
Yonez yang telah terluka parah hanya bisa pasrah, ia tergeletak di atas tanah dengan kondisi tubuhnya yang mengeluarkan banyak darah. Lee yang masih belum puas menyiksa pengkhianat itu ia melempar tali ke pohon dengan berniat ingin mengantung pria itu di sana.
Kemudian ia melilitkan tali ke leher pria itu, setelah mengikatnya ia menarik tali yang lain untuk mengantung musuhnya di pohon.
"Aarrgghh...," jeritan Yonez yang bergelantungan di atas sana. ia tidak bisa bernafas dan kesakitan pada lehernya.
"Aarrghh...," rintihan Yonez sambil meronta-ronta.
Lee memandang pria itu yang sedang kesakitan dan tidak bisa bernafas.
"Sudah saatnya kau pergi bertemu papaku, sepuluh tahun sudah cukup bagimu," ketus Lee yang menarik dengan semakin kencang tali yang melilit leher pria itu. setelah beberapa saat kemudian Yonez tidak bergerak lagi. ia tewas dengan cara digantung di pohon itu.
Setelah pria itu tewas Lee langsung melepaskan tali yang dia pegang, sehingga tubuh Yonez terjatuh ke atas tanah.
Bruk...
Setelah pria itu tewas Lee meninggalkan dia begitu saja dan pergi dari tempat itu. tujuannya hanya membunuh Yonez yang sudah mengkhianati ayahnya.
"Pa, Ma, Lucy, Yonez sudah ku bunuh, dia adalah dalang utama yang bekerja sama dengan para perampok itu. dia bebas selama ini sehingga polisi tidak tahu keberadaannya," batin Lee.
__ADS_1
Di sisi lain Angel sedang mengunakan tali panjang untuk menaiki sebuah apartemen, ia di utuskan untuk membunuh seseorang yang tinggal di lantai delapan.
Dengan mudahnya Angel memanjat tali itu, sebagai pembunuh tentu saja tidak sulit baginya untuk melakukan aksi tersebut. setelah tiba di lantai delapan ia memerhatikan sasarannya yang sudah ketiduran. dirinya bergelantungan di luar sana tanpa takut dengan ketinggian.
Kemudian Angel mengeluarkan pistolnya dan mengarahkan sasarannya yang sedang berbaring di atas kasur.
Dor.
Tembakan yang dilakukan oleh Angel menembus kepala pria itu.
Kaca yang ditembus oleh peluru telah retak, Angel kemudian menabrak kaca besar itu sehingga pecah dan memasuki kamar itu.
Prang...
Brugh...
Gadis itu kemudian berdiri dan menghampiri meja untuk mencari sesuatu. ia membongkar satu-persatu laci yang di meja itu. akan tetapi tidak mendapatkan apa yang dia cari.
"Di mana barang itu," guman Angel.
__ADS_1
"Apakah dia simpan di bawah kasurnya?" ucap Angel yang menghampiri kasur itu. ia mendorong pria itu dan memeriksa seluruh tempat tidur.
Tidak lama kemudian Angel menemukan sesuatu yang terbungkus kain hitam di bawa tempat tidur.
"Akhirnya aku dapat juga, di mana pun disembunyikan tetap jatuh ke tanganku," gumam Angel.
Angel lalu melangkah pergi melalui pintu. saat ia melangkah keluar terdapat sebuah pistol yang mengarah ke kepalanya.
"Serahkan barang itu!" kecam wanita itu yang tak lain adalah Selvie.
"Kau sangat lemah sekali, hanya ingin mendapatkan sesuatu dengan cara mudah," balas Angel.
"Tidak perlu banyak bicara! serahkan atau kalau tidak, peluruku akan menembus kepalamu," kecam Selvie.
"Lakukan saja kalau kau sanggup," jawab Angel dengan tenang.
"Apa gunanya kau rela mati demi barang itu?"
"Aku bukannya tidak tahu apa rencanamu, kau hanya ingin mendapat nama di depan mama. jangan berharap aku akan mengabulkan keinginanmu," kata Angel.
__ADS_1
"Kalau kau menolak kau akan mati," ujar Selvie dengan mengancam.
"Kalau begitu tembak saja!" jawab Angel yang menoleh ke arah Selvie