
"Angel Rebecca adalah salah satu korban wanita kejam itu, aku yakin Rose pasti akan dibunuh kapanpun oleh muridnya sendiri," ujar Lezo.
"Rose sangat kuat dan tidak mudah dikalahkan, aku hanya khawatir gadis itu akan sulit mengalahkan dia," kata Alvin.
"Bos, kalau Lee membantunya pasti tidak akan ada masalah, aku yakin wanita kejam itu bukan lawan Lee," ucap Lezo.
"Hm...mudah-mudahan saja! sebenarnya aku juga merasa simpati pada semua murid kelompok Rose hitam, mereka adalah korban yang tidak tahu apa-apa dan dijadikan sebagai senjata membunuh," ucap Alvin.
Apartemen Angel.
Malam itu Angel sedang mengisi peluru ke pistol miliknya, ia juga mengeluarkan senjata tajam untuk diperiksa.
Selama ini ia selalu membawa pistol dan senjata tajam yang dia selipkan ke pinggangnya. rata-rata pembunuh pasti memiliki dua senjata untuk melindungi diri mereka.
Angel yang melihat pisau tajam yang sedang dia lap dengan sapu tangan, ia terbayang di saat ia berlatih membunuh lawannya dengan pisau tersebut.
"Bunuh yang ingin menghadangmu, dan jangan pernah bersikap lembut pada siapapun, di Rose Hitam tidak ada namanya manusia. semua melebihi seekor binatang," ketus Angel.
Keesokan harinya.
Lapangan golf.
Angel yang mengincar James Long, di pagi hari itu ia mendatangi lapangan tersebut.
Ia memainkan golf hanya demi ingin menarik perhatian sasarannya yang juga sedang main yang jaraknya tidak jauh dari sana.
__ADS_1
Setiap pukulan yang dilakukan oleh gadis itu sangat tepat sehingga menarik perhatian James Long.
"Siapa gadis itu?" tanya James pada asistennya.
"Akan saya selidiki, Bos."
"Tidak perlu! aku lebih suka langsung bertatapan," jawab James yang menghampiri Angel yang sedang fokus pada permainannya.
James yang kagum pada permainan Angel ia pun bertepuk tangan.
Prok...prok...prok...
"Luar biasa, selama ini tidak ada yang bisa bermain dengan begitu bagus. setiap ronde permainannya sangat mengagumkan," ucap James.
"Tuan, Anda terlalu memuji, bagaimana kalau kita bertanding!" ajak Angel dengan sengaja.
"Kalau kamu berhasil mengalahkanku, maka aku akan memberitahu namaku, akan tetapi kalau kamu kalah aku mau sesuatu darimu!" jawab Angel.
"Gadis yang luar biasa, baiklah. permainan ini pasti akan sangat seru," jawab James.
Siang hari itu Angel dan James sedang bertanding, gadis itu sengaja mengunakan cara ini agar bisa mendekati pria kaya itu, sementara James yang mengaku kehebatan Angel ia sama sekali tidak merasa curiga.
Di saat mereka sedang bermain, Monica sedang mengawasi dari jarak jauh.
"Cukup pintar untuk mengumpan, kali ini James Long pasti akan kehilangan segala-galanya," gumam Monica dengan senyum
__ADS_1
"Mama, Angel sedang bermain dengan sasaran kita, aku yakin dia pasti akan segera masuk jebakan kita," ucap Monica sambil menyentuh Headset yang di telinganya.
"Perhatikan dengan baik!" perintah Rose.
"Baik."
Setelah satu jam kemudian, Angel dan James telah selesai bermain, mereka pun duduk saling berhadapan di kursi yang di lapangan itu.
"Aku James telah bermain sebanyak lebih dari lima puluh kali dan baru kali ini kalah telak, lawanku malah seorang gadis muda. ini sangat memalukan sekali," ucap James.
"Walaupun tidak puas juga tidak bisa diulangi lagi."
"Baiklah! katakan saja kamu butuh apa?" tanya James.
"Kalau aku mengatakan keinginanku, apakah kamu bisa mengabulkan permintaanku?"
"Tentu bisa! ini adalah janjiku padamu," jawab James.
"Berikan aku selembar cek!"
"Selembar cek?" tanya James dengan heran.
"Benar, selembar cek. bisa atau tidak?" tanya Angel.
"Nominal berapa yang dibutuhkan?"
__ADS_1
"Tentu saja tidak sedikit jumlahnya," jawab Angel.