dan barang hiasan lainnya sehingga hancur berantakan.


Dor...


Dor...


Dor...


Dor...


Beberapa anggota Rose menuju ke kamar dan langsung melepaskan tembakan.


Dor...

__ADS_1


Dor...


Tembakan mereka mengenai tempat tidur dan meja rias yang ada di kamar.


"Dia tidak ada di sini."


"Mungkin dia keluar!"


Sebanyak Lima belas anggota Rose mencari hingga ke kamar mandi, dapur dan ruang makan akan tetapi tidak melihat sasaran mereka di dalam sana.


"Apakah dia sudah pergi?"


"Tidak mungkin, dia pasti masih ada sekitaran sini. mama mendapat info bahwa wanita itu pulang ke rumah."


"Mungkin dia bersembunyi di suatu tempat."


"Adik-adikku yang baik, kalian sudah datang! selamat datang!" ucap Angel yang melompat ke balkon dan melepaskan tembakan ke arah mereka semua.


Dor...


Dor...


Dor...


Dor...


"Ingin membunuhku, dengan level kalian masih belum layak," ketus Angel sambil melepaskan tembakan.


Dor...


Dor...


Sebanyak lima belas anggota Rose terluka parah dan terkapar tidak berdaya.


Angel bergelantungan di tiang besi balkon bagian luar untuk menunggu kesempatan menembak mereka semua.

__ADS_1


"Apakah hanya ini kehebatan kalian setelah menjalani latihan puluhan tahun, sangat menyedihkan sekali," kata Angel.


"Kakak, tolong jangan bunuh kami, semua ini perintah dari mama, kami hanya bisa patuh pada perintahnya."


"Aku tahu, karena selama ini aku juga di posisimu. katakan padaku, berapa anggota yang dia kirim?"


"Tim A dan Tim B semua wajib melakukan perintahnya."


"Mereka semua baru usia sekitar delapan belas hingga dua puluh. dan harus menjadi korban sia-sia," kata Angel.


"Kakak, maafkan kami. biarkan kami hidup!"


Semua anggota Rose tergeletak tidak berdaya akibat cedera yang mereka alami.


"Kalau kalian masih sayang nyawa kalian, lebih baik pergi dan jangan pernah kembali. menjadi senjata Rose bukan hal yang baik. hanya ada saling membunuh dan mati sia-sia," kata Angel.


"Baik, kami pergi sekarang! terima kasih!" ucap mereka yang berusaha bangkit dan melangkah menuju ke pintu.


Di saat baru menginjak keluar mereka langsung ditembak oleh puluhan peluru yang menembus tubuh mereka.


Dor...


Dor...


Dor...


Angel yang mendengar suara tembakan ia langsung mencari tempat persembunyian.


Beberapa wanita melangkah masuk ke dalam dan memiliki senjata masing-masing.


"Angel Rebecca anak kesayanganku, keluarlah dan bertemu dengan mama, apakah kamu rindu padaku," kata Rose dengan senyum dan memperhatikan di sekitar dalam sana.


"Untuk apa kau melawanku? apa keuntunganmu menantangku? bukankah kita akan menjadi terkuat setelah mampu menaklukkan semua kelompok mafia. kenapa kau tidak ada kesabaran. hanya beberapa langkah kita sudah menjadi terhebat di dunia," kata Rose sambil memberi kode kepada mereka semua.


Mereka mencari keberadaan Angel yang tidak tahu bersembunyi di mana.

__ADS_1


"Angel, kalau kamu sangat suka bermain, mama akan bermain denganmu. kita akan mulai bermain seperti di saat kamu masih kecil dulu. mama masih ingat kamu paling suka bersembunyi. dan akhirnya mama tetap mendapatkanmu. kali ini kalau mama menang kau akan mati," ujar Rose sambil memperhatikan setiap sisi tempat tinggal Angel.


__ADS_2