Dendam Sang Pembunuh

Dendam Sang Pembunuh
Selvie Sengaja


__ADS_3

"Aku mengerti," jawab Angel.


Setelah beberapa menit kemudian dokter itu telah pergi, sementara Angel duduk menyandarkan diri di atas kasur.


Klek.


Tak...tak...


Suara tapak kaki yang berjalan menghampirinya.


Selvie melihat dengan tatapan sinis ke arah Angel yang sedang duduk bersandar dan memejamkan matanya.


"Nasibmu sangat beruntung, karena masih bisa bernafas setelah dikalahkan oleh lawan. tidak tahu apa yang kamu berikan padanya sehingga musuh kita membiarkanmu hidup," ucap Selvie.


"Kamu datang untuk mengejekku? kalau begitu silakan keluar!"


"Sebagai kakak aku hanya datang melihatmu karena aku peduli padamu, apakah hanya beberapa kata saja telah membuatmu tidak gembira," jawab Selvie.


"Terima kasih atas kebaikan hatinya, sebagai murid mama kita tidak boleh menjadi lemah. jika tidak, maka kita akan mati lebih cepat," ujar Angel.


"Siapa pelakunya yang mampu melukaimu?"

__ADS_1


"Lee Anderson," jawab Angel yang terus terang.


"Pembunuh seperti dia tidak akan melepaskan sasarannya, tidak menyangka dirimu masih saja bisa selamat walau sudah kalah," kata Selvie dengan mengejek.


"Bagaimana kalau kamu yang pergi bertemu dengan dia? asalkan gerakanmu cepat dan cerdas, maka dia tidak akan begitu mudahnya merenggut nyawamu," ujar Angel.


"Aku yakin aku pasti akan membunuhnya," jawab Selvie.


"Silakan keluar! pergilah temui Lee dan kalahkan dia!"


"Suatu saat kau akan melihat kepalanya putus di tanganku," kata Selvie yang merasa sombong.


"Aku ingin melihat kehebatanmu juga," ucap Angel dengan sengaja.


"Ada satu hal lagi! apakah kamu tidak ingin mengetahui siapa dirimu sebenarnya?" tanya Selvie dengan sengaja.


"Aku tidak penasaran sama sekali," jawab Angel tanpa memandang ke arah wanita itu.


"Kau akan menyesal setelah mengetahuinya."


"Bukankah kita semua tidak memiliki keluarga? dan aku yakin kamu juga sama dengan kami. kita semua tidak memiliki identitas lainnya kecuali murid mama."

__ADS_1


"Akan tetapi kalau saja kamu mengetahui siapa dirimu sebenarnya, aku yakin kau pasti akan terkejut," kata Selvie dengan sengaja.


"Dalam hidupku sudah hampir mati berapa kali, tidak ada lagi yang bisa membuatku merasa terkejut. aku juga tidak ingin tahu siapa keluargaku," ujar Angel dengan sengaja.


"Baiklah! kalau kau tidak ingin tahu maka ini adalah urusanmu. aku juga tidak peduli," jawab Selvie.


"Akan tetapi aku hanya ingin mengatakan sesuatu, apa yang terjadi pada dirimu ada hubungannya dengan mama. kau dibawa pulang saat usiamu baru setahun," kata Selvie.


"Aku dibawa pulang saat usiaku setahun. itu bukan rahasia lagi, apa yang mau dipertanyakan."


"Selama ini mama hanya menganggapmu sebagai alat untuk membunuh dan mungkin saja suatu saat kau akan berhadapan dengan ayahmu," ucap Selvie yang sengaja memprovokasi Angel.


"Bukankah sudah bukan rahasia kalau kita memang alat untuk membunuh? untuk apa kamu bicara omong kosong di sini," bentak Angel.


"Aku hanya berniat baik, mungkin saja kau ingin kembali ke keluargamu dan berkumpul dengan mereka "


"Lebih baik kau pergi dari pada ikut campur urusanku," ketus Angel.


"Jangan marah! aku hanya bicara beberapa kata saja kau sudah merasa tidak puas," kata Selvie yang sengaja


"Walau aku terluka, tapi aku masih bisa menembakmu," kecam Angel sambil menodong pistol ke arahnya.

__ADS_1


"Kau memang tidak bisa bercanda," ujar Selvie yang merasa cemas dan kemudian meninggalkan kamar Angel.


__ADS_2