
"Aku sependapat denganmu, perasaanku sama sekali tidak merasa dia kasihan. lihatlah rupanya sekarang. seperti apa? dulu banyak melakukan kesalahan dan kini dia juga kehilangan bagian terpentingnya. lalu untuk apa dia hidup lagi?" ujar Mob.
"Walau dia sadar pada akhirnya harus meringkus ke dalam penjara," ujar Laz.
"Vic Muller, jangan diam saja saat ditanya! kamu hanya cacat di tubuh bukan di mulut. bukankah dulu kau sangat hebat? kenapa sekarang kau tidak berkutik lagi. apakah kau sudah merasakan betapa sakitnya kehilangan seseorang yang kamu cintai? begitulah yang dirasakan mereka yang menjadi korbanmu," bentak Muller yang hilang kesabarannya.
"Pak, jangan emosi! dia sudah bisu dan tidak bisa bicara," ujar Laz.
"Dia menjadi korban siksaan, sehingga trauma dan tidak bisa bicara. saat dia menyiksa, memerko.sa dan membunuh dia merasa bangga dan bahagia. sedangkan sekarang dia seperti sampah buangan. tidak berguna sama sekali," kata Mob dengan kesal.
"Vic Miller, kalau kamu masih memilih diam, aku tidak bisa membantumu. sebenarnya aku juga tidak suka melihatmu karena kalian adalah sampah masyarakat. kalau bukan karena ini adalah tanggung jawabku menyelidiki kasus ini. aku juga tidak ingin menemuimu," kata Muller.
"Akhirnya dia menerima balasan yang menyakitkan, jangan pernah melakukan kesalahan. orang yang membunuhmu kelihatannya tidak ingin kau mati. tapi dia ingin kamu hidup menderita selamanya," ujar Laz.
__ADS_1
"Ada satu hal lagi, lebih baik kau beritahu kami di mana tempat persembunyian komplotanmu, jika tidak, mereka tetap akan mati saat bertemu dengan pembunuh itu," kata Muller.
"Pikirkan baik-baik! kau ingin tetap begini atau bekerja sama dengan kami. pilihan ada di tanganmu," kata Muller yang melangkah keluar.
"Bisu atau bicara semua tergantung padamu," ujar Laz yang ikuti langkah atasannya.
"Vic...Vic...sebenarnya aku ingin mengasihanimu, tapi di saat aku ingat kembali perbuatanmu aku merasa ini adalah karmamu," kaya Mob.
"Mob, sudahlah! biarkan saja! untuk apa kamu emosi. lagi pula dia yang melakukannya dan dia harus menerima balasan dari pembunuh itu. biar dia merasakan apa yang dirasakan oleh korbannya dulu!" ucap Chanz.
Vic yang tidak bicara ia mengeluarkan air mata. ia bisa mendengar semua perkataan Muller dan lainnya.
"Aku menyesal, aku menyesal, atas keserakahanku telah menyebabkan adikku harus menanggung akibatnya. kini menyesal sudah terlambat. Jerry, maafkan kakak. semua ini salah kakak," batin Vic.
__ADS_1
"Uang yang ku dapatkan tidak cukup untuk balasan yang ku dapatkan, nyawa dibayar nyawa," batin Vic.
Di sisi lain Muller menuju ke mobilnya ia sedang kesal tidak mendapatkan hasil dari mantan perampok itu.
"Sangat menjengkelkan sekali, hanya membuang waktu, saksi hidup akan tetapi bisu," ketus Muller.
"Pak, mungkin kita harus menunggu dia sembuh, baru kita tanya lagi," kata Laz.
"Menunggu sampai kapan? kita telah menunggu selama sepuluh tahun lamanya, kasus yang sama masih belum ditangkap pelakunya. dan kini mereka malah tewas satu-persatu," ujar Muller.
"Kita mencari mereka selama ini, dan bagaimana pembunuh itu bisa mengetahui posisi mereka? tempat tinggal mereka bertiga sangat jauh dari kota ini," ucap Chanz yang penasaran.
"Bagaimana kalau kita ajak bertemu dengan Lee Anderson dan makan bersama. mungkin saja dia akan bekerja sama dengan kita," kata Mob.
__ADS_1
"Kau gila," ketus Laz.
"Dia masih belum menampakan diri, siapa lagi sasaran dia seterusnya?" gumam Muller